Keesokan harinya di ruang rapat lantai dua puluh tujuh gedung Donovan selalu terasa lebih panas dari ruangan lain. Bukan karena memang musim kemarau, melainkan karena keputusan-keputusan yang lahir di sana jarang punya ruang untuk perasaan.
Max duduk di kursinya, punggung tegak, tangan terlipat santai di atas meja. Dan rapat kali ini lebih bising dari biasanya.
“Kamu terlalu percaya diri, Max.”
Kalimat itu seketika terasa langsung menghantam lebih dulu sebelum rapat inti benar-benar dimulai.
Mendengar ucapan itu, Max mengangkat pandangan perlahan. Di seberangnya, Arthur Klein, anggota dewan senior yang dikenal blak-blakan dan tidak punya perasaan sedang bersandar ke kursinya, tangan terlipat di d**a, rahang mengeras.
“Kalau maksud Anda adalah performa perusahaan,” jawab Max tenang, “angka-angkanya sudah terlihat jelas ada di layar.”
“Ini bukan soal angka, Max!” Arthur membalas cepat. “Ini soal posisi kamu di mata investor. Soal legitimasi.”
Beberapa orang di meja saling bertukar pandang. Seketika uara di ruang rapat lantai dua puluh tujuh itu terasa berat, seolah setiap kata punya bobot yang bisa menjatuhkan siapa pun.
Leonard Donovan berdehem pelan, pria yang merupkan ayah dari Max mencoba menengahi. “Mari kita jaga nada bicara. Kita di sini untuk berdiskusi.”
“Tepat,” Arthur menoleh ke Leonard. “Dan diskusi ini sudah terlalu lama untuk dihindari, Leo.”
Max mendengarkan dan tetap duduk tegak. “Oke, silahkan lanjutkan.”
Arthur mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangan dilipat menunjukkan bahwa semua atensi harus tertuju padanya. “Donovan Corp butuh figur yang utuh, ini bukan hanya soal image pemimpin yang cerdas, tapi seseorang yang memberi rasa aman untuk jangka panjang. Stabil dan bisa diprediksi.”
Kata-kata itu menggantung. Tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh, semuanya sudah paham maksudnya.
“Prediksi berdasarkan apa?” Max bertanya, nadanya masih datar, begitupun dengan ekspresi di wajahnya. “Status personal?”
Beberapa kursi terdengar bergeser. Seseorang tampak menghela napas pelan.
“Kamu tahu bagaimana pasar bekerja,” sahut anggota dewan lain. “Mereka tidak suka ketidakpastian.”
“Dan hidup lajang dianggap ketidakpastian?” Max menyeringai tipis. “Itu standar yang menarik.”
Sebelum jawaban muncul, pintu ruang rapat terbuka.
Evan Donovan masuk tanpa senyum. Ia datang tanpa basa-basi, ekspresinya serius, berbeda dari citra ramah yang biasa ia tampilkan.
“Maaf terlambat,” katanya singkat. “Saya dengar rapatnya sudah panas.”
Tak ada yang tertawa. Ini bukan lelucon, dan ini sarkas yang terlalu ketara.
Evan duduk di kursi kosong di sisi kanan meja. Tatapannya berkeliling, menangkap sisa-sisa ketegangan yang belum reda. “kalau boleh tahu, saya melewatkan apa?”
Arthur tidak membuang waktu, ia langsung membuka suaranya dengan lantang. “Kami sedang membahas keberlanjutan kepemimpinan.”
“Tentu saja,” Evan mengangguk pelan. “Bukankah ini topik favorit kita akhir-akhir ini.”
Max menoleh menatapnya tajam. “Menariknya kamu datang sendirian hari ini.”
Evan membalas tatapannya, sama tajam. “Aku di sini sebagai profesional, bukan simbol.”
Kalimat itu seperti tamparan halus. Beberapa orang di meja langsung bereaksi, ada yang mengangguk, ada yang semakin tegang.
Leonard yang sudah tidak tahan akhirnya bicara lebih keras. “Faktanya, kita punya lebih dari satu kandidat kuat. Dewan perlu mempertimbangkan semua kemungkinan.”
“Kemungkinan apa?” Max bertanya. “Bahwa aku harus membuktikan diriku di luar ruang kerja?”
“Bahwa perusahaan ini tidak bisa bergantung pada satu orang, Max” potong Arthur. “Apalagi jika orang itu tidak menunjukkan komitmen penuh pada nilai keluarga.”
Seketika ruang rapat hning. Kali ini terasa jauh lebih berat.
Evan menyilangkan tangan. Ekpresinya tenang. “Saya ada di sini bukan untuk menyerang Max. Tapi kita tidak bisa berpura-pura isu ini tidak ada.”
“Bukannya ini adalah isu yang kalian ciptakan sendiri,” balas Max cepat.
Nada suaranya masih terkontrol, tapi ada retakan tipis di sana. Bukan marah, melainkan tekanan yang akhirnya terdengar.
Perdebatan berlangsung lebih dari satu jam. Suara-suara tumpang tindih. Argumen tentang pasar, investor, tradisi keluarga, hingga “citra publik” saling bertabrakan. Tidak ada keputusan. Tidak ada kesepakatan.
Hanya satu hal yang menjadi jelas: Saat ini waktu yang dimiliki Max sedang dihitung. Masa depan perusahaan dan dirinya semau bergantung pada keputusannya, menyenangkan diri sendiri atau perusahaan.
Saat rapat ditutup, tidak ada jabat tangan. Tidak ada senyum basa-basi apalagi obrolan, semua bubar dengan wajah yang ditekuk.
Evan berjalan menyusul Max yang sudah ada di lorong. Kali ini lebih dekat, suaranya direndahkan, lalu ia berkata, “Ini bukan serangan pribadi.”
“Hah! Jarang ada serangan yang mengaku pribadi,” jawab Max dingin.
Evan berhenti. “Kalau kamu nggak bergerak, dewan akan bergerak buat kamu.”
Max menoleh perlahan. “Ancaman?”
“Peringatan,” kata Evan. “Dan kamu tahu… aku selalu tepat waktu.”
Tanpa mengatakan apapun lagi Max melangkah pergi.
Sementara Max berdiri sendiri di lorong panjang itu. Jam dinding di ujung ruangan menunjukkan waktu dengan ketukan pelan teratur, tidak peduli siapa yang tertinggal.
Nama Max masih kuat. Tapi kekuatan saja tidak lagi cukup.
Di malam harinya, Max membuka folder digital berlabel Public Image Confidential di sana ada grafik, kliping berita, survei persepsi investor. Semua tersusun rapi, lalu ia menggeser kursi, lalu berhenti pada satu slide.
“Stabilitas Kepemimpinan & Kehidupan Personal.”
Max menyeringai kecil.
Mereka tidak membutuhkan dia jatuh cinta.
Mereka hanya butuh melihat ilusi stabilitas.
Tangannya berhenti di atas meja, jemarinya mengetuk pelan dengan ritme teratur, seperti jam. Ia teringat bagaimana Arthur mencondongkan tubuhnya, bagaimana Evan datang sendirian, bagaimana tak satu pun dari mereka benar-benar peduli siapa yang akan ia sakiti selama perusahaan tetap utuh.
Dan itu membuat segalanya… lebih mudah.
Disaat yang bersamaan ponselnya menyala.
Satu nama muncul di layar.
Faith.
Max tidak langsung membukanya. Ia memandang nama itu beberapa detik lebih lama dari yang perlu.
Wajahnya terlintas di benaknya, tenang di permukaan, tapi selalu ada ketegangan halus di balik senyumnya. Cara ia berbicara, memilih kata, menyusun cerita tentang dirinya seperti seseorang yang sudah lama terbiasa bertahan.
Faith tidak seperti perempuan-perempuan yang dikenalkan ibunya. Ia tidak menuntut, tidak terlalu percaya diri, tidak pula polos.
Ia… bisa dibentuk.
Pikiran itu muncul tanpa emosi. Seperti kesimpulan bisnis.
Max membuka pesan itu.
"Hai Max, aku baru aja pulang dari liputan, kamu tau, aneh banget rasanya ngelihat satu tempat yang sama tapi bisa terasa sangat berbeda, dan tergantung dengan siapa kita berdiri di dalamnya, tiba-tiba aja aku kepikiran obrolan kita.
Aku harap malammu berjalan lebih tenang dari punyaku. hehe.."
Menarik, pesan itu tidak genit, tidak juga menuntut.
Hanya cukup jujur untuk membuka pintu.
Max membaca pesan itu dua kali.
Ia paham betul pola orang-orang yang menginginkannya, biasanya terlalu cepat, terlalu terang.
Tapi anehnya, pesan Faith justru berhenti di ambang. Tidak masuk, tidak memaksa.
Dan justru karena itu… terasa seperti pilihan.
Ia membalas setelah jeda singkat.
Max : "Ya gitulah, malamku emang selalu berisik, tapi menariknya, chat dari kamu bikin semuanya jadi teratur.
Oh ya Faith, ada obrolan yang belum selesai diantara kita, aku ingin melanjutkannya tapi saat aku bisa benar-benar fokus."
Dan ini bukan ajakan langsung, bukan juga janji waktu.
Tapi satu kalimat kunci menggantung rapi: saat aku bisa fokus
Seolah kelanjutan itu bukan soal jika, melainkan kapan dan waktunya ada di tangannya.
Faith menatap layar ponselnya lebih lama dari yang ia sadari.
Chat dari Max jelas tidak ada kata manis, apalagi rayuan murahan.
Namun ada sesuatu yang terasa lebih kuat: seperti rasa dipilih secara diam-diam.
Max tidak sedang mengejarnya.
Dan bagi seseorang yang hidupnya sering terabaikan, itu terasa seperti pengakuan paling berharga.
Faith tersenyum kecil, sendirian, di ruang apartemennya yang sunyi, hatinya berbunga-bunga rasanya campur aduk, dan malam ingin segera berganti pagi. Jika memang begitu, bukankah keberuntungan sedang ada di pihaknya?