3

1721 Kata
Sudut Pandang Bianca Aku tidak tahu bagaimana caraku sampai ke mobil, tapi akhirnya aku berada di dalamnya. Aku duduk di kursi pengemudi, dan semua air mata yang kutahan mulai mengalir di pipiku. Hatiku rasanya hancur, seperti terbelah dua. Bagaimana mungkin Regar bisa melakukan ini padaku? Bagaimana dia bisa mengkhianatiku dengan Lucy? Aku selalu percaya dia mencintaiku, dan kini semua itu terasa hancur seketika. Entah sudah berapa lama aku terjebak dalam tangisanku, berjuang untuk menemukan kekuatan dalam diriku. Saat aku akhirnya memasukkan kunci ke dalam kontak, pandanganku teralihkan oleh petugas keamanan yang mengawal Lucy yang berteriak tak karuan menuju mobilnya. Meskipun aku tahu seharusnya aku tidak melakukan ini, kemarahan yang membara menggantikan semua rasa sakit di hatiku. Tanpa berpikir panjang aku keluar dari mobil dan menutup pintu dengan keras agar menarik perhatian mereka. Para petugas keamanan dan Lucy menoleh ke arahku. Aku mendengar salah satu petugas keamanan berkata, "Wah, sial." Dengan langkah mantap, aku mendekati mereka dan menatap wanita yang dulu kuanggap teman. "Kenapa?" Itulah satu-satunya kata yang bisa kuucapkan. “Dengar ya, Bianca, aku tau aku kelihatan jahat, tapi jawabannya simpel. Aku pengen Regar, dan berdasarkan seberapa sering kami berhubungan selama sebulan terakhir, dia juga mau kok sama aku,” kata Lucy dengan nada menantang. “Benar, Lucy, kamu memang jahat. Dan lebih dari itu, kamu terjebak dalam ilusi, karena, menurut apa yang Regar bilang, kamu cuma jadi tempat nyaman untuk organ vital dia, ya enggak lebih dari itu.” Suara hatiku bergetar penuh emosi, merasakan sakit dan kemarahan yang bercampur aduk dalam diriku. Petugas keamanan yang tadi tertawa mendengar komentarku. Lucy menoleh, menatapnya dengan tajam sebelum kembali menatapku. "Kamu tuh cuma wanita yang enggak tau diri yang enggak bisa cari cowok sendiri sampai harus ngerebut suami orang, duh enggak guna banget deh aku buang-buang waktu sama kamu. Semoga beruntung cari kerjaan baru, Lucy," kataku sambil berbalik dan melangkah pergi. "Sialan kamu!" teriaknya seiring aku meluncur masuk ke dalam jok pengemudi. Aku keluar dari gedung parkir, tapi tidak menuju tempat yang sebelumnya kukira sebagai rumah. Perjalanan memakan waktu dua puluh menit hingga aku sampai di galeri yang terletak di pusat kota. Setelah memarkir mobil, aku menyebrang jalan untuk mencari Lola. Kami sudah bersahabat sejak menjadi teman sekamar di kampus. Meskipun kami berbeda jurusan, kedekatan kami terjalin dengan cepat. Aku menganggapnya seperti saudara. Sesampainya di dalam, aku melihat Brian berdiri di belakang meja kasir. “Bianca, Lola nggak bilang kalau kamu mau mampir hari ini. Ada apa?” tanya Brian. Dia adalah saudara Lola dan juga seorang seniman di galeri ini. "Nggak ada apa-apa. Dia ada kan?” balasku. Dia tersenyum, "Kamu tau kan dia selalu ada buat kamu. Tuh dia lagi melukis di ruangan belakang," katanya. Aku berjalan menyusuri lorong dan mendorong pintu. Lola mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku hingga dia melihat wajahku. Dia menjatuhkan kuasnya dan bergegas mendekat. "Ada apa, Bianca?" tanyanya sambil memelukku. Aku bahkan tidak peduli bahwa dia penuh cat. "Regar," hanya itu yang bisa kukatakan di antara isakan tangisku. "Regar kenapa? Apa dia terluka?" tanyanya dengan nada panik. "Enggak, aku baru aja lihat dia bersetubuh sama Lucy tadi," Pelukannya mengencang sejenak sebelum dia menarik diri untuk menatap mataku. "Serius kamu? Ini bukan lelucon, kan?" "Aku berharap ini semua cuma mimpi, Lola. Aku berharap aku nggak harus lihat itu, tapi nyatanya aku udah lihat sendiri," "Ya ampun Bianca, aku bener-bener minta maaf. Nggak percaya dia bisa ngelakuin itu ke kamu. Dia selalu kelihatan kayak kamu satu-satunya cewek di hatinya pas aku lihat kalian bareng." ucap Lola. Dia benar. Aku bahkan tidak pernah melihat suamiku melirik wanita lain saat bersamaku. "Aku juga mikirnya begitu. Ternyata dia berhasil menipu kita berdua. Tadi pagi setelah aku menangkap basah dia, aku bicara dengan Pak Coleman, dan dia ngasih izin aku buat ambil cuti selama beberapa minggu." "Maksud kamu CEO ganteng, Dimas Coleman ya?" tanyanya sambil mengangkat alisnya. "Hah serius, Lola? Hidupku lagi berantakan, dan kamu malah ngomongin betapa gantengnya bosku." balasku dengan nada frustrasi. "Kamu tau pepatah kan Bianca. Cara terbaik buat move on dari satu cowok itu ya dengan mendekati cowok lain," ujarnya sambil tersenyum nakal. "Aku rasa aku nggak mau deh. Pertama, dia jauh lebih muda dariku, dan kedua, dia bosku." "Delapan tahun itu enggak ada apa-apanya, dan siapa sih yang peduli dia bosmu? Aku yakin dia enggak keberatan bantu kamu balas dendam ke b******n yang selingkuh itu kalau kamu minta," kata Lola. "Nanti deh aku pikir-pikir dulu. Oh iya, ngomongin yang seru, perawat yang dulunya aku pikir teman itu udah diusir dari rumah sakit," kataku. "Bagus, dia emang pantas dapat itu dan lebih dari sekadar itu sih karena apa yang udah dia lakuin," jawab Lola. "Regar malah pantas dapetin yang lebih. Dia yang berdiri di depan teman-teman dan keluarga kita di gereja, berjanji buat setia cuma sama aku. Dia janji nggak bakal selingkuh, dan sekarang dia melanggar semua janji itu. Sebenci apapun aku sama perawat itu, dia yang sebenarnya mengkhianati semua janji yang dia ucapkan ke aku." "Aku turut prihatin, Bianca. Kamu mau ngapain sekarang?" "Aku mau ke apartemen sebelum dia keluar dari ruang operasi, ambil beberapa barang buat dibawa ke hotel sampai aku tau mau tinggal di mana. Setelah itu, aku bakal cari pengacara cerai buat mulai prosesnya." "Kamu tau kan kalau mau kamu bisa tinggal di kamar cadangan aku," kata Lola, dan aku tersenyum. "Tapi apartemen kamu pasti jadi tempat pertama yang bakal dicari Regar. Aku enggak bisa ngomong sama dia sekarang. Aku tau suatu saat aku harus menghadapi dia, tapi bukan sekarang." Lola menarikku ke dalam pelukan lagi. "Aku sayang kamu, Bianca." "Aku juga sayang kamu, Lola. Nanti aku telepon setelah aku nyampe di hotel ya." Setelah itu, aku keluar dari galeri dan kembali ke mobil. Perjalanan menuju apartemen elitku memakan waktu tiga puluh menit. Saat duduk dan menatap gedung itu, rasa mual menyergapku. Apakah dia pernah membawa Lucy ke rumah kami? Apakah mereka pernah berduaan di tempat tidur kami? Aku mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Butuh seluruh keberanianku untuk melangkah masuk ke dalam. Aku melangkah menuju kamar tidur kami. Dengan cepat, aku mengambil koper dari dalam lemari dan mulai mengemas pakaian yang cukup untuk seminggu. Setelah selesai, aku menuju kamar mandi untuk mengambil perlengkapan mandi dari wastafel. Mataku tertuju pada celana dalamku yang robek dari pagi tadi, dan tanpa bisa kutahan lagi, rasa mual itu pun muncul. Aku bergegas ke toilet dan memuntahkan isi perutku. Aku menyeka mulutku dengan lengan jas lab yang masih kupakai. Setelah itu, aku melepaskannya dan melemparkannya ke lantai. Aku duduk di lantai, bersandar pada dinding. Kenapa dia melakukan ini padaku? Apa aku saja tidak cukup? Tidak, aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Ini semua salah dia, bukan aku. Dia yang menciptakan masalah ini, jadi aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Setelah beberapa menit, aku berusaha untuk tenang dan menyelesaikan packing. Aku melirik sekali lagi ke ruangan yang pernah kami huni bersama sebelum turun ke bawah. Aku merasa tergoda untuk meninggalkan kunci, tapi aku masih perlu mengambil sisa barang-barangku di lain waktu Dengan perlahan, aku mendorong pintu depan dan menuju ke gedung parkir. Aku terkejut, melihat Dimas Coleman bersandar di mobilku. Bagaimana dia bisa tau di mana aku tinggal? Aku hampir ingin memutar mataku pada diriku sendiri. Dia pemilik rumah sakit, tentu saja HRD akan memiliki alamat kami. Aku mendekatinya dan dia melangkah ke arahku. "Pak Coleman, ada apa ya di sini?" Aku mendengar kata-kata Lola dari tadi terngiang di pikiranku, dan aku menghukum diriku sendiri karena sempat berpikir untuk melakukan hal yang bodoh. Sudut Pandang Dimas "Bianca, kita bukan di rumah sakit. Panggil saja aku Dimas." "Oke, Dimas. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini?" "Aku tau kamu lagi nggak enak hati, jadi aku mau pastikan kamu baik-baik aja. Kayaknya aku datang tepat waktu deh." "Sebenernya aku apresiasi kamu datang buat ngecek aku, tapi rasanya agak nggak pantas karena kamu bosku," ucapnya. Aku tersenyum. "Iya aku mungkin bosmu, Bianca, tapi aku juga pengen kamu anggap aku teman. Teman kayak apa aku kalau nggak cek keadaan kamu?" "Aku bakal baik-baik aja. Makasih udah perhatian. Sekarang, kalau nggak keberatan, aku harus cari hotel dan nelpon beberapa orang," katanya sambil coba melangkah melewatiku. "Bianca, aku tau seberapa kuatnya kamu. Aku sering lihat cara kamu nangani pasien, dan aku salut sama kegigihan kamu. Tapi, itu bukan berarti kamu nggak berhak buat merasa hancur sebelum kamu bangkit lagi dan terus maju." Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. Tanpa berpikir panjang, aku menariknya ke dalam pelukan. Dia sempat kaku, tapi perlahan aku merasakan bahunya mulai bergetar karena isakan yang nyaris tidak terdengar. Beberapa saat kemudian, dia melepaskan diri dan menghapus air matanya. "Aku beneran harus pergi sekarang, Dimas," ucap Bianca, tanpa mengakui bahwa dia baru saja menangis di pelukanku. "Bianca, aku bakal ajak kamu makan dulu, habis itu aku antar ke hotel," kataku. Dia menatapku dengan bingung. "Aku punya banyak bisnis tapi aku lebih pilih terlibat langsung dalam operasional rumah sakit," jelasku. Aku sempat berpikir dia akan menolak soal makan malam, tapi ternyata tidak. "Makan malam dulu, baru kamu antar aku ke hotel," Aku mengangguk dan menuntunnya ke mobilku. Setelah membukakan pintu untuknya, aku memasukkan tas-tasnya ke bagasi. Aku pun masuk ke kursi pengemudi dan siap berangkat. “Kamu mau aku suruh orang bawain mobilmu ke hotel, biar kamu nggak kesulitan kalau mau ke mana-mana?” tanyaku. “Nggak, makasih. Itu mobil pilihan Regar, dan jujur, aku nggak mau diingatkan soal dia sekarang. Aku bakal beli yang baru aja,” jawab Bianca. Aku mengangguk paham. Aku mulai melajukan mobil dan menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit menuju Hotel Royal. Di sana, ada restoran bintang empat yang dikelola oleh tanteku, tepat di sebelah lobi. Setelah sampai, aku keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bianca sebelum menyerahkan kunci mobil ke petugas parkir. “Biar tas-tas ini dibawa ke penthouse suite,” kataku. Aku bisa melihat Bianca ingin protes, tapi aku meletakkan tangan di punggung bawahnya dan membimbingnya masuk. Begitu pelayan melihatku, dia langsung mengantarkan kami ke meja favoritku. Aku menarik kursi Bianca sebelum duduk di kursiku sendiri. Pelayan segera datang dan mencatat pesanan minuman kami. Aku tersenyum saat Bianca memesan tequila sunrise. Aku memesan whiskey Glen Levett murni dua jari. Setelah akhirnya kami tinggal berdua, aku menatap wanita di depanku. Aku benci melihat rasa sakit yang masih tampak di matanya, tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk melakukan segala yang aku bisa dalam hidup ini agar tidak melihat rasa sakitnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN