Entah sudah berapa kali Nik membolak-balikan badan di tempat tidur. Mengganti posisi agar dia bisa terlelap. Namun, itu tidak pernah terjadi, bahkan sampai langit yang terlihat dari jendela kamarnya mulai keemas, lalu tahu-tahu saja terang.
Nik mengerang sebal. Ingatan dia boleh saja menghilang, tapi pikirannya mendadak penuh. Ada banyak tanya yang tidak terjawab. Seperti, benarkan Theo adalah putranya? Balita itu memiliki mata seperti Sofia, hazel, tetapi dari segi wajah, terasa tak ada satupun milik Nik di sana. Rambut Theo juga persis seperti Sofia. Seolah anak itu adalah duplikasi Sofia versi pria dan mini. Hanya saja Theo dengan fasih memanggilnya Papa. Tak mungkin anak sekecil dan semurni itu melakukan kebohongan.
Sofia sendiri, dia juga terasa asing. Walaupun harus diakui bahwa ada ketertarikan fisik yang tercipta, tapi tetap tak bisa dia benarkan. Seketika Nik mengacak-acak rambutnya. Dia buntu. Mungkin, dia harus menjelajari rumah ini. Bertanya pada setiap orang yang dia temui mengenai status pernikahannya dia dengan Sofia. Mencari-cari bukti. Sayangnya, selain tubuh yang masih lemah, infus juga masih terpasang di tangannya.
Ketukan di pintu menghentikan lamunan Nik. Refleks, dia menoleh. Tak lama pintu terbuka dan sosok Sofia muncul di sana. Lagi-lagi jantung Nik berdebar tatkala menemukan wanita yang mengakui sebagai istrinya itu tampak sangat memukau. Rambut hitam sepunggungnya dia ikat, lalu membentuk cepot tinggi di atas kepala. Ada kacamata berbingkai kotak mengiasi matanya. Kali ini, wanita itu menggunakan lisptik berwarna cokelat tua. Setelan baju kerjanya juga sangat pas badan; kemeja putih dengan blazer tua, dan celana panjang berwarna senada. Heels hitam yang membuat Sofia tampak tinggi. Terpenting, aroma bunga segar yang tercium dari wanita itu, membuat sel-sel di tubuh Nik kini bangun seketika.
“Sayang,” sapa Sofia.
Wanita itu menyunggingkan senyum lebar, lalu berjalan mendekati Nik. Menduduki sisi ranjang seraya menyilangkan kaki.
Untuk sesaat Nik tersihir masuk ke dalam mata hazel tersebut. Mengingatkannya pada pepohonan tua yang sengaja di potong di hutan agar tetap bisa hidup dan bertumbuh kembali.
“Kau baik-baik saja, Nik?”
Pertanyaan Sofia kali ini langsung menyentak Nik. Menarik pria itu kembali ke dunia nyata. Bergegas dia memusatkan pikiran dan fokusnya pada wanita di hadapannya ini.
“Ya, ya, aku baik-baik saja, Sofia.”
“Senang mendengarmu kembali memanggil namaku dengan benar, Sayang,” bisik Sofia seraya meraih tangan Nik. Meremasnya pelan sambil memainkannya.
“Kau … akan pergi bekerja, Sofia?”
Sofia mengangguk cepat. “Aku selalu bekerja, Nik. Aku juga menjadi wajahmu di depan umum untuk urusan perusahaan.”
Kening Nik mengernyit. “Aku tidak mengerti. Kenapa begitu?”
“Nikolas, kau yang memintanya!” Sofia terkekeh pelan. “Sejak dulu, kau selalu memilih untuk hidup di balik layar perusahaan. Bekerja seperti bayangan. Semua tugas yang mengharuskanmu bertemu klien, suplier, dan juga karyawan adalah tugasku. Mereka … tak tahu dirimu, tidak semua. Kau otak segala hal, sementara aku adalah penggeraknya dengan kau yang mengedalikan.”
“Aku masih tidak paham, kenapa aku harus bersembunyi?”
“Jujur saja, aku juga heran pada awalnya.” Sofia membelai tangan Nik lambat-lambat. Membuat jantung pria itu semakin tak keruan. “Kemudian, kau berkata bahwa semakin sedikit orang yang mengetahui siapa dirimu, maka semakin mudah untukmu mengendalikan mereka. Kau bisa melihat mereka tanpa mereka mengetahui siapa dirimu. Kau juga bisa mengetahui kebenaran masalah yang terjadi di perusahaan tanpa harus mendapatkan laporan yang sudah diutak-atik sedemikian rupa demi menyenangkan egomu. Itulah mengapa sejak menikah kau bukan hanya memperistriku, tapi menjadikanku tangan kananmu.”
“Begitu?”
Sekali lagi Sofia mengangguk cepat. “Sejak dulu … begitulah yang terjadi.”
Tiba-tiba saja pegangan Sofia dilepaskan. Dalam sepersekian detik, Nik merasakan kehilangan yang cukup cepat. Dia ingin meraih tangan wanita itu kembali dan memainkannya. Namun, tertahan oleh batinnya yang masih berdebat.
“Kau harus segera sembuh, Sayang. Sekalipun aku terbiasa menggantikan posisimu, tapi … aku tak terbiasa melakukan itu sendiri tanpa bantuanmu.”
“Apa ada masalah?”
Wajah Sofia langsung berubah sendu. Nik tahu memang ada masalah dan pria itu langsung menodong, “Ada masalah kan, Sofia?”
“Aku tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak.”
Seketika Nik melakukan apa yang sejak tadi ingin dia lakukan, menggenggam tangan Sofia kembali. Menatap lekat-lekat mata hazel itu. Kemudian, menyakikan wanita itu, “Kau harus mengatakannya agar aku bisa membantumu.”
“Baiklah.” Sofia menghela napas dalam. “Hari di mana kau … kecelakaan, perusahaan kita di Roma mengalami kebakaran besar, Nik. Buruk sekali karena beberapa lantai bagian bawah rusak parah. Aliran dana perusahaan juga sedang terganggu, padahal kita perlu renovasi besar-besaran. Banyak dokumen penting juga lenyap akibat kebakaran itu. Aku … pusing.”
Nik termenung. Mencerna semua yang Sofia katakan. Hingga sebuah keyakinan dan juga ide muncul dalam kepalanya. Dengan senyum cemerlang walau agak pucat, pria itu kembali bersuara, “Tolong bawakan beberapa laporan kepadaku, Sofia, segera! Oh, sial, kuharap aku memiliki ponsel untuk mengirimkan pesan-pesanmu.”
“Ah, ponselmu hanyut di lautan. Aku akan mengirimkan satu yang terbaru nanti siang. Bagaimana?”
“Bagus!” Nik mengangguk cepat. “Aku akan segera mengirimkan daftar laporan yang kuminta begitu ponsel itu di tanganku.”
Namun, kesenduan Sofia belum juga menghilang. Tangan Nik mengusap pipi wanita itu begitu saja. Lambat-lambat dan lembut, “Hey, ada apa, Sofia? Kenapa kau masih sedih?”
“Aku … maksudku, jangan memaksakan dirimu, Nik. Kau baru sembuh. Bagaimana kalau kau sakit lagi?”
“Aku tidak akan sakit lagi. Tenang saja.”
Sofia mengangguk lambat. Pada akhirnya, wanita itu beranjak. Memberikan sebuah kecupan singkat di puncak kepala Nik. Berbisik bahwa dia harus kembali bekerja.
Perlahan wanita itu berjalan menjauhi Nik dan tak lama menghilang di balik pintu. Tanpa Sofia sadari, hanya dengan satu kecupan tak terduga di kening, sesuatu di balik celananya mengeras dan sangat sesak.
***
Tatapan Sofia nanar saat melihat pemandangan di bawahnya. Hanya ada lautan membentang dan samar-samar daratan di kejauhan. Berkat pesan Nik tadi, terpaksa dia harus ke Roma. Mengambil banyak dokumen yang pria itu minta.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, helikopter pun mendarat dengan mulus di helipad yang berada di puncak mansion Marchetti. Beberapa pegawainya, termasuk kepala pelayan, menyambut kedatangannya.
Bergegas Sofia turun. Di belakangnya ada Mona yang mengikuti. Sekretarisnya itu membawa satu kardus berisi laporan yang Nik minta. Saking banyaknya, mereka harus memasukannya ke kotak. Kemudian, mereka bergegas turun untuk menuju ke kamar Nik.
“Kau sudah memastikan tidak ada yang tertinggal di kantor kan, Mona?” tanya Sofia memastikan. Wanita itu melirik singkat pada Mona, sebelum akhirnya fokus pada tangga di hadapannya.
“Aku sudah memastikannya tiga kali, Signora. Semua yang Mr Nikolas minta sudah saya masukan ke dalam kotak.”
Sofia mengangguk patuh. Jika keadaan sudah membaik, dia akan memberikan Mona banyak bonus untuk keahlian dan keloyalan wanita itu.
Begitu mereka berada di lantai tempat kamar Nikolas berada, keduanya bergegas berbelok. Melewati tangga menuju pintu utama mansion. Kemudian, mengetuk pintu kamar Nikolas.
“Masuk saja!”
Teriakan dengan suara Nikolas menggema dari dalam. Entah mengapa untuk sepersekian detik, hati Sofia berdesir. Namun, buru-buru wanita itu mengembalikan fokus pada tujuannya semula.
Dia sudah berada sejauh ini. Mengambil risiko dengan mengaku sebagai istri seorang pria asing. Mengganti nama semua surat legal dengan nama karangan. Kemudian, menurunkan semua foto Lukas yang tersebar di rumah ini. Paling penting, dia sudah membuat Theo percaya bahwa Nik adalah Papanya. Berkata bahwa wajah Papanya berubah setelah pulang dari rumah Tuhan.
