Lucian berlari menerjang siapapun yang menghalangi jalan. Pandangannya tak fokus dan ia menabraki bahu para anggota parlemen yang ingin menyalaminya. Dalam hati, Lucian mengumpati diri. Bagaimana bisa ia meninggalkan Ionna sendirian? Setelah apa yang dikatakan Raja, pikirannya menjadi kacau, seolah ada badai yang meluluhlantakkan susunan otaknya. Bahkan ketika Ansel berada di depannya untuk menanyakan apa yang terjadi, Lucian abai.
Saat ini seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Ionna. Di mana dan bersama siapa gadis itu sekarang adalah yang terpenting untuknya. Lucian menggigit bibir cemas, berulang kali melontarkan sumpah serapah dalam diam. Jika bisa, ia ingin mengutuk dirinya sendiri. Sudah terjebak ke dalam permainan Yang Mulia Raja, kini pun ia kehilangan jejak Ionna.
Lucian mengingat percakapannya dengan Yang Mulia Raja lima menit lalu. Di ruang perjamuan, di mana untuk kali pertamanya ia menginjakkan kaki di ruangan itu.
“Sudah kubilang aku tahu segalanya. Kenapa kau tidak percaya?” Raja mengisap pipa, menggerakkan telunjuk agar pelayan di belakang Lucian menyerahkan pipa lain untuk pria itu. “Kau juga merokok, bukan? Nikmatilah itu, Marquess.”
Sayangnya, Lucian menolak. Masih dengan sikap tenangnya, ia bercuap dengan nada sopan kepada si pelayan. Raja menyeringai kecil, kira-kira sampai kapan ketenangan itu akan bertahan? Jemari pria itu menari-nari di atas pegangan kursi, memamerkan cincin-cincin emasnya yang berkilauan. “Ini tentang kunjunganku di Akademi Sanspearl satu tahun lalu. Aku bertemu dengan Lady Laundrell, dan yah, bisa dibilang itu adalah pertemuan yang cukup mengesankan. Apa kau yakin ingin mendengar ceritanya, Marquess?”
Lucian memasang telinga tajam, tatapannya pun tak kalah tajamnya. Kilatan dalam iris hijau itu seakan dapat memotong apapun yang ada di depannya. Raja mengembuskan asap keabu-abuan dari mulut, meletakkan pipa di hiasan keramik. “Yah, hanya ketika kau setuju menjadi bagian dari parlemen. Kau sangat loyal pada Duke Laundrell. Jadi, anggap saja kita sedang membuat kesepakatan yang mengungkan kedua pihak. Lady Ionna Laundrell adalah adik sahabatmu, ingat itu.”
Ketenangan perlahan meninggalkan Lucian. Tanpa berpikir panjang, ia berkata yakin. “Tolong, katakan, Your Majesty.”
“Bagus, kau buat semuanya jauh lebih mudah, Marquess.”
Raja tersenyum muram, mendesah berat mengingat hari di mana ia bertemu dengan Lady Ionna Laundrell. Bayangan putri Antonio Laundrell dalam seragam Akademi Sanspearl melintas dalam benaknya.
Sebenarnya, Raja tidak ingin menggunakan Lady Ionna Laundrell sebagai alat untuk mendapatkan Marquess Carnold. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Tiada seorang pun di kerajaan ini yang dapat memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas itu. Raja yakin Duke Laundrell dapat melakukannya, tetapi dia masih membutuhkan pemuda itu dalam parlemen. Duke Laundrell merupakan seorang stabilitator, tanpanya parlemen bisa goyah. Dengan masuknya Marquess Carnold ke dalam parlemen, akan mempermudah Raja menurunkan perintah tanpa perlu perantara sang duke. Tugas ke Andasia memerlukan kecekatan dan kehati-hatian seseorang layaknya Lucian Carnold.
Raja menyilangkan kaki, diam-diam melayangkan kata maaf pada Lady Laundrell. “Ini cerita lebih dari tiga tahun yang lalu. Saat kunjunganku di Akademi Sanspearl. Di sana, aku bertemu dengan Lady Laundrell. Di bawah pohon ek tua yang menaungi taman rahasia akademi.”
Lucian tidak dapat memastikan kebenaran cerita Raja. Bagaimana bentuk Akademi Sanspearl ataupun keberadaan taman rahasia itu, Lucian sama sekali belum pernah mengunjunginya. Ia melirik pelayan yang menuangkan anggur kerajaan ke gelas berleher panjang, menatapnya tanpa minat. Sekarang, bukan waktunya untuk minum sementara Raja terus menggantungkan ucapannya.
“Aku melihat Lady Laundrell menangis di bawah pohon itu, Marquess. Hatiku terenyuh mendengarnya menyebut sang ayah yang telah tiada. Bagaimanapun, aku ini seorang pria dengan empat orang putri. Dan Lady Ionna Laundrell adalah putri yang sangat dikasihi oleh Duke terdahulu.”
Ayah?
Itu hal yang sama seperti yang biasa Lucian temukan ketika mendapati Ionna menangis di bukit. Gadis itu selalu menyuarakan kata ayah di setiap tangisnya.
“Ketika aku menghampirinya, sang lady mengira aku adalah salah satu bangsawan yang berkunjung. Dia memintaku melupakan hari itu. Sang lady tidak mau Kakak dan Ibunya mengetahui penderitaannya di Sanspearl. Lady Laundrell merasa tidak memiliki apapun setelah kematian Ibumu, mendiang Marchioness Carnold.”
“Saya semakin tidak mengerti, Your Majesty.” Lucian mengerutkan kening. Baginya, Raja terdengar seperti sengaja memutar-mutar perkataan untuk menahannya lebih lama. “Penderitaan? Apa maksud Anda?”
Raja menidurkan satu-persatu jari, seolah tengah menghitung sesuatu.“Perundungan, penghinaan, pencemaran nama baik keluarga bangsawan, orang itu bisa dihukum gantung hingga pengasingan di wilayah wabah. Pencopotan status kebangsawanan dan penyitaan harta kekayaan pun bisa saja terjadi. Bagaimana menurutmu?”
Ya Tuhan. Jika Ansel yang duduk di kursi ini, mungkin dia sudah mengobrak-abrik tatanan meja. “Dan apa hubungannya dengan Lady Ionna? Saya telah mengikuti Anda ke tempat ini, Your Majesty. Saya mohon, jangan mengulur-ulur waktu dengan—”
“Kalau begitu, jawablah,” potong Raja sambil mengisap pipa. “Kau belum menjawab apakah dirimu bersedia bergabung atau tidak, Marquess. Kau sadar betul bahwa aku telah memanfaatkan kesetiaanmu kepada keluarga Laundrell.”
“Bagaimana jika tidak?”
Raja tersenyum miring. “Apa kauyakin?” Ia menjentikkan jari memanggil pelayan yang berdiri di pintu supaya mendekat. Pelayan itu meletakkan gulungan perkamen kosong bertali emas di meja. Perkamen yang biasa digunakan untuk dokumen rahasia negara. “Mari buat perjanjian. Tuliskan persyaratanmu di sini. Kau bisa mengajukan lebih dari tiga poin kepadaku, sedangkan aku hanya membutuhkan satu poin darimu. Sebagai bonus, aku akan memberitahumu sisa ceritanya. Bagaimana?”
Lucian menatap perkamen dan Yang Mulia Raja bergantian. Dia tidak boleh membuang-buang waktu terlalu lama.. Kesepakatan dan Ionna, parlemen dan persahabatannya dengan Ansel. Dia harus mengorbankan salah satu di antara pilihan itu demi memuaskan hasrat Raja untuk memilikinya.
Raja yang mulai tidak sabaran pun mencondongkan tubuh, menunjuk pintu ruang perjamuan yang sedikit terbuka. “Jawablah sebelum semuanya terlambat, Marquess Carnold,” tandasnya tegas. Menangkap desakan dan jawaban pasti di mata Lucian, Raja pun dengan santai menambahkan, “Lady Diana Thesav, Lady Amanda Launrens, dan Lady Veronica Wernest. Ketiganya melakukan perundungan selama bersekolah di Akademi Sanspearl. Mereka jugalah yang menyebarkan rumor palsu tentang Lady Ionna Laundrell. Malangnya nasib gadis itu. Mungkin sekarang dia sedang bersama ketiga lady dan mengulang trauma masa lalunya.”
BRAK
Jendela bertirai merah terbuka begitu Lucian menendangnya. Angin malam menerbangkan tirai, menampilkan pemandangan tiga orang lady menertawakan seorang gadis berambut merah di balkon itu. Gadis itu hampir tak sadarkan diri ketika Lucian tiba. Ia tampak memegangi tangan kirinya dan bersiap akan jatuh.
Waktu seolah bergerak lambat. Pandangan mereka untuk sesaat bertemu. Aquamarine Ionna perlahan mengabur dan cairan bening mengaliri pipi gadis itu. K etiga lady di sekitar mereka sontak terdiam menyadari keberadaannya. Lucian pun kembali mengayunkan kakinya dan berlari untuk membawa tubuh pingsan ke dalam dekapannya.
Dia terlambat.
---
“Nak, sedang apa kau di sini?”
Ionna mendongak, tangannya refleks berhenti mencabuti rumput. Seorang pria berusia lima puluh tahunan berdiri di sampingnya mengenakan pakaian dipenuhi lencana kebesaran. Ia menyeka air mata dengan lengan seragam, membiarkan pria itu berjongkok di sisinya. “Saya menangis,” gumamnya pelan. Angin musim gugur yang dingin menerpa rambut kemerahannya yang diurai berantakan. “My Lord, siapapun Anda, bolehkah saya meminta agar Anda melupakan hari ini? Sangat memalukan tertangkap basah ketika sedang menangis.”
Cederic Ruphel van Gouvern memperhatikan pohon ek tua di depan mereka. Sejenak, bertanya-tanya apa yang dilakukan lady kecil ini di tempat sesepi ini. Cederic memutuskan berjalan-jalan tanpa pengawalan untuk menikmati kesendirian yang jarang ia rasakan. Di tengah indahnya pemandangan daun-daun yang berguguran, ia mendengar suara tangis samar dari kejauhan. Ketika mengikuti suara tangis itu ia pun menemukan gadis berkulit putih s**u berjongkok sendirian di bawah naungan pohon ek.
Sepasang manik biru dan rambut merah bergelombangnya mengingatkan Cederic pada pasangan mendiang Duke dan Duchess Laudnrell. Apakah gadis ini Lady Ionna Laundrell, si malaikat kecil Laundrell? Cederic berdeham kecil. Tempat ini adalah taman rahasia Akademi Sanspearl. Dikatakan rahasia bukan karena tempatnya yang tersembunyi, melainkan karena sering dijadikan tempat persembunyian para lady yang membolos kelas. Cederic tidak menyangka putri Antonio bisa sedikit nakal. Apa dia sedang mencoba membolos kelas? Tetapi, mengapa gadis ini justru menangis sesenggukan?
Dibanding dirundung rasa penasaran, Cederic pun memutuskan bertanya, “Bisakah kau menceritakan apa yang membuatmu bersedih, Nak? Tidak baik menyimpan masalah sendirian.”
“Saya sendirian di dunia ini, My Lord.” Mata basah Ionna Laundrell menatap telapak tangannya yang kotor. Ia tidak menyadari bahwa pria yang berjongkok di sisinya adalah Raja Gouvern, orang yang paling dicintai seantero negeri. Sembari menyedot ingus, ia pun melanjutkan, “Marchioness Carnold telah meninggal dan saya tidak bisa bertemu His Lordship Young Lord Carnold untuk waktu yang lama. Dua tahun, apakah saya bisa bertahan sampai hari kelulusan tiba,My Lord?”
“Apa yang kaubicarakan, Nak?” tanya Cederic lagi. Kenapa dia berbicara seolah-olah akan mati dalam waktu dekat? Cederic ingat usia gadis ini masih menginjak empat belas tahun. Musim panas dua bulan lalu dia baru memasuki akademi, usia yang sangat terlambat di saat seharusnya para lady dikirim pada usia sepuluh. Tampaknya Duchess Laundrell mulai lelah mempertahankan pendiriannya mendidik putrinya seorang diri.
“Baru-baru ini saya berteman dengan Lady Amanda, Lady Veronica, dan Lady Diana Thesav.”
Diana Thesav, keponakan jauh Marquess Francaiss yang diadopsi karena keluarganya bangkrut. Dua lady lain merupakan putri baron dari duchy Magnolia.
Ionna sama sekali tidak menatap pria tua di sebelahnya. Atensinya sepenuhnya terenggut oleh rerumputan hijau. “Di antara ketiganya, saya paling menyukai Lady Diana. Kami sempat berteman baik selama satu minggu, tetapi, sepertinya mereka tidak menyukai saya lagi.”
Cederic pun memindah posisi duduknya, bersandar pada batang pohon ek yang kokoh. Entah kenapa, cerita Ionna terdengar lebih menarik ketimbang berita kemenangan perang.
“Kenapa kau menyimpulkan begitu, Nak? Adakah alasan bagi mereka untuk tidak menyukaimu? Apa kalian bertengkar?”
Ionna menggeleng, tertawa pahit. Ia menghela napas dalam-dalam. Dadanya sakit sekali. “Kami tidak bertenggar.”
“Lantas?”
“Mereka membenci saya, My Lord. Saya tidak tahu alasannya, namun mereka sering berkata saya ini orang yang sombong. Mereka bilang, saya beruntung karena terlahir sebagai putri Laundrell.”
“Menurutku, mereka hanya iri padamu.”
“Apakah keirian dapat membuat seseorang membenci orang lain tanpa alasan?” tanya Ionna, kini manik biru jernihnya menatap Cederic lurus.
Manik biru itu tidak seperti manik biru keunguan milik Duke Laundrell kakaknya. Biru yang sama persis seperti Duke terdahulu. Yang sebiru laut, sejernih air di Danau Harapan istana. Sungguh biru yang cantik, dan penuh luka.
Cederic hendak menjawab pertanyaan gadis itu, namun Lady Ionna Laundrell lebih dulu merebut kesempatannya berbicara;
“Your Majesty, maafkan saya. Saya terlalu bersedih sehingga tidak melihat lencana dan bros kerajaan di pakaian Anda. Di pertemuan kita selanjutnya, bisakah Anda bersikap seolah tidak pernah bertemu dengan saya? Saya harap Anda berkenan melakukannya, Your Majesty.”
To be continued