“Tuh kan, aku bilang juga apa. Pasti dia kacaukan mukaku deh tadi,” ujar Tasya sambil mencabut bunga-bunga krisan kuning di pojok kamarnya. “Sayang, kok dirusak bunga pengantinnya. Aku dekor kamar ini buatmu loh. Lagian ngapain sih masih bahas dia aja! Ini kan malam pengantin kita,” balas Arga sambil mengusap wajahnya setelah membasuh muka. “Ya habis. Berani sekali sih dia tuh datang ke sini! Gak malu apa?” ujar Tasya makin emosi. Arga menyentuh kedua tangan Tasya dengan lembut dan menatap gadis kecilnya yang sedang marah itu. “Cintaku, sekarang kamu milih apa, tertawa bahagia bersamaku atau mengingat orang gak penting? Bukannya biasanya kamu cuek dan gak mau tahu. Sudahlah, stop! Hanya melihat dan memikirkanku malam ini?” rayu Arga. Tasya mulai mengondisikan hatinya. Mungkin karena dia

