Pada pertemuan pertama, Ionna langsung mengagumi sosok Lucian Carnold. Ketertarikan, awal mula dari rasa suka, begitulah orang dewasa menyebutnya. Ionna pernah sekali mendengar percakapan ibu dan ayah saat mereka membicarakan masa lalu. Saat itu Lucian terlihat seperti permen ceri yang kakaknya curi dari dapur, menjadi favorit Ionna dalam sekejap. Jadi, Ionna yakin apa yang ia rasakan kepada Lucian saat itu adalah sebuah ketertarikan.
“Lady Ionna!”
Seruan menyembur dari mulut Marchioness Carnold yang tampak gembira menyambut kedatangannya. Seperti biasa, setiap akhir pekan Ionna akan bermain ke Kediaman Carnold. Kebiasaan itu telah berlangsung selama dua pekan. Tradisi lama keluarga Laundrell melarang memperlihatkan anak gadis kepada publik sebelum berusia lima tahun. Saat itu Marchioness Carnold orang luar pertama yang menemuinya. Wanita yang sejak dulu ingin dikarunai anak perempuan itu begitu senang hingga memaksa ibunya agar Ionna bisa berkunjung ke Kediaman Carnold. Dari yang Ionna dengar, sang marchioness telah mengalami tiga kali keguguran. Dokter sampai memvonis wanita itu tidak bisa mengandung lagi.
“Sebetulnya kami bisa meminta bantuan dokter kerajaan tetangga. Namun, Marquess tidak mengizinkan. Beliau ingin saya fokus membesarkan Lucian,” ucap Isabelle Carnold ketika berbincang dengan ibu. Ionna tidak sepenuhnya mengerti pembicaraan orang dewasa, tetapi ia marah karena Tuhan mematahkan asa Marchioness Carnold yang malang.
“Bagaimana hari-hari Anda, My Lady?” tanya Marchioness Carnold. Wanita itu menggandeng tangan Ionna erat, seolah tak mau melepaskannya. Hari ini ia berencana menunjukkan sesuatu yang pasti disukai Ionna sebagai hadiah.
“Sangat menyenangkan, Madame!” Ionna tersenyum senang. Senyumannya yang menular menarik sudut-sudut bibir Marchioness. Mereka berjalan-jalan mengitari kolam ikan. Para pekerja sibuk membersihkan tanaman penganggu yang mengapung di permukaan kolam. Sedetik kemudian, ekspresi Ionna berubah masam. “Tapi, kelas menari itu sangat membosankan! Kalau saya jatuh atau salah langkah, Madame Grochie selalu menghukum saya.”
“Dulu saya juga diajari Madame Grochie,” sahut Marchioness, terkekeh geli. “Beliau memang orang yang disiplin, namun saya rasa diam-diam beliau mencoba memotivasi murid-muridnya.”
“Motivasi?” Baru kali ini Ionna mendengar kata itu.
Anggukan Marchioness menambah kebingungan gadis lima tahun tersebut. “Benar. Dorongan yang berasal dari dalam dan luar diri seseorang, yang membuat orang itu bersemangat. Jika di dunia ini tidak ada yang namanya motivasi, maka manusia tidak akan pernah berani mengambil langkah.”
Ionna mengernyitkan dahi.
“Contohnya begini, Sayang.”
Berjongkok, Marchioness Carnold mengusap kedua pundak Ionna sebelum mendaratkan sebuah sentilan kecil di keningnya, membuat kerutan di sana menghilang. “Mengapa Anda bersedia mengikuti kelas menari Madame Grochie walaupun Anda tahu beliau terkenal sebagai tutor yang, ehm, ketat terhadap aturan?”
Ionna memiringkan kepala. “Haruskah saya mengutarakan alasannya?” Semburat kemerahan menghiasi pipi tembamnya. “Itu adalah hal yang memalukan, Madame.”
“Kenapa, Sayang? Kita adalah teman. Bukankah antar teman harus saling berbagi rahasia?”
“Ugh, baiklah.” Sepasang manik biru cemerlang Ionna mengerling ke kanan dan kiri, memastikan pelayan yang mendampingi mereka tidak mencuri dengar. “Kakak mengejek saya,” bisiknya, seakan tengah mendiskusikan hal serius. “Kakak bilang tidak ada yang mau menikahi gadis nakal yang suka memanjat pohon. Kakak bahkan mengatai saya mirip seekor monyet. Jadi, Kakak menyuruh saya memasuki kelas tata krama dan menari lebih awal. Tetapi, Mama malah menunjuk Madame Grochie sebagai tutor.”
Kini Marchioness Carnold memahami kegelisahan Ionna. Ansel Laundrell, putra sulung pasangan Duke dan Duchess Laundrell merupakan teman dekat Lucian, putra semata wayangnya. Ia mengenal bocah laki-laki itu sejak masih dalam gendongan ibunya. Ansel sering mengunjungi kediaman mereka untuk mengajak Lucian berkuda atau sekadar memancing. Marchioness Carnold tidak menyangka Ansel akan menjadi sumber motivasi adik perempuannya.
“Young Lord Ansel adalah kakak yang unik,” komentarnya, bangkit dan merapikan bagian belakang gaun. Mereka melanjutkan langkah menuju paviliun yang terletak di sebelah selatan kolam. Aroma pai beri yang manis tercium dari kejauhan. “Intinya, Anda rela mengikuti kelas menari Madame Grochie karena ejekan beliau? Nah, Lady, itulah yang dimaksud motivasi. Ejekan beliau mungkin terdengar menyebalkan, namun akhirnya Anda melakukannya juga bukan?”
“Anda benar, Madame.” Ionna mengangguk polos. Kuncir rambutnya berayun seirama dengan gerakan kepalanya. “Sekarang, saya mengerti. Madame Isabelle memang yang terbaik.”
Ketika kaki mereka menyentuh lantai porselen paviliun, Ionna langsung berlari dan menduduki salah satu kursi, bersiap menyantap pai beri yang dibuat khusus untuknya. Ia hendak menyambar pisau dan garpu bila tidak teringat hadiah yang Marchioness Carnold janjikan. “Omong-omong, Madame, di mana hadiahnya?” tanya Ionna tanpa ragu.
Marchioness Carnold tersenyum samar lalu memerintahkan pelayan supaya menjemput ‘hadiah’nya. Mereka duduk berhadapan menikmati siang hari yang cerah. “Ella, potongkan pai untuk sang lady,” titah Marchioness. Pelayan yang dipanggil Ella pun bergerak mengambil pisau, memotong pai yang masih hangat, lalu menghidangkannya di piring Ionna. Ionna memutar garpu lalu memasukkan painya ke dalam mulut. Perpaduan rasa stroberi, roseberi, dan keju meleleh lembut di lidahnya.
“Bagaimana painya, My Lady?”
Ionna menutup mulut, matanya berkaca-kaca. Kombinasi beri dan keju yang meleleh di lidah membuatnya ingin merasakannya lagi dan lagi. “Ini pai terenak yang pernah saya rasakan! Bolehkah saya menghabiskannya, Madame?”
Satu anggukan Marchioness mengundang senyum bahagia Ionna. “Terima kasih!”
“Madame, Young Lord telah tiba.”
Semua atensi sontak tertuju pada pelayan yang membawa serta seorang anak seusia kakak laki-laki Ionna. Ionna refleks mengalihkan pandang, anak bernama Lucian itu memandangnya lurus. Tanpa sadar, Ionna memperhatikan setiap detail penampilan, postur tubuh, hingga struktur wajah Lucian Carnold. Helaian pirang yang berkilau ditempa sinar matahari, netra sehijau apel, hidung yang tidak terlalu mancung, sudut bibir yang tertarik ke bawah, serta tulang pipi yang belum terbentuk sempurna. Dibanding kakaknya, tampaknya Lucian sedikit lebih tinggi dan berisi. Karena tradisi aneh keluarga Laundrell, Ionna tidak pernah melihat lelaki itu walau dia sering berkeliaran di kediamannya.
“Selamat siang, Young Lady.” Lucian Carnold menghampiri lantas memberi salam. “Saya Lucian Carnold, putra Marquess dan Marchioness Carnold, sekaligus karib Lord Ansel. Saya minta maaf maaf karena minggu lalu tidak sempat menyapa Anda. Semoga Anda menikmati hidangan yang kami sajikan.”
Laki-laki yang sopan, batin Ionna. Di usia lima tahun Ionna sudah bisa menebak mana laki-laki yang baik dan yang bukan. Apa ini karena Ansel sering menceritakan kenakalan teman laki-lakinya di akademi? Ah, Ansel juga sempat bercerita tentang Lucian, namun Ionna tidak tahu jika Lucian memiliki perangai sebagus ini.
Ionna tersenyum manis kemudian menjawab, “Terima kasih, Young Lord. Senang bertemu Anda.”
“Nah, My Lady, apakah Anda suka hadiahnya?” timpal Marchioness Carnold tiba-tiba. Ionna menatap Marchioness dan putranya bergantian. Kebingungan lagi-lagi mendera otak kecilnya. Kenapa perkataan orang dewasa sulit sekali dimengerti?
Sembari menarik lengan Lucian yang berdiri di tempatnya, wanita itu mengulurkan tangan untuk membelai surai kemerahan Ionna, seakan ingin menyatukan takdir kedua anak tersebut.
“Mulai sekarang, Lucian adalah satu-satunya hadiah yang hanya boleh dimiliki Anda,” kata Marchioness Carnold, dengan sorot mata yang menyiratkan berbagai kecamuk emosi. Ionna menangkap luapan emosi itu, namun tidak berani untuk bertanya.
“Ya, hanya Anda seorang.”
***
“Young Lord?”
Lelaki itu menghindar.
“My Lord, maukah Anda mengajari saya cara menunggang kuda?”
Ionna mengintip Lucian yang sibuk membersihkan koleksi lukisannya, tetapi lelaki itu langsung kabur begitu melihatnya.
“Madame, di mana Lord Lucian?”
“Halo? Ada orang di dalam?”
“Kenapa beliau gesit sekali, huh?”
Punggung Ionna menempel di pagar tembok taman belakang Kediaman Carnold. Gaun pastelnya penuh lumpur, rambut merahnya disarangi jerami, dan beberapa luka lecet menghiasi kedua sikunya. Ionna baru saja mengejar Lucian dari istal hingga jatuh berguling-guling ke kubangan lumpur. Sungguh sial nasib Ionna kali ini. Alih-alih mendapatkan obrolan seru, Ionna justru menjadi bulan-bulanan alam.
“Aku lelah!”
Tubuh Ionna merosot lemas. Ia merentangkan tangan dan mengernyit merasakan perih di sikunya. Saat memeriksanya, darah mengalir dari sana. Buru-buru Ionna menggosok-gosokkan siku pada lapisan kain terdalam gaun. Ionna tidak mau ayah dan ibu mengira Marchioness tidak menjaganya dengan benar.
Tidak, gadis cantik tidak boleh menangis, gumam Ionna, susah-payah menahan perih. Menggigit bibir, perlahan wajahnya berubah masam. Tapi, ini sakit sekali.
Ionna pun menekuk lutut. Sembari meyakinkan diri bahwa gadis cantik tidak boleh menangis, hati kecilnya berdoa supaya Lucian menemukannya. Sudah tiga tahun Ionna melakukan rutinitasnya mengunjungi Kediaman Carnold, selama itu pula kehadirannya selalu mengusik Lucian. Ionna sangat ingin berada di samping Lucian seperti saat mendampingi kakak di kala senang maupun sedih.
Saat itu, bagi Ionna Lucian adalah seorang kakak yang ideal. Ionna masih tidak mengerti arti dari kata egois dan serakah. Meski perlahan perasaan itu tumbuh di dalam hatinya, perasaan untuk memiliki Lucian seorang diri.
***
Tahun-tahun berikutnya, Ionna sudah beranjak remaja. Di usianya yang keempat belas, kecantikannya mulai dikagumi kaum adam. Bola mata biru sejernih laut, kulit seputih s**u, dan surai merah bergelombang semakin menambah pesonanya. Laundrell bersaudara menjadi incaran para calon peminang demi mengangkat derajat dan nama keluarga. Selain itu, kematian Duke Laundrell dua tahun silam seakan membuka kesempatan bagi para penjilat untuk memanfaatkan Ansel yang dinilai amatir dalam menjalankan tugas. Kini keluarga Laundrell telah melewati masa berkabung. Duchess Laundrell sama sekali tidak berniat menikah lagi dan memilih mempertahankan gelar bersama sang putra.
Ionna yang saat itu tengah merangkai mahkota bunga dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tanpa ia sadari menghalau cahaya mentari dari belakang. Ia pun mendongak, mendapati Lucian Carnold berdiri sambil memayungkan tangan di atasnya. Degupan aneh mengusik jantung Ionna tiap kali sosoknya tercermin dalam mata hijau lelaki itu.
Lucian menatapnya datar, seembus napas keluar melalui celah bibirnya. “Jangan salah paham,” kata Lucian ringan, namun tajam. Lucian sudah terbiasa dengan gangguan Ionna sembilan tahun ini. Baik ketika gadis itu berkunjung ke rumahnya maupun ketika dirinya mengunjungi Kediaman Laundrell. Hari ini Lucian hanya bersimpati karena upacara peringatan kematian mendiang duke akan segera dimulai, tapi gadis ini justru menghilang dam menimbulkan kepanikan seisi rumah.
“Kenapa Anda mencari saya?” tanya Ionna dengan suara serak. Mahkota bunga di tangannya rusak, jatuh mencium tanah. Ionna memang sering bertingkah egois dan kekanakan di depan Lucian. Ia juga menyadari bahwa lelaki itu tidak menyukainya. Tetapi, apa yang harus Ionna lakukan? Ionna telah menyukai Lucian sejak kali pertama pandangan mereka bertemu. Bahkan Ionna menjadi egois dan serakah ketika Marchioness Carnold berkata bahwa Lucian adalah hadiah yang hanya boleh ia miliki.
Ionna ingin Lucian yang mencarinya, menemukannya, dan membawanya pulang. Bukan orang lain. Itu sebabnya Ionna pergi dan menyendiri di bukit belakang rumah. Karena hanya Lucian-lah satu-satunya orang yang mengetahui tempat persembunyiannya.
Lucian mengulurkan tangan, membuat cairan yang menggenang di pelupuk mata Ionna jatuh membasahi pipi.
“Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan saya?” tanya Ionna lagi.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, My Lady.” Lucian tetap enggan menjawab. Ia menarik lengan Ionna lembut, memperlakukannya seperti kaca yang rapuh. Rerumputan tinggi di sekitar mereka bergoyang tertiup angin. “Duchess Laundrell mencari Anda. Apa Anda tidak mengasihani beliau? Kenapa Anda membuat semua orang khawatir?”
“Jadi, Anda mengkhawatirkan saya?”
Lucian mendesah kasar. “Lady Ionna, kita harus kembali sebelum—”
“Saya menyukai Anda, My Lord.”
Rasanya sudah ratusan kali Ionna mengutarakan perasaannya selama sembilan tahun terakhir. Sekalipun Ionna tidak mengeluh walau Lucian tidak pernah memberikan kepastian. Kedua tangan Ionna yang gemetar mencengkeram lengan baju Lucian erat, menunduk, dan menempelkan kepala di d**a bidang lelaki delapan belas tahun itu.
“Papa telah pergi ke tempat yang sangat jauh. Sekarang Mama hanya peduli pada Kakak yang telah menggantikan posisi Papa. Tiada seorang pun di rumah yang memedulikan saya kecuali Annie. Apakah Anda juga akan meninggalkan saya? Saya tidak mau dilupakan, My Lord. Tolong, jangan lupakan saya.”
Kali ini Lucian bungkam, tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi semacam ini. Ionna seolah berusaha mentransfer semua rasa sakit kepadanya. Seluruh tubuh gadis itu gemetar. Ketakutan, kecemasan, dan kesedihan dapat Lucian rasakan dari tangisannya.
Lucian memejamkan mata menyumpahi ketidakmampuannya. Ia tidak bisa menenangkan seorang gadis yang sedang menangis. Ia terlalu kaku untuk melakukannya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Lucian tidak ingin melihat bulir-bulir air mata berjatuhan dari mata Ionna. Seakan ada sesuatu yang menekan d**a, rasa sakit tadi semakin menjadi, mengutuk Lucian yang hanya terdiam mendengar isakan gadis itu.
“Saya tidak akan melupakan Anda,” bisik Lucian akhirnya.
Ionna mengangkat wajah, sepasang aquamarinenya yang memerah terlihat menyedihkan.
“Ini bukan berarti saya menerima perasaan Anda. Tetapi, seandainya seluruh dunia melupakan Anda, sayalah orang terakhir yang akan mengingat Anda. Anda bisa datang kepada saya ketika semua orang melupakan Anda. My Lady, saya yang akan selalu mengingat Anda.”
Ionna menatap mata Lucian lekat-lekat, mencari kesungguhan dalam iris hijaunya. “Benarkah?”
Mengembuskan napas panjang, Lucian pun meletakkan sebelah tangan ke puncak kepala Ionna. Ia sungguh tak mampu menjanjikan apapun selain ini.
“Ya. Saya berjanji.”
Suaranya sedingin es, tatapannya sedatar tembok, namun Ionna merasakan kehangatan yang perlahan merasuki relung hatinya. Ya Tuhan, jika diizinkan, bolehkah Ionna meminta keajaiban untuk menghentikan waktu? Ionna ingin mengenang dan berada dalam momen ini lebih lama lagi.
Bersambung