Memberikan Bantuan

1008 Kata
Bidadari duduk bersama dengan author lainnya, setelah sebelumnya melaksanakan salat dzuhur. Mira, Vira, dan Kaira terkejut, ternyata dia adalah penulis baru itu. "Kamu yang nama penanya Kulit Bawang iya?" tanya Vira. Bidadari mengangguk sambil tersenyum. "Ternyata bisa dapat gelar platinum dengan cepat, karena mendekati Direktur Ching iya." ucap Vira, tersenyum samar. "Taktik licik itu namanya." timpal Mira. "Apa maksud kalian, aku dan dia hanya..." ucapan Bidadari terhenti, karena sudah dipotong Kaira. "Halah, tidak perlu mengelak kamu." sahut Kaira. Sengaja ingin menyudutkan Bidadari. "Kalian kenapa sih, bersikap seperti ini. Kita sama saja mencari rezeki, dan ingin menunjukkan karya kita di depan publik. Jadi, jangan memusuhi orang lain yang sedang berjuang." ucap Sheira. Mereka bertiga langsung terdiam, melihat sekilas ke arah Sheira dengan cemberut. Setelah itu mengalihkan pandangannya ke depan. "Para author tercinta, kalian adalah pilihan perusahaan dan pembaca. Kami harap, kalian mengikuti pembelajaran ini dengan baik." ujar seorang perempuan. "Iya Kak." jawab semuanya. "Bagus. Sekarang keluarkan ponsel, yang sudah diintruksikan untuk dibawa." titahnya. Ching Jun tahu, bahwa Bidadari tidak memiliki apapun lagi. Dia berpikir akan menawarkan, tempat tinggal untuknya nanti. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya lalu menghampiri Bidadari. "Kamu gunakan ponsel ini saja untuk sementara." Ching berucap, sambil memberikan ponsel. Bidadari menerimanya, meskipun sungkan. Dia pikir akan membalas perbuatan baik pria Korea itu, bila ada kesempatan. "Terima kasih." jawabnya, sambil meringis. Bidadari merasa perutnya sakit, itu karena dia terlambat makan. Waktu yang tersisa sedikit tadi, dia gunakan untuk mengejar jambret tadi. Bekal yang dibawakan oleh Ibunya, belum sempat dia makan. "Kamu kenapa?" tanyanya. "Tidak apa-apa." jawabnya sambil menunduk. Ching meletakkan sebuah kertas, supaya Bidadari membacanya. Bidadari mengambil kertas yang ada di kursi kosong, setelah Ching berlalu. Mira mencuil teman di sebelahnya. "Vira lihat deh, direktur Ching memperhatikan kulit bawang dari jauh." ucapnya. "Berani-beraninya, gadis kampung itu cari perhatian. Kita kerjain dia saja, biar dimarahin dengan admin aplikasinya." jawab Vira. "Aku punya ide sini mendekat, biar aku bisikan sesuatu." sahut Kaira. Mereka berbisik-bisik bertiga, Sheira diacuhkan. Dia sedang mengajak Bidadari mengobrol. "Nama kamu siapa?" tanya Sheira. "Namaku Bidadari, kalau kamu?" jawab Bidadari. "Namaku Sheira." ucapnya sambil tersenyum. "Kamu penulis yang popularitasnya paling terbanyak itu 'kan?" tanya Bidadari, tidak menyangka bisa bertemu langsung. Sheira mengangguk, seraya tersenyum. "Kak Santi, boleh aku bertanya?" tanya Vira. "Iya, silahkan." jawab Santi. "Kalau salah satu author ada yang plagiat, apa akan dikeluarkan dari aplikasi MyNovel?" tanyanya, sambil melirik Bidadari. 'Kenapa aku merasakan firasat tidak enak. Semoga Engkau melindungiku ya Allah.' batin Bidadari. "Pertama-tama akan diberikan peringatan ringan, lalu dihapus karyanya. Setelah itu bila melakukan lagi, akan berurusan dengan hukum." jawab Santi. 'Kamu lihat saja kulit bawang, aku pastikan kamu akan kalah.' batin Vira. "Sekarang pangkas episode, yang akan dicetak menjadi ringkas. Kami mau melihat, apa ada kesalahan dalam penulisan sebelum dicetak. Penulis dari aplikasi MyNovel harus berkualitas, supaya tulisan mudah dipahami oleh pembaca." Santi memberikan penuturan. "Kulit Bawang tuh Kak, kacau sekali PEUBI nya." ujar Vira, setengah berteriak. Santi menghampiri Bidadari, dia melihat Bidadari yang sedang melihat meja kerja pada ponsel. "Nama aslimu Bidadari 'kan, aku melihatnya di KTP saat kamu mengajukan kontrak." ujar Santi. "Iya Kak." jawab Bidadari. Santi melihat tulisan Bidadari, dan mengajari tanda baca ataupun yang kurang lainnya. "Kalau kalian banyak yang tidak paham. Bisa tanya ke saya, ataupun ke direktur Ching." ucap Santi. Vira, Mira, dan Kaira, tersenyum lebar. "Iya, kami tidak paham." jawab mereka bersemangat. Mereka bertiga berlari, segera menghampiri Ching Jun yang duduk. "Direktur Ching, suatu kehormatan diajarkan oleh anda." ucap Vira, sambil menampilkan senyum manisnya. "Iya, boleh dilihat naskah kami." jawab Mira. Ching Jun melihat tulisan mereka, ternyata tidak ada salahnya. Tinggal sedikit lagi, yang perlu diperbaiki. Setelah beberapa jam di kantor, akhirnya jam waktu pulang tiba. Bidadari menghampiri Ching Jun, lalu memberikan ponselnya. "Terima kasih, telah meminjamkan aku ponsel." ucap Bidadari. "Iya sama-sama, sekarang ikutlah pulang bersamaku." ajak Ching. "Aku mungkin akan menginap di kantor ini. Aku tidak memiliki rumah di sini." ucap Bidadari. "Aku tahu, kamu sedang berjuang untuk mengikuti bimbingan pembelajaran besok. Sekarang, pulang lah ke apartemen bersamaku." tawar Ching. "Maaf direktur Ching, aku tidak bisa." ucap Bidadari. "Kamu tenang saja, aku punya dua ruangan terpisah di apartemen itu." jawab Ching. "Baiklah, aku akan ikut." ucap Bidadari. Ching tersenyum, ntah kenapa dia merasa nyaman bersama Bidadari. Mereka berjalan bersama, meski Bidadari menjaga jarak dengan Ching. Sampai tiba ke mobil, mereka saling diam-diaman. Tidak ada yang membicarakan apapun lagi. 'Ntah kenapa, aku tertarik pada Bidadari. Iya, dia memang penulis unik. Ching sadarlah, dia tidak akan menyukaimu. Kamu lihat saja, dia sungguh cuek. Jangankan untuk membalas perasaanmu, matanya pun tidak mau bertatapan denganmu.' batin Ching. Hana mondar-mandir karena cemas, tidak karuan perasaannya. Bidadari tidak ada memberi kabar sedikitpun padanya. Dia khawatir terjadi sesuatu pada anak perempuannya itu. "Bidadari, kenapa kamu tidak memberi kabar sampai sekarang." Hana bergumam pelan. Ching Jun dan Bidadari sudah sampai ke apartemen. Bidadari menatap takjub pada ruangan, yang tersusun rapi itu. "Direktur Ching, ini apartemen milikmu?" tanyanya sekali lagi. "Kamu masih tidak percaya, sehingga ingin memastikan." jawabnya, sambil tertawa kecil. "Bukan seperti itu direktur Ching." ucap Bidadari. "Sekretaris Cio, tolong kamu rapikan ruangan kamar Bidadari." titah Ching. "Baik direktur Ching." jawabnya. Dia segera masuk ke dalam, dan membawa tas Bidadari ke dalam. Dia merapikan semuanya dengan cepat. Ruangan Ching Jun sudah dibereskan, dengan orang suruhannya sendiri. Cio Chai keluar dari ruangan kamar tersebut, lalu menelusuri lorong apartemen untuk beristirahat ke ruangannya sendiri. "Masuklah, kamarmu sudah rapi." ujar Ching. "Iya, sekali lagi terima kasih." jawab Bidadari, dia merasa tidak enak hati. Ching Jun masuk ke ruangan kamarnya sendiri. Dia segera ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Bidadari segera berwudhu, untuk melaksanakan salat ashar. Selesai mandi, Ching berganti dengan baju santainya. Hanya mengenakan celana selutut, dan juga baju kaos lengan pendek. Ching membuka pintu, dia berjalan menuju balkon. Ternyata Bidadari juga sedang berjalan menuju balkon. Mereka saling menoleh sebentar, saling melempar senyuman. Bidadari tidak ingin menatap Ching dengan lebih lama, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lain halnya dengan pria itu, dia tetap memperhatikan dari kejauhan. Meskipun terhalang pembatas balkon masing-masing, tapi jaraknya tidak terlalu jauh. 'Apa mungkin, aku mulai suka pada Bidadari.' batin Ching.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN