Miris sekali. Ionna tidak bisa lebih puas dari ini. Ia sendirian, di paviliun menunggu kedatangan tamu walau tiga jam telah berlalu. Ionna menengadah ke langit biru, bersenandung kecil, mengatakan bahwa ini tiada apa-apanya dibanding menantikan seseorang selama lima tahun. Ia bisa mencoba lain waktu. Mungkin mereka sedang sibuk atau merasa enggan menginjakkan kaki ke tempat di mana banyak orang tidak menyukai mereka. Perlengkapan teh yang baru dibeli dari Frindel, berkeping-keping biskuit, keik, buah, dan tar memenuhi meja panjang di samping meja utama. Para pelayan telah siap meracik dan menyeduh daun teh di sana, namun bisik-bisik tentang acara minum teh nonanya yang gagal melantun di udara musim gugur. Ionna melirik pelayan-pelayan itu, sadar dirinya sedang digunjing. Orang-orang di

