“Selamat ulang tahun!”
Ansel Laundrell menyodorkan hadiah di tangannya. Kelopak matanya terpejam seakan tengah memberikan buket bunga kepada sang pujaan hati.
“Apa yang kaulakukan?”
Bukannya seorang gadis, sosok di hadapannya adalah seorang pria. Beruntung tiada yang menyaksikan adegan memalukan tersebut. Jika tidak, mungkin gosip tak senonoh akan menyebar dan merusak repurtasi dua keluarga sekaligus.
Lucian menurunkan kaki kemudian menghela napas berat. “Buat apa susah-payah berlatih bila akhirnya kau melemparkan hadiah itu?” Sarkasmenya disambut tatapan jengkel sang sahabat.
Mata indigo Ansel berkilat sombong. “Tentu saja aku harus menjadi kakak yang baik di usianya yang ke tujuh belas tahun,” jawabnya enteng. Lucian memijat kening. “Dia akan memasuki dunia baru; debutan, pergaulan kelas atas, lamaran, pernikahan, dan menjadi nyonya di rumah bangsawan lain. Tiada hal yang lebih membahagiakan selain melihat adikmu mendapatkan peminang yang pantas.”
“Pengusiran secara halus,” komentar Lucian sembari menyulut api di pipa. Ia menyesap ujung pipa tersebut, mengeluarkan asap kotor dari mulut. “Kau paling tahu betapa liciknya para bangsawan yang menargetkan Adikmu sejak usianya empat belas tahun. Apa kau bangga karena Adikmu dianggap laku?”
Mendengarnya, Ansel mendelik marah.
“b******k!”
Umpatan itu ia tujukan kepada dirinya sendiri. Ansel bukannya ingin menyingkirkan adik perempuannya dari rumah ini. Ia hanya merasa bangga karena anak yang setiap waktu selalu mengeluhkan hal-hal kecil itu telah tumbuh menjadi gadis dewasa.
Ansel terlalu bersemangat hingga tanpa sadar ia terlihat seperti kakak yang buruk.
“Aku tidak punya saudara, jadi aku tidak tahu bagaimana euforia menyambut debutan seorang adik,” ucap Lucian. Ansel duduk di sebelahnya, memangku kotak hadiah besar berisi gaun, perhiasan, dan aksesori rambut dengan hati-hati. Baru kali ini Lucian melihat sahabatnya begitu perhatian kepada sang adik. Biasanya pun dia, juga seisi rumah, mengabaikan Lady Ionna Laundrell yang tiga tahun silam menangis tersedu-sedu di depannya.
Ansel menyandarkan punggung ke bantalan sofa. Saat ini keduanya berada di ruang tamu Kediaman Laundrell. Ansel mengirim utusan kepada Lucian, pagi-pagi sekali, seakan ada situasi mendesak yang harus diselesaikan. Nyatanya, Ansel malah meminta sahabatnya berperan sebagai Ionna dan bermain adegan konyol pemberian hadiah. Jika diingat-ingat lagi, kali terakhir Ansel memberikan hadiah secara langsung ketika adiknya berusia dua belas tahun, tepat sebulan sebelum kematian duke terdahulu.
Lantaran Ansel disibukkan dengan tanggung jawabnya sebagai duke lima tahun ini, ia nyaris melupakan hari ulang tahun Ionna. Anehnya, gadis itu sama sekali tidak merajuk maupun meminta hadiah. Ionna justru menghilang hingga tengah malam bila Lucian tidak mencarinya. Hal itu sudah Ionna lakukan semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ionna selalu melakukannya ketika ulang tahun dan peringatan kematian ayah tiba. Sebenarnya di mana gadis itu bersembunyi? Semua orang tidak dapat menemukannya di setiap sudut rumah, kecuali Lucian yang senantiasa bungkam tentunya.
“Aku kakak yang payah,” kata Ansel frustasi.
Lucian mengisap pipanya sekali lagi. “Yang terpayah dari yang terpayah.”
“Bagaimana cara agar hubungan kami kembali seperti semula? Maksudku, ayolah, dia bisa meninggalkanku kapan saja. Para gadis bangsawan lebih cepat menikah daripada para jentelman yang berburu istri. Apa kau tidak berpikir demikian?”
Menurut penuturan Ionna, selain menyebalkan, Ansel bukanlah kakak yang peka. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau lady yang dijuluki Malaikat Laundrell itu tergila-gila kepada sahabatnya sendiri? Bertahun-tahun Ionna mengejar Lucian dengan berbekal cinta sepihak. Bahkan setelah gadis itu lulus dari Akademi Wanita Sanspearl tahun lalu, dia masih menyimpan perasaan sia-sia terhadap Lucian. Kelak bisa dipastikan Ionna akan menolak semua lamaran dengan alasan tidak mau buru-buru menikah. Jalan pikiran Lady Ionna Laundrell yang sederhana sangat mudah ditebak.
Ansel menyikut temannya. Diamnya Lucian jelas memiliki pemikiran yang berarti. “Kenapa kau tidak menjawab? Kau tuli atau bisu?”
Tuntutan yang sama, sifat keras kepala yang sama.
Kakak-beradik Laundrell memang ahli dalam menuntut jawaban.
“Sudah kubilang aku tidak punya saudara. Bagaimana kutahu?” sahut Lucian tak acuh. Ia mengedikkan bahu seraya menatap lukisan seorang gadis berambut merah, bermata biru yang duduk memakai mahkota bunga di atas akar pohon. Lucian mengingat pemandangan itu. Sayangnya, pemandangan yang ia lihat sedikit berbeda. Gadis itu tidak tersenyum selebar di lukisan. Dia merangkai mahkota dari bunga dan rumput kering sambil berurai air mata, sementara tubuh mungilnya dibalut setelan berkabung.
Ansel tidak akan pernah menyaksikan pemandangan itu seumur hidupnya. Tidak, selama dia tidak pergi mencari Ionna dengan kakinya sendiri.
“Persetan dengan saudara, bisakah kau memberiku saran yang berguna? Sedari tadi yang kudengar hanyalah sinismemu.” Ansel mendengus, menyerahkan hadiah di pangkuannya kepada Philips yang datang untuk menyimpan kotak besar itu.
Lucian tersenyum miring menatapnya. “Kalau begitu, kuberitahu kau sesuatu. Tapi, ingat, hasil akhirnya bergantung pada seberapa keras usahamu, Kawan.”
***
Sebuah kereta kuda berhenti di halaman depan Kediaman Laundrell. Seorang kesatria yang telah menanti kedatangan nona mudanya mendekat, membukakan pintu kereta, kemudian mengulurkan tangan membantu sang nona menuruni pijakan yang licin. Gerimis di pagi hari membuat jalanan dan benda-benda di luar rumah menjadi basah. Kesatria itu harus ekstra hati-hati lantaran gaun yang nonanya kenakan merupakan gaun yang dirancang desainer langganan keluarga duke.
Ia ingat bagaimana gadis itu mengomeli Annie, si pelayan pribadi, seharian penuh karena menumpahkan teh ke gaunnya. Kejadian yang sama tidak boleh terulang dan ia sudah merasa kapok dengan melihat pengalaman orang lain.
Raphael, kesatria itu, menarik tangannya setelah kaki sang lady mendarat apik di permukaan tanah. “Selamat pagi, Young Lady,” sapa kesatria lain yang lewat. Raphael memutar kepala lantas kembali memandang Ionna yang semuram awan mendung. Gadis itu mengibaskan tangan, meminta mereka tidak mengganggunya.
Apa lagi yang mengusik hati Her Ladyship? Raphael mengikuti Ionna memasuki rumah dengan langkah pasti.
Raphael Trops adalah kesatria terpilih yang bertugas menjaga adik perempuan Duke Laundrell sejak akhir tahun lalu. Pria itu memiliki kecerdasan yang tinggi, kemampuan berpedang yang baik, dan selera humor yang bagus; persis seperti yang Ionna katakan saat sang kakak menanyainya tentang kriteria kesatria penjaga. Padahal Raphael tahu bila gadis itu hanya asal menjawab. Ionna sengaja menyulitkan kakaknya karena merasa tidak membutuhkan seorang kesatria pribadi.
Ketika Ionna nyaris terpeleset sepatu heelnya sendiri, lekas Raphael menangkap lengan kurus sang lady, membantu gadis itu kembali menegakkan punggung. “Astaga, My Lady, tolong berhati-hatilah!” tegas Raphael sembari berlutut, memeriksa pergelangan kaki Ionna yang memerah.
Pantas saja sedari tadi gadis itu berjalan pincang. Ia memakai sepatu pemberian Marchioness Carnold yang sudah kekecilan. Kabarnya bersamaan dengan Ionna yang hendak mengenyam pendidikan di Akademi Sanspearl, Marchioness Carnold meninggal karena penyakit kronis. Berita kematian Marchioness yang tidak diduga-duga sempat menggemparkan dunia pergaulan kelas atas. Duchess Laundrell sampai meminta penundaan hari pertama sekolah putrinya. Ionna sangat terguncang ketika mendengar berita kematian sang marchioness.
Ionna melanjutkan langkah menapaki undakan menuju lantai dua. Keningnya berkerut dalam, seakan sesuatu yang tak disukainya telah terjadi. “My Lady, saya mohon berjalanlah pelan-pelan,” pinta Raphael, takut-takut Ionna tidak bisa menyeimbangkan langkah.
Mengangkat roknya lebih tinggi, Ionna pun berkata, “Kenapa semua orang merahasiakan kedatangan Marquess Carnold dariku? Aku seperti anjing tetangga yang celingukan di rumah lain mencari majikannya. Karena kunjungan dadakanku, Kepala Pelayan sampai kerepotan menyiapkan jamuan.”
Raphael tersenyum dalam hati. Orang-orang yang tidak mengenal Ionna akan mengira gadis itu adalah lady yang selalu dimanja kakak laki-lakinya. Padahal ada banyak hal baik yang jarang gadis itu perlihatkan, sisi dewasanya ini misal.
Sesampainya di lantai dua, bukannya berhenti dan memanggil pelayan untuk mengambilkan sepatu yang lebih nyaman, Ionna justru mempercepat langkah. Raphael yang mengekori terus-menerus menasihatinya supaya beristirahat, namun Ionna tampak kehilangan kesabaran. Saat berada di depan salah satu pintu besar di koridor, tanpa ba-bi-bu lagi, tangan gadis itu terulur mengetuk—tidak, melainkan menggedor-gedor—permukaan kayu bercat putih tersebut.
Napas Raphael tertahan begitu pintu terbuka. Ia memundurkan tubuh, memberi salam kepada seorang pria yang kini berdiri di hadapan nonanya. Pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Duke Laundrell, bersedekap seakan telah menunggu kedatangan sang adik. Tatkala pandangan mereka bertemu, Raphael segera pamit, memberi dua bersaudara itu kesempatan berbicara.
Ionna memanjangkan leher dan mendapati Lucian membaca koran di dalam sana.
“Minggir!”
Ionna mendorong bahu kakaknya, tetapi dengan gesit Ansel lebih dulu menggapai pergelangan tangannya. Ansel menatap Ionna tajam sambil berharap gadis itu menghiraukan keberadaannya. Adiknya ini benar-benar telah berubah. Setelah dia lulus, sikapnya menjadi kurang ajar dan susah diatur. Selalu ada perlawanan, pertikaian, dan perbedaan pendapat tiap kali mereka bertemu. Renggangnya hubungan mereka terdengar hingga ke telinga bangsawan lain. Ansel sering menerima pertanyaan tentang rumor Ionna yang dulunya anggun menjadi seliar singa di hutan. Kendati rumor itu memperburuk citra sang adik, tak sedikit pula jentelman yang masih mengantre mendekati gadis itu. Tiada seorang pun di Kerajaan Gouvern yang mampu menampik pesona seorang Lady Ionna laundrell.
“Kau sudah belajar tata krama dasar, bukan? Jika tidak ada pelayan, ketuk pintunya, Ionna!” tegur Ansel, melepas genggaman tangannya. Ionna menatapnya malas. Fokusnya kembali jatuh pada Lucian. “Tidak bisakah kau mendengarkanku sekali saja? Kenapa kau semarah ini pada kakakmu, huh?”
“Apa maumu?” tanya Ionna tidak suka.
Ansel mendesah gusar. “Pertama, ayo masuk. Kita bicarakan baik-baik mengenai hari ulang tahunmu. Minta hadiah apapun yang kauinginkan, jenis pesta seperti apa, siapa saja yang diundang, dan perlukah kita mengadakan pesta dua hari dua malam? Aku akan melakukan apapun yang kaumau.”
“Sayangnya, kau tak perlu repot-repot.”
“Apa?”
“Sudah terlambat membahasnya. Sekarang, biarkan aku berbicara dengan temanmu atau aku akan menendang tulang keringmu lagi.”
“Kenapa kau tidak menghargai usahaku untuk membahagiakanmu, Ionna?”
Samar-samar dapat Ionna lihat kekecewaan yang tersembunyi di balik ekspresi marah Ansel. Telinga pria itu memerah. Artinya, kali ini dia sedang tidak main-main.
Ionna menggigit bibir, sejenak menenangkan diri. Dadanya memberat tanpa alasan dan ia merasakan tatapan menusuk Lucian yang diam-diam menyaksikan perdebatan mereka. Apa yang Lucian pikirkan tentangnya, Ionna tidak peduli. Ia sudah terlalu banyak menunjukkan sisi memalukannya di depan pria itu. Jadi, untuk apa memasang topeng?
“Count Parcey dan Baron Hoston menunggumu di ruang tamu sebelah.” Ionna menunduk memutus kontak mata mereka. “Kau adalah seorang duke. Kumohon jangan terbawa rasa kasihmu kepada seorang adik yang sama sekali tidak menghormatimu. Aku ke sini bukan untuk menemuimu, tetapi menemui Marquess Carnold.”
Tanzanite dan aquamarine saling bersirobok. Kesedihan Ansel terpancar, namun Ionna pura-pura tidak menyadarinya.
“Abaikan aku dan enyahlah, Pria Menyebalkan.”
***
Dasar bodoh.
Lucian menggeleng. Percuma saja ia memberi Ansel saran bila cara yang dilakukannya salah. Begitu pandangannya dan Ionna bertemu, gadis itu langsung terdiam seribu bahasa. Ansel telah pergi sejak dua menit yang lalu, meninggalkan mereka dalam kecanggungan. Kini Lucian tidak punya alasan untuk bertahan di tempat ini, namun ia tahu Ionna sedang membutuhkannya.
Terlepas dari semua tingkahnya, Ionna tetaplah adik sahabatnya dan merupakan orang yang paling disayangi mendiang ibu. Setidaknya Lucian masih mengingat pesan terakhir ibu sebelum wanita itu tiada. Pesan untuk menjaga Ionna sampai gadis itu mendapatkan pinangan pria yang dia cintai.
Tetapi, pria yang gadis itu cintai adalah putramu sendiri, batin Lucian kala itu, lantas apakah aku harus menjaganya seumur hidup bila sang lady tidak menerima pinangan siapapun?
Seiring berjalannya waktu, Lucian tidak lagi memusingkan pesan ibunya. Banyak hal yang harus ia pikirkan dan Ionna hanyalah gangguan kecil yang kebetulan mampir dalam hidupnya. Terdengar jahat memang, namun Lucian yakin cinta Ionna tidak lebih dari sekadar cinta sesaat. Suatu hari nanti gadis itu pasti akan melupakannya.
“Saya tidak akan menasihati Anda,” kata Lucian sambil melipat koran. Ionna mengangkat wajah, menatap Lucian sekilas, lantas menoleh ke arah pintu, seakan tak mengharapkan kepergian Ansel. Gadis itu mengembuskan napas panjang sebelum mengayunkan kaki menghampiri sofa di seberang Lucian.
“Anda baik-baik saja, My Lady?” Lucian bertanya selembut mungkin. Ia menuangkan teh ke cangkir keramik lalu menyodorkannya kepada Ionna.
“Saya dengar Anda akan pergi ke Grimfon untuk menghentikan pemberontakan. Apa itu benar?” tanya Ionna, alih-alih menjawab. “Maafkan saya, My Lord. Saya pergi ke rumah Anda pagi ini. Saya tidak tahu Anda sedang di sini bersama Kakak”
“Tak apa, My Lady.” Lucian menyunggingkan senyum simpul. “Dan benar tentang pemberontakan itu. Penduduk setempat merasa gelisah karena rumor tersebut, jadi saya sendiri yang turun tangan. Jika benar ada pemberontak yang bersembunyi di Grimfon, maka masalahnya benar-benar serius.” Ia menurunkan pandang dan menangkap sesuatu yang tak asing membungkus telapak kaki Ionna. Sepasang sepatu pemberian ibunya, yang terlihat kekecilan hingga menimbulkan bekas kemerahan memutari pergelangan kaki gadis itu.
Lucian membunyikan lonceng sekali, memanggil pelayan, dan menyuruh pelayan itu mengambil kotak obat. Ketika pelayan tadi kembali, dia menyerahkan kotak obat di pelukannya kepada sang marquess. Lucian bangkit lalu berjalan memutari meja, membuat Ionna bertanya dengan nada bingung. “Apa yang Anda lakukan, My Lord?”
“Kaki Anda terluka, My Lady. Permisi.”
Perlahan, Lucian bergerak menyentuh kaki kiri Ionna, melepas sepatu yang tanpa gadis itu sadari melukai kulit putihnya. Ionna mengernyit merasakan sengatan perih yang menjalar begitu sepatu dilepas. Telaten Lucian memeriksa pergelangan kakinya, semburat merah berangsur-angsur menghiasi kedua pipinya.
Ionna berdeham kecil mengusir degupan yang nyaris menulikan pendengaran. “Saya bisa mengobati diri saya sendiri, My Lord. Anda tidak perlu melakukannya.”
“Maaf, ini akan sedikit sakit.” Membuka tutup salep, Lucian mengoleskan krim tanpa warna selaras dengan garis luka lecet Ionna, tak mendengarkan ucapan maupun rintihan gadis itu. Selanjutnya, ia membalut luka tersebut menggunakan perban lalu mengikatnya secara perlahan.
Ionna mengembuskan napas lega. Sensasi perih dan debaran jantung boleh berhenti, namun rona merah yang menyelimuti pipi membuatnya terlihat seperti kepiting rebus.
“Terima kasih.”
“Tolong, jangan memaksakan diri.” Lucian menjauhkan sepatu heel dari kaki Ionna, menutup kotak obat, lalu beranjak bangkit. “Bagi gadis bangsawan, tubuh mereka adalah aset yang berharga. Saya harap Anda lebih berhati-hati.”
“Saya mengerti.” Ionna menatap sedih sepatu silver tadi. Pita yang menghiasinya kotor meski berulang kali dicuci, pun dengan sebelah permata yang hilang entah ke mana. “Tetapi, sepatu itu merupakan pemberian Marchioness Carnold. Dibanding kaki saya yang terluka, sepatu itu lebih berharga, My Lord. Setiap benda pemberian mendiang Marchioness mengingatkan saya kepada kehangatan beliau.”
Netra hijau Lucian melirik jam tugu di sudut ruangan. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia harus bergegas atau dirinya akan membuat para kesatria menunggu semakin lama. Lucian menepuk puncak kepala Ionna sebelum melenggang menuju pintu.
“Baiklah. Ulang tahun dan pelaksanaan debutan Anda tinggal satu minggu lagi, bukan?” tanyanya, memutar gagang pintu lantas menariknya perlahan. Tanpa menatap Ionna, ia melanjutkan, “Beritahu saya warna gaun yang Anda kenakan saat debutan nanti. Sepatu berwarna senada akan saya kirimkan melalui Jacob sehari sebelum harinya. Saya pamit, My Lady. Semoga hari Anda menyenangkan.”
Bersambung