Saat keduanya sampai di depan pintu Meeting Room. Anay meremas kedua tangannya yang terasa dingin, rasa gugup dan takut bercampur menjadi satu. Dia harus tetap tenang, jangan sampai gejala ini menguasai dirinya. Setidaknya, jangan sekarang.
Barata tersenyum, lalu menepuk puncak kepala Anay.
"Everything will be alright. Keep calm, okey?"
Anay menghembuskan napasnya panjang lalu mengangguk.
"Ready?" tanyanya lagi, Anay mengangguk yakin lalu kedua tangannya terangkat mendorong pintu besar di depannya, di ikuti dengan langkah gadis itu memasuki ruangan.
Napasnya tercekat, paru-parunya mendadak kehilangan oksigen saat semua mata memandang ke arahnya. Ini semakin menegangkan setelah Barata bilang mereka mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan ringan. Tapi, ringan yang di maksud Barata belum tentu juga ringan untuk Anay. Dari cara mereka menatapnya, Anay yakin sesi perkenalan ini tidak ada bedanya dengan tes kepribadian atau mungkin... tes kesehatan jiwa? Maybe.
Saat jari-jari tangan dan kakinya nyaris membeku, seseorang di ujung meja panjang itu berdiri menyambut Anay dengan senyum mengembang. Senyumnya selalu menenangkan Anay dari gejala panik dan gugup. Entah keberanian dari mana, Anay melangkahkan kakinya mendekati sosok itu lalu memeluknya erat.
"Papi minta maaf." bisik Dirga.
Anay mengangguk. "Pastiin aja, aku bisa keluar dari sini dalam keadaan waras."
Dirga terkekeh geli dan mengangguk. "Sure, I promise."
Dirga melepas pelukan mereka lalu membawa Anay di sampingnya, berdiri menghadap Dewan direksi dan para pemegang saham yang saat ini melihat ke arah mereka.
Barata yang duduk di deretan pertama samping kiri, tampak sibuk dengan leptopnya. Tidak lama kemudian, dia mengangguk ke arah Dirga sebagai tanda untuk memulai rapat.
Dirga berdehem menarik atensi semua orang, "Bisa kita mulai?" tanyanya yang di jawab anggukan semua orang.
Lagi, Dirga menatap Anay dengan senyum mengembang. "Sesuai dengan keputusan Dewan direksi untuk menghadirkan penerus Dirgantara Group. perkenalkan putri saya, Sekar Ayu Annaya Dirgantara."
Anay tersenyum, sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
"Jadi Annaya, keberatan jika saya ajukan beberapa pertanyaan?" tanya Barata.
"Tentu tidak, silahkan." jawab Anay.
"Oke! seperti yang kita tahu, ini pertama kalinya anda berdiri disini sebagai penerus Dirgantara Group. And the question is... Why? Please explain."
"Saya berhenti menggunakan 'Dirgantara' di belakang nama saya, sejak usia empat belas tahun. Why? because I hate sycophants. Orang-orang yang berpura-pura baik hanya karena saya anak dari pemimpin Dirgantara Group."
Barata dan yang lainnya mengangguk paham. Sementara Dirga melihat putrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Selama tidak menggunakan nama besar Dirgantara, apa anda sedang terikat kontrak kerja dengan perusahaan lain?"
"No, I don't work for any company."
Seketika semua orang terperangah, menatap Anay dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa anak dari pemimpin perusahaan besar tidak bekerja? Ada yang terang-terangan menatapnya remeh lalu satu persatu dari mereka mulai mencibir.
Dirga tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Kejadian di masalalu yang berhubungan dengan nama besar Dirgantara telah meninggalkan bekas di hati putrinya. Karena itulah, dia tidak keberatan jika Anay menyembunyikan identitasnya. Sampai pada saat ini, ia berharap Anay mampu mengendalikan pikirannya. Dirga menggenggam satu tangan Anay, lalu menepuk punggung tangannya seolah memberi kekuatan.
Anay menoleh, menatap Dirga. "I'm fine, Dad."
"Maksud anda... pengangguran?" tanya Barata lagi
Anay menoleh ke arah Barata. "Apa... Lima cabang kos-kosan dengan masing-masing cabang memiliki dua puluh kamar, dengan penghasilan perbulan di atas lima puluh juta termasuk ke dalam kategori pengangguran?" Balasnya telak.
Dirga tersenyum puas saat semua orang di dalam ruangan mendadak bungkam.
"Kalau iya, berarti saya termasuk pengangguran yang berpenghasilan." Sambung Anay. Tersenyum puas.
Barata mengangguk paham.
"Next question, Menurut sumber yang terpercaya. Anda merupakan lulusan Universitas Indonesia yang meraih gelar sarjana hukum dengan predikat camlaude. Why don't you join Dirgantara Group?"
Anay tersenyum. "Maybe later? actually, I'm not ready to be Dirgantara anymore. I need time to prepare myself before joining Dirgantara Group."
Dirga dan Barata sontak berdiri dan bertepuk tangan di ikuti yang lainnya. Dirga tersenyum lalu memeluk Anay, "Good girl". Anay menghembuskan napasnya lega, setidaknya untuk saat ini dia tidak harus mengabdikan dirinya sebagai karyawan . Seperti pertanyaan Barata tadi, bagaimana mungkin ada pengangguran dengan gelar itu?Jawabannya, kenapa tidak?
Pada umumnya, lulusan dengan predikat camlaude akan memilih perusahaan besar sebagai tujuannya untuk meraih pundi-pundi rupiah, bekerja kurang dari sebelas jam perhari, lima hari dalam seminggu dan tambahan pekerjaan lainnya yang kadang-kadang bikin stres. Tapi, kalau ada lulusan dengan predikat camlaude yang tidak terikat kontrak kerja, free setiap saat tapi menghasilkan puluhan juta perbulan. Why not?