#6 - (Un)familiar

1562 Kata
Menjadi pengganti sang suami, Lukas, untuk memimpin sebuah perusahaan dan sebuah klan Marchetti saja Sofia menganggap dirinya luar biasa gila. Sekarang, dia mendadak mengakui seorang pria asing sebagai suaminya. Jujur saja, Sofia merasa otaknya tak lagi berada di kepalanya. Mungkin ikut dia buang ke dalam peti mati Lukas setahun lalu. Dalam waktu cepat, rumah ini mengalami perubahan besar-besaran. Sekarang, bukan hanya Theo yang Sofia khawatirkan, tapi juga keadaan Nik yang baru saja sadar. Jenis khawatir takut ketahuan bahwa dia berbohong dengan cepat. Misi saja belum terlaksana, jadi dia berharap bisa mempertahankan semua rahasia ini hingga semua misinya tercapai. Seisi rumah ini juga mengalami perubahan. Banyak para pegawai yang menentang pencopotan foto Lukas di sini. Namun, Sofia lah yang sekarang berkuasa. Walaupun enggan, mereka pada akhirnya menurut untuk memasang foto Nik yang sudah diedit sedemikian rupa menggantikan potret Lukas. Sofia juga memaksa semua orang mengakui bahwa Nik adalah suaminya dan melarang siapa pun dan di mana pun orang-orang membicarakan Nik adalah pria asing amnesia yang Sofia temukan di pantai pribadi Marchetti. Tanpa mendengar ketukan pintu, tiba-tiba saja pintu kantornya terbuka. Sofia yang sejak tadi memandangi foto kecil Lukas—satu-satunya yang tersisa di rumah ini, buru-buru memasukannya ke dalam laci, kemudian dia kunci rapat. Sofia mendongak. Carlos berjalan masuk. Mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu. Melihat jam dinding, sudah memasuki pukul 5 sore, tandanya pria itu baru saja pulang dari Roma. Langkahnya lambat-lambat, tetapi tampak yakin. “Carlos,” sapa Sofia lebih dulu. Namun, pria itu memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Bahkan, bermenit-menit setelah menduduki kursi di seberang meja Sofia. Tanpa sadar Sofia mendesah panjang, lalu kembali bersuara lebih dulu, “Carlos, kuharap kedatanganmu yang tiba-tiba ke kantor ini bukan karena kau sedang sakit hingga mengabaikan sapaanku.” Seketika Carlos mendengkus keras. Jemarinya mengetuk-ketuk permukaan meja kayu. Menatap Sofia lekat-lekat sambil menggeleng dengan ekspresi tak percaya. “Bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi di rumah ini, Sofia? Dan juga apa maksud Mona saat mengatakan padaku bahwa pria yang kau temukan di tepi pantai itu adalah suamimu, Nikolas Marchetti.” Wajah Sofia mengeras. Kedua bibirnya mengantup rapat. Sembari bersandar pada kursi dan kedua tangan terlipat di d**a, dia membalas, “Haruskah aku menjelaskan semua hal padamu, Carlos?” “Demi Tuhan, Sofia!” Carlos tiba-tiba menggebrak meja. Ada sorot kemarahan yang tampak jelas dalam mata pria enam puluh tahun tersebut. “Aku ini penasihatmu dan juga segala hal berhubungan dengan klan ini. Kau juga tau, Lukas sangat mempercayaiku, bukan? Sofia, sejak awal aku ini temanmu, bukan seseorang yang akan menusukmu dari belakang.” “Aku tau,” lirih Sofia. Wanita itu menghela napas panjang. Sekalipun Carlos tampak keras bahkan mengatainya tidak cocok untuk memimpin segala hal yang Lukas miliki saat ini, tetapi Sofia tahu, pria di seberangnya ini hanya ingin melindunginya. Hanya caranya agak keras saja. “Aku hanya putus asa, Carlos,” aku Sofia pada akhirnya. “Bisakah kau membicarakan rencanamu yang sebenarnya, Sofia?” Carlos mulai melunak. Pelan-pelan pria itu mencondongkan badan mendekati Sofia. “Mungkin jika ini bagus, aku bisa saja mendukungmu. Kalau tidak … lupakan saja, mengakulah pada pria itu.” Pada akhirnya, Sofia mengangguk setuju. Diraihnya iPad terdekat. Mengutik benda tersebut, sebelum akhirnya menyodorkannya pada Carlos. Barulah, dia mengakui rencananya, “Pria asing itu bernama Nikolas Valerio. Seorang CEO dan president sebuah perusahaan IT ternama di Yunani. Dalam waktu lima tahun saja, perusahaan kecil di garasinya telah berkembang menjadi perusahaan multi nasional, Carlos. Valerio Tech berjaya dan mereka hendak memasakan ke seluruh Eropa.” “Lalu? Aku masih tidah paham apa rencamu, Sofia.” Carlos mengernyitkan kening, masih tidak memahami maksud Sofia. “Pria ini luar biasa … cerdas, Carlos. Dia juga pemimpin perusahaan yang dia bangun dengan tangannya sendiri. Kalau aku tidak mengakui bahwa dia adalah suamiku, Nikolas Valerio tidak akan membantu krisis Marchetti Grup sekarang. Pria itu harus merasa memiliki Marchetti Grup agar dia bisa memebenahi seluruh hal yang salah dalam perusahaan kita. Itulah kenapa, dia suamiku sekarang.” “Kau … putus asa, Sofia?” “Jujur saja, aku sangat putus asa. Jadi, kumohon Carlos, mengertilah keputusanku saat ini dan ikuti drama yang aku buat.” Sofia meraih tangan keriput Carlos untuk dia genggam erat. “Aku membutuhkanmu, Carlos. Percayalah padaku, aku yakin Nik adalah pria yang Lukas kirimkan untuk menyelamatkan kita semua.” Untuk beberapa saat Carlos hanya bergeming menatap Sofia. Namun akhirnya, pria itu mengangguk. “Jadi, apa yang harusaku lakukan sekarang?” “Menunggu, Carlos. Aku harus membuat pria itu lebih baik sebelum memancingnya untuk membahas perusahaan.” Deringan ponsel mengalihkan perhatian mereka. Refleks, Sofia meraih benda tersebut di meja. Nama Mona muncul di layar, sepertinya semua perintahnya sudah dia jalankan. “Ya, Mona?” balas Sofia seraya mengaktifkan pengeras suara. “Saya sudah mengurus semua yang Anda minta, Signora. Nama suami Anda bukan lagi Lukas Marchetti, tetapi Nikolas Marchetti. Data-Data Mr Lukas Marchetti telah berganti dengan Nikolas Marchetti. Satu jam lagi saya akan sampai di Marchetti Mansion untuk menyerahkan surat pernikahan kalian.”  Senyum puas Sofia tercetak di wajah. “Kerja bagus, Mona. Aku menunggu kedatanganmu.” Panggilan segera diputus begitu saja. Sofia mendongak menatap Carlos yang sejak tadi mengawasinya. Pria itu tampak tidak suka, tetapi tidak bisa menolak. “Lalu, setelah ini apa, Sofia?” “Menunggu Nik bangun tidur, lalu memperkenalkan anak kami padanya. Theo … akhirnya memiliki Papanya kembali.” Mendadak jantung Sofia berdebar kencang. Putra semata wayangnya itu hanya memiliki waktu dua bulan saja bersama Lukas. Sekarang, dia akan memiliki Ayah baru dan Sofia berharap pria itu akan memperlakukan Theo dengan baik. Masalahnya satu, Theo sudah tahu bagaimana wajah Lukas, Pappa-nya. Sofia berharap, putranya yang sudah balita itu bisa dia ajak kerja sama. Karena jika tidak, maka usahanya akan sia-sia saja. *** Keheningan panjang melingkupi Nik ketika pria itu kembali terjaga. Perlahan matanya terbuka. Langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran rumit membingkainya menjadi pemandangan pertama. Badannya agak sedikit gerah mengingat selimut tebal menutup seluruh badannya hingga dagu. Seluruh badannya kaku dan terasa sakit. Dengan susah payah, Nik mendudukan diri di tempat tidur. Menoleh menatap jendela besar di sisi kirinya. Langit sudah mulai memamerkan warna jingga. Padahal seingatnya tadi, dia tidur saat matahari saja belum terlalu tinggi. Dia penasaran, berapa lama dia terlelap. Nik menarik napas dalam-dalam. Kemudian, mencoba menggali memori dalam kepalanya. Namun, baru saja mencoba, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa langsung menyerangnya. Membuat Nik mengerang pelan. Dadanya sesak. Dia merasa tidak nyaman dengan ketidak tahuan ini. Dia juga merasa janggal dengan semua informasi yang dia dapatkan pagi ini. Sulit untuk dia percayai seolah bukan seperti inilah pilihan yang akan dia ambil sebelum amnesia. Ketukan di pintu, lalu benda itu terbuka dan langsung membuat fokus Nik teralihkan. Sofia, wanita yang mengaku sebagai istrinya itu berdiri di ambang pintu. Memamerkan senyum yang anehnya membuat debaran jantung Nik sedikit cepat. Tanpa bisa dicegah, Nik menjelajahi setiap detail Sofia dari puncak kepala hingga ujung kaki. Rambut wanita itu berwarna hitam pekat sebahu. Bergelombang. Wajahnya berbentuk hati dengan kulit seputih s**u. Riasana yang dipulas di wajah tampak sederhana. Warna merah yang dia berikan pada bibir seolah mempertegas betapa kuatnya wanita itu. Setelah kerja; kemeja putih yang dilapisi oleh blazer magenta dan rok pensil berwarna senada. Cantik bahkan di kepala Nik kata sempurna muncul. Nik menyakini bahwa Sofia adalah tipe wanita yang akan dia kencani dan bawa ke ranjang atau mungkin dia nikahi. Namun, dia seolah tidak yakin bahwa dia sudah menikah. Itu saja. “Kau sudah bangun, Nik?” Pertanyaan Sofia sukses memecahkan lamunan Nik. Apalagi saat wanita itu berjalan lambat sambil mendekat, kemudian menduduki sisi ranjangnya. Sesaat pikiran Nik buyar karena aroma bunga yang menguar dari tubuh Sofia membangkitkan sesuatu yang liar dalam diri pria itu. Sialan! Untung saja aku sedang lemah. Nik memperingatkan diri sendiri. “Seperti yang kau lihat, Sofia, aku sudah bangun. Baru saja,” jawab Nik kalem. “Berapa lama aku tidur?” Sofia melirik jam tangannya. Bibirnya bergerak seperti menghitung sesuatu, lalu kembali menatap Nik, “Kurasa … nyaris sepuluh jam. Wajar saja, Nik, kau baru saja sadar dan amnesia.” “Lama juga,” gumam Nik tanpa sadar. Jeda cukup lama, lalu Nik memberanikan diri untuk memastikan kembali informasi yang dia dapatkan, “Jadi, kau benar-benar istriku, Sofia?” “Kenapa kau ragu?” Nik mengedikkan bahu. Menatap lekat-lekat ke dalam mata hazel milik Sofia. “Kau tahu, aku hanya tidak memiliki perasaan bahwa aku sudah menikah. Rumah ini—maksudku kamar ini terasa asing saja untukku. Tidak ada yang membuat hatiku merasa … familier.” “Karena ini bukan kamar yang biasa kau tiduri, mungkin.” Sofia meringis. “Kau kecelakaan dan … kamar ini yang langsung dipilih untuk tempat perawatanmu.” “Kenapa?” “Karena Mr Nikolas Marchetti, kamar ini satu-satunya ruangan paling dekat dari pintu masuk. Kau mau mendengarkan sedikit kisah … kita?” Nik mengangguk pelan dan Sofia memamerkan senyum lebarnya. “Baiklah. Kita menikah sekitar dua tahun yang lalu. Kita juga sudah memiliki seorang putra, Theodore atau kau suka memanggilnya Theo. Dia … sudah berumur 14 bulan. Aku tau kau tidak atau belum mengingatnya, tidak apa. Kami paham.” “Putra?” “Ya, putra yang luar biasa tampan, Nik.” Tiba-tiba saja Sofia beranjak dari ttempat tidur, lalu kembali berkata, “Sebentar.” Wanita itu bergegas keluar ruangan. Cukup lama, hingga pintu kembali terbuka. Kali ini Sofia tidak seorang diri. Dia ditemani seorang pria kecil dalam gendongannya. Tersenyum lebar dengan wajah bak malaikat. Cantik sekali. Persis seperti Sofia, tetapi versi pria. “Tampan.” Pujian itu meluncur begitu saja dari mulut Nik. “Papa!” Teriakan tak terduga dari Theo membuat Nik tertegun. Terlebih saat balita itu mencoba meraih Nik dengan kedua tangan mungilnya. Tampak bahagia dan bersemangat. Awalnya, dia asing. Namun, saat mendengar suara cekikikan itu, Nik mendadak jatuh cinta. “Papa, Papa!” Lagi-lagi Theo terus memanggilnya. Perlahan Nik mengulurkan tangan. Meraih tubuh mungil Theo untuk dia dekap. Dan senyum Nik pun tercetak juga di wajah. “Halo, Theo,” bisik Nik. “Dia menyukaimu, Sayang. Dia selalu menyukaimu.” Sofia tersenyum kecil. “Sekarang … kau percaya kan bahwa kami adalah keluarga kecilmu?” Nik mendongak. Menyelami kembali mata hazel milik Sofia. Walaupun hatinya masih menentangnya. Namun, dia tidak ingin merusak momen indah ini karena tidak percaya dengan pikirannya yang kosong ini. Pada akhirnya, Nik memilih mengangguk. Menyetujui semua informasi yang Sofia berikan. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN