“My Lady, sadarlah!”
Sekalipun Lucian mengguncang tubuh Ionna berulang kali, gadis itu tidak mau membuka matanya. Ia membelai pipi Ionna yang terdapat bekas cap telapak tangan kemerahan. Pria itu mengernyit, seakan ikut merasakan rasa nyerinya. Seseorang pasti telah menampar Ionna dengan keras karena jika tidak, bekas kemerahan itu tidak akan sekentara ini.
Pemuda itu mendongak menatap dingin tiga lady di hadapannya. Lucian mengenali satu-persatu wajah itu. Persis seperti yang dikatakan Yang Mulia Raja. Lady Diana, Lady Amanda, dan Lady Veronica jelas telah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Ionna. Apa mereka tidak takut dihukum? Kenapa mereka berani sekali menampar adik perempuan duke?
“La-lady Ionnalah yang lebih dulu menyerang saya, My Lord!” kilah Lady Diana Thesav sembari memperlihatkan sikunya yang berdarah dan bengkak. Gadis itu terlihat panik setengah mati, tidak menyangka bahwa Lucian akan menemukan Ionna di sini. Bukankah lorong dan balkon ini adalah tempat terkutuk?
Dua Lady lain bersembunyi di belakangnya, membuat Diana berperan sebagai tameng. “Kami hanya mengobrol sebentar di balkon ini, My Lord. Tetapi, tiba-tiba Lady Ionna mendorong saya hingga vas ini jatuh.” Ia menunjuk vas keramik yang hancur di lantai, “dan melukai siku saya. Lady Veronica tanpa sengaja menampar beliau karena terbawa amarah, My Lord. Tolong, jangan salah paham.”
“Apa menurut Anda itu adalah hal yang masuk akal? Lady Ionna mendorong tanpa alasan?” hardik Lucian, “Lady Diana, saya tidak tahu ada masalah apa di dalam pertemanan kalian. Namun, saya mengenal Lady Ionna lebih baik dari siapapun. Beliau tidak mungkin melukai orang lain.”
“Tapi, ini buktinya, My Lord!”
“Dan Anda, Lady Veronica, kenapa Anda menampar beliau?” Lucian mengerling ke arah Veronica Wernest. Gadis pirang itu memalingkan muka, menggigit bibir gugup. Otaknya bekerja dua kali lebih cepat memikirkan solusi untuk keluar dari situasi ini. Jika sampai para bangsawan dan anggota keluarga kerajaan mengetahui apa yang mereka lakukan kepada Lady Ionna Laundrell, maka tamatlah mereka.
Amanda Laurens yang sejak tadi bungkam mendekati Diana, berbisik di telinga gadis itu. “Haruskah kita membalikkan keadaan?” Diana menggeleng tidak mengerti mendengarnya. “Maksudku, kita teruskan sandiwara ini. Lagipula, tidak ada saksi mata. Kita bisa membuat Lady Ionna menjadi antagonisnya, My Lady.”
“Apa? Bagaimana dengan Marquess Carnold?” balas Diana, sepelan mungkin. “Apakah kita juga akan melibatkan beliau?”
“Tiada pilihan lain, My Lady.”
Diana mengangguk. Gadis itu menyenggol lengan Veronica lalu memberi kode untuk mengikuti alur permainannya. Rencananya itu didukung oleh Dewi Fortuna yang mengirimkan belasan bangsawan yang berbondong-bondong berlari menuju balkon. Semua yang ada di lantai dua merupakan anggota parlemen, para pangeran, dan putri.
Saat orang-orang itu semakin dekat, tiba-tiba Diana berteriak dan menjatuhkan diri ke lantai. Gadis itu memegangi sikunya dan menangis kesakitan. Lucian menautkan alis kesal. Apa-apaan gadis itu?
“Sudah saya bilang itu bukan salah saya, My Lord!”
Jeritannya mengudara di balkon yang perlahan dipenuhi keramaian. Menyadari derap langkah yang bersahutan, Lucian segera melepas kancing pengait jubah dan menutupi Ionna di dekapannya. Ia pun bangkit, mengangkat Ionna yang seringan bulu dengan ekspresi datar. Di antara gerombolan manusia di ambang pintu, dia mendapati Ansel berdiri di barisan terdepan, memandangi mereka bergantian.
Lucian membalas tatapan sahabatnya kemudian berjalan mendahului para lady. Ia tak ingin meneladeni sandiwara murahan ini.
Ansel pun bertanya, “Apa—atau siapa yang kaugendong itu, Marquess?”
Tubuh Lucian sekaku besi.
“Luce, Kawanku?” Ansel mengibaskan tangan di depan wajah sahabatnya, mengerutkan kening lantaran pria itu sama sekali tidak berkedip. “Hei, apa yang sebenarnya terjadi?” Ia menurunkan pandang mengamati sesuatu itu lamat-lamat. Dan betapa terkejutnya ia tatkala tangan sesuatu—seseorang itu merosot lemas dan bergelayut di udara. Air muka Anselberubah drastis, wajahnya segelap langit malam.
“Katakan, dia bukan Ionna ‘kan? Di mana Adikku!” Ia mencengkeram kerah kemeja Lucian kuat-kuat. Sedangkan suara kasak-kusuk memanaskan atmosfer di sekitar mereka. “Luce, jawab aku! Kenapa kau diam saja, Bodoh!”
“Duke, tidak baik bagi kita berlama-lama di sini.”
“Tidak!”
“Your Grace.” Kini Lucian menoleh dengan manik hijaunya yang berkilat marah. Jemari pria itu mencengkeram pundak Ionna, baritonnya terdengar rendah dan dalam. Ansel yang masih belum sepenuhnya memproses serangkaian pemandangan yang dilihatnya pun mendengus kesal. Lucian tak kunjung menjawab dan dia benci pertanyaannya digantung.
“Kenapa Lady Thesav menangis?” tanyanya—untuk yang ke entah berapa kali. “My Lady, apa kalian baik-baik saja?”
Tangis Lady Diana membuncah. Kedua lady yang terduduk di sisi kanan-kirinya langsung memeluk gadis itu erat. Sungguh. Kesabaran Ansel benar-benar diuji sekarang. Pemuda itu berniat melangkah menghampiri mereka ketika sang marquess lebih dulu menahan bahunya.
“Percayalah, Anda tidak akan mendapatkan apapun, Your Grace,” kata Lucian dingin, menyingkap ujung jubahnya. Surai kemerahan yang familier mendorong lidahnya menggumamkan nama Ionna.
“Jadi, mari kita pergi. Apa Anda tidak mengasihani Lady Ionna?”
---
Debutan tahun ini kacau-balau. Lady Diana Thesav terluka dan berita bergabungnya Marquess Carnold ke dalam parlemen menyebar sangat cepat. Duke Laundrell harus pulang lebih awal lantaran beberapa masalah terkait adik. Berbagai rumor baru tentang Ionna dilaporkan bertambah hingga Duchess ingin mengisolasi diri di tempat jauh.
Kali ini, bukan lagi tentang sifat liar maupun hubungan diam-diamnya dengan Marquess Carnold. Berita bahwa sang lady merupakan seorang perundung di akademi tersebar luas. Hinaan dan gosip bertubi-tubi menyerang keluarga Duke. Ansel dilanda gelisah dan marah di saat yang bersamaan. Jika bukan karena Ionna yang pingsan, dia pasti sudah mencabut lidah orang-orang biadab itu.
Lucian diam menanti dokter keluarga Laundrell memeriksa Ionna di dalam kamarnya. Ia berdiri di koridor, bersama Ansel yang mondar-mandir mengkhawatirkan adik perempuannya. Sesekali pria itu berhenti sesaat untuk menyuruh Philips menangani masalah di luar sana. Kejadian di Hall of Sun benar-benar mempermainkan kesabarannya.
“Sialan! Seharusnya dari dulu aku tidak menuruti perkataan Ionna!” pekik Ansel frustasi. Suaranya menggema di sepanjang koridor.
Lucian menatap sahabatnya tanpa ekspresi. Sudah terlambat menyesalinya sekarang.
“Ceritakan apa yang terjadi, Luce!”
“Saat aku tiba, sang lady hampir tidak sadarkan diri. Aku melihat tiga lady lain sedang melindungi Lady Thesav yang terluka,” jawab Lucian sambil bersidekap. Ia tak mau memperkeruh keadaan dengan mengutarakan kejadian lengkapnya. “Lady Diana berkata bahwa sang lady melukainya. Dan tamparan itu merupakan ulah Lady Veronica. Lady Thesav bilang Lady Veronica tidak sengaja menamparnya, tetapi tetap saja, itu hal yang mustahil mustahil.”
“Adikku bahkan tidak tega melukai seekor semut,” geram Ansel. Manik birunya bersinar dalam kilatan menakutkan. “Para k***********n itu, aku akan membunuh mereka sekarang juga—”
“Jangan ayunkan pedangmu dan merusak debutan ini. Kau mau Lady Ionna membencimu?”
Peringatan Lucian sontak menghentikan Ansel yang telah siap menarik pedang di pinggangnya.
Ansel mengacak-acak rambut hitamnya marah. Dadanya bergemuruh hebat. “Ke mana kau saat itu? Kenapa kau tidak berada di sisinya?” tuntutnya tajam. “Aku memberimu tugas untuk menjaganya. Apa itu sesuatu yang sulit? Bahkan kau menyelesaikan masalah Grimfon dengan mudah. Kenapa kau tidak bisa menangani seorang gadis berusia tujuh belas tahun?
“Sampai kapan kau akan berpura-pura, Ansel?” Ansel terkesiap mendengar perubahan suara Lucian. Ia memandang pria yang lebih tinggi darinya itu dengan alis terangkat. “Kau dan Yang Mulia Raja—juga Duke Ollardio, apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?”
“Luce.”
“Rupanya, His Majesty juga mempermainkanmu.” Lucian mengusap wajahnya yang letih. “Sekarang aku adalah anggota parlemen. Kau memiliki setengah hak atas diriku karena wilayah kekuasaanku di bawah naungan duchymu.”
“Apakah Yang Mulia Raja menemuimu?” Ansel setengah terkejut dengan keberhasilan Yang Mulia Raja.
Lucian mengangguk, tersenyum miris. “Dan membawaku ke ruang perjamuan.”
“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Ansel. Dari suaranya, Lucian dapat membaca betapa besar penyesalan sang sahabat. Namun, tiada yang bisa diubah. Ia telah menuliskan persyaratan di perkamen itu dan menandatanganinya di samping stempel kerajaan.
“Intinya, kau tidak perlu mencemaskan apapun,” sahut Lucian ringan, “rumor tentang Her Ladyship akan surut pada waktunya. Berjanjilah jangan menghukum keluarga ketiga lady. Kita tidak tahu kebenarannya dan mari tunggu saatnya tiba. Aku akan menjamin semuanya akan segera terselesaikan.”
Mata Ansel memicing curiga. “Apa kesepakatan yang ditawarkan His Majesty, Luce?”
Lucian menggelengkan kepala. “Sayang sekali, aku tidak bisa memberitahumu.”
“Kau menganggapku sebagai orang lain? Setelah sekian lama kita bersahabat?”
“Mustahil, Ansel. Jangan berkata bodoh.”
“Kalau begitu, katakan, Teman Sialan! Jangan ceroboh dan mengambil keputusan sendi—”
“Aku harus pergi ke Andasia besok.”
Kepala Ansel serasa dipenggal dan terlempar jauh ke sudut koridor ini. Pernyataan Lucian terlalu tiba-tiba. “Apa? Apa kau sudah gila?”
“Pelankan suaramu,” sergah Lucian, “ini bukan urusanmu. Kau, fokuslah dengan kesibukan parlemen untuk pengumuman besok.”
“Apa kau mengorbankan dirimu demi keluargaku?”
Senyuman menjengkelkan singgah di bibir Lucian. “Terserah bagaimana anggapanmu.”
Menyerah. Ansel bersandar dinding luar kamar Ionna. Lengkap sekali kejutan hari ini. Adiknya pingsan, ibunya syok, dan sahabatnya akan meninggalkannya, menjalankan misi sialan di kerajaan tetangga.
Ansel merutuki kebodohannya yang tak menyadari jebakan Raja. Ia bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ionna sementara hari telah berakhir secepat satu kedipan mata. Bagaimana bisa Ansel menjelaskan semua ini kepada sang adik? Ia merasa malu sampai ke tulang-tulang.
Bunyi derit pintu terbuka menginterupsi keheningan di antara mereka. Lucian dan Ansel spontan menegakkan punggung. Thomas Vivelac, dokter keluarga Laundrell melenggang keluar dari kamar sang lady. Melalui celah pintu, kedua pria itu mendapati Ionna terbaring lemah di atas ranjang. Pelayan pribadi gadis itu menangis tersedu-sedu sembari menggenggam tangan Nona Mudanya erat, terlihat tak ingin melepaskannya.
Thomas mengangguk memberi hormat, membenarkan kacamata tunggalnya yang berantai perak. “Her Ladyship sangat terguncang akan sesuatu, My Lord,” jelasnya seraya melirik pintu yang perlahan ditutup.
Ansel tersentak. “Apa yang terjadi padanya?”
Thomas berdeham kecil. “Untuk saat ini, pastikan beliau mendapatkan istirahat maksimal. Jangan biarkan beliau memikirkan hal yang berat. Itu tidak baik bagi kesehatan Her Ladyship.” Penjelasan itu teramat singkat hingga masih menimbulkan tanda tanya di kepala Ansel. “Saya telah meresepkan obat dan berpesan kepada Miss Jam. Tolong, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya kapanpun bila Lady Ionna merasa sakit. Saya permisi, My Lord.”
Sepeninggal Thomas, Ansel langsung berlari memasuki kamar adik perempuannya. Pintu kembali dibuka dan Ionna terlihat belum juga siuman. Lucian menyaksikan pemandangan itu. Ansel yang duduk di tepi ranjang Ionna dan menciumi punggung sang adik penuh sayang, Dalam hati, Lucian merasa lega. Kira-kira seandainya ia menghilang dari hidup gadis itu untuk waktu yang lama, akankah Ionna melupakannya?
Lambat laun, entah sekarang atau nanti, Lucian hanya akan menjadi bagian terkecil dari masa lalu Ionna.
To be continued