86. Rejection

1910 Kata

“Evangeline, tolong buka pintunya. Kau boleh marah padaku, tapi dengarkan aku untuk yang kali terakhirnya.” Evangeline tak menghiraukan suara pria itu. Ia menekuk lutut, bersandar pada pintu, merasakan getaran tatkala papan kayu itu diketuk. Lucian tidak menyerah mendapatkan jawabannya sejak dua jam yang lalu. Lagi-lagi, mereka mengakhiri makan malam dengan pertengkaran. Evangeline tidak menangis, pun merasa marah. Ia tahu saat-saat seperti ini akan datang, namun yang tidak ia sangka, hatinya belum juga siap. Ada banyak kebohongan di balik kebohongan dan Evangeline bimbang memutuskan siapa yang harus ia percaya. Kekosongan menguasai hatinya. Memikirkan apa saja yang ia lakukan sampai sejauh ini seperti orang bodoh, bagaikan meraba-raba kebenaran di udara hampa. Evangeline memahami alasa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN