“Kenapa tidak ada yang memberitahuku!” Suara benda-benda pecah dan berjatuhan menggema di koridor Townhouse Laundrell. Kepala pelayan, Annie, dan Raphael menunduk, mendengarkan setiap teriakan dan sumpah serapah sang duke yang mengamuk. Ansel memegang kenop pintu kamar Ionna, memandang adik perempuannya di dalam sana dengan tatapan terluka. Wajahnya merah padam karena darah yang mendidih. Bukan ini yang Ansel inginkan ketika ia kembali dari penjara bawah tanah Laundrell setelah dua hari. Bukan ini yang ingin Ansel lihat setelah pesta pembentukan negara berakhir. Ansel yakin Ionna akan menikmati pestanya. Ia akan mengganti kenangan buruk malam debutan dengan kenangan baru yang pantas untuk diingat. Bahkan Ansel telah berencana akan mengajak Ionna berkeliling ibu kota, menyaksikan parade

