Hari ini, Dewan direksi kembali melakukan pertemuan dengan para pemegang saham, sekaligus memperkenalkan Anay sebagai Sekar Ayu Annaya Dirgantara. Dan sialnya, Anay tidak punya pilihan lain selain muncul di Dirgantara Group sebagai Anak dari Abidzar Dirgantara. Sebelumnya Anay memang pernah datang ke kantor Dirga, tapi tidak pernah ada yang tahu bahwa Anay adalah anak dari pemilik perusahan kecuali orang-orang kepercayaan Dirga, salah satunya Barata. Sejak kejadian di acara tahunan itu, Dewan direksi memutuskan untuk mengikutsertakan Anay di rapat kali ini. Dan mungkin setelah hari ini, tidak akan ada lagi kehidupan normal. Segala sesuatu yang Anay lakukan akan selalu di sangkut pautkan dengan nama besar Dirgantara.
Huh! Anay mendesah frustasi. Sudah lama ia tidak menyandang nama besar Dirgantara. Nama besar itu terlalu banyak membawa pengaruh di dalam hidupnya, terutama untuk sekelompok penjilat yang tiba-tiba datang sebagai teman, gebetan bahkan orang yang tidak di kenal sekalipun.
Anay memejamkan matanya, menghembuskan napasnya berulang kali sebelum melangkah masuk ke gedung dua puluh satu lantai itu.
"Permisi, saya ada janji sama Pak Dirgantara. Tapi bisa tolong hubungi Pak Barata dulu?" Ujar Anay begitu sampai di meja resepsionis.
Dua perempuan yang duduk di balik meja resepsionis menatapnya dengan pandangan menyelidik lalu saling berbisik. Sebelum salah satu dari keduanya berdehem, "Atas nama siapa?" tanyanya.
"Annaya." Jawab Anay lalu melirik name tag perempuan itu. Fany? Ck! bad attitude.
"Sebentar, saya sambungkan dulu ke sekretarisnya." Ujarnya lagi. Anay mengangguk.
Fany tampak sibuk menghubungi seseorang dan menyebut 'Annaya' lalu tiba-tiba dia menoleh ke arah Anay. "Kata Pak Barata, Mbak Annaya bisa langsung ke ruangan CEO, di lantai tujuh belas."
Anay mendengus, Barata jelas tahu perihal Anay yang selama ini menyembunyikan identitasnya. Lalu apa tadi katanya, langsung ke ruangan CEO? Nggak sekalian ke liang lahat?
"Bilangin ke Pak Barata, saya tunggu disini." Ujar Anay sedikit tegas
Fany dan satu temannya terbelalak, sedikit kaget dengan nada bicara Anay pada atasan mereka. lalu Fany kembali berbicara di telepon, tidak lama kemudian panggilan itu berakhir.
"Beliau akan turun sepuluh menit lagi."
Anay mengangguk.
"Annaya!"
Anay berbalik ke arah suara, matanya terbuka lebar, laki-laki itu kelihatan berbeda dengan kemeja biru langit serta celana bahan hitam. Rambutnya di tata rapi dan id card yang di kalungkan di lehernya.
"Oh, hai!" sapa Anay tersenyum canggung.
Berbeda dengan Argan yang tersenyum manis sambil meneliti penampilan Anay yang saat ini mengenakan atasan berwarna moca, rok pensil hitam selutut dan higheels hitam. Perpaduan sempurna untuk perempuan secantik Annaya. Batin Argan.
"You also work here?" tanyanya.
Anay menggeleng cepat. "No, I was forced to come."
satu alis Argan terangkat. "Dipaksa? Sama siapa?"
"Ceritanya panjang, kamu mungkin harus nyiapin popcorn sama cola kalau mau denger versi lengkapnya." Ujarnya terkekeh pelan berusaha mencairkan suasana.
Argan ikut terkekeh, kedua tangannya di masukan ke saku celana. "Interesting, I'm waiting for the full story."
Anay tersenyum lalu mengangguk "Yes, just wait. Bdw---burungnya Rian, amankan?"
Argan tertawa puas, "Burungnya sih, Aman. Pemiliknya aja yang kelihatan kayak hidup segan mati tak mau, gitu."
"Kok gitu?" tanya Anay pura-pura bodoh.
Argan berdecak pelan, "Ya! Menurut kamu, setelah ngata-ngatain kamu... ya, you know what I mean. Apalagi pas tahu kamu anak---"
Anay buru-buru membekap mulut Argan. Bisa gawat kalau sampai Argan keceplosan tentang identitasnya disini. Anay tahu ini hanya masalah waktu sampai semuanya terbongkar, tapi saat ini dia benar-benar belum siap.
Saat sadar posisi mereka terlalu dekat, Anay buru-buru menarik tangannya lalu mundur selangkah untuk memberi jarak, sedangkan Argan terdiam menatapnya. Matanya terpaku pada sepasang mata coklat gelap milik Anay.
Anay berdehem, mendadak salah tingkah karena di tatap sebegitu intens, "Sorry! disini nggak ada yang tahu kecuali kamu sama Rian. Jadi... please keep it a secret. Paling nggak, sampai aku selesai di sidang." Jelas Anay dengan suara yang nyaris berbisik.
"Di sidang?" tanya Argan heran.
"Hm! Itu---"
"Annaya!"
Anay menoleh ke arah suara. Barata Yuda, orang kepercayaan Dirga. Anay mendekat, mengambil tangan kanan Barata lalu mencium punggung tangannya.
"Om, sepuluh menitnya kayak seabad ya? Aku hampir lumutan loh ini." Ujar Anay terdengar kesal.
Barata tergelak lalu mengacak rambut Anay dengan sayang, "Ada kerjaan yang nggak bisa Om tinggal. Lagian kamu kenapa nggak naik aja sih? kamu kan punya kartu akses. Mau sampai---" Barata mengerutkan dahinya saat melihat Argan, "Gan?" lalu pandangannya beralih ke Anay. "Kok bisa kenal Argan? Dia karyawan disini loh, nggak takut ketahuan?" tanya Barata, sengaja menggoda Anay.
Anay memutar bola matanya malas. "Dia udah tahu, Om. Di kenalin Papi."
Barata mengangguk paham masih dengan senyum jahilnya.
Sedangkan Argan tersenyum canggung, "Hm! Pak, tadi saya cuma temenin Annaya ngobrol kok. Kalau begitu saya duluan Pak---" Argan tersenyum menatap Anay "Duluan, Nay." Anay mengangguk kaku.
Itu senyumnya bisa di kondisikan nggak? Batin Anay.
"Ketahuan kamu! Suka ya?"
Anay berdecak, pura-pura kesal. "Ck! Ini meeting-nya jadi nggak sih? Kalau nggak mending aku pulang."
Barata terkekeh geli, "Jadi dong." Ujarnya membawa Anay ke dalam lift, "Nggak selamanya kamu bisa sembunyi, Nay. Dari pada menghindar lebih baik menghadapi kan?"
Anay terdiam, memikirkan kata-kata Barata.