bc

Tiga Wanita dan Krisis Kehidupan Mereka series - 2

book_age18+
145
IKUTI
1K
BACA
revenge
time-travel
fated
second chance
drama
sweet
coming of age
crime
school
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Nyimas Lara Swara memiliki kisah tragis di dalam hidupnya. Siapa yang bisa bertahan dalam keadaan di usia dia yang masih sangat muda harus menghadapi situasi yang sulit. Di mulai dari kedua orang tuanya yang bercerai. Dia ikut bersama dengan papanya karena ada satu alasan tertentu. Dia hidup jauh di Yogyakarta bersama papanya dan juga ibu tiri dia.

Semua itu berawal dari sini. Dari kehidupan baru dia. Kehidupan yang membawa kesengsaraan dalam penderitaan yang merusak masa depan. Dia hancur di dalam dunia yang tidak tahu harus ia sebut apa. Siapa yang tidak jijik dengan dirinya bahkan dirinya sendiri, ketika tangan-tangan itu menyentuh tiap-tiap kulit sampai titik di mana tak seharusnya manusia biadap itu menyentuhnya.

Hancur sudah segalanya hanya dalam sepersekian detik. Pada akhirnya dia mencari perlindungan dari manusia lain. Dia pikir, dia telah mendapatkan apa yang dia mau. Tapi nyatanya semua itu malah memperburuk psikis dia. Dia tidak bisa lepas pada hubungan toxic yang dia jalin dengan seseorang. Justru dia makin hancur bersama dengan manusia-manusia biadap.

Pertanyaannya hanya satu buat dia, apa Tuhan tidak bisa membuat dia mati saja?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab. 1 [Bag. 1 Siapa yang Pantas Tuk Disalahkan?]
Bab. 1 : Siapa yang Pantas Tuk Disalahkan? * Dunia tidak pernah berpihak hanya pada satu orang. Manusia merasa kebahagiaannya telah hilang. Tapi, bukan berarti Tuhan yang harus ditentang. * Lara Bahagia itu adalah surganya dunia ketika berada di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Hadiah-hadiah yang aku inginkan memenuhi kamarku. Dekorasi-dekorasi yang cantik menghiasi rumah istanaku. Teman-teman sebaya datang menghadiri pesta ulang tahunku. Aku ingin menjadi Cinderella malam ini. Keinginan aku diwujudkan oleh papaku. Kedua laki-laki yang aku sayangi menjadi pangeranku di malam hari ini. Perayaan yang selalu dibuat meriah oleh kedua orang tua aku, adalah keinginan-keinginan yang bukan menjadi mimpi untuk dibayang-bayangi. Apapun keinginan aku akan selalu diwujudkan tanpa terkecuali. Aku minta hadiah apapun, aku minta barang apapun, aku minta jalan-jalan ke mana pun, pasti akan dituruti. Ku tiup lilin yang menyala di atas kue. Dan bertepatan ketika itu juga kembang api di nyalakan. Cantik sekali langit-langit malam yang menghias di atas sana. Berkelap-kelip dengan bintang-bintang yang bertebaran di mana-mana dan bulan menjadi penerangan alami di atas kepala kami semua. Mama dan papa mencium pipi-pipi aku. Setelah itu moment ini diabadikan dan menjadi kenang-kenangan. Kenang-kenangan dari bagian cerita hidupku. Aku baru menginjak umur tiga belas tahun. Kata mama, "sekarang Lara udah jadi remaja yang cantik. Umurnya Lara aja sekarang udah masuk belasan tahun. Kalo perempuan sudah masuk belasan tahun, Lara gak boleh dulu, ya, pacar-pacaran. Apalagi baru masuk dunia SMP. Mama gak kasih kamu izin buat pacar-pacaran kecuali kalo kamu berteman. Nggak apa-apa," pesan mama. Mama bilang, aku masih sangat muda. Masih terlalu jauh untuk mengenal cinta-cintaan. Masih belum kuat untuk mengenal rasa sakit. Masih terlalu polos untuk mengenal dunia laki-laki. Iya, benar. Benar semua yang mama katakan. Tapi apa benar buat aku? Aku rasa, untuk diriku sendiri, yang mama katakan itu tidak benar. Benar buat mama, salah buat aku. Pada kenyataannya, aku sudah dipaksa untuk kuat mengenal kesakitan. Kebahagiaan yang rupanya hanya sebuah kebohongan. Cinta dan kasih sayang yang tulus rupanya hanya kepalsuan. Sandiwara yang menyakitkan. "Mau sampe kapan sandiwara ini harus saya jalani? Hah! Mau sampe kapan saya harus bertahan di pernikahan ini? Mau sampe kapan saya harus hidup dan tinggal satu atap sama kamu? Saya tidak mencintai kamu! Saya sudah mencintai perempuan lain. Asal kamu tau saja, saya ini... selingkuh!" ungkap papa dengan nada pelan tapi penuh dengan penekanan. "Saya selingkuh di belakang kamu. Nggak tau, kan, kamu?" Mama menangis. Menangis dengan kepala menunduk ke bawah, mama duduk di ranjang sedangkan papa berdiri di hadapannya. "Saya mengakui ini di hadapan kamu. Tadinya saya gak mau bilang. Saya cuma mau kita bercerai saja tapi kamu gak mau. Memaksa saya untuk tidak menceraikan kamu. Saya ini gak mau menyakiti kamu karena kejujuran saya. Tapi, saya rasa kamu yang memaksa saya untuk mengatakan ini semua," pungkas papa. "Jadi, saya katakan semua ini. Saya menduakan kamu selama ini." "b******k!!!" Aku terperanjat kaget saat tubuh aku di geser oleh Abang aku. Abang aku rupanya berdiri di belakang aku, kita berdua berdiri di depan pintu kamar mama. Abang Juna langsung masuk ke dalam kamar mama. Papa dan Abang Juna terlibat perkelahian. Aku.... Aku gak bisa berpikir apa-apa. Semua ini terasa aneh buat aku. Aneh sekali. Aku cuma diam terpaku. Mematung. Membiarkan orang-orang yang bekerja di rumah aku ini memisahkan Abang dan papa. "Saya bunuh kamu! Bener aja! Saya bunuh kamu!" "Juna, udah Juna! Ingat ini papa kamu! Jangan kamu main hakim sendiri!" Kenapa? Satu itulah pertanyaan yang ada di benak aku. Papa kenapa melakukan itu semua? Apa papa sudah tidak sayang dengan kami? Mama menghampiri aku. Memeluk aku dengan erat. "Sayang... Kamu harus kuat, ya. Harus kuat," lirih mama dengan tangisannya di hadapan aku. Mama bilang, aku masih belum kuat untuk mengenal rasa sakit bahkan untuk merasakannya. Dan sekarang apa yang barusan mama katakan kepada aku? Aku harus kuat? Dipaksa kuat? Rasa sakitnya datang tiba-tiba dan aku harus langsung dipaksa kuat? Begitu? Dipaksa kuat dengan berbagai kenyataan yang harus aku terima di usia sekarang ini. Di mana ketika Hakim mengetuk palunya lebih dari sekali dan meresmikan perceraian mama dan papa di Pengadilan Jakarta Pusat. Tante mengusap-usap bahuku. Aku menengok ke sana ke mari, di tempat aku duduk. Tidak ada Abang. Abang gak ikut hadir di sidang perceraian mama dan papa. Aku merasa sendirian sekarang. Aku butuh Abang. "Aku gak liat abang dari tadi," seru ku pelan. Tante menoleh pada aku. Sedikit menundukkan kepalanya. "Di mana abang?" tanya aku. Tante sendiri tidak tahu. Dia cuma mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya. Tante tidak tahu ke mana abang pergi. Mau aku mencarinya pun, bagaimana? Saat ini aku sedang tenggelam dengan perpisahan mama dan papa. Di hadapan aku. Sidang perceraian telah selesai. "Sekarang tinggal pilih, Lara mau ikut sama saya atau sama kamu? Saya gak peduli dengan Juna. Dia udah besar. Umur dia udah dua puluh empat tahun. Dia bisa urus diri dia sendiri!" Papa bersuara kepada mama dan abang di malam hari itu. Aku di dalam kamar sendirian lagi. Di atas ranjang, terbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh aku. Dapat aku dengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuat seorang anak tentu tidak dapat bisa memilih harus ikut dengan siapa. Mama dan papa adalah orang tua aku. Bagaimana aku bisa memilih di antara keduanya? Keluar dari ruangan persidangan. Mama menahan diri aku yang hendak ingin mengejar papa yang langsung keluar dan pergi begitu saja. Saat malam itu, mama bilang kepada aku. Beliau ke kamar aku dan membangunkan diri aku. Aku tidak tidur. Aku cuma menangis. "Sayang, kamu ikut sama Mama, ya. Abang juga ikut sama Mama. Pokoknya kita gak bakalan berpisah," ucap mama. Tapi, mereka hanya membicarakan tentang perpisahan saja tidak dengan perasaan aku. Aku sakit. Sakit harus merasakan perpisahan dari kedua orang tua aku. Aku berharap, ada yang menanyakan tentang keadaan aku, maka akan aku katakan jika aku rasanya ingin mati saja. Aku tidak pernah membayangkan kalau keluarga aku harus hancur. Papa pergi meninggalkan aku. Lalu, aku hanya hidup dengan bersama mama, abang dan kedua adik aku yang masih kecil. Aku teringat ketika saat di rumah sakit, mama melahirkan anak kembar. Laki-laki lagi. "Gimana? Kamu seneng gak sekarang udah punya adik? Jagoan semua. Kembar lagi," ujar papa di sebelah aku. Aku sama papa sedang melihat adik-adik aku yang ada di dalam inkubator. Sayangnya, aku dan papa hanya bisa melihat dari luar ruangan saja. Ruangannya hanya boleh tenaga medis saja yang masuk. "Aku bahagia banget sekarang Papa, aku udah punya adik. Lucu-lucu lagi," balas aku seraya memeluk papa. Aku kecup pipi papa penuh dengan kasih sayang dan cinta. Papa mengusap-usap rambut aku dengan lembut. Bahagia sekali diri aku karena di keluarga aku kini bertambah lagi anggota keluarga yang baru. Aku pikir ini akan menjadi awal yang baik. Awal yang di mulai dengan kebaikan-kebaikan yang Tuhan berikan. Lengkap. Sebuah kelengkapan yang utuh. Dan ku rasa semuanya akan terus begini. Kebahagiaan-kebahagiaan yang akan terus aku dapatkan. Nyatanya apa? Perpisahan tiba-tiba menjadi akhir dari keluarga aku. Hancur. Tidak pernah aku pikirkan jika semua ini akan terjadi di dalam hidup aku. Tidak adil. Tidak adil buat aku dan aku nggak mau menginginkan ini semua terjadi di dalam hidup aku. Kenapa harus begini? Kenapa Tuhan memberikan kesakitan yang luar biasa pada keluarga aku, pada mama, pada abang, pada kedua adik aku dan pada diri aku sendiri. Apa papa tidak akan pernah lagi kembali? Saat berada pertama kali di rumah tanpa papa, rumah ini terasa dingin dan terasa auranya berbeda sekali. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tidak ada lagi keceriaan, sudah tidak ada lagi tawa yang menjadi sumber kebahagiaan dalam suasana rumah kami. d**a aku terasa sesak namun aku tahan untuk tidak menangis. Mama lebih banyak diam untuk sekarang dan abang juga tidak banyak bicara. Dia lebih memilih pergi ketika malam hari dan tidak ikut makan malam bersama kami. "Kamu gak makan malem dulu?" tanya mama begitu abang keluar dari kamar. "Nggak, Mah, Abang udah dijemput temen di luar," jawab abang sambil mengambil segelas air putih. "Memangnya kamu mau ke mana? Makan malam dulu, lah. Dari pagi kamu disuruh makan susah bener." "Abang mau maen billiar dulu, udah, ya," pamit Abang pergi setelah itu. Biasanya Abang nggak pernah nggak makan malam sebelum pergi ke luar. Abang memang hobi maen billiar. Udah menjadi kesukaan dia. Tapi, karena sekarang papa sudah tidak ada. Aku tahu, pasti Abang merasakan mood yang buruk. Abang gak mau lagi makan malam bersama kami di hari-hari berikutnya. Aku sangat sedih. Abang setiap kali aku dekati, abang nggak banyak bicara. Biasanya kita bercanda, Abang suka mengelus kepala aku. Tapi, sekarang Abang udah banyak berubahnya. "Bentar lagi kamu udah mau masuk SMP, Lara. Mama mau kamu masuk SMP favorit, oke. Jadi, kamu harus belajar dengan giat," ucap mama. Mama melihat brosur yang mama dapatkan dari temannya. "Biayanya mahal juga, ya," gumam mama. Namun, masih dapat aku dengar ketika aku sedang belajar. Dan mama menemani aku belajar di ruang tamu. "Sekolah di tempat biasa aja, Mah," ujarku. Aku mengerti jika keuangan mama sedang tidak baik-baik saja. Setiap kali, aku pernah melihat tukang bank keliling mendatangi rumah kami untuk menagih hutang kepada mama. Mama kadang dimarah-marahin karena tidak bisa membayar hutang. "Nggak. Kamu harus sekolah di tempat yang baik, yang fasilitasnya mendukung dan berkualitas," seru mama tegas. Abang tiba-tiba datang, ikut nimbrung bersama kami. "Ini surat tagihan UKT Abang, Mah," ucap Abang dengan menyodorkan surat yang dimaksudkan. "Cuman, Mama gak perlu pusing. Biar keperluan semua Abang yang urus. Mama gak perlu mikirin Abang, mama cukup pentingin dan pikirin adik-adik Abang aja. Abang bisa urus diri Abang sendiri," kata Abang. Aku tidak bisa berkata-kata melihat Abang yang berkorban demi adik-adiknya. "Memangnya kamu dapat uang dari mana buat bayar biaya kuliah kamu? Kamu, kan, belum bekerja. Kamu itu masih kuliah," ucap mama meragu. "Iya, bener! Abang, kan, belom kerja. Abang dapet uang darimana kalo Abang belom bekerja?" timpalku. Abang malah tertawa tidak jelas. "Iya, udah, gak usah dipikirin, lah. Uang dari mana aja yang penting Abang mulai sekarang mau mandiri. Udah tenang aja," jawab Abang dengan santai. Mama nampak curiga sampai-sampai matanya memincing memerhatikan Abang. "Kamu jangan aneh-aneh, loh, Bang," peringat mama tegas. "Iya, iya, udah, ya, Abang mau maen dulu," pamit Abang keluar lagi karena sudah dijemput sama teman-temannya. Mama tidak akan memaksa Abang mau bagaimanapun juga. Abang sudah dewasa. Abang sudah kuliah dan juga sebentar lagi bakalan lulus. Sedangkan aku nanti baru akan masuk SMP. Sebenarnya bagi aku, kepergian papa telah membawa bencana pada hidup aku. Aku harus hidup dengan segala kesederhanaan. Mama terbiasa bergantung pada papa. Kita semua bergantung pada papa, pada usaha papa juga. Usaha showroom mobil papa itu ada banyak dan kita hidup enak pada masanya. Sekarang setelah mama dan papa berpisah, kita semua jatuh miskin. Hidup jadi susah. Hidup dengan cara ngirit. Semua mesti hemat, hemat dan hemat. Gak boleh ada kata boros! Kedua adik kembar aku menangis terus karena tidak ada s**u. Aku harus menjaga kedua adik aku di dalam kamar. Dari tempat aku juga, aku mendengar suara ribut-ribut di luar sana. Mama ditagih hutang sana-sini sama rentenir. Mamah dimarah-marahin dan aku tidak menyukai kata-kata mereka yang mencaci maki mama. Abang datang dengan emosi yang meledak-ledak. "Duit? Iya, kalian perlu duit, kan? Ini saya bayar utang Mama saya," ucap Abang kepada mereka berdua. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Yang perempuan itu menagih hutang kredit barang-barang. Sedangkan yang satu nya lagi itu adalah rentenir setahu aku. "Ini masih kurang," seru pria itu yang kumisnya tebak sekali. "Bunganya masih banyak, kapan mau bayar lagi?" tanya orang tersebut dengan mendesak. "Ays, banyak bener kamu ini maunya. Saya bayar segini dulu, nanti kalo saya ada uang, saya bayar lagi. Udah pergilah kalian itu," usir Abang dengan memegang tas yang ia cangklek di bahunya. "Awas Lo, ya, sampe bohong abis Lo sama gue," ancam orang tersebut. "Kamu nanti yang abis sama saya kalo masih aja di sini," balas Abang. Abang gak pernah takut dengan siapapun. Sejak dulu dia suka sekali berantem sama orang. Sampe mama suka dipanggil ke sekolah karena ulah Abang yang suka berantem. Mama masuk ke dalam rumah lagi dengan wajah lesu tak berdaya. Aku sangat kasihan sekali dengan keadaan mama yang tubuhnya bahkan sudah kurus kering. Jarang makan. Mama kembali menyibukkan dirinya dengan menjahit baju. Mama membuka usaha kecil-kecilan dengan menjahit baju untuk biaya kebutuhan makan. "Nanti Abang carikan lagi buat lunasin semua nya ya," seru Abang sambil melempar tas nya ke atas sofa. Mama dan Abang gak tau kalau aku mendengar perbincangan mereka itu. "Mama khawatir sekali kalo Mama gak bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak Mama," seru mama dengan suara bergetar. Mama tangisannya tiba-tiba pecah. Abang ada untuk mama. Memeluk mama. Melindungi mama dengan kemampuan yang abang punya. "Mama gak bisa begini terus ....," lirih mama. Aku memundurkan langkah ku dan kemudian cuma bisa berbaring dengan tubuh miring menghadap kedua adik aku yang sedang tertidur. Papa di mana? Selalu itu yang aku pertanyakan entah pada siapa tapi yang jelas bukan kepada mama dan juga abang. Tapi, pada Tuhan. Namun, Tuhan sampai sekarang belum memberikan jawaban apa-apa sampai saat ini juga. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook