Bermenit-menit menunggu dalam keheningan, pikiran Nik semakin berkelanan ke mana-mana. Firasat buruknya juga tak reda padahal berkali-kali dia mensuggesti diri sendiri bahwa Sofia dan anak mereka baik-baik saja. Namun, selalu berakhir dengan pemikiran jelek berkat sikap Mona dan juga ingatan terakhirnya tentang Sofia. Tiba-tiba saja pikiran tentang ponsel terlintas dalam kepala pria itu. Refleks, dia celingukan. Namun, di nakas tak ada apa pun selain diffuser dengan aroma lavender. Bahkan, dari kejauhan meja kopi, sofa, ataupun area meja makan tampak bersih dari barang-barang. “Mona.” Tanpa sadar Nik berteriak. Satu-satunya orang dalam kepalanya yang kemungkinan sedang menungguinya di luar adalah sekretaris Sofia, mengingat mereka baru saja bertemu. Sayangnya, beberapa detik menunggu ta

