Pagi yang buruk. Ruang kerjanya kini sudah dipenuhi oleh beberapa orang dan salah satunya adalah Carlos Sandres. Pria itu tampak menahan amarah. Sementara pria-pria lain adalah jajaran direksi Marchetti Grup. Semua orang datang ke sini tepat saat matahari baru saja terbit di ufuk timur.
Sofia sendiri terpaksa mengakui bahwa harinya juga tidak menyenangkan. Bangun dengan mata sembab akan menghancurkan reputasinya. Untung saja riasan mahal yang dia beli mampu menutupi mata bengkaknya. Kemudian, Theo yang mendadak rewel. Kehadiran orang-orang ini. Lengkap sudah penderitaannya pagi ini.
“Bagaimana Sofia?” todong Carlos.
Pria itu beranjak dari sofa. Mendekati Sofia yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Tak ada rokok yang Carlos hirup. Hal baik untuk jantung wanita itu, setidaknya. Namun, menunjukan bahwa pria enam puluhan itu sedang serius.
Sofia menarik napas dalam. “Pihak kepolisian sedang mencari siapa dalang kebakarannya, Carlos.”
“Oh persetan dengan dalangnya!” cemooh Carlos. “Yang aku pentingkan adalah bagaimana Marchetti grup bisa bangkit lagi setelah kebakaran? Nominal kerugian yang kita ketahui luar bisa gila. Bahkan bagian finance mengakui ini memakan laba 1 tahun terakhir.”
“Kita menggunakan asuransi, Carlos,” ingat Sofia. “Jadi, kurasa itu bisa menutupi separuh kerugian.”
“Terlalu lama, Sofia, dan tidak sepadan dengan waktu menunggu.” Carlos mendengkus. “Kau tidak punya jawaban bukan? Akui saja!”
Sofia siap beranjak. Menggebrak meja sambil mengancam Carlos untuk tutup mulut. Namun, dia menahan diri. Membiarkan pria ini puas menghinanya.
“Sudah kukatakan, kau tidak becus, jadi terima saja! Marchetti group akan bangkrut!” ejek Carlos.
“Carlos!” Nada suara Sofia meninggi. Kesal bukan main. “Berkata Marchetti Group akan bangkrut sangatlah kurang ajar, Carlos. Anak perusahaan Marchetti Group bisa silang dana untuk menopang sejenak Marchetti pusat selama masa pemulihan. Lagi pula, kerugian hanya terdapat pada property.>“Hanya itu ide yang bisa kau sarankan?”
Sofia mengangguk mantap. Kemudian, dia mengedar pandang ke semua orang yang ada di ruangan ini, satu per satu, “Kalau kalian punya ide lain, aku dengan tangan terbuka ingin mendengarnya. Oh … dan aku tidak menerima kata rentenir di sini.”
Beruntungnya, satu per satu orang mulai aktif memberikan komentar mereka. Rapat mendadak nan intens ini berakhir dua jam setelahnya. Semua orang langsung kembali ke area mereka untuk menjalankan keputusan akhir yang Sofia setujui dan tentu tanpa ada kritikan tajam dari Carlos.
Hanya saja, Carlos tetap tinggal. Sofia heran sekali dengan pria enam puluhan ini yang sangat suka menempel dengannya seperti sekarang. Dengan tenang dan suara yang kaku, wanita itu bertanya, “Katakan padaku, kau suka berada di ruangan ini hingga sangat sering mendatangiku ke sini?”
Carlos mengangguk begitu saja. “Tempat ini mengingatkanku pada Lucas dan juga Ayah mertuamu. Jadi, Sofia, kau beruntung kali ini karena ide akhir itu luar biasa cemerlang.”
Sofia mendengkus geli. “Benarkah? Tidak biasanya kau memujiku.”
Tiba-tiba saja Carlos menduduki kursi di seberang Sofia. Mencondongkan badannya agar mereka bisa semakin dekat. “Aku tak lagi muda, Sofia, dan aku masih tetap pada nasihatku sebelumnya.”
“Mencari … Enzo dan menyeret pria itu ke sini?”
“Iya.” Carlos menghela napas dalam. “Dia yang lebih pantas duduk di sini dan menangani kekacauan ini, Sofia.”
“Carlos, keputusanku masih tetap sama, aku tidak ingin mendengar nama Enzo kembali disebutkan. Pergilah, kau butuh istirahat, bukan? Kau datang paling pagi hari ini.”
Carlos mengerang tidak suka. Kemudian, beranjak dari kursinya. Baru beberapa langkah, pria itu berhenti, kembali menghadap Sofia.
“Sofia, aku harus menanyakan ini sekali lagi, bagaimana kalau semua rencanamu itu gagal dan Marchetti Group tetap collapse?”
“Kenapa kau selalu berpikir pesimis?”
“Aku tidak pesimis.” Carlos mendesah panjang. “Aku hanya berpikir realistis. Sofia, kebakaran kemarin memang masih banyak hal yang bisa diselamatkan, tapi … bagaimana setelah semua selesai dan kau tak juga membuat perusahaan kembali untung?”
“Kita akan berhasil, Carlos. Kuharap kau selalu menemaniku.”
“Sekali lagi, Sofia, aku … tak lagi muda. Pikirkan saranku baik-baik, temukan Enzo.”
Setelahnya, pria itu benar-benar beranjak dari ruang kerja Sofia. Meninggalkan wanita itu yang masih terjebak akan pikirannya sendiri.
Mendadak dia teringat dengan doa yang dia panjatkan semalam, meminta bantuan Lucas. Dan pagi ini, Carlos menyebutkan nama Enzo berulang kali. Mendadak Sofia gamang, haruskah dia menemukan Enzo? Pria yang jelas-jelas telah berkhianat dari klan Marchetti ini? Sofia frustrasi.
***
Siang ini, Sofia memutuskan untuk istirahat sejenak di rumah. Setelah rapat tadi, seluruh energinya terkuras habis. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah menghabiskan waktu untuk merenungi segala hal yang terjadi, di pantai pribadi mansion Marchetti.
“Aku akan jalan-jalan ke pantai.” Sofia menunjuk pantai pasir putih di bawah tebing sana, kemudian mendongak kembali pada para pengawal. “Kalian berjaga dari jauh saja.”
“Baik, Signora,” balas empat orang pria tinggi besar bersamaan.
Pelan-pelan Sofia menuruni tangga yang terbuat dari batu pualam. Jalan ini dibangun dengan mengeruk tebing agar bisa menuju ke bagian bawahnya. Pemandangan laut luas Mediteranian selalu memanjakan mata. Berkilauan berkat pantulan sinar matahari. Tenang. Sayup-sayup suara kicau burung juga terdengar. Senyum wanita itu mengembang lebar.
Kata-kata Carlos seolah terus berputar di kepala. Padahal itu sudah berjam-jam yang lalu. Mencari Enzo dan mengembalikan hak pria itu? Namun, semua orang tahu bahwa Enzo lah yang memilih pergi dari keluarga ini. Berbeda dengan Lucas. Apakah Lucas akan kecewa apabila Enzo lah yang menggantikan posisi ketua, bukan Sofia seperti dalam wasiat pria itu? Banyak pertanyaan, tetapi tak ada jawaban.
Saat kaki Sofia menyentuh pasir putih, segera saja dia melepaskan alas kakinya. Meredam jemari di dalam pasir. Kemudian menikmati setiap rasa yang menjalari telapak kakinya.
Baru saja dia hendak menuju tepi pantai, sesuatu di kejauhan menarik perhatian Sofia. Sejenak wanita itu mengernyit. Kemudian, kakinya malah berbelok menuju sesuatu di dekat bebatuan besar. Tersembunyi di sana. Panjang. Berwarna hitam karena itulah pakaian yang melekat. Basah juga.
Mayat? Sofia mengernyit. Bisa-bisanya seseorang membuang mayat di pantai pribadinya. Namun, wanita itu malah memilih mendekat sendirian. Memastikan bahwa manusia yang tengah terlentang ini mayat.
“Siapa?” bisik Sofia seraya memastikan wajah pria yang dia duga mayat ini.
Tampan, satu kata yang Sofia gambarkan saat menatap pria ini. Rahangnya tegas dengan dagu lancip. Alis mata tebal dan rapi. Sesuatu yang membuat Sofia iri adalah betapa lentiknya alis mata pria itu. Bibirnya yang pun berisi dan tampak menggoda. Membuatnya penasaran bagaimana rasa bibir itu di bibirnya.
Sial! Aku tidak mungkin merasa ingin berciuman dengan mayat! Sofia menggerutu. Dia menyalahkan panas Sisilia saat ini dan masalah yang mengikutinya beberapa saat lalu.
“Mrs Marchetti.”
Panggilan dari balik punggung Sofia mengalihkan perhatian wanita itu. Segera dia berbalik. Mona, sang sekretaris telah berdiri di dekatnya. Kening wanita itu mengernyit. Matanya menyipit. Fokusnya tertuju pada sesuatu yang baru saja Sofia perhatikan.
“Ada apa, Mona?”
“Saya….” Mona mulai kehilangan konsentrasi. Fokus dia terbagi antara pria yang terbujur di pasir dan iPad di tangannya. “Hanya ingin meminta tanda tangan Anda.”
Sofia mengangguk singkat. Namun, dia mengibaskan tangan menolak. “Tahan dulu. Tolong panggilkan pengawal ke bawah. Suruh mereka pastikan bahwa orang ini masih hidup atau … sudah meninggal.”
Bergegas Mona berbalik. Agak berlari wanita itu naik ke tangga. Sofia memperhatikan dari jauh. Mendapati sekretarisnya itu bercakap-cakap dengan para pengawalnya, artinya pesan sudah disampaikan.
Kurang dari lima menit, dua orang pengawal datang bersama Mona. Mereka dengan cepat memeriksa keadaan pria asing yang terdampar di pantai pribadi ini.
“Singora,” panggil salah seorang pengawalnya. “Saya rasa … dia masih bernapas.”
“Bawa dia ke rumah. Panggil dokter terbaik di Sisilia atau Italia, terserah. Kita selamatkan dia,” putusnya cepat.
Para pengawal pribadinya itu dengan sigap dan cekatan langsung mengangkat tubuh besar dan berotot pria asing itu. Menaiki tangga pualaman yang agak curam dengan hati-hati.
Perhatian Sofia kembali terarah pada Mona. Diambilnya iPad di tangan sang sekretaris, lalu membaca isi fail di sana. “Mona.”
“Ya, Signora?”
“Tolong kau cari tahu siapa pria itu dan ... pergilah!”
“Baik, Signora.”
Tergopoh-gopoh Sofia menyusul para pengawalnya menaiki tangga. Kali ini, Sofia memilih berdiri mematung sambil menatap lautan lepas.
Entah mengapa Sofia malah menengadah. Langit cerah. Lautan berkilau. Sosok pria asing terdampar dan dialah yang menemukan bukan orang lain di rumah. Masih hidup. Dalam hati kecilnya, Sofia seolah meyakini bahwa pria ini lah yang akan menolongnya. Kiriman Lucas dan itu bukan Enzo.
***