Sementara itu, di rumah yang tidak lagi terasa seperti tempat orang sakit, Alisha berdiri di dapur dan memakai kaus longgar serta celana rumah. Rambutnya diikat asal, sederhana, tapi hidup. Hal itu sangat berbeda dari sosok rapuh di ranjang beberapa waktu lalu. Dan Max berdiri tidak jauh darinya, menyandarkan tubuh ke meja, memperhatikannya dalam diam. Alisha melirik dan tersenyum padanya. “Kenapa lihatnya kayak gitu?” tanyanya ringan. Max tersenyum tipis. “Jarang lihat kamu normal.” Mendengar hal itu membuat Alisha mendengus pelan. “Normal versi kamu tuh nyebelin.” Ia kembali fokus ke piringnya, mau mengambil makannya dari wajan, gerakannya tidak rapi, sedikit berantakan. Max mendekat pelan mengambil spatula dari tangannya. “Biar aku aja,” katanya. Alisha langsung menarik kemba

