Ketika Faith sudah terbang ke NTT. Max sudah kembali ke kantornya, ia duduk di kursinya, dengan jasnya masih terpasang rapi. Namun dasinya sudah sedikit longgar, tanda kecil bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya terkendali. Sementara di tangannya, layar ponselnya menyala, chat terakhir dari Faith. Pesan yang singkat, tidak menuntut, tidak menyalahkan. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih berat. Max menatapnya lama, jempolnya bergerak. Mengetik. Berhenti. Menghapus. Mengetik lagi. Berhenti lagi. Ia menghela napas panjang, lalu layar itu mati dan akhirnya ia tidak membalas. “Masuk.” Suara itu datang dari dalam ruangan Leonardo Donovan, ayahnya. Leonardo Donovan berdiri di dekat meja kerjanya. Tatapannya langsung jatuh ke Max begitu ia masuk. “Duduk.” Max menurut, ia la
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


