Bab 1: Piring yang tak pernah pecah
Hujan turun sejak sore, seperti tirai abu-abu yang tak henti-hentinya menyelimuti kota. Dari balik jendela dapur yang sudah mulai berembun, Nara menatap jalanan di luar—genangan air yang memantulkan lampu-lampu neon dari warung makan pinggir jalan, berkedip-kedip seperti mata yang tak pernah benar-benar tertutup. Udara di dalam rumah terasa lembab, bercampur aroma masakan yang sudah dingin: sayur bayam yang ia tumis tadi siang, nasi putih yang kini mengeras di panci, dan ikan goreng yang ia beli dari pasar pagi tadi. Semuanya menunggu, seperti dirinya.
Pukul sembilan lewat lima belas. Nara melirik jam dinding di atas rak piring, jarumnya bergerak pelan, hampir mengejek. Arga belum pulang. Lagi. Sudah tiga hari berturut-turut seperti ini—pulang larut, tanpa penjelasan yang lebih dari sekadar "lembur". Ia menghela napas pelan, tangannya meraih ponsel di atas meja makan. Layar menyala, menampilkan pesan yang ia kirim dua jam lalu, tepat setelah azan Maghrib bergema dari masjid tetangga.
"Sudah makan, Ga?"
Tidak ada balasan. Hanya tanda centang biru yang menyiratkan pesan itu sudah dibaca, tapi tak disentuh lebih jauh. Nara meletakkan ponsel itu kembali, jarinya menyusuri tepi meja kayu yang sudah usang, penuh goresan kecil dari delapan tahun pernikahan mereka. Dulu, meja ini adalah saksi tawa mereka—malam-malam di mana Arga pulang dengan cerita panjang tentang proyek kerjanya, sambil menyendok nasi dari tangan Nara. "Kamu masaknya enak banget, Nar," katanya waktu itu, matanya berbinar, tangannya meraih tangan Nara di atas meja. Emoji hati akan langsung muncul di ponselnya, atau setidaknya satu kalimat sederhana: "Udah, kamu gimana? Jangan lupa istirahat."
Tapi sekarang? Hanya keheningan. Seperti hujan di luar yang tak kunjung reda, membasahi segalanya tapi tak pernah benar-benar membersihkan.
Nara bangkit dari kursi, kakinya terasa berat saat melangkah ke wastafel. Ia membuka keran, membiarkan air mengalir deras, mencoba menenggelamkan suara pikirannya sendiri. Piring-piring di rak masih rapi, tak tersentuh. Dua piring saji, dua sendok, dua gelas—semuanya disiapkan dengan hati-hati tadi sore, seperti ritual yang ia lakukan setiap hari. Piring-piring itu adalah peninggalan dari pernikahan mereka: set keramik putih polos yang dibeli di pasar tradisional Surakarta saat mereka baru menikah, delapan tahun lalu. "Ini tahan lama, Nar," kata Arga waktu itu, tersenyum lebar sambil memeluk pinggangnya dari belakang. "Kayak kita."
Tak pernah pecah, satu pun. Bahkan saat Nara tak sengaja menjatuhkannya tahun pertama pernikahan, saat ia hamil dan mual-mual, piring itu hanya retak tipis di pinggirnya—tapi ia perbaiki dengan lem khusus, dan kini tak ada yang tahu. Simbol ketangguhan, katanya pada diri sendiri. Simbol janji yang tak tergoyahkan.
Tapi malam ini, saat hujan semakin deras, memukul-mukul atap genteng seperti tangis yang tertahan, Nara merasa piring-piring itu menatapnya balik. Dingin. Tak berguna. Seperti hatinya yang mulai terasa retak, pelan-pelan, tanpa suara.
Suara kunci berderit di pintu depan membuatnya tersentak. Nara menahan napas, tangannya masih basah oleh air wastafel. Langkah Arga terdengar di ruang tamu—berat, tanpa semangat, seperti orang yang membawa beban tak terlihat di pundaknya. Ia mendengar bunyi jaket yang digantung di gantungan dekat pintu, lalu derit sofa saat Arga duduk. Tak ada sapaan. Tak ada "Nar, aku pulang" yang dulu selalu membuat hatinya hangat, meski hari itu melelahkan.
"Ga," panggil Nara pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan. Ia melangkah keluar dari dapur, berdiri di ambang pintu ruang tamu. Cahaya lampu kuning redup menerangi wajah Arga yang menunduk, matanya tertuju pada ponsel di tangannya. Rambutnya sedikit basah, tapi bukan karena hujan—mungkin keringat dari perjalanan panjang pulang naik ojek online.
"Hm," jawab Arga pendek, tanpa mengangkat kepala. Tatapannya tetap pada layar, jempolnya bergulir pelan, seperti membaca sesuatu yang lebih penting daripada kehadiran istrinya.
Nara menelan ludah, lidahnya terasa kering. "Sudah makan?"
"Udah di luar," katanya datar, masih tanpa menatap. "Capek, Nar. Mau mandi dulu."
Kata-kata itu seperti pisau tumpul, menusuk pelan tapi dalam. Di luar? Dengan siapa? Pertanyaan itu menggelayut di ujung bibir Nara, tapi ia tak sanggup melafalkannya. Takut jawabannya akan lebih menyakitkan daripada dugaan liar di kepalanya. Ia hanya mengangguk, meski Arga tak melihat, lalu berbalik ke dapur. Tangan Nara gemetar saat ia mematikan keran, air menetes pelan ke wastafel seperti air mata yang ditahan.
Di meja makan, piring-piring itu masih menunggu. Dua piring, dua sendok, dua gelas—semuanya tetap di tempatnya, tak tersentuh. Nara duduk kembali, menatapnya lama. Hujan di luar semakin kencang, angin sesekali menerpa jendela, membuat kaca bergetar pelan. Ia ingat malam pertama mereka di rumah ini, delapan tahun lalu. Arga menggendongnya melewati ambang pintu, tertawa riang sambil berbisik, "Ini rumah kita, Nar. Janji kita dimulai di sini." Saat itu, piring-piring ini penuh dengan makanan hangat, dan mereka makan sambil berbagi mimpi: anak, karir, masa tua yang tenang.
Kini, mimpi itu terasa jauh. Arga tak lagi berbagi cerita; ia pulang dengan wajah lelah yang tak mau disentuh, dengan alasan lembur yang semakin sering. Nara mencoba mengingat kapan semuanya berubah. Mungkin sejak promosi Arga setahun lalu, saat pekerjaannya menuntut lebih banyak waktu di kantor. Atau mungkin lebih awal, saat rutinitas harian mulai menggerogoti keintiman mereka—pagi yang tergesa, malam yang singkat, dan kata-kata yang semakin jarang.
Nara meraih ponselnya lagi, membuka galeri foto. Ada satu gambar dari liburan mereka ke pantai Parangtritis, tiga tahun lalu. Arga memeluknya dari belakang, senyumnya lebar, mata mereka saling bertaut. "Kamu cantik banget, Nar," katanya waktu itu. Kini, foto itu terasa seperti kenangan orang lain. Ia menutup galeri, hatinya sesak. Mengapa Arga berubah? Mengapa keheningan ini terasa lebih berat daripada pertengkaran?
Dari kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Arga sedang mandi, mungkin akan langsung tidur setelah itu, seperti malam-malam sebelumnya. Nara bangkit, membersihkan meja makan dengan gerakan mekanis. Ia simpan nasi ke kulkas, buang sayur yang sudah layu. Piring-piring itu ia cuci pelan, jarinya menyusuri permukaannya yang halus. Tak ada retak. Tak ada pecah. Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai terasa rapuh—seperti kaca tipis yang menunggu satu hantaman kecil untuk hancur.
Malam itu, saat Nara berbaring di samping Arga yang sudah mendengkur pelan, hujan masih turun. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, mendengar detak jam dinding di ruang tamu. Besok, ia akan bertanya lagi. Atau mungkin tidak. Tapi di balik keheningan itu, ada bisikan kecil yang mulai tumbuh: sesuatu tak beres. Dan Nara, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa takut—bukan pada hujan di luar, tapi pada badai yang mungkin sudah mengintai di rumah ini.
Pagi akan datang, tapi malam ini, piring-piring itu tetap utuh. Belum pecah. Tapi retaknya... retaknya sudah mulai terasa.