Aku benar-benar Ibu yang buruk. Sofia mengerang putus asa. Itulah mengapa, dia tidak akan menyerah dan harus berhasil mengembalikan kejayaan Marchetti Grup sesegera mungkin.
Pintu terbuka. Nik sedang duduk di atas ranjang. Punggungnya bersandar pada headboard. Sebuah kejutan terjadi, pria itu tidak sendirian melainkan ada Theo di dalam pelukan pria itu. Dua pria beda generasi itu sedang bercanda sambil tertawa bersama. Hati Sofia menghangat tanpa bisa dicegah.
“Nikolas,” sapa Sofia.
Dia memberi tanda pada Mona untuk menaruh kardus di nakas kosong sebelah tempat tidur Nik. Kemudian, menyuruh sekretarisnya itu untuk segera pergi.
Begitu kamar hanya ada mereka bertiga, barulah Sofia mendekat. Memilih duduk di pinggir ranjang. Senyum lebarnya terbentuk sambil menyaksikan betapa Nik sangat tampan dengan senyum yang terlewat lebar. Andai saja pria di hadapannya ini adalah Lukas, maka kebahagiaan Sofia akan berkali-kali lipat.
“Sofia.” Panggilan berhasil menghentikan lamunan Sofia. Wanita itu kembali fokus pada Nik. Kini pria itu sedang memeluk Theo erat-erat. “Kau sudah membawa semua yang kubutuhkan?”
“Sudah.”
Sofia mengangguk cepat. Dia melirik ke arah Theo yang merontah, meminta dilepaskan. Refleks, dia meraih tubuh sang putra, kemudian mengambil alih.
“Kau lapar, Theo?” bisik Sofia sambil menatap Theo.
Mendapati anggukan Theo, Sofia memang harus memberikan putranya makan. Kalau tidak, anaknya akan menyebalkan dan marah-marah.
Namun sebelum itu, Sofia mengembalikan fokusnya pada Nik. Ternyata pria itu gantian yang menatapnya lekat-lekat. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya tatapan keduanya beradu di udara.
“Kau tampak nyaman dengan Theo, apakah ingatanmu sudah kembali?” tanya Sofia yang langsung dibalas gelengan Nik.
“Belum. Hanya saja Theo sangat mudah untuk dicintai, Sofia. Sekali dia berada di sini bersamaku, aku sudah merasa sangat dekat dengannya.”
“Lalu, bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Tidak buruk,” aku Nik. Dia agak meringis. “Energiku belum kembali pulih dan sedikit terkuras dengan bermain sepanjang hari bersama Theo di tempat tidur. Dia sangat aktif.”
“Dan dia sangat merindukanmu, Nikolas.”
Rindu pada Papanya, aku Sofia sedih. Kemudian, wanita itu melanjutkan, “Sungguh, kau tidak perlu memaksa diri kalau memang belum sanggup bekerja. Aku tidak ingin mengambil risiko dengan penyakit apa pun pada dirimu.”
“Oh, tidak, tidak.” Nik malah terkekeh sekarang. “Aku butuh bekerja dan mengalihkan pikiranku dari sakit. Theo sudah membantu, tapi dia harus makan, bukan? Sekarang, biarkan laporan-laporan yang kau bawa yang menemaniku malam ini.”
“Baiklah kalau memang itu yang terbaik.”
Sofia hendak beranjak, tahu-tahu saja lengannya dicekal. Nik bertanya, “Selama aku sakit, apa saja yang sudah kau lakukan untuk mengatasi krisis ini, Sofia?”
Tanpa basa-basi lagi, Sofia menceritakan segala hal yang sudah dia lakukan. Sementara itu Nik mengangguk berulang kali sambil mendengarkan.
Tiba-tiba saja pria itu mengusap pipi Sofia sambil menatapnya lekat. “Pilihan bagus, Sayang. Karena aku sudah kembali, sekarang biarkan aku melakukan yang terbaik agar bisa mengatasi semua krisis yang kita alami.”
“Aku percaya padamu, Nikolas.”
Segera saja Sofia memberikan sebuah kecupan lain di pipi Nik. Kali ini, wanita itu benar-benar beranjak. Ada Theo di dalam dekapannya yang mulai ribut membahas makan malam yang ingin dia makan.
Namun, saat pintu kamar Nik tertutup di belakangnya, sesaat Sofia berhenti. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Jantungnya sekarang berdebar tak keruan. Tanda bahaya di kepalanya mulai berbunyi.
Wanita itu tidak percaya dengan jatuh cinta instan, tapi dia tidak bisa menjelaskan efek yang Nik berikan padanya sejak pertama kali pria itu dia temukan di pantai pribadinya. Perasaan memang rumit karena tak ada jawaban yang benar-benar tepat untuk menjabarkan sebuah pertanyaan.
***