2

2284 Kata
Sudut Pandang Regar Begitu keluar dari apartemen kami, aku buru-buru masuk ke dalam mobil. Perutku mual dipenuhi rasa bersalah. Gimana bisa aku sampai di titik ini? Gimana bisa aku terjebak dalam hubungan gelap bersama Lucy? Aku cinta istriku, dan aku tidak bisa kehilangan dia. Setelah perjalanan tiga puluh menit, aku sampai di tempat parkir rumah sakit tepat di slot yang sudah ditentukan. Aku menarik napas dalam-dalam. Apapun yang Lucy bilang nanti, hari ini aku harus berhenti. Aku tidak bisa terus seperti ini. Ini tidak seharusnya terjadi. Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Lucy. Ini hanya sebatas seks saja. Aku langsung menuju kantor di lantai tiga bersiap untuk melakukan operasi penting, menyelamatkan nyawa gadis kecil berusia tujuh tahun dengan mengangkat tumor otak yang bisa dioperasi. Setelah semua dokumen selesai, aku masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju operasi. Aku mendongak saat mendengar suara pintu terbuka, dan jantungku langsung terasa berat ketika melihat Lucy masuk ke dalam. "Selamat pagi, Dokter Martin," sapanya dengan nada menggoda yang sudah biasa ia gunakan. "Lucy, kamu mending pergi. Aku udah bilang ke kamu ini semua udah selesai. Ini nggak seharusnya terjadi. Aku cinta istriku, dan aku nggak akan menghancurkan semuanya hanya demi sesuatu yang nggak ada artinya sama kamu." "Aku tau kamu nggak serius ngomong begitu. Aku tau apa yang kita jalani lebih dari sekadar... itu. Aku tau kamu peduli sama aku, Regar," katanya, melangkah lebih dekat ke arahku. "Enggak, aku nggak ada perasaan apa-apa. Aku sayang sama Bianca dan aku bakal bilang semua ke dia terus minta maaf. Pergi, Lucy, jangan pernah dekati aku lagi." "Oke, aku bakal pergi, tapi kamu masih punya tanggung jawab buat ngomong lebih dari obrolan singkat ini. Aku butuh penjelasan yang jelas biar bisa selesaiin semua ini, Regar. Kamu minimal harus kasih itu," balas Lucy. "Oke, nanti aku temui kamu setelah operasiku selesai. Harusnya kelar sekitar jam sebelas." Dia mengangguk dan keluar dari kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku menghela napas panjang dan berdoa semoga aku belum menghancurkan hal terbaik dalam hidupku hanya karena menuruti nafsu. Begitu sampai di ruang operasi dan mulai bersiap, aku menyingkirkan semua masalah dari pikiranku dan fokus pada gadis kecil yang terbaring di meja operasi. Setelah tiga jam, aku berhasil mengangkat tumornya, dan pasienku dibawa ke ruang pemulihan. Rasanya luar biasa bisa menyelamatkan hidup gadis kecil ini. Aku meninggalkan ruang operasi dan menuju ruang ganti untuk mandi dan ganti baju dengan seragam yang bersih. Saat air panas mengalir deras di atas ototku yang kaku, pikiran-pikiran yang sempat aku singkirkan kembali menghantui. Pertama, aku perlu menghadapi Lucy, lalu aku harus mencari istriku. Seharusnya dia hampir selesai dengan jadwalnya sekarang. Aku melangkah menuju lantai empat. Lucy sudah duduk di belakang meja perawat ketika dia melihatku keluar dari lift. Dia berdiri dan berjalan menyusuri lorong, dan aku mengikuti dari jarak yang aman. Begitu dia sampai di ruang peristirahatan dokter, aku merasa ragu untuk mengikutinya. Aku pasti bisa melakukan ini, bisikku pada diriku sendiri, sebelum aku mendorong pintu hingga terbuka. "f**k!" seruku saat aku masuk dan melihat Lucy hanya mengenakan celana dalam. "Lucy, kamu ngapain sih? Kan aku udah bilang kalau ini enggak boleh terjadi lagi. Cepat pakai baju kamu!" Dia mulai berjalan mendekatiku dengan langkah yang menggoda. "Kamu masih punya utang satu kali lagi, Regar. Kita anggap ini sebagai perpisahan ya, tapi aku butuh ngerasain kamu sekali lagi." Dia menekan payudaranya yang telanjang ke dadaku, sementara tangannya menyentuh bagian sensitifku yang masih tertutup. "Ayo, Regar, kamu juga pasti pengen ngerasain aku sekali lagi. Aku janji, abis ini aku nggak bakal ganggu kamu lagi." Aku bisa merasakan alat kelaminku mengeras di bawah sentuhannya. Semua logika hilang dari pikiranku, dan aku langsung meraih lehernya dengan tanganku. "Jangan pernah hubungi aku lagi setelah ini, Lucy. Aku nggak main-main, kalau kamu coba, kamu bakal nyesel." Aku mengangkatnya dan membawanya ke salah satu ranjang. Dia langsung merangkak di depanku dengan bokongnya yang bulat terpampang jelas. Aku menarik paksa celana dalamnya sebelum aku melepaskan hasratku dari dalam celana. Aku langsung mendorong penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah tanpa peringatan. Dia mengerang menyebut namaku. Aku mulai menghentakkan tubuhku ke arahnya, tapi rasanya tidak senikmat dengan apa yang kurasakan bersama Bianca tadi pagi. Pikiran tentang istriku membuat aku merasa seperti disiram dengan ember air dingin. Gerakanku terhenti, dan suara pintu yang terbuka membuat perutku mual. Saat aku menatap mata wanita yang kucintai, hatiku hancur berkeping-keping. Dia berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun. Aku menarik diriku keluar dari Lucy dan memasukkan organ vitalku kembali ke dalam celana. "Seenggaknya sekarang dia udah tau, dan kamu bisa terus meniduriku," kata Lucy dengan senyuman jahat di wajahnya. "Pasti kamu sengaja ngelakuin ini anjing." Aku bahkan tidak menunggu jawabannya saat aku keluar terburu-buru dari ruangan. Aku bisa mendengar suara langkahnya yang mengikuti, tapi aku tidak menoleh ke belakang. Aku berhasil sampai ke lift tepat saat pintunya akan tertutup. Aku menghentikannya dengan tangan dan masuk ke dalam. Bianca terlihat sangat hancur, dan ini semua salahku. Aku harus menahan diri agar tidak menariknya ke pelukanku. Aku melangkah mendekat, tapi kata-katanya menghentikanku seketika. "Bianca, aku bakal ngelakuin apa aja buat memperbaiki ini." Kata-katanya seperti pisau yang mengoyak hatiku. Begitu dia bilang pernikahan kami sudah berakhir, aku merasa seakan tidak bisa bernapas. "Enggak Bianca!" teriakku, dan aku mengikuti arah pandangannya yang melihat atasan kami berdiri di luar lift. "Sial, hari ini bisa jadi lebih buruk lagi?" Sudut Pandang Dimas “Pak Coleman, mau saya masakin apa untuk makan malam nanti?” tanya Monica, suster dan juru masakku. Dia wanita yang menyenangkan, sudah tiga tahun aku mempekerjakannya. Umurnya sekitar lima puluhan dan anak-anaknya sudah dewasa. Dia bekerja dengan sangat baik, dan dia juga senang sekali saat aku meminta dia untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan. “Bi, kapan kamu mau manggil aku Dimas aja?” Dia tersenyum, “Kayaknya nggak bakal pernah.” Aku menggeleng sambil tersenyum. “Ayam panggang sama sayuran dengan kentang panggang udah cukup. Makasih ya, bibi.” Dia mengangguk dan kembali ke dapur. Aku ambil kopi dan tas kerjaku, lalu melangkah ke garasi di mana mobil Audiku yang perak menunggu. Perjalanan ke rumah sakit hanya memakan waktu lima belas menit. Ayahku tidak pernah memahami mengapa aku begitu bertekad untuk membeli rumah sakit anak, mungkin karena dia berusaha melupakan semua kenangan tentang adik perempuanku. Seolah-olah Deidre tidak pernah ada bagi ayah dan ibuku. Aku kehilangan Deidre saat berusia sepuluh tahun karena kondisi langka yang bahkan tidak bisa aku sebutkan. Aku tidak pernah melupakan Deidre, dan mengelola rumah sakit yang dapat membantu anak-anak adalah cara aku untuk menghormati adikku meski orang tuaku berusaha untuk melupakannya. Aku masuk ke garasi parkir dan naik lift pribadi yang membawaku langsung ke lantai lima. Sekretaris sudah menyiapkan kopiku dan agenda harian di atas mejaku. Chelsey sangat profesional dalam pekerjaannya, meski kadang dia memandangku seolah-olah aku adalah santapannya berikutnya. Aku mengabaikannya karena dia selalu menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak pernah melewati batas. Aku duduk di belakang mejaku dan menekan interkom. “Chelsey, tolong atur pertemuan jam sebelas tiga puluh dengan Dr. Bianca Martin untuk bahas perubahan di unit rawat inap anak.” “Baik, Pak Coleman. Ada lagi yang perlu saya bantu?” tanyanya, dan aku cuma menggelengkan kepala. “Enggak, itu aja,” jawabku, memutus interaksi kami. Pagi hariku berlalu cepat, dan aku sedang mengantar Julius Morgan ke lift setelah pertemuan kami ketika itu tiba-tiba aku mendengar teriakan. Begitu pintu lift terbuka, aku terkejut melihat Regar dan Bianca berdiri di dalam dengan ekspresi pilu di wajah mereka. Ekspresi di wajah Bianca membuatku kesal, dan aku bahkan tidak yakin apa yang sedang terjadi di antara mereka. Bianca keluar lebih dulu. “Pak Coleman, saya perlu berbicara dengan Anda tentang hal yang cukup penting.” “Tentu, Dr. Martin.” Dia tampak meringis saat aku memanggilnya dengan nama tersebut, dan aku melirik Regar. “Aku ikut, Bianca. Kita perlu bahas ini.” Sebelum Bianca sempat merespons, aku meminta mereka untuk menunggu di ruang konferensi. Aku pamit kepada Julius dan berbalik ke arah Chelsey. “Kita enggak boleh diganggu.” Dia mengangguk, dan aku melangkah menuju ruang konferensi. “Bianca, bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” “Saya ingin pakai sebagian waktu cuti yang udah saya kumpulkan. Saya tau ini mendadak pak, tapi mengingat kondisi belakangan ini, saya enggak bisa ada di dekat Regar. Saya juga perlu cari tempat tinggal sementara.” Aku akan berbohong kalau bilang aku tidak penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Sejak pertama kali melihat Bianca Martin tiga tahun lalu, aku sudah terobsesi dengannya. Bukan obsesi yang berbahaya sih, tapi aku terus membandingkan setiap wanita yang aku kencani dengan Bianca. “Apakah keadaan itu berpengaruh pada operasional rumah sakit ini?” Aku melihat Regar menegang, dan aku sudah tau jawabannya. “Saya rasa pertanyaan itu yang harus Anda tanyakan ke Regar dan Lucy Costel,” kata Bianca, seolah kata-katanya terasa pahit di lidah. Aku menoleh ke Regar, menunggu jawabannya. “Saya telah membuat kesalahan yang hanya antara saya dan Bianca. Dengan segala hormat, pak Dimas, ini bukan urusan Anda. Satu-satunya orang yang perlu saya jelasin adalah istri saya.” Aku mendongak dan tertawa. “Lihat sekelilingmu, Regar. Kamu berada di rumah sakitku. Apa pun yang terjadi di sini jelas menjadi urusanku.” Aku menjangkau dan menekan tombol interkom. “Chelsey, tolong hubungi lantai empat dan minta Lucy Costel untuk naik ke ruang konferensi.” Aku melihat tangan Bianca mengepal, dan pandanganku bertemu dengannya. “Bianca, permohonanmu disetujui. Berapa lama kamu butuhnya?” “Saya rasa dua minggu sudah cukup untuk mengurus urusan ini,” jawabnya tanpa melirik Regar. Aku tau seharusnya aku tidak boleh senang melihat rasa sakit di wajah Bianca, tapi kenyataannya, aku malah merasa senang. Aku senang bukan karena Bianca merasakan sakit, tetapi sangat jelas bahwa Regar telah melakukan kesalahan besar. “Bianca, kamu enggak perlu tetap di sini untuk sisa pertemuan ini. Aku yakin bisa dapetin apa yang aku butuhin dari Regar dan Lucy.” “Enggak pak, saya ingin tetap di sini,” jawabnya. Beberapa menit kemudian, Lucy yang terlihat sangat percaya diri melangkah masuk ke ruang konferensi dan duduk di sebelah Regar. Regar tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi bangkit dan bergerak menjauh dari Lucy. Senyum percaya diri di wajah Lucy menghilang, dan aku menarik perhatian Lucy kepadaku. “Jadi, Lucy, bisa kamu kasih tau apa yang terjadi antara kamu dan Dr. Martin di rumah sakitku?” Untuk pertama kalinya, aku melihat kilasan ketakutan di mata Lucy, dan dia menunduk. “Kami melakukan hubungan badan selama sebulan terakhir,” katanya. “Kamu berhubungan badan di dalam rumah sakitku?” Aku melihat ke antara mereka berdua. Kemarahan yang aku rasakan lebih ditujukan kepada Regar karena sudah menyakiti Bianca. “Itu terjadi begitu aja, Pak. Aku enggak mau menyakiti Bianca, tapi aku udah terlanjur mencintai Regar,” kata Lucy. “Aku bahkan enggak cinta dia. Memang aku udah buat kesalahan dan aku pun sudah nggak mau lagi berurusan sama Lucy. Aku sangat mencintai istriku,” teriak Regar. “Cukup!” seruku, dan mereka berdua langsung terdiam. “Saya jijik dengan perilaku kalian berdua. Regar, kamu akan ditangguhkan selama tiga hari setelah operasi mu siang ini. Saya enggak akan menghukum pasien karena perilaku yang memalukan itu. Dan kamu, dipecat mulai sekarang.” Mata Lucy membelalak, dan untuk pertama kalinya, dari sudut mataku, aku melihat sedikit senyum di wajah Bianca. “Anda enggak bisa gitu pak. Saya akan gugat Anda karena pemecatan yang enggak sah. Anda tidak bisa memecat saya dan cuma menangguhkan dia. Kami berdua sama-sama melanggar aturan.” Aku tersenyum. “Saya bisa, dan saya akan melakukannya. Kontribusi dia untuk rumah sakit ini jauh lebih berarti dibandingkan kamu. Itu satu-satunya yang menyelamatkan posisinya dari pemecatannya bersama kamu. Silakan coba gugat saya, karena saya punya video yang pasti ada dari CCTV kami yang menunjukkan kamu sedang berhubungan badan di rumah sakit saya ini.” Wajahnya mendadak pucat. Aku beralih menatap Bianca. “Kalau kamu butuh salinan untuk pengacaramu di lain waktu, aku bisa kasih. Aku yakin video itu ada.” Dia mengangguk, dan aku berdiri. “Keamanan udah nunggu di luar, Nona Costel, untuk ngantar kamu keluar dari rumah sakit ini. Kalau kamu ketahuan ada di dalam rumah sakit ini lagi, kamu bisa ditangkap karena pelanggaran.” “Regar, aku sarankan kamu cepat-cepat bersiap untuk operasi sebelum aku lupa betapa handalnya kamu sebagai dokter bedah dan panggil keamanan untuk ngeluarin kamu juga.” “Aku perlu ngomong sama istriku, pak Dimas,” pinta Regar dengan nada memohon. "Akan jadi mantan istri, dan enggak ada lagi yang perlu diomongin di antara kita. Terima kasih, Tuan Coleman," kata Bianca sambil melangkah ke pintu. Regar berusaha mengikutinya, tapi aku langsung berdiri di depannya. Aku menunggu sampai hanya sisa kami berdua di ruangan sebelum mengucapkan kalimat berikutnya. "Hanya orang bodoh yang rela ngasih permata demi sepotong kaca. Aku enggak nyangka kamu jadi orang bodoh itu, Regar." Dia tertawa, dan aku bisa lihat kemarahan di matanya. "Kamu pikir aku enggak tau kamu ngincer istri aku, Dimas? Aku bisa lihat gimana cara kamu ngeliatin dia. Tapi ingat, yang dia cintai itu aku. Dia nggak bakal mau sama kamu." “Pernah cinta kali maksud kamu. Kamu bakal tau kalau nyelipin alat kelaminmu di tempat yang enggak seharusnya itu bisa cepat bikin cinta jadi benci." Aku berbalik ke arah pintu dan melangkah beberapa langkah sebelum menoleh lagi menatapnya. “Oh ya kamu benar, aku memang ngincer Bianca, dan sampai hari ini, aku enggak pernah melanggar batas apapun itu. Tapi sekarang, semua hal sudah berubah. Aku bakal lakuin segala cara buat nunjukin ke dia kalau aku adalah pria yang enggak bakal pernah ngkhianatinya. Aku bakal hargai dia seumur hidupku kalau dia mengizinkan.” Aku tidak memberi dia waktu untuk membalas sebelum aku balik ke kantorku. “Chelsey, hubungi HR dan minta alamat rumah Bianca Martin,” perintahku. “Siap, Tuan Coleman,” jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN