BAB 2: CINTA YANG SAMA

1021 Kata
"Ya memang. Tapi gimana pun juga aku dan Fatin tidak akan pernah bisa untuk bersatu. Kalau kami memaksa untuk bersatu maka hasilnya tidak akan baik untuk kami berdua. Aku harus sadar dan harus bisa menerima kenyataan. Bahwa diantara aku dan Fatin ada jurang yang memisahkan yang sangat lebar dan dalam. Rasanya memang sangat sulit untuk disebrangi. Apa yang dikatakan Fatin memang benar, kalau kami memaksa maka korban akan jatuh. Hidup hanya sekali. Kenapa kita mengambil resiko yang besar dan tidak kita sanggupi? Ini juga bukan salah kamu. Penyebab kita berpisah karena memang ayah Fatin tidak suka denganku. Fatin sudah lebih dulu dijodohkan oleh ayahnya dengan Johan. Jadi sekarang, aku hanya ingin fokus dengan kamu dan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan terhadapmu." "Tapi Riko, kalau kamu tidak mencintaiku lupakanlah semua itu! aku ngga mau hanya karena kasihan dan terpaksa jadi kamu mau bersama aku." "Ngga Tia, aku ngga terpaksa kok. Sebenarnya aku juga mencintai kamu. Hanya saja Fatin yang lebih dulu aku kenal. Kalau saja kamu yang lebih dulu aku temui, pasti aku akan memilih kamu. Dan rupanya Fatin sadar kalau kita saling mencintai. Aku cinta kamu dan Fatin. Tapi sekarang aku akan fokus mencintai kamu," ucap Riko sambil memegang tangan kanan Tia. "Jadi kamu mau menerima cintaku?" tanya Tia penuh keseriusan. Riko mengangguk. Dengan penuh rasa haru dan bahagia, Tia pun memeluk erat tubuh Riko dan mengecup kedua pipinya. Kemudian keduanya pun saling berpagutan mesra. Pagutan mereka baru lepas, ketika teman-teman sekelasnya datang sambil mendehem tiga kali. Rona merah malu pun seketika tergambar di kedua pipi Tia. *** Setelah empat hari dirawat di rumah sakit. Akhirnya Riko diperbolehkan pulang. Setelah kondisi Riko membaik, Tia mengajaknya main kerumah untuk bertemu mamah dan papahnya. Tia ingin memperkenalkan pacarnya itu pada kedua orangtuanya. Dan ternyata, sambutan kedua orangtua Tia sangat ramah penuh kekeluargaan. Beda sekali dengan orangtuanya Fatin yang penuh emosi. "Pah, Mah, perkenalkan ini Riko yang sering Tia ceritakan sama mamah dan papah," tutur Tia. "Oh iya Riko, saya papahnya Tia," kata papahnya sambil menyalami Riko. "Saya mamahnya Tia," sambung mamahnya. "Silahkan duduk!" ajak papahnya Tia pada Riko. "Makasih om," Riko nurut duduk. "Sebentar ya Riko, aku mau buatkan minum dulu," kata Tia. Riko mengangguk sambil tersenyum. "Nak Riko." "Ya om." "Masih sekolah?" "Ya om." "Dimana?" "Di Sekolah Nusantara Om." "Oh satu sekolah dengan Tia. Kelas berapa?" "Kelas 12 Om, satu kelas dengan Tia." "Sudah lama kenal Tia?" "Sudah Om, kita sahabatan sejak awal masuk Sekolah." "Tapi baru jadi pacar Tia beberapa hari lalu ya? hehe," selidik papahnya sambil bercanda. "Ia Om hehe," Riko membalas tawanya. Papahnya Tia manggut-manggut dan tersenyum ketika beradu pandang dengan istrinya. Lalu kembali memandang kearah Riko dengan tatapan lekat, seakan berusaha menilai sikap pemuda gagah dan berkulit putih itu. "Nak gilang benar-benar mencintai putri saya?" "Benar Om, sangat-sangat mencintai." "Nak Riko mau berjanji sama kami?" "Mau Om, janji apa Om? "Berjanjilah, untuk selalu menjaga dan mencintai putri kami setulus hati. Jangan sakiti dia!" "Saya janji Om, akan selalu jadi yang terbaik untuknya. Saya pasti akan menjaganya dan selalu mencintainya." "Syukurlah kalau begitu." "Jadi Om dan Tante mengijinkan saya untuk menjadi kekasih Tia?" "Tentu saja, karena Tia sangat mencintai kamu." "Terimakasih Om ... Tante." "Tidak perlu berterima kasih, harusnya kamilah yang banyak-banyak berterimakasih pada kamu. Sejak Tia mengenal kamu, dia jadi lebih banyak diam dan murung. Tapi beberapa hari lalu, Tia berubah jadi ceria dan ternyata cintanya sudah diterima oleh kamu. Hati orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak semata wayangnya bahagia." Riko menundukan kepala mendengarkan penuturan papahnya Tia karena dia merasa terharu. Belum juga Riko menjawab, papahnya melanjutkan pembicaraannya. "Sebenarnya ada yang lebih dari itu yang mengharuskan kami berterimakasih pada kamu." "Apa itu Om," tanya Riko sangat penasaran. "Terus terang hati kami sangat sedih kalau ingat tentang Tia. Dia putri kami satu-satunya. Ingin sekali kami bisa menyayanginya lebih lama lagi. Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain." "Maksud Om?" "Tia menderita leukimia." "Tapi Om, Tia tampak sehat-sehat saja." "Rasa cintanya padamu yang begitu besar yang membuatnya bisa bertahan hidup dan tampak sehat. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami hanya bisa berusaha, sedang keputusan hanya ada ditangan Tuhan. Ketika Tia melakukan pengobatan kembali, Dokter mengatakan kalau umurnya tidak akan lama lagi. Antara setengah tahun sampai satu tahun, tergantung perasaannya. Jika dia merasa bahagia maka akan bertambah lama usianya dan sebakiknya." "Ya Tuhan ...," keluh Riko sangat sedih. "Oleh sebab itu, kami sangat berterimakasih pada nak Riko yanh sudah mau mencintai anak saya dan mau menemani hari-hari terakhirnya. Kami mohon, bahagiakanlah Tia! Sayangilah dia! apapun akan kami korbankan untuk kebahagiaanya." "Baik Om. Saya janji akan selalu membahagiakannya." Dari arah dapur, Tia mendengar percakapan mereka. "Kok papah cerita penyakitku pada Riko!" Tia sedikit marah. "Ya walau bagaimanapun nak Riko harus tahu tentang kondisi kamu sayang. Kamu tidak usah kkhawatir, Riko akan tetap mencintai kamu, gimanapun keadaan kamu." "Sekarang kamu sudah tahu kan kalau aku penyakitan. Sebentar lagi aku akan mati. Jadi kalau kamu merasa keberatan, kamu boleh pergi! aku tidak mau dikasihani!" "Ngga Tia, aku tulus mencintai kamu!" "Tapi?" "Tapi kenapa Tia?" "Kamu akan kembali merasakan kehilangan." "Ngga Tia, kamu ngga boleh menyerah. Dengan cinta kita, kita akan berusaha melawannya. Kamu harus yakin dan percaya bahwa dengan cinta, kita masih bisa memperbaiki," tutur Riko berusaha memberikan motivasi agar Tia bertambah semangat hidupnya. *** Sejak Riko mau menerima cintanya, Tia jadi semangat hidup, bahkan lupa dengan penyakit mematikan itu. Hari-hari mereka lalui penuh kemesraan dan kebahagiaan. Enam bulan berlalu, akhirnya Tia dan Riko lulus sekolah SMK. Beberapa hari setelah pesta perpisahan sekolah, atas kesepakatan kedua belah pihak keluarga, keduanya pun dinikahkan. Tia dan Riko sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Oleh papahnya Tia, Riko diberikan kedudukan sebagai kepala bagian marketing pada perusahaan milik papahnya, sesuai dengan jurusan pemasaran yang Riko ambil saat SMK. Sambil bekerja, Riko pun disuruh kuliah oleh Tia dan kedua mertuanya. "Kamu harus kuliah Riko, kejar impianmu! Aku tidak mau gara-gara menikah terlalu muda denganku, kamu malah tidak bisa berkarir," ucap Tia. "Betul nak Riko. Kamu harus kuliah! Kalau kamu punya gelar, maka karirmu akan semakin meningkat. Papah yakin jika kamu punya titel, kamu akan bisa lebih maju lebih dari papah." "Tapi pah ...," keluh Riko. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN