06. Otak s**********n

632 Kata
"Permisi!" Anay terkesiap saat melihat sepasang sepatu Nike airmax 270 black berdiri tepat di depannya. Anay mendongak, melihat siapa pemilik sepatu yang saat ini masih berdiri di hadapannya. Laki-laki itu mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans hitam. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana. "Kamu nggak pa-apa?" tanyanya lagi. Sadar dengan posisinya, Anay buru-buru menghapus air matanya lalu berdiri. Anay mengangguk kaku, "Iya." Laki-laki itu kembali meneliti penampilan Anay "Yakin?" Belum sempat menjawab, seseorang sudah lebih dulu menepuk pundak si pemilik sepatu, "Woy! Ngapain lo?" Laki-laki dengan outfit Hitam itu kini menatap Anay. "Eh---Gan, siapa nih?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Anay. Laki-laki pemilik sepatu berdecak kesal, "Bukan siapa-siapa, nggak usah aneh-aneh." Laki-laki dengan outfit hitam terkekeh, secara terang-terangan meneliti penampilan Anay yang saat itu mengenakan dres hitam di atas lutut. "Boleh kenalan dong!" Dia mengulurkan tangannya lalu di sambut Anay, "Gue Rian, dan ini---" dia menepuk pundak pemilik sepatu, "Argan." "Annaya." Jawabnya kaku, lalu melepas jabat tangan mereka. "Eh! Tunggu, gue kayaknya pernah ngeliat lo dimana gitu---" laki-laki bernama Rian itu terlihat berpikir, lalu tiba-tiba menjentikan jarinya dengan heboh, "Lo yang tadi didalam kan? Yang duduk sama Pak Dirgantara kan?" tanyanya antusias. Anay menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit risih tapi Anay tetap mengangguk sebagai jawaban. "Ck! Nggak nyangka gue, ternyata Pak Dirga doyan daun muda juga." Seru Rian menyeringai puas, sedangkan Argan menatap Anay dengan satu alis terangkat. Sadar suasana yang mulai berubah canggung, Argan berdehem pelan. "Udahlah Yan, nggak usah ikut campur." Rian memilih mengabaikan Argan, dia lebih berminat mengomentari perempuan asing didepannya. Kedua tangannya tersilang di d**a, kembali meneliti penampilan Anay. "Tapi sayang ya, cewek secantik lo harus jadi simpenan om-om." "Yan," tegur Argan. Anay mengerutkan dahinya bingung, "Maksud lo apa?" Rian terkekeh sinis, "Udahlah, nggak usah muna." Bentaknya lalu melirik paha Anay, "Menghalalkan segala cara demi tuntutan hidup, hah?" Ujarnya meremehkan, laki-laki itu secara terang-terangan memperlihatkan kebenciannya. "Yan, lo apa-apaan sih?" Ujar Argan kesal menatap Rian. Anay mengepalkan tangannya, menarik lalu menghembuskan napasnya berkali-kali. Setelah merasa sedikit tenang, Anay maju beberapa langka mendekati Rian. Menatapnya dengan tatapan menantang. "Did you just call me a b***h?"  Rian terkekeh sinis, "Yes, little b***h. want to play with me?" Anay tersenyum, melepas karet rambut di pergelangan tangan kirinya lalu mencepol rambutnya dengan asal. "Sure, I'll show you the real game." Sedetik kemudian Anay menendang s**********n Rian, tanpa memedulikan pemilik burung yang sudah menggeram kesakitan. Dengan cepat Anay memutar lengan Rian, dan menaruhnya di belakang punggung lelaki itu. Argan? Mendadak t***l dengan pemandangan di depannya. Mengabaikan Rian yang berkali-kali menjerit kesakitan. "Annaya!" Anay mendengus melihat beberapa orang yang setengah berlari ke arahnya, dengan terpaksa dia melepaskan Rian. "Nay, kamu nggak pa-apa?" Tanya Kanjeng Ratu terlihat cemas. Anay mengangguk. "Loh! Argan? Kalian disini?" Argan yang sedang membantu Rian berdiri langsung tersentak kaget. "Iya Pak," jawab Argan, Rian tersenyum kikuk. Dirga mengernyit, melihat Rian yang tampak kesakitan menahan selangkangannya. "Kamu nggak pa-apa Yan?" Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Anay, "Kalian sudah saling kenal?" Argan dan Rian langsung menatap Anay. "Pak Dirgantara kenal sama mereka?" Tanya Anay datar. Kanjeng Ratu tergelak, merasa lucu saat Kakaknya di panggil dengan panggilan formal. Sedangkan Dirga menatap tajam Kanjeng Ratu. Dirga berdehem, "Argan, Rian, kenalin ini---Annaya. Anak saya." Uhukk! Uhukk! Keduanya langsung tersendak ludahnya sendiri. Sedangkan Kanjeng Ratu dan Dirga mengernyit bingung. "Nay, mereka ini karyawan Papi di kantor." Jelas Dirga tanpa diminta. Anay mengangguk paham. Lalu menatap Rian. "Jangan lupa periksain burung lo ke dokter, tagihannya kirim aja ke Pak Dir-gan-tara."  "Burung?" Dirga kini menatap Rian, "Kamu punya burung Yan?" Argan susah payah menahan tawanya, sedangkan Rian tersenyum kikuk. IQ-nya mendadak turun ke s**********n.  Manteri susi tolong tenggelamin gue sekarang juga. Batin Rian "Annaya, Tante nggak bermaksud---" "Udahlah Tan, ini bukan salah Tante. Aku cuma lagi capek aja, pengen tidur." Anay berlalu ke arah tangga. "Nay, kamu... belum bisa maafin Papi kamu?" Tanya Kanjeng Ratu lirih. Anay menghentikan langkahnya tanpa berbalik melihat Kanjeng Ratu. Dia Menghembuskan napasnya panjang. "Aku butuh waktu, Tan." Tidak ada anak yang membenci Ayahnya. Jauh di lubuk hatinya, dia juga merindukan sosok Dirga. Untuk saat ini, Anay hanya butuh waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN