“Ke mana saja kau pergi, Lucian Carnold?” Kata-kata penuh penekanan itu meluncur dari mulut Evangeline, menyambut Lucian yang baru datang dari Townhouse Laundrell. Dengan ekspresi lelah, Lucian mendorong daun pintu lebar-lebar kemudian berjalan melewati tunangannya. Ia melepas seluruh kain dan aksesori yang memberatkan tubuh, menyisakan blus serta celana krem yang dipakai seharian, dan membasuh wajahnya dengan air baskom. Lucian melempar handuk tebal ke lengan kursi sambil menatap Evangeline yang menghampirinya dengan langkah kesal. “Sudah puas menghabiskan malam bersama kekasihmu?” cela Evangeline. Ia berkacak pinggang, memandang Lucian dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu berhenti pada kantung mata yang menghitam dan membengkak. “Apa yang kaulakukan di Townhouse Laundrell? Aku me

