bc

Bukan Orang Ketiga

book_age18+
25
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
second chance
friends to lovers
kickass heroine
drama
city
affair
like
intro-logo
Uraian

Dia Tari

Perempuan sederhana yang menjalin hubungan yang sederhana pula dengan Gema, sosok laki-laki sempurna di matanya.

Hingga perjodohan antara Gema dan Ajeng muncul untuk memisahkan mereka.

Tapi diantara mereka, siapakah yang sebenarnya orang ketiga?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bukan Orang Ketiga | part 1
Tari menatap tak percaya kondisi rumah ketika ia pulang dari cafe tempatnya bekerja. Rumah sederhana yang ada di pinggiran kota jogja itu hancur berantakan dengan barang-barang yang tak sesuai tempatnya. Ada satu hal dalam pikirannya, "ibu..." Lirihnya kemudian lari menuju kamar. Ditemukannya tubuh lemas wanita paruh baya yang sedang terbaring di atas kasur. "Ibu gak papa?" Ujar Tari yang membuat sang Ibu membuka matanya. "Kamu udah pulang?" Sapanya. Tari berjalan mendekat kemudian duduk di sisi ranjang. "Ibu gak papa kan?" Tanya ulang wanita itu. Sang ibu menggeleng, "tadi bapak kamu dateng sama rentenir, dia mau serahin rumah ini ke mereka karena kita gak mampu bayar utang. Kamu—" "Udah Bu, gapapa. Ini kan emang atas nama bapak. Aku bisa cari kontrakan kok pake uang gajian aku bulan ini. Ibu gak usah khawatir yah, nanti kalau Tari udah ada uang lagi, kita ke rumah sakit obatin Ibu." Wanita itu menyentuh lembut tangan ibunya dengan ekspresi wajah meyakinkan. Tari tumbuh dilingkungan keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya adalah pejudi ulung yang selalu pulang dengan keadaan mabuk. Sementara ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dari tetangga hanya untuk bisa makan. Setelah ibunya sakit-sakitan, sang ayah yang memang dari awal tidak pernah menafkahinya itu pun mengusir mereka dengan menjual sertifikat rumah kepada rentenir untum membayar utang-utangnya. Sehingga membuat ibu dan anak itu, mau tak mau harus pergi dari rumah itu. Tari memang hanya mendapatkan pendidikan formal dari sekolah negeri, tapi ia berhasil masuk ke Universitas Gadjah Mada jurusan Ekonomi dengan kepintarannya. Tetapi setelah semester lima, ia harus di DO Karena telat membayar uang semester. Ia pun sebenarnya berkerja paruh waktu untuk membayar uang kuliahnya, tetapi semua uang itu harus ia relakan untuk penyembuhan sang ibu yang menderita asma stadium 2. Hingga sekarang umurnya sudah menginjak angka 25. Tari tak mampu melanjutkan pendidikannya, dan sang ibu yang terhenti penyembuhannya. Kemudian kini diusir oleh sang ayah yang bahkan tak pernah menjalankan tugasnya di rumah. Tari berjalan menuju cafe tempatnya bekerja. Yah, berjalan kaki saja karena tidak ada kendaraan yang ia punya. Setidaknya setiap hari ia harus berjalan 15 menit untuk sampai di tempat kerjanya. "Bu, saya mohon banget Bu. Saya perlu banget uang itu. Setengah aja gapapa kok Bu." Ujarnya memelas. Wanita di depannya itupun terdengar menghela nafas. "Aduh gimana yah Tar, kamu bulan lalu juga minta gaji di awal kan, jadi bulan ini tuh udah gak bisa." "Kalo gitu saya kerja lembur aja ini hari yah Bu, saya butuh banget uangnya sekarang." "Tapi shift lembr tuh udah penuh Tar, kalau kamu juga lembur yang ada saya bayarnya double dong sama pekerja lain." Tari menunduk, ia harus mendapatkan uangnya hari ini agar bisa mencari kontrakan besok pagi dan pindah dari rumah itu sebelum para rentenir datang lagi. Hingga datanglah salah satu rekannya mendekati meja mereka berdua. "Saya gapapa kok Bu digantiin lembur hari ini." Ujarnya dengan lembut. "Aduh Tania, beneran kamu mau?" Ujar wanita pemilik cafe itu. "Iya Bu gapapa, Kak Tari juga lagi butuh banget kan?" Ujar Tania yang langsung dibalas anggukan oleh Tari. Mendengar hal tersebut, akhirnya wanita pemilik cafe itu pun membuat keputusan. "Yaudah, malam ini, shift nya Tania di gantiin Tari yah. Nanti bayarannya saya kasih besok pagi." Akhirnya Tari bisa bernafas lega. Ia pun tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada rekannya dan mulai bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya. Begitulah kehidupan Tari. Segala kebutuhannya serba genting dan mau tak mau ia harus 2x lipat setiap harinya. Bisa dikatakan selama 25 tahun hidupnya ini, ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Apalagi menyaksikan sang ayah yang merebut uang ibunya dari hasil kerjaan cuci baju hanya untuk memenuhi keinginan judinya. Kemudian, bagaimana dengan kehidupan asmara Tari? Kejadian tukar shift lembur hari ini ternyata telah tertata rapi dalam jalan takdirnya. Mendatangkan seseorang dari masa lalu yang mungkin dapat membantunya menemukan sedikit kebahagiaan. "Tari, ini bener kamu kan?" Degup jantung wanita itu berbunyi tak beraturan. Naasnya mulai cepat dengan alis yang menyaut gusar. "Kamu ngapain disini? Kamu ngikutin aku lagi?" Ujarnya menuduh. Pria di depannya itupun menggeleng. "Aku tadi habis meeting di hotel depan, terus cari cafe kopi yang masih buka." "Oh." Ujarnya tak tertarik. Tari pun mengambil nota dan pulpen dalam sakunya. "Kamu mau pesen apa?" "Kayak biasa aja." "Aku udah lupa pesanan 'kayak biasa' yang kamu maksud." Pria itu menghela nafasnya. "Americano double shot nya satu." Tari yang sedang menulis menu di kertas notanya itupun menjadi pemandangan menarik bagi pria yang duduk di depannya. "Sekalian cake atau rotinya?" "Gak usah." "Disini ada yang less sugar kok." Pria itu terkekeh pelan. "Aku udah makan tadi, jadi maag aku gak bakal kambuh Tar." "Aku cuman nawarin, udah SOP di sini kok." Ujarnya kemudian pergi meninggalkan meja pria itu. Sesaat setelah Tari beranjak menuju bar. Pria yang tadi memesan itu terlihat menunduk, menyaksikan tangannya yang gemetar parah. Reaksi tubuhnya atas kerinduannya selama ini. Ia tersenyum getir atas semua kebohongan yang ia katakan. Tidak ada meeting, tidak ada kebetulan. Pria itu sengaja, datang menemui Tari setelah 6 bulan memandang dari jauh. Ia menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Memutar-mutar benda tersebut dengan gusar dan pikiran yang berkecamuk. Tak ada solusi dalam hubungan mereka, ia tau itu. Pria itu sudah pernah mencoba semuanya. Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Padahal seingatnya, handphone pria itu sudah ia ganti ke mode silent. Yah, mungkin hanya kekeliruan biasa yang ia lakukan. Muncul satu pesan dari orang yang coba ia kenal dalam 6 bulan. "Kata Pak Anwar kamu udah selesai meeting? Aku udah masak loh." Pria itu menghela nafasnya saat melihat pesan yang dikirimkan untuknya. Jari jemarinya perlahan mengetikkan sesuatu di atas keyboard ponselnya untuk membalas pesan itu. "Pesanan Americano double shot nya satu." Ujar tari saat meletakkan cangkir kopi itu di atas meja. Membuat kegiatan pria itu terhenti hanya untuk memperhatikan gerakan tari lebih dekat. "Makasih." Ujarnya yang hanya dibalas anggukan oleh wanita itu. Ia menaruh handphonenya di dalam kantung jasnya tanpa tau apakah pesan balasannya sudah terkirim atau tidak. Pria itu lebih memilih untuk menatap sosok yang ia rindukan selama ini dibandingkan wanita yang sedang menunggunya di rumah sendirian. Mengharap kan kepulangannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook