#5 - Liar

1471 Kata
Seandainya saja dia selemah saat ini, mungkin dia sudah beranjak dari tempat tidur. Mencari siapa saja di luar sana demi mencari tahu kebenaran mengenai dirinya. Bagaimana bisa otak manusia, inti memori segala hal terhebat tiba-tiba saja mengalami kekosongan. Semua ada penjelasan. Jadi, tidak mungkin dia membiarkan dirinya hidup dalam tanya dan kebingungan seperti ini. Setidaknya … aku ingin mengetahui namaku. Mendengar suara pintu dibuka, langkah kaki, dan juga dua orang yang bercakap-cakap menyentaknya ke dunia nyata. Perlahan dia menduduki ranjang. Bersandar pada headboard. Lalu, matanya menatap satu per satu orang di dalam ruangan ini. Seorang pria. Rambut putihnya jauh lebih banyak daripada rambut hitamnya. Ada banyak kerut di area matanya. Menyunggingkan senyum ramah. Jas dokter yang pria itu kenakan dan tas kerja yang dia tenteng seolah membuat dia sadar bahwa pria ini adalah seorang dokter yang akan menanganinya. Perhatiannya beralih pada seorang wanita yang berdiri agak di belakang sang dokter. Rambut dia bergelombang berwarna hitam segelap langit malam. Matanya bulat besar. Hidungnya macut. Bibir tebal dan lebar wanita itu pulas dengan lipstik merah. Menggoda dan dia tidak bisa menampik bahwa wanita itu adalah tipe-tipe wanita yang akan dia tarik ke ranjangnya. Wanita yang sama yang memanggilnya Nikolas beberapa saat lalu sebelum akhirnya pergi keluar. “Bagaimana keadaanmu, Signore?” tanya sang dokter. Perlahan pria itu menduduki sisi ranjangnya. Walaupun sudah tampak berumur, tapi pria itu sangat cekatan dengan alat-alat kedokterannya. “Sofia berkata bahwa kau tidak mengenali dirimu sendiri.” “So … fia?” Dia malah balik bertanya. Perhatiannya beralih pada satu-satunya wanita cantik di ruangan. Sofia melambaikan tangan. Menyunggingkan senyum yang sukses membuat hatinya berdesir konyol. “Aku Sofia, Nikolas.” “Nikolas?” “Itu namamu, Nikolas. Aku biasa memanggilmu Nik,” jelas Sofia. Untuk sesaat Nik termenung. Meresapi informasi Sofia. Kepalanya tidak mengingat namanya sendiri. Namun, nama Nik terdengar cocok untuknya. Pada akhirnya, dia mengangguk setuju. Nik menunjuk pada Sofia. “Kau … siapaku?” Tiba-tiba saja Sofia mendekat. Menduduki sisi ranjang lain di samping Nik. Kemudian, meraih tangannya. “Aku istrimu, Nik. Kita sudah menikah beberapa tahun.” Seketika Nik membelalakan mata. Walaupun dia menganggap Sofia cantik bahkan wanita yang akan langsung dia tarik ke tempat tidurnya, tetapi menikah seolah asing dalam kepalanya. “Me … nikah?” “Sofia.” Sebuah suara lain mengintrupsi obrolan mereka. Nik menoleh dan ternyata itu sang dokter yang sejak tadi diam di tempat. Kali ini pria itu tidak menyunggingkan senyum. “Bisakah kau menunggu di luar dan biarkan aku memeriksa keadaannya.” Sofia mengangguk patuh. Bergegas wanita itu beranjak keluar ruangan. Begitu Nik ditinggal sendirian oleh sang dokter, pria tersebut dengan cekatan mengerjakan tugasnya. “Namaku Charles.” Dokter itu memperkenalkan diri. Sambil memberi sorotan cahaya pada mata Nik, Charles kembali bersuara, “Jadi, kau tidak mengingat apa pun tentang dirimu dan bagaimana kau bisa kecelakaan hingga amnesia?” Nik menggeleng cepat. “Aku tidak ingat apa pun, Dok. Hanya … nama Nik terdengar familier. Pernikahan dan Sofia? Aku merasa asing. Walaupun aku harus mengakui aku tidak akan berpikir dua kali mengajak Sofia tidur di ranjangku, tapi menikah sepertinya bukan gayaku.” “Kenapa kau begitu yakin padahal otakmu saja tidak mengingat apa pun?” Pertanyaan Charles membuat Nik terdiam. Kepalanya mencoba untuk mengingat apa saja dia lupakan. Sekaligus mencari tahu kebenaran dari perkataan Sofia padanya tadi. Sayangnya, baru saja dia hendak mengingat, kepalanya seperti pukul batu keras-keras. Menyakitkan. Membuat dia pening. Namun, tidak ada darah. Saking sakitnya, Nik tanpa sadar berteriak kencang, “Arrgh!” “Nikolas, berhenti mengingat!” Charles berteriak tegas. “Tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan kuat-kuat. Terus ulangi sampai kau merasa lebih baik.” Segera saja Nik mengikuti intruksi Charles. Menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Mengulangi terus hingga merasa lebih baik. Bersamaan itu pula, dia membiarkan otaknya tetap kosong tanpa ingatan. “Sakit ya?” tanya Charles penuh simpati. Nik mengangguk. Bahkan ada air mata yang menitik di sudut matanya. Charles menghela napas panjang. Menepuk pundak Nik sekilas. “Biarkan ingatan itu muncul sendiri. Kalau kau memaksa mengingatnya, kau hanya akan memperparah otakmu sendiri, Nik. Istirahatlah.” Sebelum Charles sempat beranjak, Nik buru-buru menahan gerakannya. “Sofia … apa dia benar istriku?” “Kalau dia bilang seperti itu … maka dia memang istrimu, Nikolas. Kurasa, kau butuh istirahat dan bukannya berpikir hal-hal yang menambah sakit kepala. Minum obatmu dengan teratur. Aku akan kembali besok untuk memeriksa keadaanmu.” Kali ini, Nik membiarkan Charles pergi begitu saja. Namun, tetap saja perasaan Nik tidak tenang. Dia merasa apa yang dikatakan Sofia bukanlah kebenaran. Hanya saja jika memang Nik dan Sofia telah menikah, harusnya wanita itu memiliki buktinya, kan? Mendapati bahwa Nik memiliki cara untuk mencari tahu, dia tersenyum lebar. Tanpa lagi menahan diri, perlahan Nik merebahkan badannya ke ranjang. Memejamkan mata. Kantuk kuat yang dia rasakan kembali datang. Dan tahu-tahu saja dia terlelap. *** Sofia langsung terlonjak saat mendengar suara pintu kamar Nik dibuka. Sosok Charles muncul. Tak ada senyum, tetapi ekspresinya tampak sebal. Sofia paham apa yang membuat pria kebapakan itu mendadak jadi tidak seramah beberapa menit lalu. “Charles,” panggil Sofia. “Bagaimana keadaan Nik?” Charles menghentikan langkahnya tepat di seberang Sofia. Kemudian, menoleh pada pintu di belakangnya selama beberapa saat. Barulah dia memfokuskan diri pada sosok Sofia. “Bisa kita bicara ke tempat yang lebih pribadi, Sofia?” tanya Charles yang langsung dibalas anggukan cepat Sofia. Keduanya bergegas beranjak dari depan kamar Nik. Sofia mengambil alih menjadi pemandu jalan. Berbelok ke serambi rumah yang berbeda. Menuju pintu paling ujung. Nantinya, di sana akan ada beberapa pintu lain. Selain ruang kerjanya, akan ada kamarnya, dan juga ruang-ruang pribadi lainnya. Sofia mendorong pintu ruang kerja. Memiringkan badan sambil mempersilahkan Charles untuk masuk. Barulah dia menutup ruangan rapat-rapat. “Kalau kau tanya keadaan Nik bagaimana, dia amnesia. Walau begitu, aku bisa jamin bahwa itu tidak permanen. Benturannya kurasa tidak terlalu keras, tetapi mungkin trauma dalam kecelakaannya yang membuat diri Nik memilih melupakan segala hal.” Seketika Sofia menghela napas lega. Saat mendapati Nik tidak mengingat dirinya sendiri, pemikiran untuk mengakui bahwa pria itu adalah suaminya muncul begitu saja. Dan saat dokter berkata bahwa Nik benar-benar amnesia, Sofia girang. Nik memang dikirimkan Lukas untuk membantunya. “Sofia.” Sekali lagi Charles memanggilnya. Sofia mendongak dan kali ini pria nyaris 60an itu memasang wajah dongkol. “Kenapa kau berkata pada Nik bahwa kalian adalah sepasang suami istri? Demi Tuhan, Sofia, kau saja baru bertemu dengan dia beberapa hari lalu dan dia sedang sakit!” “Aku rasa itu bukan urusanmu, Charles.” “Oh, kau salah besar, Sofia, pria itu juga menjadi urusanku karena dia pasienku.” Charles menggebrak meja dengan kesal. “Dampak dari sebuah kebohongan itu besar, Sofia, apalagi dengan pria yang sedang mengalami trauma di kepala. Sofia, dia sedang sakit dan seharusnya kalau kau memang berniat menolong, berkata bohong bukanlah salah satu cara yang baik. Semakin kau memberinya kenangan-kenangan palsu, maka semakin kesulitan bagi Nik untuk mengingat kembali kenangan aslinya.” Senyum Sofia langsung mengembang lebar. Ide langsung muncul dalam kepalanya. “Ide bagus, Charles, kalau begitu aku akan terus memberinya kenangan palsu.” “Sofia!” Charles berteriak. “Aku tahu Marchetti Grup sedang dalam keadaan yang tidak bagus dan kau pasti sedang putus asa, tapi mengakui orang asing sebagai suamimu jelas adalah sebuah kesalahan. Bagaimana kalau pria itu sudah memiliki kekasih atau bahkan istri yang tengah menunggunya di rumah? Apakah kau juga tidak berpikiran panjang bahwa kebohongan yang kau ciptakan akan berdampak sangat buruk apabila dia mengetahui kebenarannya suatu hari nanti?” Untuk sesaat Sofia termenung. Mencerna setiap kata demi kata yang Charles ucapkan. Namun, saat ini dia tengah berada di posisi sulit, hidup dan mati. Jika dia tidak meraih pelampung yang disodorkan oleh orang asing, maka dia akan tenggelam mengenaskan ke dalam lautan. Sofia masih ingin hidup bahagia hingga Theo, sang anak, menikah dan mungkin memiliki anaknya sendiri. “Aku tidak peduli, Charles. Jadi, kuperintahkan agar dirimu tutup mulut dan ikuti saja permainanku ini.” Charles memijat pelipisnya dengan frustrasi. “Lalu, bagaimana dengan Theo? Dia sudah lebih dari setahun, dia sudah mengerti siapa Ayahnya. Bagaimana caramu menjelaskan pada anakmu bahwa pria yang sedang sakit di kamarnya itu adalah Ayahnya?” “Aku akan memikirkan semuanya nanti. Sekarang tolong kembali ke rumah sakitmu dan tinggalkan aku sendirian, Charles. Sekali lagi aku memberi peringatan, jangan berani-beraninya kau untuk mengatakan pada Nik bahwa hubungan suami-istri kami adalah palsu.” Mendapati perintah Sofia yang tak terbatahkan, Charles hanya mengangguk. Menahan diri sekuat tenaga untuk tidak kembali bergetak. Pada akhirnya, pria nyaris 60an itu beranjak dari ruangan. Begitu Sofia ditinggal seorang diri, perlahan dia bergerak mendekati kursi keberannya. Menduduki tempat itu. Sementara pikirannya berkelana dengan tidak tahu malunya. Napas Sofia tersengal. Perasaan dia karut-marut. Kepalanya juga mulai pening. Satu hal yang Sofia pelajari dari sebuah kebohongan adalah, satu buah kebohongan akan menciptakan kebohongan-kebohongan lain. Maka, dia harus mencari akan kebohongan agar memudahkannya membangun sebuah kebohongan di antara dirinya dan Nik. Cukup lama Sofia berpikir, hingga sebuah ide muncul di kepalanya. Segera saja dia mengambil ponsel di saku blazer magentanya. Memanggil Mona, sang sekretaris. “Mona,” sapa Sofia begitu terdengar suara halo di ujung sana. “Ya, Signora?” “Aku ingin … kau membantuku. Tolong buat semua orang di rumah ini berkata bahwa pria asing yang kita temukan di pantai adalah suamiku. Namanya, Nikolas Marchetti, bukan Nikolas Valerio. Satu lagi, semua surat-surat penting, terutama surat pernikahan, tolong kau ubah dengan nama Nikolas Marchetti. Aku mengandalkanmu, Mona.” “Baik, Signora.” Panggilan segera Sofia putus. Senyum lebar wanita itu merekah. Dia yakin, sekretarisnya akan melakukan banyak hal kotor demi menutupi status asli Nikolas Valerio yang hilang. Sederhana saja, Mona selalu ada dipihaknya. Sofia jadi tidak sabar berbuat drama lainnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN