Bab 16 : Mimpi yang Tak Terlupakan
Namanya Arjuna Argani, lahir tujuh belas tahun yang lalu dengan selamat dan tampan di sebuah rumah sakit swasta tepatnya di perbatasan Jakarta dan Depok. Dalam kisah Mahabharata, Arjuna terkenal berparas menawan dan berhati lemah lembut. Begitu pula dengan Arjuna pada masa milenial ini, memang berparas tampan sayangnya dia bucin. Juna, begitu orang-orang memanggilnya punya pacar sejak kelas IX dan masih langgeng hingga hari ini. Dan mudah-mudahan tetap begitu hingga seterusnya. Karena kalau putus yakinlah, Juna akan patah hati setengah mampus.
Saat ini Arjuna sedang berbaring di kamarnya yang didominasi warna biru muda. Bukan warna kesukaannya, namun warna favorit Bintang, pacarnya. Ughh. b***k Cinta !!! Kamarnya ditata rapi. Di sudut ruangan terletak akuarium kecil yang berisikan seekor ikan hias kecil berwarna merah. Ikannya diberi nama Star. Bintang sama dengan Star. Dasar norak!!! kata sahabatnya Ogy jika sedang berkunjung ke rumah Juna. Di atas meja belajar ada sebuah bingkai foto kecil memamerkan Juna dan Bintang sedang terbahak menghadap kamera.
Sejak dua jam yang lalu Juna asyik berkutat di depan layar ponselnya. Menu Instagran, w******p, dan Line dibuka berulang-ulang tapi tidak ada notif apa-apa dari Bintang. Terakhir kali gadis itu memberi kabar kemarin malam. Dan hari ini Bintang menghilang. Juna pikir, mungkin Bintang sedang sibuk belajar karena ada Senin pagi gadis itu ada ujian Matematika.
“Tumben banget HP gue sepi notif?”
“Jaringan gue jelek kali ya?”
“Malu gue. HP mahal tapi sepi. Punya pacar tapi gak nge-chat.”
Juna menekan lama tombol power di benda pipih itu sampai layarnya padam lalu dia kembali menyalakannya. Setelah foto segelas jus mangga buatan Mama terpampang di layar, Juna kembali mencoba menyambungkan ke WI-FI. Hasilnya masih sama. Tidak ada bunyi apapun dari HP-nya. Nihil.
“Ini wipi belum dibayar?”
Juna bangkit dari tempat tidur lalu berjalan tergesa ke kamar abangnya. Urusan membayar tagihan listrik dan WI-FI adalah tugas Bima. Juna yakin seratus persen, Bima pasti menggelapkan uang yang sudah diberi Mama.
“Woi, Bang Bima! Lo belum bayar wipi, kan? Lelet nih jaringan gue?” teriak Juna di depan pintu kamar Bima.
Tidak ada balasan dari Bima. Juna semakin yakin abangnya itu pasti sedang bersembunyi karena sudah melakukan tindak kejahatan berupa pasal penyelewengan uang orangtua yang dialokasikan untuk anggaran listrik dan WI-FI. Juna mengambil kuda-kuda untuk mendobrak pintu dan segera mengungkap kasus Bima.
“Satu. Dua. Ti…”
“Apa sih?” Bima keluar kamar dengan ekspresi baru bangun tidur. Lagipula ini sudah pukul sebelas malam. Bima punya kuliah pagi di hari Senin. Jadi dia harus tidur cepat agar bisa berangkat subuh.
“Bang, korup banget sih lu. Sekarang aja lo udah gini padahal kan cita-cita lo jadi ketua RW. Lo contoh dong Pak Budiman. Pak RW paling jujur, tidak sombong, dan amanah,” gerutu Juna sambil berkacak pinggang. “Lo belum apa-apa udah korupsi aja.”
Bima berdecak malas. Dia sedikit mendongak melihat wajah adiknya itu dengan jelas. Juna memang sedikit lebih tinggi dari Bima. Dari dari ketiga anak Mama, Junalah yang paling tinggi. Sebenarnya dibandingkan dengan remaja lain, mereka bertiga tergolong tinggi karena mewarisi tinggi badan adik Papa mereka, Om Arya. Bima melepas kacamatanya menghembuskan nafas kesal.
“Lo punya pertanyaan lebih bermutu nggak?” tanya Bima malas.
“Jika sebuah mobil bergerak dari titik A menuju titik B dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam dan ditempuh selama tiga puluh menit, berapakah…..”
Bima menggeprak pintu kamarnya. “Gue serius, nyet!”
“Bang, jaringan wipi hilang. Gue gak bisa nerima notif dari cewek gue.”
Bima menepuk kening Juna. Telinga serta saraf pendengaran Bima sudah muak menerima ocehan Juna tentang pacarnya. Andai Juna bukan adiknya, mungkin Bima rela mengantar bocah tujuh belas tahun itu ke Ragunan agar bisa bergabung bersama satu spesiesnya. Siapa yang tidak bosan jika dari bangun tidur sampai ingin tidur lagi selalu saja mendengar ocehan tidak berguna seperti yang Juna lakukan setiap hari.
“Cewek lo nggak balas WA lo, bukan urusan gue!” balas Bima.
Juna cemberut. “Lo gak ngerti rasanya, Bang. Lo jomblo akut sih.”
“Nyet, lo mending belajar deh. Lo kan mau olimpiade. Atau lo tidur aja sana. Gak usah ganggu ketenangan gue. Besok gue UTS jam tujuh. ” Bima hendak memutar tubuh tapi pundanya ditahan Juna. “Apa lagi?”
“Lo beneran nggak korup kan? Wipi udah bayar kan? Atau gue bagi hotspot lo deh, kuota gue abis.”
BRAKKKK
Bima tidak menjawab dia membanting pintu keras meninggalkan Juna tercengang di tempat. Dua menit kemudian, HP Juna berbunyi dan layarnya menampilkan foto bukti transfer pembayaran WI-FI enam bulan terakhir.
“Lah ini masuk notif Bang Bima. Jadi kenapa chat gue dari pagi belum centang dua ke Bintang?”
“Lo kena ghosting ya, Bang?”
Cobaan apalagi yang dihadapi Juna malam ini. Juna menoleh ke belakang dan menemukan wajah meledek adik perempuan satu-satunya. Juna mencoba mengabaikan dan memilih masuk ke kamar, sayangnya Nadia sudah menutup jalan Bima ke kamar. Cewek jangkung nan kurus itu merentangkan kedua tangannya di depan Juna.
“Minggir, abang mau lewat.”
“Lo galau, bang?” Nadia terkekeh sambil menaik-naikkan alis.
“Bocilku sayang, turun ke kamar, cuci kaki, terus tidur ya adikku yang manis.” Juna mengacak rambut Nadia.
Nadia cemberut mendengar panggilan Juna. Dia sudah kelas sembilan dan bagianya, dia bukan lagi bocah melainkan remaja. Lagipula tingginya hampir sama dengan Juna. Banyak yang mengira mereka kembar karena paras yang mirip. Hidup mancung, bulu mata lentik, kulit sawo matang, dan rambut hitam legam.
“Gue ada info penting buat lo tapi kerena lo jahat panggil gue bocil, gue ngambek. Gue ngambek ya?” ancam Nadia.
Juna terkekeh. selain gemar bermain futsal dan gitar, dia punya hobi lain, yaitu membuat Nadia cemberut. Lucu saja jika adiknya itu merajuk. “Bodo amat! Mau ngambek kek, mau ngembek kaya kambing kek. Gue gak peduli!”
“FIx, gue marah. Gue marah sama Bang Juna. Gue nggak mau lo kasih hadiah sekalipun lo maksa. G-U-E M-A-R-A-H!”
“Yakin marah sama abang lo yang paling tampan dan dermawan?” Juna merogoh saku dan menemukan selembar uang lima puluh ribuan. Sebenarnya uang itu untuk uang praktikum besok di sekolah tapi lumaayn bisa digunakan untuk memancing Nadia.
Nadia melipat tangan di depan d**a. “Nadia nggak mau ya disogok kalo cuma lima puluh ribu. Gue ngambek! Kao duitnya berubah jadi seratus ribu, gue mikir-mikir deh.”
Juna terbahak menyaksikan Nadia berlalu dari hadapannya dengan bibir yang dimajukan beberapa sentimeter. “Masih bocah aja belagu banget adek gue. Untung sayang.”
Drrttt
“HP gue getar. Chat gue dibalas Bintang.” Juna buru-buru masuk ke kamar.
Bintangnya Juna
Boleh ke balkon?”
Kening Juna berkerut samar. Bintang memintanya ke balkon? Tapi untuk apa? Tidak biasanya permintaan Bintang aneh begitu. Juna tidak mau ambil pusing. Dia sudah menanti balasan Bintang lebih dari dua belas jam yang lalu. Juna yakin Bintang sedang menyiapkan kejutan. Tapi ini bukan hari peringatan jadian mereka. Ulang tahun Bintang juga sudah lewat. Dan ulang tahun Juna masih dua bulan tiga hari lagi.
Juna tidak membalas pesan Bintang tapi dengan senang hati kakinya beranjak keluar kamar. Setelah melewati kamar Bima, Juna meraih kunci pintu menuju balkon di atas nakas. Juna segera mengirim balasan pada Bintang.
Junanya Bintang
Aku di balkon skrg
Lima menit menanti, belum ada balasan apa-apa dari Bintang. Juna mengalihkan pandangannya ke langit. Malam yang indah. Bulan terbentuk bulat sempurna. Juna suka. Sudah lama sekali Juna melewatkan indahnya bulan. Bintang tidak suka malam. Cewek itu lebih suka mentari cerah dan langit biru. Karena itu Juna jadi jarang keluar malam meski hanya untuk sekedar melihat pemandangan malam.
Drrtttt drrrtttt
HP Juna bergetar panjang. Panggilan dari Bintang. Juna tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Dia sangat senang. Jantungnya sampai berdebar tak karuan. Bima memandang ke atas langit. Tersenyum pada bulan. Ada yang aneh. Bulan sudah tertutup awan. Senyum Juna ikut pudar.
Drrtttt drttttt
“Halo, Bi?”
“Juna?”
Juna tiba-tiba kesulitan bernafas. Sejak kapan dia punya asma? Apakah rindu begitu berpengaruh pada sistem pernafasan? Sepertinya tidak begitu di pelajaran biologi. Panggilan Bintang tidak biasa. Sejak jadian dia tidak pernah menyebut ‘Juna’ melainkan ‘Arjuna’. PerasaAN Juna jadi tidak enak.
“Juna?”
“Kenapa Bi?”
Otak Juna menjadi lambat merespon Bintang.
“Kamu sehat, Jun?”
“Sehat, Bi. Kamu?”
“I am fine.”
Bi, aku kangen kamu. Besok aku jemput ya.”
“Juna, kita udahan aja ya.”
Udahan. Juna mencoba mencari kata ‘udahan’ dalam kamus di kepalanya. Tidak ada. Juna berdeham mencoba menenangkan diri. ‘Udahan’ yang disebut Bintang bukan putus. Kemarin semuanya masih berjalan seperti biasanya. Juna tidak melakukan kesalahan apapun. Begitu pula Bintang. Semua akan baik-baik saja. Dan akan tetap baik-baik saja. Bintang pasti sedang bercanda. Dia mungkin sedang membuat konten prank bersama Atta Hallilintar.
“Bintang?” bisik Juna.
“Kita putus.”
“Bi?”
Tidak ada jawaban apa-apa. Panggilan Bintang sudah berakhir dan hubungan mereka juga. Tapi Juna salah apa? Hati Jjuna hancur. Kulit Juna merasakan tetasan air. Tidak. Juna tidak menangis. Juna mendongak. Ternyata air hujan. Lengkap sekali rasanya. Dipututskan pacar di tengah malam. Tiba-tiba hujan dan sebentar lagi mungkin hujannya lebat. Drama sekali kisah cinta sang Arjuna.
Drtt
Nadia bocil
Nadia telah menghapus pesan ini
Juna menggaruk kening. Kepalanya masih pusing memikirkan alasan kenapa Bintang tiba-tiba meminta putus tanpa alasan. Nomor gadis itu tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Juna kesal setengah mati ditambah lagi pesan tidak jelas dari sang adik. Maukah semesta menjelaskan pada Arjuna, apa yang sedang terjadi pada Bintang? Arjuna meremas kepalanya.
“Woi!”
Juna berbalik badan. Nadia membawa secangkir teh panas. Mereka berdua berpandangan. Mata Juna memerah dan Nadia tersenyum seolah memberi semangat. Juna menerima cangkir bergambar bebek dari Nadia.
“Lo nyembunyiin sesuatu dari gue, dek?”
Mereka berdua berdiri di pagar pembatas balkon menghadap ke teras. Keduanya fokus menatap pohon mangga Papa yang sedang berbuah rambis. Nadia merangkul Juna. Refleks Juna menoleh. Nadia pasti tahu perihal penyebab Bintang memita putus.
“Tadi gue liat instastory kak Bintang di IG. Dia jalan sama cowok. Siapa itu ketua OSIS SMA?”
“Axel?!!”
“Iya. Yang rada bule terus songong itu.”
Juna mengecek HP. Tidak ada unggahan apapun dari Bintang. Tapi Nadia bisa melihat. Jelas sudah. Bintang menyembunyikan dari Juna. Juna tersenyum. “Kenapa lo gak cerita?”
“Kan gue ngambek.” Nadia berdecak. Nadia meninggalkan Juna sendiri di balkon. Dia tahu kakaknya itu butuh waktu sendiri. “Lo jangan lompat ya, Bang.”
Asap teh buatan Nadia mengepul di hadapan Juna. Masih panas tapi masih kalah panas dari hati Juna. Bintang berpaling pada Axel. Si ketua OSIS yang tampannya di bawah Juna. Saingan Juna di tim olimpiade tahun lalu dan dia Axel kalah. Axel yang menang pemilihan OSIS lawan Ben karena mengancam anak kelas sepuluh. Juna menggeleng. Selera Bintang sudah beruah ternyata.
Juna meraih HP, membuka galeri lalu menemukan foto dirinya saat liburan keluarga ke London tahun lalu. Foto hitam putih hasil jepretan Nadia. Beberapa menit kemudian foto itu sudah terunggah ke i********: dengan caption ‘Buat apa merjuangin seseorang yang gak layak lo perjuangin!’ ditambah emoticon hati yang terbelah dua.