Sudut Pandang Bianca Aku baru saja terbangun dari tidur ketika aroma kopi tercium menyengat. Perutku langsung protes, dan aku melompat dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi. Aku hampir tidak bisa menahan diri dan segera mengeluarkan isi perutku ke toilet. Aku mendengar langkah kaki terburu-buru mendekat dari belakang dan tangan hangat menarik rambutku dari wajah. “Enggak apa-apa, sayang. Ibu di sini,” bujuk ibuku lembut. Setelah aku selesai, dia memberikanku kain hangat untuk mengelap mulutku. “Makasih, Bu.” Aku menuju wastafel dan mengambil sikat gigi, berharap bisa menghilangkan rasa tidak enak di mulutku. Begitu aku berbalik, aku melihat ibuku menatapku, tapi pandangannya tampak kosong, jauh. “Ibu gapapa?” “Bianca, apa ini pertama kalinya kamu muntah?” “Enggak, aku udah nger

