1
Prolog
Bianca Martin adalah seorang dokter anak berusia tiga puluh lima tahun yang bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Dia menikah dengan cinta sejatinya semasa kuliah sepuluh tahun yang lalu. Cintanya kepada sang suami, Regar Martin, dan keluarganya sangat mendalam. Mereka memiliki pernikahan sempurna yang dipenuhi dengan rasa cinta dan saling menghargai. Bianca diadopsi ketika masih kecil oleh keluarga Monair yang kaya raya. Ibunya, Louise, adalah sosok wanita yang luar biasa sementara ayahnya, Trey, tidak pernah benar-benar terlibat dalam kehidupan Bianca.
Yah bukan berarti Trey pernah bersikap kejam padanya, hanya acuh tak acuh saja. Louise selalu merawat dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Kakak laki-lakinya, anak kandung Louise dan Trey, selalu bersikap baik padanya. Meski beda usia lima tahun, mereka sangat dekat bahkan sampai sekarang. Morris mengikuti jejak ayahnya dan menjadi CEO di Monair Corporation. Trey kurang senang ketika Bianca memilih bekerja di rumah sakit yang dikelola oleh pesaing lamanya, Coleman Inc. Trey membenci keluarga Coleman dan sering mengingatkan Bianca bahwa dia bekerja untuk pihak yang dia anggap sebagai musuh. Meski begitu Bianca mengabaikan komentar ayahnya dan terus berjuang menaiki tangga karier di bidang kedokteran anak hingga akhirnya dia menjabat sebagai kepala dokter anak. Meskipun tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya, Bianca tidak akan mengubah apapun tentang hidupnya. Dia menyadari betapa beruntungnya memiliki ibu yang penyayang, seorang kakak, dan suami yang mencintainya. Ulang tahun pernikahan mereka yang ke sepuluh semakin dekat, dan menambah anggota keluarga adalah keputusan yang sudah mereka sepakati bersama. Bianca sudah membuang alat kontrasepsinya, dan mereka juga telah berhenti menggunakan kondom. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum buah hati Bianca dan Regar hadir untuk melengkapi kebahagiaan mereka.
Dimas Coleman adalah CEO berusia dua puluh tujuh tahun dari rumah sakit terbesar di Jakarta. Meskipun membawa nama besar keluarga,
Dimas tetap harus bekerja keras untuk mencapai posisinya saat ini. Dia meraih IPK sempurna 4.0 semasa kuliah dan selama beberapa tahun terakhir berhasil memastikan rumah sakit yang dipimpinnya terus mencetak keuntungan. Ayahnya adalah pendukung terbesarnya, meski awalnya sempat ragu ketika Dimas memutuskan membeli rumah sakit yang tengah kesulitan. Namun setelah melihat adanya peningkatan keuntungan, ayahnya tidak pernah lagi meragukan kemampuan anaknya itu.
Ibu Dimas adalah seorang sosialita seperti kebanyakan yang selalu sibuk mencoba menjodohkan anaknya dengan satu per satu wanita yang penuh tipu daya. Dimas memang bukan pria yang belum pernah berhubungan, tapi dia juga bukan tipe yang mudah dekat dengan setiap wanita yang ditemuinya. Selama beberapa tahun terakhir, hanya ada satu wanita yang selalu menghiasi pikirannya, tetapi sayangnya wanita itu tidak bisa dijangkau. Meskipun begitu, hal ini tidak menghalanginya untuk memikirkan Bianca setiap hari dan membandingkan setiap wanita yang dia temui dengan sosok Bianca yang begitu menawan. Bianca adalah wanita terindah yang pernah dilihatnya.
Sudut Pandang Bianca
“Hai Bianca, aku mau ke rumah sakit ya sekarang. Hari ini ada operasi pagi,” kata Regar dari ambang pintu kamar mandi. Aku berdiri di depan cermin mengenakan bra dan celana dalam renda hitam, bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit juga. Aku berbalik menghadapi pria yang sudah aku cintai selama sepuluh tahun ini. Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah, dan itu membuatku tersenyum. Hasratnya padaku tidak pernah pudar sejak kami mengucapkan janji suci. Dia melangkah maju dan menarikku ke dalam pelukannya yang kekar.
Regar memiliki postur tubuh yang sangat tinggi dan sangat bangga menjaga kebugarannya. Aku tidak pernah mengeluh tentang tubuh suamiku ini.
Sebelum aku sadar apa yang dia lakukan, celana dalamku sudah sobek dari tubuhku. “Regar,” desisku saat namanya meluncur dari bibirku. Dia mengangkatku ke atas meja tanpa melepaskan ciuman kami. Entah bagaimana dia bisa melakukannya, tapi penisnya sudah keluar dari celananya dan kini menekan lembut di antara kakiku. Dalam satu gerakan halus, batang p***s itu masuk ke dalam v****a, dan sebuah desahan mulai keluar dari bibirku. “Ouh, Tuhan, Regar,” kataku saat dia mendorongnya dengan kuat dan cepat.
Jempolnya mulai berputar di klitku, dan tidak butuh waktu lama untuk berteriak namanya saat o*****e melanda tubuhku. Dia menyentakkan penisnya beberapa kali sebelum mengeluarkan seluruh cairan s****a di dalam vaginaku. Kemudian dia menempelkan dahinya di dahi ku saat kami perlahan kembali dari puncak kenikmatan. “Kamu selalu luar biasa, Bianca. Aku sayang banget sama kamu. Tolong janji sama aku kalau kamu nggak bakalan ninggalin aku,” katanya.
Kata-kata Regar membuat perasaan tidak nyaman muncul dalam diriku. Kenapa dia bisa berpikir begitu setelah apa yang baru saja kami lakukan?
“Regar sayang, tentu aja aku nggak bakal pernah ninggalin kamu. Kamu itu cintanya aku.” Sebelum aku sempat bertanya tentang apa yang baru saja dia katakan, dia memberikan ciuman lembut di bibirku. Dia menarik batang p***s besarnya keluar dariku dan memasukkan kembali ke dalam celana. “Aku beneran harus pergi nih, nanti aku temuin kamu pas makan siang ya. Oh iya jangan lupa orang tuaku bakal datang buat makan malam nanti.”
Dengan satu ciuman lembut di keningku, dia pun pergi. Aku melihat celana dalamku yang robek dan tersenyum. Sepertinya aku perlu beli saham di Victoria's Secret karena sudah terlalu banyak celana dalam yang harus aku ganti akibat ulah suamiku.
Aku mengambil celana dalam yang tergeletak di lantai dan membuangnya ke tempat sampah di bawah wastafel. Setelah menemukan sepasang bra dan celana dalam yang baru, aku melangkah ke kamar mandi untuk menyelesaikan persiapan sebelum berangkat kerja. Meskipun aku bukan dokter bedah, pekerjaanku sebagai kepala departemen pediatri sama pentingnya dengan pekerjaan Regar. Setelah mengenakan blouse biru langit dan rok pensil berwarna hitam, aku pun mengenakan sepatu hak tinggi hitam setinggi tiga inci. Tinggi badanku memang tidak seberapa, jadi sepatu hak tinggi ini cukup membantuku. Aku juga punya bentuk tubuh yang berisi, dan aku menyukainya. Meskipun dulu aku sering khawatir karena tidak sekurus teman-temanku, tapi sekarang aku sudah belajar untuk menerima lekuk tubuhku. Lagipula, Regar juga sangat menyukai pinggulku yang lebar dan payudaraku yang penuh.
Aku mengambil jas lab dan tas sebelum meninggalkan apartemen elit kami. Regar dan aku sudah membahas rencana untuk pindah ke rumah di kawasan perumahan yang terjaga karena kami sedang berusaha untuk memiliki anak. Aku tau itu akan mengubah hidup dan jadwal kerja kami, tapi aku sangat ingin memiliki buah hati yang tumbuh di dalam diriku.
Setelah sampai di garasi parkir, aku membuka kunci BMW-ku. Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu sekitar dua puluh menit. Aku langsung menuju kantorku di lantai lima.
Begitu melangkah ke dalam lift sendirian, pintu hampir tertutup saat temanku, Lucy, ikut masuk. Dia bekerja sebagai suster di unit onkologi anak. Dia sangat telaten dengan pasien-pasiennya dan merupakan suster yang sangat baik. "Selamat pagi, Bianca. Lagi ceria banget nih kayaknya," kata Lucy sambil tersenyum nakal. Aku mendekatinya dan merendahkan suaraku. "Iya dong, abis dapat kejutan manis pagi-pagi. Gimana nggak senang," balasku sambil tertawa. Ada sesuatu yang terpancar di matanya, tapi aku tidak bisa menebak apa itu.
"Oalah pantesan siapa juga yang nggak senang digituin kan," ujarnya. Sisa perjalanan kami terisi keheningan. Lucy keluar di lantai empat dan berbalik menatapku.
"Eh, aku mau ngomong sama kamu penting sebelum makan siang. Kamu bisa enggak ketemu aku di ruangan istirahat dokter yang ada di lantai aku?" tanya Lucy. "Boleh, aku nanti kesana sekitar jam sebelas," jawabku. Dia mengangguk dan pintu lift pun tertutup.
Setelah sampai di kantorku, asistenku, Corrin, sudah menunggu dengan secangkir kopi. "Selamat pagi, Dr. Martin," sapa dia dengan senyuman. Aku pun membalasnya. "Corrin, aku udah bilang berkali-kali, kalau di luar rapat kamu bisa panggil aku Bianca. Makasih ya kopinya!"
"Sama-sama! Jadwal janji temumu udah dicetak dan nungguin kamu tuh di meja. Oh iya, tuan Coleman juga udah bikin janji buat ngobrol sama kamu tentang perubahan di unit pediatrik jam sebelas tiga puluh," kata Corrin.
"Makasih, Corrin! Kamu emang keren banget dalam kerjaan ini," jawabku sambil melangkah ke kantorku.
Corrin baru mulai kerja sekitar sebulan yang lalu, dan dia benar-benar jadi aset berharga buatku. Setelah cek jadwal, aku pakai jas lab untuk mulai kunjungan. Aku ambil beberapa permen lollipop dan dimasukkan ke dalam saku. Ini adalah bagian favoritku.
Aku langsung menuju kamar Allie. Begitu gadis kecil berusia lima tahun itu melihat aku, dia langsung teriak kegirangan.
Dia sedang dirawat karena penyakit kanker dan menunjukkan perkembangan yang baik. "Dokter Bianca, aku kangen sama kamu," katanya.
Aku tersenyum. "Kamu kan baru ketemu aku kemarin, Allie. Kenapa kangen secepat itu?"
"Setiap kali kamu datang, aku selalu dapat lollipop. Aku suka banget sama lollipop, Dokter Bianca," jawabnya dengan senyuman manis yang memperlihatkan gigi ompongnya.
Aku tertawa dan mengeluarkan lollipop merah dari jas labku, lalu memberikannya kepada gadis kecil yang manis itu. Setelah menyelesaikan pemeriksaan, aku pamit kepada Allie dan orang tuanya. Kunjungan ke kamar pasien memakan waktu beberapa jam, dan saat melihat jam, aku menyadari sudah hampir jam sebelas.
Aku naik lift ke lantai empat. Aku penasaran ada apa dengan Lucy sehingga dia ingin bertemu di ruang istirahat dokter. Aku tau dia sedang berkencan dengan pria baru, dan dari apa yang dia katakan dalam percakapan terakhir kami, pria itu tidak ingin berkomitmen padanya. Aku berharap demi kebaikannya Lucy bisa bilang pada pria itu untuk membuat keputusan atau pergi saja.
Aku melangkah menyusuri koridor panjang menuju ruangan paling ujung. Suara lembut yang kudengar dari dalam ruangan membuatku berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Kenapa sih ada orang yang berani berhubungan intim saat sedang bertugas? Aku benci harus berpikir seperti ini, tapi bayangkan kalau aku adalah pasien atau anggota keluarga yang sedang mencari dokter, lalu disambut dengan suara-suara seperti ini.
Aku berusaha menenangkan diri dan menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu itu hingga terbuka. Pemandangan di balik pintu itu adalah sesuatu yang akan menghantuiku selamanya. Suamiku, pria yang berjanji untuk mencintaiku sampai akhir hayat, sekarang terbenam dalam pelukan wanita yang pernah kuanggap sebagai teman. Melihat senyum di wajahnya, jelas dia tau betul apa yang dilakukannya saat meminta aku datang ke ruangan ini. Aku merasa seolah-olah tidak bisa bernapas, dan seluruh diriku ingin runtuh, tetapi aku bersumpah tidak akan memberi mereka kepuasan melihatku hancur. Regar setidaknya terlihat menyesal. Dia berusaha memperbaiki pakaiannya setelah menarik diri dari tubuh Lucy. "Bianca, tolong izinin aku jelasin ini," katanya. Aku berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan melangkah menjauh menuju elevator.
Suara di sekelilingku terasa jauh sekali. Aku melangkah masuk ke dalam lift dan menekan tombol yang akan membawaku ke lantai CEO. Aku perlu menggunakan cuti yang sudah lama disarankan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru saja berubah dalam hidupku. Pintu hampir tertutup ketika sebuah tangan menghentikannya. Tangan itu mengenakan cincin pernikahan yang ku beli untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Regar adalah suamiku. Regar memaksa diri untuk masuk dan pintu menutup, tetapi tidak sebelum aku melihat Lucy yang tampak kesal menatapku. "Bianca, kita perlu bicara."
Dia melangkah mendekat dan aku segera mengangkat tangan.
"Aku sih enggak kalau jadi kamu. Kita nggak ada yang perlu dibicarakan."
Dia meremas rambutnya yang berantakan. "Jangan bilang gitu, Bianca. Kamu istriku. Aku tau kamu marah, tapi aku cinta sama kamu dan aku akui aku memang buat kesalahan. Kita perlu bicara dan melewati ini. Aku bakal ngelakuin apa aja buat memperbaikinya."
Mataku akhirnya bertemu matanya setelah sekian lama, dan aku yakin tatapanku penuh dengan amarah. "Apa alat vitalmu itu ke jebak di dalam Lucy? Dari posisiku, bahkan kamu menikmati banget tuh. Kesalahanmu adalah ketahuan kan, Regar? Lalu buat pernikahan kita, enggak ada lagi yang tersisa. Kamu udah ngerusak semuanya saat kamu tidur sama Lucy."
"Enggak Bianca!" teriaknya saat pintu lift terbuka. Apa hari ini bisa lebih buruk? Dimas Coleman berdiri di luar lift dengan alis terangkat. Dia pasti mendengar teriakan Regar. Sekarang aku menyesali bangun dari tempat tidur pagi ini.