#8 - First Kiss

1447 Kata
Ini kesenangan yang tak dapat Nik jabarkan. Berjam-jam dia hanya duduk di tempat tidur sambil bersandar pada headboard. Berkas-berkas penting perusahaan juga berserakan tak keruan mengelilingnya. Sementara matanya dengan seksama membaca setiap tulisan dengan detail. Dia menyukai ini sekarang dan pasti dulu dia juga sangat tergila-gila melakukannya. Untuk sesaat Nik termenung. Ada dua berkas di tangannya yang sedang dia pelajari. Dibacanya tulisan di sana berulang kali. Memastikan bahwa dia tidak salah membaca. Namun, hasilnya sama saja. Kekacauan sudah terjadi jauh lebih lama daripada kecelakaannya. Setahun lalu. “Ini bukan aku,” gumam Nik sangat yakin. “Aku tidak akan melakukan hal sebodoh ini.” Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Nik. Refleks, dia mendongak menuju sumber suara. Sofia muncul. Memamerkan senyum memikatnya. Dengan tangan memegang nampan berisikan makanan, minuman, dan obat-obatannya. Namun, bukan makan malam yang menarik perhatian Nik, melainkan sosok Sofia itu sendiri. Wanita itu tampak sangat anggun saat berjalan mendekat. Kaki jengjangnya tampak jelas dengan gaun rumah berwarna putih yang sangat pendek. Rambut sepunggung wanita itu digelung tinggi membuat lehernya tampak sangat menggoda. Tak ada riasan, tetapi Nik seolah tersihir, kemudian terperosok ke dalamnya. Nik sepertinya paham mengapa dia bisa memperistri Sofia, jika itu sebuah kebenaran, karena wanita bernama Sofia berhasil membuatnya bertekuk lutut dalam waktu kurang dari 72 jam setelah dia sadar. Jika dia sudah membaik, selain masalah perusahaan, dia ingin menarik Sofia ke dalam ranjangnya dan menghabiskan malam bersama wanita itu. “Darling,” panggil Sofia. Seketika Nik berdehem pelan. Fantasi liar nan e****s itu buyar. Kali ini, dia harus fokus pada kenyataan yang ada di hadapannya. Agak canggung, Nik menjawab, “Sofia.” Meski begitu, Nik masih merasa cukup asing menyebutkan nama Sofia. Tak biasa dan asing, walaupun dia tak menampik bagaimana wanita itu membuat seluruh sel dalam dirinya berekasi dengan ganas. “Makan malammu, Nik,” lanjut Sofia. Wanita itu menaruh nampak makan malam Nik ke nakas di samping ranjang. Kemudian, menduduki sisi ranjang. Kaki wanita itu menyilang dengan tatapan lekat dilemparkan pada Nik. “Jadi, sejak berjam-jam aku meninggalkanmu, kau masih sibuk dengan berkas-berkas ini?” Nik mengangguk lambat-lambat. Otaknya mendadak macet hanya karena dapat menghidu aroma vanilla yang menguar dari tubuh Sofia. “Kau menemukan sesuatu yang janggal, Nik?” Pertanyaan Sofia kali ini sukses membuat Nik tersadar. Lagi-lagi pria itu berdeham pelan, lalu berkata, “Ya, aku menemukan sesuatu yang harus segera kita perbaiki.” “Oh Dear, kuharap ini tidak akan membuatmu sakit kepala.” Sofia mengusap pundak Nik sambil memasang ekspresi khawatir. “Jangan mamaksakan diri, aku tidak ingin membuatmu susah.” “Aku menyukai ini, Sofia.” Perlahan Nik meraih tangan Sofia di pundaknya, lalu dia genggam erat-erat sambil menatap mata Sofia intens. “Kau tenang saja, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk Marchetti Grup. Walaupun aku masih harus berbaring di tempat tidur, tapi aku menyukai kesibukanku untuk memikirkan perusahaan.” “Jika itu membuatmu bahagia, aku bisa apa, Nik.” Keduanya tergelak bersama. Nik lah yang berhenti lebih dulu. Masih sambil menatap Sofia, dia mengusap sisi wajah wanita itu, kemudian bergumam, “Kau cantik.” “Aku tau, kau selalu mengatakan itu.” Sofia terkekeh pelan. “Kurasa wajah ini juga menjadi salah satu alasan kenapa kau mau bersamaku … dulu.” “Kurasa … tidak juga. Aku merasa kau juga wanita cerdas.” “Terima kasih, sir,” bisik Sofia. Kedua pipi wanita itu bersemu. “Jadi, apa saja yang sudah kau temukan?” “Banyak sekali.” Nik melepaskan pegangannya. Membuat dia seperti agak kehilangan sesuatu dalam beberapa detik setelah melakukannya. Diraihnya salah satu file yang sejak tadi dia teliti, kemudian dia sodorkan pada Sofia. “Aku menemukan aliran dana yang tidak masuk akal di sini.” Kedua mata Sofia terbelalak. “Aliran dana tidak masuk akal?” Nik mengangguk cepat sambil menunjukan rincian dana janggal yang dia maksud. “Aku menemukan bahwa setiap bulan ada aliran dana dengan keterangan konyol dengan jumlah besar. Sudah berlangsung sekitar setahun belakangan ini.” “Dan … itu ke mana?” “Aku belum mengetahuinya, Sofia.” Nik mendesah panjang. “Aku butuh mengadakan rapat darurat sekarang.” Sofia mengangguk paham, lalu mengambil alih kertas tersebut. Membaca file tersebut dengan seksama. Dia bergumam, “Bagaimana bisa aku luput akan hal ini?” “Aku saja luput, kau pasti juga. Aku mengerti.” Belum sempat Sofia berkomentar, suara pintu diketuk mengalihkan perhatian keduanya. Sofia meninggikan suara, “Masuk!” Tak lama, seorang wanita mengenakan pakaian suster muncul di ambang pintu. Tersenyum canggung sambil menatap Sofia dan juga Nik, “Maaf, Mrs Marchetti dan Mr … Marchetti, saya terpaksa mengintrupsi. Theo rewel, dia minta untuk ditidurkan oleh Anda, Signora.” “Baiklah. Kau duluan saja.” Suster tersebut segera undur diri, sementara Sofia kembali memusatkan perhatiannya pada Nik. “Aku harus mengurus Theo dan setelah itu … kita bebas membicarakan ini, Nik. Tunggu aku.” “Jangan sampai putra kita menangis, Sofia.” “Tidak akan.” Segera saja Sofia beranjak. Wanita itu agak kebingungan selama beberapa saat, sebelum akhirnya merunduk. Memberikan sebuah ciuman singkat pada puncak kepala Nik. Barulah dia menghilang di balik pintu. Dan untuk kesekian kalinya, tubuh Nik bereaksi dengan gilanya terhadap Sofia. Sekujur badannya memanas. Bagian bawahnya penuh sesak. Debaran jantungnya menggila. Dia benar-benar ingin sembuh dan membawa istrinya itu di atas ranjang. Secepat mungkin. *** Di tengah-tengah kesibukan padat di Roma, Sofia mendapatkan pesan singkat dari Nik. Pria itu memintanya berikut orang-orang penting yang ada dalam daftar untuk datang ke Mansion Marchetti segera, maksimal dua jam setelah pesan ini dibaca. Awalnya, Sofia bingung. Dia langsung menelpon Nik untuk bertanya, “Kau … benar-benar ingin bertemu dengan semua orang ini? Termasuk seluruh orang keuangan dan seluruh akuntan?” “Iya, Sofia. Kita tidak punya waktu. Semua orang harus berkumpul di sini secepatnya. Aku bersiap-siap.” Mendengar nada suara yang tak bisa dibantah itu, Sofia mendadak teringat Lukas. Berbeda memang, karena Lukas jauh lebih datar lagi saat memerintah, sementara Nik masih memiliki ucapan halus yang menyakinkan. Tetapi keduanya sama-sama cerdas. Dengan bantuan Mona, Sofia langsung mengumpulkan semua orang. Sekretarisnya juga langsung memberi peringatan bahwa pria yang akan mereka temui adalah kekasih Sofia. Mereka sudah menikah diam-diam dan semua orang harus tunduk pada pria itu. Namun, semua orang dilarang menanyakan nama kekasih Sofia. Wanita itu hanya mempersempit orang untuk mengetahui siapa Nikolas. Kurang dari dua jam, Sofia sudah mendarat di puncak Mansion Marchetti dengan helikopter sewaan. Jet pribadi yang biasa wanita itu gunakan terpaksa dia relakan untuk mengangkut orang-orang yang Nik ingin temui. Baru saja Sofia hendak menuju lorong kamar Nik, sosok Carlos tengah berdiri di sisi lorong. Mengenakan kemeja biru dengan celana abu-abu. Ada cerutu yang pria itu hirup. Carlos menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, “Jadi … kau sudah membuat suami palsumu itu bekerja?” Refleks, Sofia menepis jarak. Memastikan bahwa hanya dirinya dan Carlos yang dapat mendengar percakapan ini. Akan sangat bahaya apabila Nik menguping. “Bukankah itu yang kau harapkan sejak aku memilih kebohongan ini, Carlos?” Carlos mendengkus. “Tentu saja. Hanya … aku tidak menyangka secepat ini. Kira-kira apa yang akan dia sampaikan nanti? Lalu, bagaimana aku harus bersikap padanya? Penjilat kah?” “Hanya jadi dirimu sendiri, Carlos, seperti saat kau bersama Lukas.” “Kurasa … itu tidak akan mudah, Sofia. Bagaimana pun dia bukan Lukas dan bukan anggota sah keluarga Marchetti.” “Tapi dia adalah penyelamat Marchetti Grup. Usahakan bersikap baik, Carlos. Aku pergi.” Tanpa ingin berbasa-basi dengan Carlos, Sofia bergegas menuju kamar Nik. Sesaat wanita itu berdiri di depan pintu. Menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya membukanya. Seketika Sofia tertegun di ambang pintu. Pemandangan yang dia lihat sangatlah berbeda dari biasanya, lebit tepatnya sosok yang biasa dia lihat. Nik beberapa hari terakhir hanya mengenakan kaus putih polos dengan celana panjang abu-abu. Rambut pria itu acak-acakan. Sementara wajahnya pucat. Sekarang, penampilan Nik berubah. Tampak profesional dalam balutan seragam kerja; kemeja putih dengan jas abu-abu dan celana kain berwarna senada. Rambut pria itu klimis dengan gel rambut. Rapi. Aroma musk dan wood terhidu. Sekilas dia teringat akan Lukas, tetapi sekali lagi Nik berbeda. Pria itu jauh lebih tinggi daripada almarhum suaminya. Dan lebih kurus juga daripada Lukas. “Sofia.” Sial! Sofia memaki dirinya sendiri karena terperosok dalam pesona Nik. Pria itu sedang menoleh padanya. Menyunggingkan senyum dengan alis terbelahnya yang terangkat satu. “Kau sudah datang,” lanjut Nik. Sofia berdehem pelan, lalu mendekat. Menutup pintu untuk memastikan bahwa mereka benar-benar berdua sekarang dalam kamar. “Kau … tampan,” aku Sofia yang hanya dibalas gumaman terima kasih Nik. “Jadi, apa rencanamu, Nik?” “Apakah mereka semua sudah datang?” “Sayangnya belum. Karena kebakaran itu, beberapa dari mereka harus dipecah untuk menempati anak kantor Marchetti. Jadi, membutuhkan waktu lebih lama untuk mereka berkumpul, lalu terbang dari Roma ke Sisilia.” “Seharusnya aku yang terbang ke Roma agar semua jauh lebih … efektif.” “Kurasa lebih baik seperti ini.” Sofia menyentuh pinggiran jas Nik. Dengan sengaja dia mengusap d**a pria itu yang terbalut beberapa lapis baju. Kemudian, dia mendongak. “Apakah semua akan baik-baik saja?” Nik mengangguk dengan yakin. “Aku tau perusahaan sedang krisis, tapi aku tidak akan membiarkan perusahaan bangkrut, Sofia. Kau percaya padaku, kan? Maksudku … membuat perusahaan ini kembali berjaya?” Dan Sofia juga mengangguk tanpa ragu. Sejak pria itu dia temukan, Sofia sudah sangat yakin pada Nik. Pria ini datang pasti ada alasannya dan menyelamatkan Marchetti Grup adalah tugas utamanya. Mereka saling bertatapan lama sekali. Hingga tiba-tiba saja Nik mencondongkan wajahnya mendekati Sofia. Wanita itu belum sempat menghindar, tahu-tahu saja bibir mereka bertemu. Seketika sekujur tubuh Sofia. Jutaan aliran listrik menyengat tubuhnya hingga gemetar. Lebih dari setahun bibirnya tak pernah dicium pria manapun. Dan ketika pria yang dia anggap sebagai pahlawan ini menciumnya, Sofia luluh lantak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN