"Be, menurut kamu mending aku kerja di kantor Papi atau di kantornya Tian?" tanya Anay tiba-tiba. Satu alis Argan terangkat, "Kamu mau kerja?" Anay mengangguk. Melingkarkan tangannya di leher Argan. "Aku baru sadar kalau pengangguran itu nggak enak," Argan berdecak, "Ck! Pengangguran itu nggak punya pekerjaan, nggak ada penghasilan, Ay." "Iya aku punya penghasilan tapi nggak ada yang bisa aku kerjain. Liat kamu sibuk sama kerjaan, Tian yang ngeluh tentang klien-nya, Yaya yang mulai stres sama kantung matanya gara-gara lembur. Aku jadi iri, pengen kerja dan ngerasain stres kayak kalian." Ujar Anay kesal. Banyak hal yang Argan pikirkan saat ini, bagaimana jika mereka bekerja di tempat yang sama? Sebagai sepasang kekasih, tentu itu menjadi kabar bahagia. Tapi sebagai karyawan biasa dan a

