Iwan POV. “Elo udah nyicil beli barang buat serahan belum Wan?. Waktu kalo di diemin bukan malah tambah, tapi makin kurang” teguran babeh mengingatkanku. “Iya beh” aku iyakan teguran babeh. Itu awal persiapan pernikahanku dengan Neneng. Dan awal pengurangan uang tabunganku. Tidak masalah sih aku soal itu, karena memang pengeluaran yang mesti aku keluarkan. Masalah lainnya, semakin Neneng dekat dengan keluargaku, terutama Ben setelah dia tinggal dekat keluargaku, adalah Neneng yang seperti semakin menikmati kebersamaan itu. Kadang malah aku merasa di abaikan oleh Neneng. Habisnya seperti tidak perlu menungguku untuk mengajaknya ke rumah orang tuaku atau ke rumah abangku. Ya mungkin gara gara aku lebih sering tidur sampai jauh siang kalo kami libur kerja, jadi dia iseng atau bosan sendiri

