#4 - Conscious

1438 Kata
Mobil melaju cepat membelah jalanan Sisilia di malam hari. Angin yang bertiup kencang tampak menggoyangkan dedaunan pepohonan yang mereka lalui. Belum terlalu larut, tetapi hanya ada mobilnya sepanjang mata memandang. Mungkin karena ini adalah jalanan khusus dan satu tujuan, kediaman Marchetti yang melegenda. Tanpa sadar Sofia mendongak. Menatap langit yang tampak sendu. Nyaris dia tidak menemukan sinar kecil bintang, bahkan bulan pun tampaknya enggan menampakkan diri. Belum lagi menurut perkiraan cuaca, tengah malam nanti di Sisilia akan diguyur hujan. Kelam, desah wanita itu. Bahkan cuaca pun seolah ikut mencemooh suasana hati Sofia hari ini. Sepanjang hari, hidup dia jungkir balik. Pekerjaan semakin rumit. Bagian keuangan pun mendadak collapse. Semua pihak menuntutnya memiliki jawaban saat itu juga. Lebih parahnya, semua pihak juga menyarankan dia untuk mundur. Jika saja Sofia cukup berani mundur, maka akan dia lakukan. Namun, dia terlalu mencintai Lukas. Hingga tak berani mengecewakan almarhum suaminya yang telah tiada dengan menyerah. Sofia akan melakukan apa pun. Cara kotor ataupun bersih demi mengembalikan keadaan perusahaan Marchetti Group. “Signora.” Sebuah panggilan menyentak Sofia. Refleks, dia menoleh. Mona yang sejak tadi duduk di kursi depan berbalik menatapnya. Dengan wajah datar, Sofia membalas, “Ya?” “Kita sudah sampai rumah Anda, Mrs Marchetti.” Mona menyunggingkan senyum maklum. “Sepertinya Anda kelelahan. Rapat sepanjang hari ini tidak mudah.” Sofia mengangguk setuju. Segera diraihnya tas tangan di sampingnya. Begitu sopir pribadinya membuka pintu, bergegas Sofia turun dengan Mona yang mengekorinya dalam diam. Kepala pelayan yang membuka pintu selalu menyambutnya dengan hangat dan sopan. “Kau sudah menemukan siapa pria asing itu, Mona?” Sofia membuka suara seraya menaiki tangga. Mona menggeleng lambat. “Kami masih kesulitan, Mrs Marchetti. Tadi saya juga belum menyempatkan diri untuk mengambil foto pria itu, jadi sekalian saja saya akan mengambil fotonya.” “Baiklah. Kalau begitu kita ke kamarnya saja sekarang.” Haluan Sofia pun berubah. Niatnya dia akan kembali ke ruang kerja dan rapat bersama Mona, malah harus berbelok menuju ke kamar tamu tempat si pria asing itu berada. Baru saja pintu di buka, Sofia malah menemukan dokter keluarga Marchetti berada di sana. Memeriksa tekanan darah si pria asing, berikut alat infus yang terpasang di tangan pria itu. “Dokter Charles,” sapa Sofia. Senyum ramahnya tersungging. Pria lima puluhan itu mendongak. Membalas senyum Sofia sama lebar. Kemudian, bangkit. “Kau sudah kembali? Pukul 8 malam?” Sofia terkekeh pelan. “Terlalu pagi?” “Tentu saja.” Charles mencibir. “Kau selalu pulang hingga larut malam sampai lupa akan kesehatan dan juga Theo, Sofia.” “Hari ini aku sedang ingin menghabiskan pekerjaanku di rumah, Charles,” balas Sofia kalem. Dia melirik ke arah si pria asing yang masih memejamkan mata. “Bagaimana keadaan pria itu.” Charles ikut melirik ke arah pasiennya. Hingga desahan panjang terdengar dari pria lima puluhan tersebut. “Dia berhasil diselamatkan, Sofia. Walaupun air yang dia telan tidak banyak, tapi kepalanya seperti terbentur sesuatu benda yang tumpul dan keras hingga menyebabkan luka yang cukup dalam. Sekarang dia baik-baik saja. Tidur dan mungkin besok sudah sadarkan diri.” Sofia mengangguk paham. “Kau sudah tahu siapa pria ini, Sofia?” Pertanyaan Charles mengembalikan fokusnya pada sang dokter. Dengan berat hati Sofia menggeleng. “Belum, Charles. Kami sedang mengusahakannya. Kalau kau sudah selesai, pulanglah dan biarkan supir mengantarmu.” “Oh, tidak perlu, tidak perlu,” jawab Charles sambil mengibaskan tangan. “Aku sudah selesai dan aku bisa pulang sendiri. Meskipun aku sudah 60an, Sofia, aku masih bisa melakukan segala hal sendiri.” “Aku tahu, Charles. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini.” Charles mengangguk. Buru-buru dia membereskan peralatan dokternya, lalu beranjak. Pria itu berhenti tepat di depan Sofia. Memberikan sebuah tepukan singkat pada bahu wanita itu. “Aku tahu perusahaan sedang bermasalah, Sofia, tapi kuharap kau selalu menjaga kesehatanmu.” Sofia tidak menjawab, hanya memilih untuk menyunggingkan senyum. Begitu ruangan tersisa antara dirinya dan Mona, Sofia kembali bersuara, “Waktunya kau mengambil fotonya dan temukan siapa pria ini sesegera mungkin. Kalau bisa sebelum dia sadar besok pagi.” “Kenapa Anda tidak menunggunya sadar agar dia mengungkapkan dirinya sendiri pada Anda, Signora?” Sofia menggeleng tegas. “Sebelum pria ini sadarkan diri, aku harus memastikan siapa orang yang kutolong, Mona. Bagaimana jika dia orang jahat atau mata-mata yang dikirimkan demi menghancurkan Marchetti Group? Aku tidak bisa mengambil risiko.” “Baik, Signora.” Tanpa membantah, Mona segera mengambil ponsel di dalam tasnya. Mendekati pria asing itu, lalu memotret wajahnya dari berbagai sisi. Begitu semua selesai, Mona langsung mengundurkan diri. Sementara Sofia memilih untuk tinggal sejenak di ruangan ini. Saat dia akhirnya ditinggal dengan si pria asing, Sofia perlahan mendekat. Menduduki sisi ranjang. Matanya dengan cepat mengamati wajah si pria asing. Bentuk wajahnya persegi dengan rahang yang tampak kuat. Hidung mancung. Bibir tebal dan agak pucat yang saat Sofia coba sentuh sangatlah lembut, begitu menggoda untuk dicium. Alisnya tebal, tetapi alias sebelah kirinya seolah terbelah menjadi dua. Sofia penasaran apa warna mata pria ini, secerah langit kah atau sekelam langit malam seperti milik Lukas? “Kau siapa?” bisik Sofia tanpa sadar. Tangannya kini merambat di sekitar alis pria asing ini, kemudian kembali mengajukan pertanyaan. “Apakah kau adalah malaikat penyelamat yang Lukas kirimkan untuk membantuku?” Tak ada jawaban. Hanya saja, Sofia meyakini bahwa pria ini memang Lukas kirimkan untuk membantunya. Semoga informasi apa pun mengenai pria ini tidak membuat Sofia kecewa nantinya. Apalagi sampai menghancurkan ekspektasinya. *** Semalaman, Sofia terjaga. Pikiran kusut selayaknya benang. Banyak hal yang dia pikirkan, terutama pekerjaan. Pada akhirnya, dia memilih untuk berpindah dari kamar menuju ke ruang kerja. Tempat di mana Lukas menghabiskan banyak waktunya semasa hidup. Dulu, ruangan ini selalu dipenuhi dengan aroma musk dan cinnamon yang khas milik Lukas. Ada lagu classic yang mengalun untuk membantu suaminya itu berpikir. Terpenting ada sosok Lukas itu sendiri. Duduk di atas kursi kulit berwarna hitamnya ini. Bersandar pada kepala kursi sambil memejamkan mata. Sementara jemarinya mengetuk-ketuk permukaan meja kayu yang kokoh di dekatnya. “Aku merindukanmu, Tesoro­—Sayang,” bisik Sofia sembari menatap potret besar lukas di balik kursi kerjanya. Sebuah ketukan mengembalikan kesadaran Sofia. Buru-buru dia berbalik menghadap pintu. Berdeham pelan sambil memasang wajah sedingin dan sekaku yang dia bisa. Menutupi berbagai perasaan yang tengah dia emban sekarang. “Masuk!” perintah Sofia setengah berteriak. Pintu terbuka dan Mona tahu-tahu saja muncul. Kening Sofia mengernyit dengan heran. Diliriknya jam digital di meja. Bahkan, pukul enam pagi saja belum, tetapi asistennya ini sudah berada di Mansion Marchetti. “Kau menginap di sini semalam, Mona?” todong Sofia yang dibalas anggukan cepat Mona. “Lebih tepatnya saya bekerja semalaman di kamar tamu, Signora,” jawabnya kalem. “Saya sudah menemukan siapa pria asing itu.” Sontak Sofia merapatkan kursi ke mejanya. Perhatiannya kini terpusat pada Mona. Tentu saja dia tertarik, terlebih pada orang yang dia anggap sebagai kunci baginya untuk keluar dari neraka ini. “Siapa dia?” Mona tak langsung menjawab. Wanita itu mengeluarkan iPad dari dalam tasnya. Mengutik benda itu singkat, lalu menyerahkannya pada Sofia. Dengan cepat, Sofia membaca headline sebuah berita di sana. Kemudian, tanpa sadar bergumam, “Seorang CEO perusahaan IT terkemuka di Yunani menghilang di laut Mediterania.” Sofia mendongak menatap Mona. “Maksudmu, pria itu seorang CEO?” “Lihat ini.” Mona menurunkan layar dari headline menuju ke isi artikel. Di sana ada sebuah foto pria dalam balutan pakaian kerja tiga lapisnya. Tampan dengan wajah berbentuk persegi. Rahang kuat dan tegas. Bibir tipis yang berwarna merah muda. Alis sebelah kiri yang terbelah dua. Kali ini, Sofia mendapati mata pria itu terbuka. Di sanalah, dia bisa menemukan mata berwarna secerah langit. Jadi, itu warnanya. “Namanya Nikolas Valerio, Mrs Marchetti,” lanjut Mona. Menghentikan pula perasaan kagum konyol yang tiba-tiba merayapi Sofia. “Dia seorang CEO Perusahaan IT Terkemuka di Yunani, sesuai judul. Malam sebelum dia ditemukan di pantai pribadi Anda, Mrs Marchetti, dia dijadwalkan melakukan penerbangan seorang diri menggunakan helikopter menuju Sisilia. Namun, tiba-tiba menghilang.” “Jadi … dia CEO?” Lagi-lagi pertanyaan sama kembali Sofia ajukan. Jabatan yang pria bernama Nikolas ini tentu akan sangat membantunya. Nikolas memiliki perusahaan terkemuka. Pria itu pasti memiliki isu serupa seperti yang tengah Sofia hadapi. Dan Nikolas pasti dapat membantunya. “Benar, Mrs Marchetti. Nikolas Valerio menjabat sebagai seorang CEO perusahaan bernama Valerio Tech. Sekarang, apa yang harus kita lakukan pada Mr Valerio, Signora?” Sofia termenung sesaat. Dia belum memikirkan lebih lanjut selain akan memohon untuk meminta bantuan keluar dari krisis ini. Pada akhirnya, Sofia kembali menatap Mona. Kemudian berkata, “Aku akan memikirkan apa yang akan kita lakukan pada pria itu. Kau … bisa kembali bersiap-siap untuk bekerja sekarang.” Tanpa membantah, Mona bergegas keluar dari ruangan. Meninggalkan Sofia di atas kursi kebesarannya untuk berpikir keras. Memikirkan banyak kemungkinan, salah satunya ditolak oleh Nikolas Valerio. Hingga sebuah ketukan cepat, disusul pintu terbuka sukses menghancurkan fokus Sofia. Dia mendongak dan lagi-lagi dia mendapati Mona kembali. Namun, kali ini berbeda. Sekretarisnya itu tersengal, tampak habis berlarian. Peluh bercucuran. Terlebih kedua matanya melebar. “Ada apa, Mona?” “Itu … pria asing itu, Mrs Marchetti, dia … sadar,” jawab Mona terbata. Seketika Sofia beranjak dari kursinya. Berjalan cepat melewati Mona, kemudian berbelok menuju ke kamar tamu tempat Nik beristirahat. Dari kejauhan, Sofia mendengar samar-samar suara teriakan di sana. Begitu pintu kamar Nik terbuka, Sofia mendapati Nik tengah berteriak bingung. Sendirian. Matanya berkeliaran gila menjelahai semua hal dalam ruangan ini. “Nikolas,” panggil Sofia. Mencoba mengakrabkan diri. Namun, pertanyaan Nik selanjutnya sukses membuat hati Sofia mencelus. “Siapa itu Nikolas?” Sofia seolah memahami situasi. Efek samping dari benturan di kepala Nikolas, amnesia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN