Keesokan harinya Bidadari keluar dari kamar, dia sudah selesai bersiap. Bersamaan dengan itu, Ching Jun juga keluar dari ruangannya.
"Selamat pagi Bidadari!" ucap Ching.
"Pagi juga Direktur Ching." jawab Bidadari.
'Dia cantik sekali, senyumnya manis. Sikapnya ramah, aku suka.' batin Ching.
Bidadari tetap menundukkan pandangannya, tidak mau menatap lebih lama.
"Ayo pergi bersama ke perusahaan." ajak Ching.
Bidadari terdiam sejenak, berpikir untuk menghindari bantuannya. Tapi itu tidak mungkin, karena mau naik angkutan umum tidak punya uang.
'Saldo di dalam rekening tinggal lima puluh ribu. Sedangkan gajian novel bulan depan.' batin Bidadari.
Ching melanjutkan omongannya. "Kamu tidak perlu sungkan, ada sekretaris Cio juga yang ikut."
"Baiklah, aku akan berangkat bersama."
"Bidadari, kamu sudah membaca surat yang aku beri kemarin?" tanya Ching.
"Iya, aku sudah membacanya." jawab Bidadari.
"Lalu, apa kamu mau jalan bersamaku?" tanya Ching.
"Maaf iya Direktur Ching, aku tidak bisa." jawab Bidadari menghindar.
'Benar, sepertinya Bidadari tidak menyukaiku. Tapi, aku tidak akan menyerah untuk terus mengejarnya.' batin Ching.
Mereka segera melangkahkan kaki masing-masing. Berjalan menuju parkiran, bersama sekretaris Cio juga. Bidadari dan Ching sudah sampai di perusahaan MyNovel. Mereka turun bersama, lalu beberapa orang melirik
"Eh, dia itu penulis yang ikut bimbingan pembelajaran 'kan?" tanya seorang perempuan.
"Iya benar, kenapa bisa mendekati Direktur Ching dengan mudah iya." jawab teman di sebelahnya, dengan berbisik.
"Bukankah Direktur Ching terkenal dingin." tambah teman di sebelahnya.
Mira, Vira, dan Kaira menatap Bidadari, dengan sorot mata tidak suka. Bidadari menjadi pusat perhatian, seluruh rekan kerja perusahaan.
"Direktur Ching, aku rasa besok aku tidak bisa pergi lagi denganmu." ucap Bidadari.
"Kenapa? Karena omongan orang-orang yang baru kita lalui tadi." jawab Ching.
"Bukan seperti itu, tapi aku tidak mau ada kesalahpahaman." ucap Bidadari.
"Bidadari, kamu itu terdesak. Kondisimu sekarang sedang bermasalah." jawab Ching, mengingatkan.
"Bagaimana bila aku meminjam uang Direktur Ching, untuk naik angkutan umum. Aku akan menggantinya, setelah gaji novelku bulan ini cair." ucap Bidadari, menjelaskan maksudnya.
"Lagipula kita searah, seharusnya tidak masalah." jawab Ching.
"Baiklah, aku permisi dulu." ujar Bidadari.
"Silahkan." jawab Ching.
Dia segera berlalu dari hadapan Ching Jun. Mira, Vira, dan Kaira menghadang langkah Bidadari di koridor kantor yang sepi. Bidadari tidak tahu apa tujuannya, namun tidak mudah untuk berlalu begitu saja.
"Bidadari, aku ingatkan kamu sekali lagi. Jauhi Direktur Ching secepatnya." ujar Mira.
"Aku tidak suka, bila kamu terus menempel seperti parasit." Vira melemparkan pandangan membunuhnya.
"Kalau kamu masih ingin mengikuti bimbingan pelajaran dengan nyaman, sebaiknya peringatan kami dicatat baik-baik di otakmu." Kaira tersenyum jahat.
"Aku tidak punya urusan apapun dengan kalian, berhenti untuk menggangguku." jawab Bidadari.
Dia segera melangkahkan kakinya, menjauhi mereka secepat mungkin.
"Dia melawan kita, cari mati kelihatannya." ucap Mira.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan kejutan yang akan mempermalukan dia." jawab Kaira.
"Bidadari!" seru Sheira.
Bidadari menoleh ke arah sumber suara. "Ada apa Sheira?" tanyanya, dia melihat wajah panik temannya itu.
"Kamu dipanggil oleh Kak Santi, dia terlihat marah besar." jawab Sheira.
"Hah, benarkah?" tanyanya, dengan raut wajah terkejut.
"Iya, cepatlah pergi ke ruang kerjanya." jawab Sheira.
Mereka berjalan bersama, Sheira sengaja mengantar Bidadari ke ruangan kerjanya.
"Masuk!" Santi mempersilahkan masuk, saat terdengar ketukan pintu.
Bidadari dan Sheira masuk ke dalam ruangan itu. Santi menatap Bidadari dengan cukup lama.
"Aku ingin bertanya tentang karya barumu ini. Isi setiap episodenya plagiat karya Biru Langit." ujar Santi.
Dia memperlihatkan layar ponsel, tepat di depan wajah Bidadari.
"Hah, siapa yang menerbitkannya?" tanya Bidadari.
"Itu baru diposting tadi pagi, sekitar pukul 04.00. Itu akun pribadi milikmu, siapa lagi yang akan menerbitkan karya bila bukan kamu." jawab Santi, sudah hampir marah saja.
"Sungguh, aku tidak melakukan itu. Pasti ada yang sengaja melakukannya, untuk menjatuhkan aku." ucap Bidadari. Sungguh sakit hatinya menerima fitnah.
"Segera bereskan kekacauan ini, kamu akan kehilangan banyak pembaca dan dukungan. Perusahaan ini juga bisa mengeluarkan kamu, bila tidak ada bukti yang jelas." jawab Santi.
Bidadari keluar ruangan setelah mengucapkan kata permisi. Sheira mengikuti Bidadari, dia masih tidak yakin akan hal itu.
"Bidadari, kamu yang sabar iya." ucapnya.
"Iya Sheira, aku ke toilet dulu." jawab Bidadari.
Dia masuk ke dalam toilet, cukup lama dan tidak keluar juga. Bidadari menangis tersedu-sedu di dalam sana, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Bidadari, apa kamu baik-baik saja?" tanya Sheira.
"Aku baik-baik saja Sheira." jawabnya.
"Kamu tidak sedang menangis 'kan?" tanya Sheira.
"Tidak, aku hanya mengusap air yang tumpah." jawab Bidadari.
"Kok bisa tumpah?" tanyanya.
"Biasa, keadaan seperti ini memang sering terjadi." jawab Bidadari.
Dia mengusap bekas air yang hampir mengering. Cukup puas sudah, menumpahkan segala sesak di dalam d**a. Dia membuka pintu, lalu tersenyum pada Sheira.
"Bidadari, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Sheira.
"Boleh saja, apa itu?" Bidadari balik bertanya.
"Apa kamu dan Direktur Ching punya hubungan asmara?" Sheira memberanikan diri bertanya.
Bidadari menjadi tertawa kecil. "Kamu lucu sekali, kok bisa mempunyai pemikiran seperti itu." jawab Bidadari.
"Dia terlihat naksir dengan kamu loh. Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Sheira.
"Kalau dia beragama islam, mungkin aku bisa bangun cinta. Tapi, bila sudah bersangkutan dengan agama, tidak ada tawar menawar." jawab Bidadari.
"Kok bangun cinta, bukannya jatuh cinta?" tanya Sheira, dengan mimik wajah heran.
"Karena jatuh itu tidak enak, lebih baik membangun saat kami sudah sah." jawab Bidadari.
"Iya kamu benar, sekali terbang tinggi. Namun bila sudah jatuh, bisa sampai ke dasar jurang berbatu." ucap Sheira.
"Iya, hati-hati loh kaum perempuan bisa remuk." jawab Bidadari, dengan bercanda.
Sheira menjadi tertawa kecil, dia merasa lucu dengan penuturan yang dilontarkan oleh Bidadari. Mereka melangkahkan kaki masing-masing, menuju ke ruangan bimbingan belajar kepenulisan.
"Bidadari, kamu tetap lanjutkan ringkas novelnya. Aku akan mengawasi secara langsung, semua kegiatanmu." ujar Ching.
"Baik Direktur Ching." jawab Bidadari.
Vira menyenggol lengan Kaira. Dia merasa kesal, melihat kedekatan Ching dan Bidadari.
"Direktur Ching, kami juga belum paham. Kami mau dibimbing langsung, oleh Direktur." ucap Kaira, dengan beraninya.
"Kalian sudah senior, ada Kak Santi yang akan membimbing." jawab Ching.
"Tapi, kami juga sama seperti Bidadari. Ada yang belum paham." ucap Vira.
"Kak Santi, tolong ajarkan mereka biar sangat paham." ujar Ching, menoleh ke arah Santi.
"Baiklah Direktur Ching." jawabnya.
"Direktur Ching hanya mau dengan Bidadari saja. Kami juga kerja di perusahaan MyNovel." Mira protes.
"Bukan mau atau tidak mau, ini masalahnya berbeda. Aku ingin melihat kemampuan Bidadari, memangkas karya tulisnya sendiri. Kalau dia bisa, berarti dia bukan plagiat." jawab Ching.