Seluruh pelayan townhouse Carnold digemparkan oleh dua berita besar yang terjadi di debutan. Bisik-bisik mewarnai malam itu. Semua orang terjaga, berharap-harap cemas menanti kedatangan tuan mereka. Jacob yang hampir terlelap terbangun oleh kegaduhan yang diciptakan Robert, utusan keluarga Carnold, yang berlarian panik di sepanjang koridor. Para pelayan dalam pakaian tidur keluar dari kamar masing-masing, bertanya-tanya apakah mereka harus bekerja di malam hari menyiapkan keperluan sang marquess.
“Selamat datang, My Lord.”
Adalah sapaan Jacob beserta sepuluh pelayan laki-laki di belakangnya saat Lucian tiba. Lucian melangkah memasuki townhouse. Melihat wajah-wajah kaku para pelayan tampaknya mereka sudah mendengar berita tersebut.
Lucian mengibaskan tangan lalu berjalan menuju ruang kerja. “Tidak ada waktu lagi, Jacob. Kita tidak bisa kembali ke Celeton untuk mengambil barang-barangku. Aku akan pergi dengan apa yang ada di sini.”
“My Lord, bukankah Anda berutang penjelasan? Kenapa Anda tiba-tiba memutuskannya tanpa berpikir panjang?’
Desakan Jacob itu bisa dimengerti. Pria itu telah membesarkannya layaknya cucu sendiri. Ketika memasuki ruang kerja, Lucian langsung melepas mantel, rompi, dan cravat. Tak lupa kancing manset dan dua kancing teratas kemeja. Ia meminta Jacob menyiapkan pipa dan brendi lalu duduk di kursi kerja. Lucian ingin menikmati sisa malam di Gouvern dengan santai.
“Kau benar, itu tidak terdengar seperti diriku.” Ia mengacak-acak rambut pirangnya yang tertata rapi. Malam ini kacau sekali. “Aku terlanjur jatuh dalam perangkap. Tiada pilihan lain selain memakan umpan dan melaksanakan perintah.”
“My Lord.” Jacob menatapnya cemas sembari memberikan pipa yang telah dinyalakan. Lucian mengisap ujung pipa, meniup asap hitam yang keluar dari mulut.
“Tanyakan apa yang ingin kautanyakan. Besok kita tidak punya banyak waktu untuk berbincang.”
“Saya ingin Anda menjawab pertanyaan tadi.”
Manik hijau Lucian menangkap sosok tua Jacob di bawah keremangan lampu. “Betul. Kau butuh penjelasan, orang-orang di sini butuh penjelasan. Anggota parlemen, bangsawan, dan masyarakat Gouvern butuh penjelasan. Aku telah mencoreng status netral keluarga Carnold.”
“Saya tidak mempermasalahkan itu.” Jacob menatapnya sedih. “Bagaimana nasib kami selanjutnya? Bagaimana kami bisa bekerja saat majikan kami tiada?”
“Aku menitipkan urusan properti padamu. Tidak akan ada masalah. Kau telah berpengalaman mengurus propoerti keluarga Carnold selama puluhan tahun, bukan?”
“Apa Anda melupakan Lord Marcus? Bagaimana seandainya beliau kembali?”
Seketika tangan Lucian berhenti menempelkan pipa ke mulut.
Benar. Ia tidak memperkirakan kemungkinan ini sebelumnya. Kepalanya malam ini sudah nyaris meledak. Muncul di debutan tidak seburuk fakta bahwa ia telah ditipu. Mengabaikan rumor kencan tidak seburuk menyetujui permintaan Raja. Hal yang paling buruk dari yang terburuk adalah menemukan Ionna pingsan dan mengetahui masa lalu kelam gadis itu.
Lucian mendengus tanpa sadar. Jemarinya bergerak gelisah menjepit pipa berkualitas tinggi itu. Ia rela melangkah ke pintu neraka demi melindungi Ionna dan nama baik keluarga Laundrell. Ia telah terikat janji. Pada Ansel, pada Ibunya. Ia terikat hubungan persahabatan yang rumit dengan sang duke sejak kecil. Orang-orang mungkin menganggapnya bodoh, berkhianat. Namun, apalagi yang bisa ia lakukan untuk mencegah lebih banyak kabar burung tentang Ionna dan keluarga Laundrell?
Lucian tinggal menyerahkan sisanya kepada Yang Mulia Raja. Sayangnya, kini masalah baru muncul. Ayahnya bisa kembali kapan saja setelah mendengar berita ini. Pria itu akan menghancurkan segala jerih-payah yang ia bangun selama tiga tahun dengan mengaku sebagai perwakilan Marquess.
Mendapati alis sang marquess berkerut, Jacob melanjutkan, “Saya tidak berhak mengatakan apapun, My Lord. Saya hanya akan mengabdikan diri pada Anda.”
“Ayah tidak akan berani. Walaupun kursi marquess kosong, dia tidak akan berani menyentuhnya.” Lucian mengangkat gelas kristal lalu menyesap brendi perlahan. “Kau tidak perlu mencemaskan Ayah, Jacob. Komandan Hailey akan memperketat penjagaan mansion dan townhouse sehingga tiada celah bagi Ayah masuk.”
“Tapi, My Lord—”
“Yang Mulia Raja ingin seseorang yang bisa bergerak secara diam-diam.,” potong Lucian tak acuh. Napas berat keluar bersama dengan asap keabu-abuan .“Menurutnya, tiada yang cocok dengan pekerjaan itu selain diriku.”
Jacob memasang ekspresi tidak puas. “Apakah ini tentang alkohol terlarang?”
Anggukan menjawab pertanyaannya. “Sebelumnya, Duke Ollardio telah memberitahuku tentang asal-muasal alkohol itu. Kerajaan Andasia. Kurasa hasil invesitigasi akhir sudah keluar sehingga Yang Mulia Raja semakin gencar memburuku.”
“Lantas, kenapa Anda menerimanya? Anda bisa menolaknya dengan mudah, My Lord. Selama ini Anda berhasil melakukannya.”
“Nyatanya, kali ini tidak berhasil. Aku gagal mempertahankan pendirianku untuk tidak terlibat dalam politik kotor kerajaan.”
Senyum pahit Lucian membuat hati Jacob mencelos. Wajah pria itu terlihat lelah. Gemerlap pesta dan pergaulan kelas atas pasti menyedot energinya malam ini. Ia ingin membiarkan tuannya beristirahat, namun seperti kata Lucian tadi, mereka tidak akan punya banyak waktu untuk berbicara besok. Jacob akan memanfaatkan sisa malam ini dengan baik, meski sedikit memaksakan ego.
“Lusa adalah sidang Pengadilan Tinggi Istana. Tinggallah di sini selama beberapa hari lagi dan hadirlah sebagai perwakilanku, Jacob.”
“Maaf?”
Jacob tersentak kaget. Bagaimana bisa orang tanpa status seperti dirinya diutus sebagai perwakilan seorang Marquess?
“Hukuman Joe Dansley akan ditetapkan hari itu.” Lucian menerawang langit malam di luar jendela. Bintang-bintang berkerlap-kerlip indah di angkasa kelam dan bulan bulat penuh menghiasi pemandangan di jendela bak lukisan. “Jangan biarkan Ansel membunuhnya sebelum hari ekskusi tiba. Dia sedikit mengesalkan setiap putusan bila tidak sesuai harapan.”
Jacob terpaksa mengangguk. Tiada satupun kerabat yang bisa Lucian andalkan sekarang. Apalagi Duke Laundrell yang ganas itu selalu haus darah.
“Berbicara tentang sang duke, bagaimana kondisi Her Ladyship, My Lord?” tanyanya Jacob was-was. Tiba-tiba ia teringat pada sang lady yang ditemuinya kemarin malam. Saat Jacob memberikan hadiahnya, wajah gadis itu langsung berseri-seri.
“Saya tidak bisa memercayai rumor yang terus bermunculan malam ini. Saya harap beliau baik-baik saja.”
“Aku tidak ingin memikirkan Lady Ionna. Dia tidak terlalu baik-baik saja untuk kita bahas.”
Mengalihkan pandang ke arah sang asisten, Lucian meneguk brendi sampai habis lalu menanggalkan gelas kristal dari tangannya. Ia pun bangkit, memilah-milah dokumen penting yang akan dibawa, lantas memasukkannya ke dalam koper kayu berhias emas. Ada banyak hal yang harus Lucian selesaikan sebelum fajar dan sekarang bukanlah waktu yang tempat untuk mengenang gadis berambut merah itu.
---
Annie seolah bisa menghabiskan kukunya menunggu kesatria pribadi sang nona datang. Ia bersembunyi di dalam ceruk tembok, mematikan nyala lilin, dan menahan napas tiap kali beberapa pengawal berseliweran di koridor utama. Townhouse Laundrell tidak pernah sepi di malam hari. Merupakan sebuah kesulitan bagi Annie mencuri informasi dari Raphael yang bisa mengetahui apa saja. Ia mendengar para pelayan townhouse bergunjing tentang lady mereka. Tidak menyangka bahwa mereka akan termakan rumor-rumor sialan itu. Bahkan para pelayan yang membantu Ionna berdandan tadi pagi pun tidak mau ketinggalan kereta. Sangat menyebalkan menahan sabar di depan orang-orang itu, sementara Nona Mudanya tak kunjung membuka mata.
Mendengar derap langkah mendekat, Annie pun melesakkan tubuhnya lebih dalam. Ia menempel seperti seekor cicak dan membekap mulut rapat-rapat. Begitu suara yang begitu dikenalnya memanggil, Annie sontak keluar dari tempat persembunyian.
“Lain kali, Anda tidak boleh bertindak gegabah, Miss Jam,” ujar Raphael memperingatkan. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan sekitar aman. Mereka berjalan menuruni tangga bersama lalu bersembunyi di balik patung zirah.
“Apa yang Anda inginkan? Sir Murson menyampaikan salam Anda dengan tergesa-gesa. Terlebih, di hari selarut ini, di koridor utama!”
“Tenanglah, Sir Raphael.” Annie meletakkan telunjuk di mulut kemudian berdesis pelan. “Apa Anda sudah dengar rumornya? Rumor Lady Ionna di pesta debutan?”
Ragu-ragu Raphael mengangguk. “Apakah kita bertemu untuk membahas omong kosong ini?”
“Tidak. Saya yakin Anda baru saja keluar dari ruangan His Grace.” Netra cokelat Annie menatap iris sehitam arang Raphael penuh harap. “Saya harap Anda mau berbagi sedikit informasi. Ini demi Her Ladyship, Sir. Apakah His Grace mengatakan sesuatu pada Anda?”
“Selain untuk membawa Her Ladyship pulang ke Celeton, tidak.” Mendadak Raphael merasakan lidahnya menjadi kelu. Ia memalingkan muka. Kerutan samar menghiasi keningnya. “Miss Jam, jika ini memang demi Her Ladyship, sebaiknya biarkan beliau mendengarkan penjelasan His Grace. Kita tidak bisa mendahului sang duke.”
“Sejujurnya, saya tidak terlalu memercayai Duke Laundrell.”
Raphael sontak memutar kepala dan memandang Annie kaget. Gadis ini bisa dipenggal di tempat bila kesatria Duke mendengar penyataannya barusan.
“Apa maksud Anda, Miss Jam? Jagalah kata-kata Anda!”
“Saya tidak percaya beliau akan mengatakan kebenarannya kepada Lady. Ini soal Marquess Carnold. Beliau telah menjadi anggota parlemen sekarang, bukan?”
“Hal itu sudah menjadi topik perbincangan paling panas di pergaulan kelas atas, Miss.”
“Maka dari itu.” Tangan Annie terkepal erat. Buku-buku jarinya memutih dan ia menghela napas dalam-dalam untuk mengontrol diri. “Maka dari itu, bisakah Anda sedikit bermurah hati kepada Her Ladyship? Dipikir bagaimanapun juga, berita ini tidak masuk di akal!”
Raphael mundur selangkah, menciptakan jarak dari pelayan pribadi sang lady tersebut. Ia menunduk meminta maaf. Tiada yang bisa ia sampaikan karena Duke Laundrell sendiri pun terlihat putus asa.
“Maafkan saya. Mari kita tunggu pengumuman resminya besok, Miss Jam.”
---
Ketika Ionna terbangun, hal pertama yang ia dapati adalah sinar mentari pagi yang menggelitik mata. Sejenak, ia terdiam memutar kembali ingatannya. Gadis itu mengangkat tangan kiri. Lengan gaunnya merosot, menampakkan goresan luka di sepanjang pergelangan tangan.
Matanya mendadak basah. Luka itu terlihat mengerikan bagi seorang lady sepertinya. Ionna tidak mengerti bisa-bisanya ia melampiaskan kesedihan kepada diri sendiri, selama bertahun-tahun. Seorang lady sempurna yang Duchess Laundrell harapkan nyatanya cacat di luar dan dalam. Kini, bagaimana bisa Ionna menegakkan kepala di depan para bangsawan setelah kejadian kemarin?
Mukanya tidak cukup tebal untuk menunjukkan batang hidung di pergaulan kelas atas.
Akhirnya, Ionna memilih membiarkan semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan. Ia sudah lelah melawan arus, karena seberapa keras ia berusaha, hasilnya akan percuma. Pertemuannya dengan Lady Diana Thesav dan kawan-kawannya mungkin adalah bagian takdir, takdir yang bodoh. Selanjutnya, ia harus menghadapi kemarahan Ibu dan rumor-rumor baru yang bermunculan.
Ionna pun menjerit di balik bantal, meredam tangis. Ia meraih laci nakas di samping ranjang untuk mencari benda itu, namun Annie yang baru saja masuk lekas menghentikannya.
“Annie, aku tidak bisa. Kumohon,” pintanya lirih. “Biarkan aku melakukannya. Dadaku, dadaku rasanya sakit sekali. Kepalaku nyaris pecah, Annie. Dengan cara apa lagi aku menghapus rasa sakit ini? Aku tidak bisa bernapas. Aku bisa mati!”
Annie menggeleng kuat. Isakannya beradu dengan tangis pilu sang lady. “Tidak, My Lady. Jangan. Saya tidak sanggup melihat Anda melukai diri.” Ia melempar sebuah gunting ke sudut ruangan, mendorong bahu Ionna menjauh hingga gadis itu jatuh terlentang.
Ionna mencoba bangkit, memberontak berusaha melepaskan diri dari kukungan pelayan pribadinya. Suara tangisnya makin menjadi. “Jangan coba-coba menghentikanku, Annie Jam! Bukankah kau sudah berjani akan mendukungku apapun yang terjadi? Kenapa kau menghalangiku!”
“Tidak, Lady Ionna! Tolong, dengarkan saya!”
“Berikan aku benda itu, Annie! Akh—”
Duak
Tiba-tiba Annie membenturkan dahi mereka. Bunyi benturan yang keras membuat telinga keduanya berdenging nyaring. Ionna merintih kesakitan, begitu pula Annie. Untuk sesaat, gadis itu merasakan pandangannya berputar-putar. Ia menatap wajah buram Annie sebelum suara bergetar si pelayan menari-nari di telinganya.
“Dengar, My Lady! Marquess—marquess Carnold!” Annie meraih pundak Ionna lalu mengguncangnya keras. “Marquess Carnold, beliau, beliau telah menjadi anggota parlemen dan pergi menaiki kereta di pagi buta! Saya tidak tahu ke mana beliau pergi, namun saya dengar perintah ini diturunkan secara langsung oleh His Majesty! Sekalipun itu His Grace, beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Apa Anda mendengarkan saya, My Lady? Lady Ionna?”
Kata-kata Annie bagaikan angin lalu. Ionna tidak mampu memikirkan hal lain selain kenyataan bahwa Lucian telah meninggalkannya. Ia tertawa dalam tangis, menatap kelima jarinya yang berkuku panjang, kemudian mencakar pergelangan tangan kirinya hingga berdarah.
Rasa sakit menariknya ke dalam kegelapan tak berujung. Untuk yang entah ke berapa kalinya, dunia Ionna runtuh detik itu juga.
To be continued