Jawaban Singkat Max

1145 Kata
Saat itu ruang makan terasa terlalu rapi untuk suasana yang ada di dalamnya. Lampu gantung menyala hangat, meja sudah tertata, makanan tersaji sempurna seolah tidak ada yang sedang retak di antara sepasang suami istri yang tinggal di dalam rumah mewah ini. Faith berdiri dengan tenang, menata alat makannya dengan begitu tenang, bahkan terlalu tenang. Sesaat kemudian Max masuk ke ruang tersebut. Ia sudah mandi, mengganti jasnya dengan T-shirt rumahan, wajahnya sudah kembali rapi, namun lelah itu masih tersisa meski tipis tapi tetap terlihat nyata. “Udah lama nunggu?” tanyanya santai sembari duduk di hadapan Faith. Faith tesenyum seraya menggeleng kecil. “Nggak juga,” jawabnya. Pelayan menuangkan minuman untuk keduanya. Lalu sunyi sejenak diantara mereka. “Aku lihat tadi....” Kalimat itu jatuh pelan namun terputus karena Max menyela. "Berita Alisha?" ucapnya ringan sambil menyuapkan makanannya "Iya." “Aku belum lihat,"uicap Max cepat. Faith tidak langsung menjawab, ia hanya memperhatikan bagaimana Max meresponnya. “Dia ada di rumah sakit,” lanjut Faith. Max berhenti sepersekian detik, lalu kembali seperti biasa. “Oh,” ucapnya dengan nada datar. "Dia emang lagi sakit." Faith menatapnya tidak percaya, bahwa Max akan berkata sejujur itu. “Serius?” Max mengangguk. “Iya, udah lama kondisinya emang sempat nggak stabil,” jawabnya yang seolah itu hanya informasi biasa. Bukan sesuatu yang seharusnya dia tahu sedetail itu. Faith bersandar sedikit. dengan kening berkerut. “Dan kamu tahu.” “Cuman denger dari orang,” jawab Max singkat. Faith menyesap minumannya, lalu perlahan dia kembali berkata, "Di berita itu… dia nggak sendirian.” Max berhenti lagi, tapi kali ini lebih terasa, namun ia tetap menjawab singkat. "Kalau soal itu aku nggak tahu.” Hening kembali menggantung diantara keduanya. kali ini Faith menatapnya lebih dalam. Lalu, tanpa mengubah nada suaranya ia kembali berkata, "Dulu… kalian sempat dekat kan? Rumornya lumayan kuat.” Max tidak langsung menjawab, ia meletakkan garpunya, menatap Faith beberapa detik, lalu berkata, “Pernah.” Jawabannya hanya satu kata pendek, tanpa penjelasan yang memuaskan Faith, Faith tidak mengalihkan pandangannya, ia menatap Max lebih dalam. “Seberapa dekat?” Max menghela napas pelan, seolah pertanyaan itu… tidak ingin ia jawab terlalu dalam. “Cukup dekat," jawabnya yang masih singkat, masih tertutup. Faith terdiam, ia tidak memaksa. Namun satu hal jadi jelas dan itu bukan hubungan biasa. Max melanjutkan makanannya lagi, ia bersikap seolah topik itu sudah selesai. “Kenapa kamu tertarik sama berita itu?” tanya Max seolah menggeser topik yang ada. Faith mengangkat alis sedikit, menghela napas sebelum menjawabnya, “Emangnya harus tertarik dulu ya baru boleh nanya?” Max tersenyum tipis. "Biasanya kan gitu.” Sunyi kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini lebih penuh, lebih padat. Dan Faith masih menatapnya dengan tenang. "Tadi aku cuma kebetulan lihat," ucapnya dengan ringan. “Dan kebetulan…yang aku tahu itu bukan berita kecil.” Mendengar ucapan Faith Max tidak menjawab, namun tampak rahangnya sedikit mengeras. Ia menyandarkan tubuhnya. Menatap Faith lebih dalam. “Faith." Suaranya terdengar lebih rendah. “Aku tahu kamu itu pintar. Dan kamu tahu bagaimana berita bisa dibentuk.” Ia berhenti sejenak memberi jeda. “Kadang… apa yang terlihat di luar, nggak selalu perlu jadi kenyataan yang dipercaya semua orang.” Faith diam tidak membalas perkataannya, tatapannya juga tidak goyah, dan Faith mengerti. Ini bukan lagi sekadar percakapan tentang masa lalu. Ini adalah garis halus antara kebenaran dan cerita yang akan mereka pilih untuk ditampilkan. Ketika sunyi itu belum benar-benar usai, suara langkah kecil terdengar dari ruang depan dengan cepat dan ringan, dan akhirnya memecah sunyinya diantara mereka. “Ka Max!” Kimberly muncul di ambang ruang makan dengan sling bag yang hampir jatuh dari bahunya. Suasananya langsung berubah. Kehadiran Kimberly seperti seseorang menyalakan lampu di ruangan yang terlalu lama gelap. Max menoleh ke arahnya dan ekspresinya seketika melunak, jauh berbeda dari beberapa detik lalu. “Kamu ya, lri-lari lagi?” katanya santai. Kimberly langsung nyengir ke arahnya. “Aku telat!” “Tiap hari juga bilang gitu,” balas Max. "Mau kemana sih? Udah malem juga." “Ya biar dramatis, bos... Aku mau ke Raisa nih.” Max menggeleng kecil. “Bukan dramatis, itu namanya nggak siap.” Tanpa disuruh Kimberly langsung duduk di kursi sebelah Faith. “Dih, Kak Max tuh nggak ngerti konsep fashionably late.” Max mendengus pelan. “Kamu tuh cuman mau ke Raisa, bukan datang ke red carpet.” Faith tanpa sadar tersenyum kecil melihat kelakuan mereka. Dan Kimberly langsung meliriknya. “Bener kan, Kak Faith?” Faith memutar bola matanya pura-pura berpikir. “Hmm… setengah bener sih,” ucapnya. Kimberly langsung tepuk tangan keras. “NAH KAN!” Max mengangkat alis, menatap Faith dengan tatapan tidak percaya, “Jadi kamu belain dia?” "Enggak juga tuh, aku cuman netral," jawab Faith sambil mengangkat bahu santai. “Netral tapi condong,” balas Max cepat tidak terima dengan jawabanya. Melihat hal itu Kimberly langsung ketawa. “Fix! Kak Max kalah.” Max menyandarkan punggungnya menghela napas panjang. “Kamu tuh makin lama makin berisik ya.” Kimberly nyengir lebar. "Turunan," balasnya sambil menjulurkan lidah ke arah Max. Mendengar jawabannya Max langsung melirik tajam ke arahnya. "Dari siapa?” Kimberly pura-pura mikir. "Dari… lingkungan.” Seketika Faith tidak bisa menahan tawa. Untuk beberapa saat semuanya terasa ringan dan normal. Seperti keluarga yang benar-benar… utuh. Kimberly mengambil rotinya dengan cepat. “Eh Kak Max, nanti jemput aku ya.” “Nggak bisa,” jawab Max santai. “Kenapa?” “Kerja.” "Udah pulang juga." "Masih ada kerjaan, Non!" Kimberly langsung manyun. “Yah… padahal aku mau cerita.” Max meliriknya. “Cerita apaan?” Kimberly mendekat sedikit, suara sedikit dipelankan seolah itu adalah rahasia besar. “Ada yang suka sama aku di sekolah.” Max langsung berhenti dan memelototinya. “Siapa?” Kimberly mengangkat bahu cuek. “Masih dirahasiakan.” Max menyipitkan mata menuntut. “Umur berapa dia?” “Sepuluh.” Max menghela napas panjang lalu menggeleng. “Masih kecil aja udah ribet.” Seketika Kimberly langsung protes padanya. “Kak Max juga dulu gitu kali!” Max menatapnya tajamtanpa ekspresi menjawab, “Nggak!” ucap Max dengan nada tegas. Kimberly langsung melirik Faith. “Bohong nggak sih?” Faith tersenyum lalu melirik ke arah Max. “Kamu tanya aja langsung ke orangnya.” Max mendengus pelan tidak terima. “Nggak usah diajak-ajaklah.” Kimberly tertawa lagi. Dan ruang makan itu kini penuh suara. Ringan dan hangat. Namun di tengah semua itu Faith terdiam sejenak, matanya tanpa sadar jatuh pada Kimberly. Cara anak itu tertawa, cara dia bicara, cara Max meresponnya… dengan spontan terasa begitu hangat. Namun ada satu hal kecil yang mengganggu, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Wajah itu, ekspresinya, ada yang terasa… familiar. Bukan seperti anggota keluarga ini, bukan seperti Maria, bukan seperti Max. Faith mengerjapkan mata pelan, mengalihkan pandangan. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir. Atau mungkin terlalu lelah. Namun pikiran itu tidak benar-benar hilang, ia hanya menyimpannya sementara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN