Galaxy Cafe. Tempat biasa mereka kumpul kebo. Di sanalah Alex membawa langkah kakinya menuju ruangan yang sudah diberitahu Bian lewat sebuah cahtt. Katanya Bian dan seorang gadis sudah menunggu.
Alex berhenti di depan salah kamar yang dengan nomor 127 menempel pada pintu. Lalu menekan bel, setelah itu Bian membukanya.
"Tunggu, siapa gadis itu?" kaget Alex melihat gadis berpakaian miniskirt hitam yang tidak dia kenal duduk di tepi ranjang. "Di mana Haruna Yemi? Apa kita bermain empat orang?" Dia sambil melihat sekitar mencari Yemi.
"Threesome tidak harus menggunakan Yemi, kan? Ini saja tidak mudah didapat. Dan yang paling penting dia perawan," jelasnya sambil menepuk bahu Alex agar tidak kecewa.
"Tapi perjanjian kita kan—"
"Kalau tidak mau ya sudah. Aku suruh dia balik saja."
"Eh, jangan-jangan! Yasudahlah daripada tidak ada."
Tanpa Yemi pun, mereka tetap melakukan threesome karena sudah terlanjur di sini. Jika dilihat dari segi fisik, gadis yang didapatkan Bian melalui bantuan temannya itu jauh lebih perfect dari Yemi. Poin utama yang mereka nilai untuk memuaskan nafsu birahi.
1 jam yang lalu...
"Memangnya segalak apa Ibu kamu sampai harus ditakuti seperti itu?"
"Ini bukan masalah dia galak atau apa. Sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada orang tua, kan? Orang tua itu untuk dihormati, bukan untuk dilawan."
Sialan! Bian dibuat tidak bisa berkata-kata.
'Apa dia berusaha membuatku berubah pikiran?'
Karena bingung dengan pikirannya, Bian mendadak tancap gas sampai gadis itu berteriak karena belum siap.
"Ada apa denganmu?! Apa aku salah bicara?!" Yemi panik sambil meremas sabuk pengamannya kuat-kuat. "Pelan-pelan! Kamu sudah tidak waras, ya?!"
Bian berusaha tidak mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut gadis itu. Tetap mengebut hingga mereka tiba di tujuan dengan kedua lutut Yemi gemetaran.
"Ini kan..." rumahnya. Bian memilih mengantar Yemi pulang. Pikirnya kasihan.
"Apa kamu mengerjaiku? Jika berniat mengantarku pulang kenapa harus menggunakan cara seperti ini? Aku kan tidak harmmphh—"
Bian menyumpal mulutnya berisik itu dengan ciuman.
Karena takut Bian semakin menjadi-jadi, atau barangkali berubah pikiran, Yemi segera mendorong tubuhnya lantas bergegas keluar setelah mengambil barang belanjaannya. Gadis itu berlari memasuki rumah.
Bian ataupun Yemi sama sekali tidak merasakan getaran apapun. Berciuman seperti tadi, sama halnya dengan hanya berjabat tangan. Bagi mereka hal itu, sekali pun bukan masalah.
Sehabis mengantar Yemi, Bian langsung mengarah menuju Galaxy Cafe. Dia menghampiri seorang bartender muda tampan bernama Markus.
"Hai..."
"Bagaimana, Mark? Ketemu gadisnya?"
"Sesuai keinginanmu." Mark melempar kunci kamar pada Bian yang dengan sigap ditangkap. "Kamar 127."
"Kanu memang bisa diandalkan. Thank you." Menepuk pundak Mark lalu segera menemui gadis di room yang disebutkan.
***
Baru saja kemarin mereka berkenalan. Bian dan Tzuyu sudah terlihat begitu akrab ketika mereka sama-sama datang dari parkiran menuju pekarangan Sekolah. Peduli amat dengan keadaan sekitar yang tiada hari tanpa gosip jika melihat Bian menggandeng gadis yang berbeda setiap harinya.
"Bukannya Bian dan Yemi resmi pacaran? Tapi kenapa Yemi diam saja melihat Bian jalan dengan anak baru itu?"
"Ah, mungkin mereka hanya kebetulan bertemu di parkiran. Jadi jalan barengan. Bisa jadi, kan?"
"Tidak mungkin. Kalian seperti tidak tahu Bian saja."
"Atau Yemi cuma b***k cintanya?"
"Atau hanya pacar sesaat? Playboy macam Bian kan tidak mungkin bisa fokus dengan satu perempuan saja. Apalagi Chou Tzuyu gadis sempurna. Bian tidak mungkin tinggal diam."
"Tapi jika Tzuyu gadis baik-baik, dia pasti sudah tahu Bian itu seperti apa."
"Hei! Jangan pandang Bian dari sisi buruknya saja. Dia juga punya kelebihan, dia tampan, kaya dan berprestasi. Hanya kelakuan yang satu itu saja yang membuatnya tidak bisa setia."
Mereka tidak tahu bahwa salah seorang yang berada dalam topik pembicaraan mereka kini tengah menguping. Bian mau jalan dengan siapapun. Baginya, itu pemandangan biasa. Jadi, sungguh bukan sesuatu yang harus ia pusingkan.
"Aku rindu Daniel." Dinda berkata galau dengan menopang dagu di antara lipatan tangan di atas meja.
"Sudah pasti kamu rindu orang yang kamu sukai."
"Tapi juga benci kalau melihat wajahnya."
Yemi hanya bisa menghela nafas. Fokusnya beralih pada Tzuyu yang baru memasuki kelas lalu menempati tempat duduk yang bersebelahan dengannya.
Tzuyu melempar senyum padanya, senyum yang mengganjil. Atau hanya perasaan Yemi saja? Walau begitu dia membalasnya dengan tersenyum canggung.
"Tzuyu keliatan akran banget ya sama Bian sampai-sampai di antar ke kelas. Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya seorang siswi di ruangan itu. Mewakili rasa penasaran yang lain.
'Hah? Bian mengantar Tzuyu sampai kelas?'
Yemi telah melewatkan momen itu. Padahal tadi Bian sempat melihatnya di jendela saat melintasi kelas mereka.
"Tidak, kok. Kami bahkan belum pernah bertemu." Tzuyu berkata jujur.
"Tadi pagi juga. Seperti ada sesuatu di antara kalian."
Tzuyu tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum.
"Wah, Yemi cemburu tuh..."
Yemi tidak menyangka akan ditarik dalam perbincangan ini. Itu sebabnya dia ikut menimpali.
"Apa? Aku tidak cemburu sama sekali."
"Kenapa tidak? Kalian kan pacaran."
"Tolong, ya. Kalian tidak usah kepo dengan urusan orang?" Itu Dinda yang bicara. "Aku yakin Tzuyu gadis yang baik. Jadi dia lebih tau diri posisinya." Secara tidak langsung Dinda memberi ejekan pada murid baru itu.
Yemi langsung melototi Dinda yang menurutnya perkataannya terdengar cukup kasar.
Sementara Tzuyu dibuat tidak nyaman.
"Wajar jika Bian memilih Tzuyu. Karena dia yang tercantik di Sekolah ini."
Suasana hati Tzuyu kembali membaik karena ada sebagian yang memihaknya.
Bisa saja perdebatan mereka jadi panjang jika wali kelas tidak datang sekarang. Membuat mereka harus menghentikannya.
***
Tzuyu dibuat terkejut dengan keberadaan Bian ketika dia sedang menutup pintu loker.
"Ya ampun. Aku hampir jantungan."
Bian hanya tertawa kecil. "Maaf. Kamu sudah makan siang?"
Tzuyu menggeleng.
"Aku juga belum. Mau ke kantin bersama?"
Tzuyu tampak berpikir. Sebagai seorang perempuan yang baiknya hanya 75%. Buktinya dia kepikiran dengan sindiran Dinda sehingga membuatnya ragu berada dekat-dekat dengan Bian.
"Kamu yakin tidak ada yang akan cemburu?"
"Maksud kamu?"
"Pacar kamu. Kenapa kamu tidak ajak pacar kamu Haruna Yemi?"
"Dia bukan pacarku."
"Sungguh?"
"Sepertinya kamu termakan gosip di Sekolah ini. Kamu bilang kamu tahu siapa aku. Jadi siapa yang kamu percaya?"
Artinya siapapun bisa dekat dengan Bian.
"Jika ada yang mengganggumu bilang saja padaku."
Tzuyu tersenyum. "Tidak ada yang ganggu kok."
"Jadi, kamu kau temenin aku makan siang?"
"Iya. Ayo kita pergi."
Yemi agak terusik dengan tatapan Bian yang tidak jelas di sana. Datar, tidak berkedip. Kesurupan kah?
Kedua alis Yemi menyatu mereaksikan keheranan. "Anak itu kenapa sih?"
Lalu suasana kantin mendadak menjadi heboh ketika Tzuyu bergabung di meja komplotan Bian Lee. Lebih menggemaskan lagi dia duduk di samping Bian sesuai permintaan pria itu.
Untung saja Yemi bukan siapa-siapa bagi Bian, atau setidaknya menyimpan rasa terhadap laki-laki itu. Karena dia akan pergi melabrak meja mereka lalu membuat keributan besar. Itu sebabnya Yemi terlihat tenang-tenang saja di tempatnya.
Tidak dengan murid-murid lain. Mereka sibuk mengamati Bian yang sedang bersama Tzuyu, lalu memperhatikan Yemi secara bergantian.
"Berarti Tzuyu bukan gadis baik-baik," komentar Dinda.
"Sudahlah, Dinda. Kalau mau hidup simple, cukup jangan mengurusi kehidupan orang lain."
"Jangan jatuh cinta pada Bian, ya?"
"Dia bukan tipeku, kok."
"Tapi kamu pernah ditiduri." Percayalah. Dinda hanya meledeknya.
"Tolong jangan bahas itu lagi. Aku jadi tidak berselera."
"Baiklah. Sorry."
***
Jalan dengan Yemi seperti biasa. Masih di pekarangan Sekolah. Dinda mendadak berhenti ketika melihat sosok Daniel di gerbang Sekolah. Matanya melotot seperti dikejar lintah darat.
"Gawat! Bagaimana ini?" Dia kelabakan mencari tempat bersembunyi.
"Kenapa?" Yemi heran melihat tingkahnya.
"Daniel di sini. Aku harus sembunyi. Bilang aku sudah pulang, ya!" Dia bicara sangat cepat lalu berlari kembali ke dalam.
Di sini Daniel melihat Yemi lalu menghampirinya.
"Hai, Yemi?"
"Hai, Daniel."
"Kamu tidak bersama Dinda?"
"Itu. Dia sudah pulang duluan."
Wajah Daniel tampak gusar. "Akhir-akhir ini Dinda menolak panggilanku. Apa Dinda pernah cerita sesuatu padamu?"
Yemi menggeleng.
"Baiklah. Tolong katakan padanya kalau aku datang hari ini. Dan bilang aku ingin bertemu."
"Iya. Nanti aku sampaikan."
Setelah Daniel pergi, Yemi kini menyusul Dinda. Cukup lama dan sulit dia mencari keberadaan gadis itu. Terlebih Sekolah mulai terlihat sepi.
Sembunyi di mana sih gadis itu?
"Dinda? Kamu di mana?"
Dia mencari ke semua ruang kelas, ruang loker, Toilet, dan ruangan lainnya.
"Dinda?"
Bodoh. Apa gunanya hp? Dia menepuk jidat lalu mengambil ponselnya di ransel.
Suara ganjil di dalam ruang kesehatan membuat Yemi urung meneleponnya. Dia pikir Dinda pasti di sana.
Tapi ketika dia masuk tidak ada siapa-siapa.
"Dinda? Keluar lah!"
Yemi merinding.
Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, dia memutuskan untuk keluar saja. Tapi tubuh seseorang menghalangi begitu dia berbalik. Dan mulutnya langsung dibekap dengan kain yang sudah tercampuri obat bius.[]