Hanya butuh satu buah ciuman, segala hal yang sudah direncakan matang-matang berantakan begitu saja. Tak tertolong, bahkan kini dia malah tenggelam dalam sensasi aneh yang menyenangkan. Tahu-tahu saja isi kepalanya kosong. Pikirannya melayang mereka ulang kejadian beberapa saat lalu di kamar Nik. Jantungnya juga berdebar. Pipinya ikut memanas. Rapat yang sedang diadakan mendadak tak lagi menarik perhatiannya.
Tanpa bisa dicegah tatapan Sofia jatuh pada sosok Nik. Pria itu sedang berdiri di depan ruangan. Di belakangnya ada layar presentasi berisikan deretan rencana pria itu untuk mengembalikan masa kejayaan Marchetti Grup.
Nik tampak gagah dalam pakaian kerja lengkap. Sama sekali tidak terpengaruh pada orang-orang yang sedang mengelilinginya. Padahal mereka adalah orang-orang baru dalam hidup pria itu. Cara bicaranya pun tegas dan lantang. Mengingatkan Sofia pada Lukas saat mendiang suaminya itu masih hidup. Namun, Nik memiliki cara berbeda. Tatapan pria itu lebih manusiawi daripada Lukas yang berhati dingin dengan darah pembunuh yang mengaliri prianya.
“Baiklah, kurasa rapat kali ini cukup sampai di sini saja.”
Kata-kata penutup rapat yang Nik ucapkan sukses menarik Sofia kembali ke dunia nyata. Sontak wanita itu mengerang putus asa. Karena sejak awal hingga akhir, tak satupun kata-kata Nik yang masuk ke dalam kepalanya.
Sialan! Ada apa denganku? Sofia mengeluh dalam hati. Jemari wanita itu mengetuk permukaan meja kayu di hadapannya dengan tidak sabaran. Antara kesal dengan dirinya sendiri, tapi dia juga kesal pada Nik karena menciumnya tanpa izin.
“Sofia.” Panggilan diikuti tepukan pelan pada lengannya, refleks, membuat Sofia menoleh. Carlos yang sedang duduk di sebelahnya langsung menarik kursi pria itu rapat. Suaranya merendah saat berkata, “Aku harus mengakui dengan berat hati bahwa pria ini memang sempurna untuk membantu Marchetti Grup melewati masa krisis seperti sekarang.”
“Apa yang kubilang, dia … sempurna,” balas Sofia kalem.
“Setelah kalian keluar dari ruangan ini, semua orang harus kompak mengerjakan semua yang sudah saya bicarakan tadi. Sofia akan memastikan bahwa kalian bekerja dengan benar. Jadi, jangan sampai kalian mengecewakan saya,” lanjut Nik.
Setelahnya, semua orang kompak mengangguk. Bergegas mereka juga membereskan barang-barang di meja, lalu beranjak satu per satu meninggalkan ruangan. Meninggalkan Nik, Sofia, dan Carlos.
“Waktunya aku memainkan peranku, Sofia.” Carlos kembali berbisik.
Tahu-tahu saja pria itu beranjak. Berjalan lambat-lambat mendekati Nik yang sedang duduk di ujung meja panjang. Senyum pria enam puluhan itu tampak sangat kebapakan. Serupa dengan cara pria itu menatap Lukas dulu, tetapi yang ini versi agak dipaksakan.
“Bagaimana keadaanmu hari ini, Nikolas?” tanya Carlos seraya menduduki kursi di sebelah Nik.
Nik mendongak. Kening pria itu berkerut selama beberapa saat menatap Carlos. Sebelum akhirnya, mengangguk ragu. “Aku … kurasa aku baik-baik saja.”
“Terdengar melegakan.” Carlos mengulurkan tangan yang langsung dibalas oleh Nik. “Aku rasa kau melupakan aku Nik, benar kan? Aku Carlos dan aku penasihat pribadimu dan Sofia. Sejak kau sakit bahkan sampai kau sadar, aku memang sengaja tidak pernah menampakkan diri di depanmu. Kau tau … aku selalu memiliki kecenderungan untuk membicarakan perusahaan apabila bersamamu. Jadi, demi kesehatanmu, aku memilih untuk mendoakanmu dari jauh saja.”
“Terima kasih.” Nik membalas dengan tersenyum tipis. “Jadi, Carlos … kapan aku bisa kembali bekerja di kantor?”
“Sayang!”
Sofia tiba-tiba memotong Carlos yang sudah siap menjawab. Sontak wanita itu beranjak dari kursinya. Benar-benar panik dengan pertanyaan Nik yang tak terduga. Dia juga lupa memberi koordinasi pada Carlos bahwa Nik dilarang menunjukan wajah di depan publik. Berbahaya. Nikolas Valerio bukan orang sembarangan, jadi pria itu wajib disembunyikan hingga waktu yang tepat hingga semua orang melupakan sosok Nikolas.
“Kenapa kau mendadak ingin bekerja di kantor? Maksudku … kau dulu selalu berkata bahwa kau lebih suka bekerja di balik layar,” ungkap Sofia.
Nik mengalihkan pandangannya pada Sofia, kemudian mengeluh, “Aku bosan di rumah, Sofia.”
“Kau bisa melakukan banyak hal di rumah, Nik. Kau bisa bermain sesering mungkin dengan Theo, hal yang selalu kau impikan sejak dulu. Benarkan Carlos, Nik selalu mengatakan itu pada kita?”
“Ya, ya.” Carlos buru-buru mengangguk. Walau sekilas ada kebingungan yang hinggap dalam ekspresi wajahnya. “Itu yang selalu kau katakan, Nik. Kau ingin di rumah dan berperan diam-diam di balik layar.”
“Manusia berubah, Sofia.”
“Tapi kau tidak bisa semudah itu mengubah kesepakatan yang sudah sejak awal terbentuk, Nik. Kita harus membahas ini lagi secara serius dan sekarang … bukan saatnya.”
“Hey, aku memiliki penengah untuk ini.” Carlos mengintrupsi. “Aku memahami keadaan kalian. Nik yang bosan dengan rutinitas di rumah, sementara Sofia yang agak kesulitan apabila ada perubahan mendadak di perusahaan terlebih kantor sedang dalam krisis. Tapi saat ini Sofia benar, Nikolas, sekarang tidak tepat untuk membicarakan kembalinya kau bekerja di kantor. Kita tinggu hingga Marchetti Grup kembali membaik, baru kita bicarakan masalah kembalinya kau memimpin langsung perusahaan. Bagaimana?”
Untuk beberapa saat, Nik menatap Sofia dan Carlos bergantian. Kemudian, pria itu menghela napas dalam dan mengangguk dengan enggan. “Aku tidak punya pilihan, bukan?”
Sofia mendekati Nik. Mengusap pundak pria itu dengan lembut. “Hanya untuk saat ini, Sayang.”
Nik mendongak. Tanpa sengaja mata mereka berserobok pandang di udara. Jantung Sofia berdegub kencang. Sel-sel dalam tubuhnya seolah bereaksi akan tatapan yang sangat wanita itu kenal ada di dalam mata Nik, gairah.
Mengakhiri drama ini dengan ketertarikan pada pria asing, tentu bukan twist yang Sofia inginkan terjadi. Ini … berbahaya.
***
Bahkan dalam keadaan sesyahdu ini, pikiran Sofia tetap dipenuh oleh Nik dan ciuman mereka. Padahal alunan lagu klasik yang lembut dari pengeras suara dan aromatherapy semerbak memenuhi rongga hidungnya, tetapi tak satu hal pun dapat membuatnya relax atau sejenak memikirkan keasyikan berendam dalam bathtub pribadinya.
Sofia menyerah. Sudah satu jam dia di sini, tapi tak juga membuat dirinya melupakan kejadian beberapa saat lalu. Kalau semakin lama dia di sini, bisa-bisa kulit tangannya akan keriput.
Pada akhirnya, Sofia memilih keluar dari bathtub, kemudian meraih jubah mandi. Berjalan lambat menuju ke ruang penyimpanan pakaian khusus miliknya. Berganti dengan ligerie warna merah kesukaannya. Mengunakan krim malam, lalu memastikan ritual malam sebelum tidurnya terlaksana dengan baik. Baru dia kembali ke ruang tidur.
Namun, baru saja dia membuka pintu kamar, tubuh Sofia membeku. Kedua mata wanita itu melebar. Sesuatu yang tak biasa terjadi dalam kamar tidurnya. Bukan hal mistis hanya saja dia mendapati Nik sedang membaca buku sambil bersandar pada headboard. Pakaian tidur pria itu terpasang, tetapi beberapa kancing teratasnya sengaja dibuka.
Apa-apaan ini? Sofia mengomel dalam hati. Dia mendadak panas dingin. Terlebih menemukan Nik sangat menggoda. Menjadikan libidonya semakin tak keruan. Lama-lama dia frustrasi karena menginginkan seks dengan suami palsunya ini.
“Nik,” sapa Sofia. Senyum terpaksa wanita itu tersungging. Perlahan dia mendekat seraya menyilangkan tangan di depan d**a. “Kenapa kau di sini?”
Nik menutup bukunya, kemudian mendongak. Kening pria itu berkerut. “Bukankah ini kamarku?”
Oh tidak! Sofia ingin meneriakan kata tidak sekuat-kuatnya. Apa daya, dia hanya bisa membungkam protesnya rapat-rapat. Drama ini harus berjalan sempurna dan caranya adalah menganggap Nik benar-benar suaminya sekaligus pemilik kamar ini.
“Ya, memang ini kamarmu,” jawab Sofia kalem. “Hanya kupikir kau lebih suka tidur sendirian.”
Seketika tawa Nik membahana. Dia menggeleng dengan ekspresi tidak percaya. “Serius, Sofia? Bagaimana kau berpikir seperti itu?”
“Menebak.”
“Sofia.” Tiba-tiba saja Nik beranjak dari duduknya. Berjalan dengan santai mendekati Sofia, kemudian memojokan wanita itu ke dinding. “Mana mungkin aku suka tidur di kamar itu? Tanpamu, tanpa sentuhanmu. Kau … cantik, Sofia.”
Suara alarm tanda bahaya berbunyi dalam kepalanya. Mata Sofia mulai mencari-cari tempat untuk dia melarikan diri. Otaknya berpikir keras mendapatkan alasan sempurna untuk kabur.
Hanya saja ketika mata mereka tanpa sadar bertemu, Sofia tenggelam dalam ketenangan mata sebiru langit itu. Bahkan, dia tidak menghindari saat tangan Nik mulai menyentuh sisi pipinya. Membelai wajahnya dengan lembut, lalu turun-turun ke bahunya dan menggoda di beberapa bagian yang menyenangkan.
Dia sangat ahli, aku Sofia dalam keadaan yang sangat siap untuk melepaskan semua pertahanannya. Lebih dari setahun dia tak pernah melakukan adegan ranjang. Urusan pekerjaan dan Theo pun menyita seluruh energinya untuk memikirkan kebutuhan itu. Sekarang, ada sosok pria menggoda dengan alisnya yang membelah itu sukses membuat Sofia berpikir untuk mengiyakan saja kesenangan ini.
Hingga sebuah tangisan kencang, lalu disusul ketukan pada pintu membuat dua orang itu menoleh serempak ke sumber suara. Sofia yang lebih dulu merespons seraya mendorong tubuh Nik menjauh.
“Ya, masuk!”
“Signora.” Tahu-tahu saja suster Theo muncul. Wajah wanita empat puluhan itu tampak panik. “Putra anda menangis sejak tadi. Menunggu anda untuk menidurkannya.”
“Baiklah, kau duluan saja. Aku harus berbicara pada … suamiku.”
Suster mengangguk.
Begitu pintu tertutup, perhatian Sofia kembali pada Nik. Walaupun dia sangat ingin, tapi semesta seolah melarangnya untuk melakukannya dengan Nik.
Sofia menghela napas dalam, lalu menjauhkan diri dari Nik. Pria itu memasang wajah manyun. “Aku akan tidur di kamar Theo.”
“Kau serius?”
“Ya.” Sofia mengangguk. Dia menyunggingkan senyum kecil. “Lagi pula, aku juga sedang mentruasi. Baru saja. Dan demi keamanan kita berdua, aku akan tidur di kamar Theo.”
Tanpa menunggu respons Nik, Sofia bergegas keluar kamar. Samar-samar dia mendengar suara u*****n yang keluar dari mulut Nik.
Gagal melampiaskan hasrat dalam seks selalu membawa frustrasi. Bukan hanya Nik yang merasa kesal, dalam diri Sofia pun dia sangat kesal. Seaindainya pria itu betul-betul suaminya atau pria yang dia sukai, pasti Sofia dengan senang hati melemparkan diri dalam pelukan Nik.
***