Pintu Masuk

1031 Kata
Faith tiba di apartemennya tepat pukul 8 malam, ketika ia baru saja tiba di apartemennya, saat itu juga ponsel kerjanya bergetar. Tasnya masih tergantung di bahu, bahkan sepatu belum sempat ia lepas. Layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi dari grup redaksi. Raka (Editor): Faith, besok malam kamu pegang liputan gala amal Yayasan Kesehatan Nasional, ya. Tamu-tamunya berat.euy. Pengusaha , pejabat, sosialita, complex lah. Note, ini bukan liputan basa-basi. Aku butuh angle yang dalem oke. Melihat pesan itu Faith menjatuhkan diri ke sofa kecilnya, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai menguning. Faith: Besok? Gala amal? Dress code-nya pasti ribet. Mana malem minggu lagi. Beberapa detik kemudian, ada balasan lain yang masuk. Nia: Santai aja, Kamu kan jago nyaru di tempat beginian. Terus kapan lagi malam minguuan ama orang kaya. Anggap aja lagi nguping orang kaya ngobrol sambil senyam-senyum. Faith mendengus pelan. Faith: Bangke, nguping sambil pake heels gitu? Menarik sih. Raka: Ya kan. Justru itu. Aku percaya sama insting kamu.Besok aku tunggu laporan yang beda. Faith menatap layar cukup lama setelah percakapan itu berhenti. Nama acara itu membuat dadanya menegang. Ia sudah hafal pola undangan semacam ini, nama-nama lama, kekayaan lama, lingkaran yang tertutup rapat dan sulit ditembus orang luar. Lingkaran yang… kini mulai ia dekati. Ia menghela napas pelan, lalu mengetik balasan terakhir. Faith: Oke. Besok aku yang urus. Faith menutup layar ponselnya, lalu ia letakkan di meja dan ruangna di apartemennya kembali sunyi. Rasa lelah menyelimutinya, ia menyandarkan kepala ke sofa, menutup mata sejenak. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh yang merayap, campuran antara cemas dan antisipasi. Terlalu banyak kemungkinan ketika ia di sana, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa pekerjaannya pun akan berjalan lancar. Keesokan malamnya, di Galaxy Hotel, Hotel yang sudah jelas bukan untuk kalangan mendang mending, dan saat ini Faith sudah tiba di hotel tempat acara itu berlangsung bersama Dita, rekan satu timnya di redaksi. Mereka berjalan berdampingan melewati pintu kaca besar yang dimana lampu kristal memantul di mata mereka. “Gila ya,” gumam Dita sambil merapikan ID pers. “Rasanya kayak lagi masuk dunia lain.” “Dunia orang yang uangnya nggak bakaln habis tujuh turunan,” balas Faith santai. Dita terkekeh. “Eh, lo tau nggak, katanya keluarga Donovan itu salah satu donor terbesar yayasan ini.” Faith melirik cepat. “Donovan yang itu?” “Yang itu,” jawab Dita sambil mencondongkan badan sedikit ke arah flyer yang terpampang di dekat panggung utama. “Lama banget main di sektor kesehatan. Rumah sakit, farmasi, yayasan. Tapi jarang banget mau diwawancara.” Faith menyimpan info itu dalam kepalanya. “Kepalanya siapa sekarang?” “Anaknya,” kata Dita. “Maximillian R Donovan. Katanya dingin, rapi, susah ditebak. Tapi kalo udah ngomong, orang-orang langsung nurut.” Faith mengangguk pelan. Nama itu kini terasa jauh lebih dekat daripada seharusnya. “Lo mau ngejar siapa?” tanya Dita. “Lihat dulu alurnya,” jawab Faith. “Kadang info paling bagus justru datang sambil berdiri dan dengerin.” “Bahaya itu,” canda Dita. “Lo bisa nyangkut di obrolan orang-orang sok penting.” Faith tersenyum tipis. “Udah biasa, kayak nggak tau aja.” "Gue ke sana ya," ucap Dita sebelum mereka berpisah membagi tugas. "Oke," jawab Faith singkat. Merekapun berpisah di dalam ruangan, Dita menuju sisi lain, Faith mengambil posisi di tepi tempat favoritnya untuk mengamati. Area ballroom tempat acara itu berlangsung tampak berkilau. Gaun-gaun mahal berdesir di lantai marmer, gelas kristal beradu pelan, tawa mengalir seperti sesuatu yang tidak pernah habis. Dan Faith mencatat, menatap wajah-wajah asing yang berusaha terlihat akrab. Sampai akhirnya ia melihat Max. Pria itu berdiri di tengah ruangan, jasnya sempurna, sikapnya tenang. Beberapa wanita dari kalangan atas tampak mengelilinginya, tertawa kecil, menyentuh lengannya seolah itu hak mereka. Max terlihat nyaman. Terlihat terbiasa. Entah mengapa d**a Faith menegang sesaat. Cepat-cepat ia menunduk, berpura-pura sedang mengecek catatan miliknya. Dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya sendir, malam ini ia mengenakan gaun hitam sederhana, tanpa kilau berlebihan seperti kebanyakan orang yang ada di sini. Ia tampak biasa. Namun sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. Ia melihat Max tidak benar-benar hadir. Senyumnya memang ada, tapi matanya terus bergerak. Mengamati. Menjaga jarak, bahkan saat ia dikelilingi. Faith menarik napas panjang. Jurnalis dulu. Perasaan nanti. Begitulah yang ia pikirkan. Ia melangkah mendekat. Menghilangkan rasa gugup dan ragu. “Pak Donovan,” katanya sambil mengangkat ID pers sedikit. “Saya dari First media. Boleh minta komentar singkat soal acara malam ini?” Max menoleh. Wajahnya jelas tampak terkejut sepersekian detik. “Faith?” Nada suaranya rendah. “Serius, kamu kerja di sini?” Faith mengangkat bahu ringan sambil tersenyum manis. “Iya. Malam ini dapet shift gala.” Salah satu wanita di samping Max menatap Faith dengan rasa ingin tahu. Faith membalasnya dengan senyum netral. melohat hal itu, Max memberi isyarat kecil, meminta ruang. lalu mereka bergerak ke sudut yang lebih tenang. “Kamu kelihatan beda,” katanya. “Bukan versi yang aku temui kemarin siang.” Faith kembali tersenyum manis. “Yang ini versi kerja ugal-ugalan. Kelihata lebih rapi dan lebih banyak nanya.” “Hm.” Max menatapnya sesaat. “Kamu sering liput acara kayak gini?” “Nggak sering. Tapi kalo disuruh, ya jalanin.” Nada bicaranya santai, ringan dan tanpa usaha mengesankan. Dan Max menangkap itu. “Kebanyakan orang di sini pengen kelihatan cocok,” katanya pelan. “Tapi kamu nggak.” Faith menutup buku catatannya., ia menatap ke arah depan lalu berkata sambil tersenyum tipis, “Karena aku nggak datang buat cocok. Aku datang buat ngerti.” Untuk sesaat, Max tersenyum, bukan senyum sosial yang ia pakai sebelumnya. “Kalau gitu,” katanya, “semoga kamu dapet jawaban yang kamu cari.” “Biasanya aku dapet,” balas Faith ringan. Di kejauhan, suara tawa kembali pecah. Max menoleh sesaat. "Kayaknya aku harus ke sana dulu." "Oke, have fun ya..." Mereka berpisah tanpa berjabat tangan. Saat Faith melangkah pergi, Max berkata pelan, hampir seperti gumaman, “Kita bakal ketemu lagi.” Faith menoleh sekilas, lalu mengangguk. “Kayaknya iya.” Dengan langkah mantap, Max kembali ke kerumuman. Entah mengapa melihat Max kembali ke dunianya tidak membuat Faith mundur. JHal itu justru membuatnya sadar, keluarga Donovan bukan sekadar nama dalam undangan. Mereka adalah cerita. Dan ia sudah menemukan pintu masuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN