Bab 2: Pesan di Ponsel

638 Kata
Malam itu, Nara terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Hujan sudah berhenti, meninggalkan bau tanah basah dan kesunyian yang lebih pekat dari sebelumnya. Udara masih lembap, menusuk tulang. Ia melirik jam di samping tempat tidur: pukul dua dini hari. Arga di sebelahnya mendengkur halus, membelakanginya, seolah dinding tak kasat mata masih memisahkan mereka bahkan dalam lelap. Tenggorokannya kering. Ia butuh minum. Dengan hati-hati, Nara menyingkap selimut, kakinya menapak lantai dingin. Langkahnya pelan, mengendap-endap agar tidak membangunkan Arga. Pikirannya melayang pada keheningan tadi malam. Piring-piring yang tak tersentuh. Tatapan Arga yang menghindar. Kata "capek" yang terasa hambar. Ia melangkah ke ruang tamu, mencari botol air yang biasa Arga letakkan di meja kopi. Lampu redup dari jalanan luar menembus jendela, membentuk bayangan remang-remang di lantai. Di meja kopi, di samping botol air yang dicarinya, ponsel Arga tergeletak. Layarnya menyala, memancarkan cahaya biru samar di tengah kegelapan ruangan. Satu pesan muncul di layar kunci. Sebuah notifikasi. Nama pengirimnya: **“Lira”**. Nara membeku. Jantungnya berdesir, darahnya terasa dingin mengalir di sekujur tubuh. Nama itu… Lira. Nama yang Arga sebutkan sesekali dulu, dengan nada nostalgia yang tipis. Mantan kekasihnya saat kuliah. Gadis yang pernah Arga kejar mati-matian sebelum akhirnya memilih Nara. Nara selalu berpikir Lira hanya bayangan masa lalu yang tak berarti, cerita lama yang sudah terkubur. Tapi kini, nama itu terpampang nyata di layar ponsel suaminya, jam dua pagi. Tangannya gemetar saat ia mendekat, seolah ponsel itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Matanya terpaku pada layar, membaca kalimat itu berulang kali, setiap kata menancap dalam di benaknya: "Aku kangen kamu. Masih sama seperti dulu?" Dunia Nara seolah berhenti berputar. Udara di sekelilingnya menipis. Napasnya tercekat. Kangen? Masih sama seperti dulu? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menuntut jawaban. Kenangan delapan tahun pernikahannya dengan Arga melintas cepat di benaknya: janji-janji manis, tawa lepas, pelukan hangat, dan kini… keheningan, dingin, dan pesan ini. Ia merasakan panas menjalar di dadanya, bukan amarah yang membakar, tapi nyeri yang menusuk. Bukan karena kecemburuan yang dangkal, melainkan karena kesadaran pahit: selama ini, Arga tidak "capek" karena pekerjaan. Ia "capek" dengan Nara. Ia mencari "tempat cerita" di luar rumah, di luar ikatan pernikahan mereka. Tangannya yang gemetar menyentuh layar ponsel. Seharusnya ia tidak menyentuhnya. Seharusnya ia membiarkannya. Tapi rasa ingin tahu yang campur aduk dengan luka itu terlalu kuat. Jemarinya yang dingin menyapu layar, membuka pesan tersebut. Untungnya, pesan itu hanya satu kalimat itu saja. Tidak ada riwayat percakapan sebelumnya yang terlihat di layar kunci. Arga mungkin lupa menghapus notifikasi atau tidak menyadari ponselnya menyala. Nara ingin berteriak. Ingin membangunkan Arga, melempar ponsel itu ke wajahnya, menuntut penjelasan. Tapi suaranya tercekat. Matanya terasa panas, tapi air mata tak juga jatuh. Ia hanya bisa menatap pesan itu, seolah mencoba mengikisnya dari layar dengan pandangan matanya. Lira. Wanita yang selama ini ia kira sudah terkubur dalam-dalam, kini bangkit kembali, mengirimkan pesan yang mengoyak ketenangan semu dalam rumah tangganya. Jadi ini alasannya? Ini alasannya Arga pulang larut, menghindarinya, dan tidak pernah membalas pesannya? Bukan pekerjaan, bukan tekanan, tapi bayang-bayang masa lalu yang datang mengetuk. Nara memundurkan langkah, seolah ponsel itu benar-benar menularinya dengan luka. Ia kembali ke kamar tidur, tanpa air minum yang dicarinya. Berbaring di sisi Arga, ia membelakanginya, air mata akhirnya menetes, membasahi bantal yang dingin. Tapi ia tidak terisak. Hanya air mata yang mengalir tanpa suara, mencerminkan kehancuran yang terjadi di dalam dirinya. Malam itu, Nara tidak tidur sama sekali. Pesan singkat itu terukir jelas di benaknya, mengulang-ulang seperti mantra yang menakutkan. Retakan yang ia rasakan semalam, kini berubah menjadi jurang yang menganga. Piring yang tak pernah pecah, hatinya kini telah hancur berkeping-keping oleh satu pesan yang ia baca di ponsel suaminya. Dan ia tahu, mulai saat ini, tidak akan ada yang sama lagi. Tidak akan ada lagi keheningan yang nyaman, hanya keheningan yang menyiksa. Janji suci mereka, di ujung tanduk, retak tak terperi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN