“Ionna.” Kelopak mata Ionna berkedut. Seseorang seakan memanggilnya, membawanya kembali ke dunia nyata. Ionna mengerutkan kening memaksa kelopak matanya yang berat dan lengket terbuka. Entah berapa lama ia merasakan tubuhnya dilempar ke sana-ke mari dengan sangat menyakitkan. Seluruh persendiannya kaku, tulang-tulangnya remuk, dan darah dalam pembuluh nadinya berkurang begitu banyak hingga Ionna harus berjuang keras untuk bangun. Suara itu kembali memanggil. Kali ini lebih lirih dan lembut. Ia merasakan sentuhan di pipinya, sebuah telapak tangan halus yang mulai menua. Air mata mendesak keluar. Ionna tahu tangan siapa itu. Jadi, ia lebih tidak ingin bangun dan menghadapi si pemilik suara. Untuk saat ini, Ionna benar-benar tidak ingin melihat ibunya dan mendengarkan ceramah lain. Orang-or

