Sudut Pandang Bianca
Pelayan membawa minuman yang kami pesan, dan aku menyeruput tequila sunrise-ku dengan panjang. Aku bukan orang yang suka minum, tapi saat ini, rasanya wajar untuk sedikit bersantai. Dimas mengaduk cairan cokelat keemasannya dalam gelas, lalu menyeruputnya juga.
"Kamu mau makan apa, Bianca?" tanya Dimas.
"Jujur, aku enggak tau. Aku sih menghargai kamu aja ngajak aku ke sini, Dimas, tapi mungkin aku enggak bisa jadi teman yang baik,"
Dia tersenyum, dan baru kali ini aku sadar kalau dia punya lesung pipit.
"Aku enggak berharap apa-apa dari kamu Bianca. Aku cuma mau pastiin kalau kamu dapat makan yang enak dan tidur nyenyak sampai kamu siap menghadapi semua kekacauan yang diciptain Regar."
Aku ingin bilang kalau dia tidak berhak ngomong begitu tentang Regar, tapi di satu sisi, aku tau dia benar.
"Aku bukan perempuan lemah yang butuh diselamatkan, Dimas."
"Kamu itu jauh dari kata lemah. Aku tau kamu orang yang kuat, Bianca. Menerima bantuan dan persahabatan saat kamu lagi butuh itu bukan tanda kelemahan. Justru, kalau kamu sampai terjatuh, itu bukti betapa kuatnya kamu. Aku yakin saat kamu beneran terjatuh, kamu nggak akan biarin kesalahan dia bikin kamu terpuruk. Yang aku minta izinin aku ada di sampingmu ya kapan pun kamu butuh."
"Kenapa sih Dimas? Kenapa kamu begitu pengen bantu aku dalam semua kekacauan ini?"
Pertanyaan itu terputus saat pelayan mendekati meja kami sebelum Dimas sempat menjawab. Aku tidak tau apa yang aku harapkan dari jawabannya, tapi aku butuh mendengar jawaban itu.
"Bianca, kamu enggak keberatan kan kalau aku pesanin makanan buat kita berdua?" Aku mengangguk, dan dia bertanya apakah aku suka daging kambing.
"Suka," jawabku, dan dia langsung memesan makanan kami.
Begitu pelayan itu pergi, tatapan Dimas bertemu mataku. "Kamu mau jawaban jujur atau yang lebih sopan sesuai situasi?"
"Aku lebih suka kejujuran, selalu."
"Bianca, kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Aku merasa begitu sejak pertama kali kita bertemu tiga tahun lalu, dan sampai sekarang, perasaan itu masih sama. Aku menghormati pernikahanmu dan nggak pernah mau melanggar batas itu sebelumnya. Aku tumbuh di keluarga di mana ikrar pernikahan itu diabaikan oleh orangtuaku. Aku nggak mau hal yang sama terjadi padaku. Sejak kecil, aku berjanji pada diri sendiri, kalau aku menemukan wanita yang tepat dan berkomitmen, dia nggak perlu khawatir tentang posisinya di hidupku. Aku bukan bilang ini karena mau kamu jadi pasangan aku sekarang. Aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aku tahu hatimu sedang hancur, dan aku nggak mau memanfaatkan keadaanmu. Yang aku mau, ya cuma jadi temanmu. Harapanku, nanti kalau kamu sudah sembuh, dan jika kamu merasa nggak bisa memaafkan Regar, kamu mau kasih aku kesempatan."
Aku membuka dan menutup mulut seperti ikan yang terdampar. Gimana caranya aku harus merespons itu? Aku menarik napas dalam-dalam dan akhirnya mengucapkan hal pertama yang terlintas di kepalaku. "Dimas, aku udah siap tidur. Aku bener-bener menghargai semua yang kamu bilang, tapi otakku kayaknya enggak bisa ngerespon informasi tambahan lagi hari ini."
Aku berdiri dan bersiap untuk pergi ketika aku ingat bahwa aku tidak punya cara untuk masuk ke kamar yang dia siapkan untukku. Aku berbalik dan dia tersenyum. Aku melihat pelayan menaruh makanan kami di atas meja dan merasa seperti orang bodoh karena tidak sempat berbagi makan dengannya setelah dia memesan. Aku sudah meminta kejujuran, tapi sepertinya aku belum siap untuk mendengarnya.
"Ayo, Bianca, kita ambil kunci kamarmu," kata Dimas sambil meletakkan tangannya di punggungku, membawaku ke meja resepsionis. Seorang wanita muda berambut pirang dengan mata biru menyambut kami dengan senyuman lebar saat melihat Dimas. Entah kenapa, aku merasa terganggu dengan hal itu. Dia menyerahkan kartu kunci, dan Dimas membawaku ke lift. Saat kami masuk, dia menekan sebuah kode dan lift pun mulai bergerak.
Lift berbunyi dan pintunya terbuka. Kami melangkah ke koridor dan aku menyadari hanya ada satu pintu di lantai ini. Dia melambai kartu kunci dan pembaca kunci menyala hijau. "Kode lift ada di kartu kunci itu, Bianca. Aku tau kamu punya nomorku kalau butuh apa-apa," ujarnya sebelum melangkah masuk ke lift. Setelah pintu menutup, aku bersandar pada bingkai pintu, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke dalam ruangan yang bisa dibilang adalah tempat termewah yang pernah kulihat.
Aku mengambil tas-tas ku dan duduk di sofa yang empuk. Kuambil ponsel dari tas dan merasa berat untuk menyalakannya kembali. Ketika aku hidupkan, bunyi beep yang mengindikasikan pesan dan panggilan yang terlewat mulai berdatangan. Dengan segera aku mengirim pesan singkat kepada Lola memberitahunya di mana aku berada dan bahwa aku akan menghubunginya besok. Saat melihat pesan-pesan dari Regar dan aku terjebak dalam dilema antara ingin menghapusnya tanpa membaca atau seperti orang bodoh, yang membaca semuanya.
Aku mengalihkan ponsel ke mode speaker dan mendengarkan pesan suara yang dia tinggalkan, dan itu menjadi titik kehancuranku. Tanpa ada orang di sekitarku, aku membiarkan diriku tenggelam dalam rasa sakit dari hati yang hancur. Dimas benar tentang satu hal malam ini. Aku akan membiarkan diriku runtuh, tetapi aku pasti akan membangkitkan diriku kembali.
Sudut Pandang Regar
Aku keluar dari ruang operasi dan, untuk pertama kalinya dalam berjam-jam, aku merasa sendirian. Perlahan aku merosot ke lantai dan bersandar pada dinding. Aku harus menahan perasaanku agar bisa jadi dokter bedah yang dibutuhkan oleh anak kecil yang baru saja aku operasikan. Namun sekarang, semua yang kutahan dalam kotak rapi di pikiranku mulai lepas kendali. Bianca mengancam untuk menceraikan aku. Aku tau aku salah, dan aku satu-satunya yang patut disalahkan, tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi. Aku harus menemukan cara untuk membuktikan bahwa aku masih pria yang dia nikahi. Jika dia mau memaafkanku, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk menunjukkan betapa aku mencintainya.
Aku memutar cincin kawinku di jari, berdoa agar aku belum sepenuhnya kehilangan wanita yang kucintai. Aku berusaha bangkit dan berjalan kembali ke kantorku. Setelah masuk ke kamar mandi yang ada di dalam, aku melepas pakaian medis yang ku kenakan. Begitu selesai mandi dan mengenakan pakaian biasa, aku mengambil tas dari kantorku dan bergegas menuju lift. Mungkin, jika beruntung, dia masih ada di apartemen. Mungkin dia akan memberiku kesempatan untuk memohon pengampunannya.
Aku yakin sudah melanggar batas kecepatan saat melaju di tengah kemacetan sore itu. Ketika sampai di apartemen, aku berdoa dalam hati saat melihat BMW Bianca terparkir di tempatnya. Tanpa ragu, aku memarkirkan mobil dan berlari menuju pintu tanpa sempat mengambil tas.
Aku terbata-bata dengan kunci dan mendorong pintu terbuka. "Bianca!" teriakku ke ruang kosong. Aku melangkah cepat menaiki tangga hingga mencapai kamar kami. Hatiku terjatuh saat menemukan ruangan itu kosong. Saat membuka lemari, aku melihat koper Bianca tidak ada di sana.
Perlahan, aku melangkah menuju kamar mandi dan menyadari parfum serta kotak makeup-nya tidak lagi ada di samping cukuranku. Mataku tertuju pada jas lab Bianca yang tergeletak di lantai. Aku menunduk dan mengambilnya, memeluknya erat ke tubuhku. Istriku sudah pergi. Aku ingin kembali ke pagi ini sebelum kami berangkat kerja. Tidak, aku ingin kembali satu bulan lalu dan tidak membuat kesalahan terbesarku dalam hidup.
Air mata panas mengalir di pipiku. Aku berlari kembali ke bawah dan keluar menuju mobilku. Dengan cepat, aku mengambil tas dan bergegas masuk lagi. Aku mendial nomor Bianca, tapi panggilanku langsung masuk ke voicemail.
"Bianca, aku tau kamu lagi marah, tapi aku bener-bener pengen ngobrol tentang apa yang udah aku lakukan. Aku nggak bisa nyampein seberapa menyesalnya aku karena nyakitin kamu. Aku sayang banget sama kamu, Bianca, dan aku akan berusaha seumur hidup buat ngebuktiin itu. Tolong, aku mohon, Bianca, telepon aku kembali."
Aku tutup telepon dan langsung menghubungi Lola. Telepon berdering tiga kali sebelum dia akhirnya menjawab.
"Lola," kataku, tapi dia langsung memotong.
"Kamu berani banget ya nelfon aku setelah apa yang kamu lakuin ke Bianca."
"Lola, tolong dengerin aku. Aku emang bikin kesalahan. Aku nggak pernah bermaksud mau nyakiti istri aku. Aku bodoh. Apa dia ada di sana? Aku perlu ngomong sama dia dan bilang betapa aku menyesal."
"Kamu itu nyebelin, Regar. Dia mencintaimu, dan kamu nyakitin dia dengan cara yang paling parah. Apa kamu pikir kata-kata bisa mengubah apa yang udah kamu lakuin? Kamu nggak layak buat dia. Aku harap dia dengerin saranku dan jalan sama Dimas Coleman. Itu yang paling pantas buat kamu," katanya, dan sambungan terputus. Aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak melempar ponselku ke dinding. Mereka bicara tentang b******n itu. Aku tidak bisa membiarkan Dimas mendekati Bianca, dia adalah milikku. Aku mengambil kunci dan berniat untuk pergi ke apartemen Lola.
Ketukan di pintu menghentikanku sejenak. Aku menggenggam gagang pintu dan membukanya, menemukan orang tuaku tersenyum di depan. Aku hampir lupa mereka akan datang untuk makan malam setelah semua yang terjadi.
"Ma, Pa, maaf aku belum sempat ngabarin. Tapi malam ini enggak pas buat makan malam. Aku baru mau keluar," kataku.
"Enggak apa-apa kok, Regar. Mama lebih senang mampir ke menantu kita," sahut ibuku sambil tersenyum nakal.
"Dia enggak ada di sini, Ma, dan aku juga enggak tau kapan dia mau pulang."
"Regar, kamu ngomong apa sih nak? Kenapa Bianca enggak pulang?"
Aku menundukkan kepala, merasakan malu yang dalam.
"Regar, coba cerita sama kami, ada apa?" desak ayahku.
"Aku bikin kesalahan, dan aku enggak yakin dia mau maafin aku," jawabku.
Ibu menggenggam lenganku dan membawaku ke sofa. "Nak, emang apa yang kamu lakuin?"
"Aku selingkuh sama perawat di rumah sakit." Ibuku terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Gimana bisa kamu ngelakuin hal kayak gitu, Regar? Kami udah ngebesarin kamu lebih baik dari ini," kata ayahku.
Aku menatap ibuku, dan yang terlihat di matanya hanyalah kekecewaan. Seumur hidupku, aku rasa aku belum pernah melihatnya memandangku seperti itu.
"Aku bikin kesalahan."
"Kesalahan itu bisa lupa ulang tahun atau tanggal jadian. Kesalahan itu kayak lupa ngangkat tutup kloset. Ini adalah tindakan pengkhianatan yang disengaja. Enggak peduli apa pun alasan di baliknya, mama enggak pernah nyangka bakal ada hari di mana mama merasa malu jadi ibumu. Tapi saat ini, itulah yang mama rasakan. Mama sayang kamu, Regar, dan itu enggak akan pernah berubah. Papa dan mama akan pergi sebentar, biar kamu punya waktu untuk mikirin semua yang udah kamu lakuin. Kami siap membantu kalau kamu butuh," katanya sambil membungkuk dan mencium keningku.
"Papa sayang kamu, Calob, tapi mama mu benar. Semoga kamu bisa memperbaiki kekacauan yang sudah kamu buat."
Pintu tertutup, dan rasa sakit di dadaku makin parah. Teleponku berdering, dan aku mengeluarkannya dari saku sambil berharap bisa melihat nama Bianca di layar. Sayangnya itu bukan istriku atau siapa pun yang ingin kutemui.
Aku hampir tidak percaya dia berani meneleponku setelah semua yang terjadi hari ini. Aku langsung menempelkan telepon ke telinga dan tidak memberi dia kesempatan untuk bicara.
"Apa yang enggak jelas dari pertemuan kita hari ini? Aku enggak mau ada hubungan sama kamu. Aku mencintai istriku, Lucy. Aku enggak mau kamu dan enggak akan pernah mau. Jangan hubungi aku lagi," ucapku, langsung memutuskan sambungan sebelum dia sempat mengeluarkan sepatah kata pun.
Beberapa detik kemudian, teleponku berdering lagi. Aku melihat layar sambil bersiap-siap memblokir nomornya, tapi dunia di sekelilingku mendadak berputar karena dua kata. AKU HAMIL.