Setelah mengetahui putrinya bangun, Duchess Laundrell langsung memanggil Thomas, si dokter keluarga. Pemeriksaan menyeluruh dilakukan tanpa melewatkan satu detail pun. Saat si dokter meyakini tiada yang salah dengan tubuh Ionna, barulah pria berkacamata itu menyampaikan hasil pemeriksaannya.
“Kaki Lady Ionna yang terkilir semalam sudah bisa digerakkan. Saran saya, jika Anda ingin kembali ke Celeton, tolong tunda keberangkatannya besok, Madame.”
Duchess Laundrell menatap Thomas dengan mata memicing. “Bukankah dia sudah cukup beristirahat semalam? Kami akan melewatkan season. Berada di ibu kota lebih lama lagi akan menimbulkan masalah lain.”
“Ini bukan tentang kaki Lady yang terkilir, melainkan syok yang beliau alami, Madame. Pelayan berkata Lady Ionna tidak bisa memakan sarapan paginya. Saya rasa beliau butuh ketenangan di kamar sebelum melakukan perjalanan jauh.”
“Ionna memiliki gangguan pencernaan parah sejak kecil.”
Pernyataan itu refleks mendongakkan kepala Ionna. Apakah Ibunya baru saja mengatakan sesuatu tentang gangguan pencernaannya? Merupakan sebuah keajaiban yang datang sekali seumur hidup Duchess Laundrell mengingat penyakit putrinya.
“Jika dia sedang tertekan atau merasa cemas, gangguan pencernaannya akan kambuh.”
“Itu maksud saya, Madame.” Thomas mengulum senyum. Ia duduk di sofa lalu memilah-milah botol kaca yang tersusun rapi di dalam koper. “Saya akan menuliskan resep untuk membuat Lady Ionna membaik. Miss Jam, bisakah Anda mencampurkan obat ini dengan air hangat? Berikan pada Lady setiap sebelum makan.”
Annie mendekat dan dengan sopan menerima uluran botol kaca bewarna hijau lumut. Thomas menyodorkan botol kaca lain, kali ini campuran obat bewarna hijau keabu-abuan. “Dan berikan ini tiap kali Lady merasa mual. Kita bisa mengurangi efek muntah dari makanan yang beliau makan.”
“Baik, Sir.”
“Terima kasih, Sir Vivelac. Aku akan memanggilmu bila kami membutuhkan bantuan. Kau bisa pergi.”
“Kalau begitu, selamat pagi, Madame, My Lady.”
Thomas mengangkat topi lalu berjalan keluar didampingi Annie dan dua pelayan kamar. Duchess Laundrell tetap di sana, memperhatikan wajah putrinya yang sepucat mayat. Sejak ia bangun, Ionna sama sekali tidak bersuara. Gadis itu terlihat lemah, tak berdaya, dan hanya mengangguk membalas setiap ucapan sang ibu. Duchess berpikir apakah kejadian semalam membuat putrinya sesakit ini. Sorot kosong dalam matanya melempar Duchess di hari kematian suaminya. Ionna memiliki sorot yang sama saat sang ayah meninggal dunia.
“Apa Ansel menemui pagi ini?”
Kepala Ionna tertoleh mendengar pertanyaan Ibu. Ia mengangguk sekali. Dengan lemas, menempelkan punggung ke tumpukan bantal di belakangnya.
“Apa yang dia katakan?”
“Kakak memberitahu saya bahwa rumor-rumor itu terbukti salah.”
“Apa kau bisa bernapas lega sekarang? Kemunculanmu di debutan membuktikan kesalahan dari omong kosong itu.”
Persetan dengan kelegaan, Ionna lebih ingin mendengar penjelasan dari mulut Lucian Carnold. Pengumuman resmi telah diturunkan. Seantero kerajaan kini tahu bahwa Marquess Carnold merupakan bagian dari parlemen. Andasia, delegasi Gouvern untuk penyaluran bantuan, kepergian mendadak, dan kejelasan yang simpang-siur, kepala Ionna dipenuhi berbagai macam hal mengenai debutan dan desas-desus pengkhianatan Lucian.
Ionna yakin pria itu tidak mengkhianati Kakaknya. Mereka adalah teman baik dan ekspresi Ansel tadi pagi tidak seperti seseorang yang kena tipu. Pasti ada alasannya. Dan Ionna dibiarkan terombang-ambing dalam kebingungan seorang diri.
Tak lama kemudian, Annie muncul bersama troli makan dan gelas transparan bewarna hijau. Ionna tidak mengeluh ketika ia meminum cairan pahit itu dan memakan sarapannya tanpa rasa mual. Obat-obatan Thomas selalu ampuh meminimalisir efek suatu penyakit. Sayangnya, pria itu tinggal di ibu kota, bukan Celeton.
Duchess Laundrell berdeham menginterupsi acara makan Ionna.
“Kita menerima surat permintaan maaf tanpa nama. Orang-orang dalam surat itu mengaku salah telah menyebarkan rumor palsu tentangmu.”
Tangan Ionna berhenti di tengah perjalanan menuju mulut. Apa salah satu di antara pengirim surat tanpa nama itu adalah Diana dan teman-temannya?
“Kenapa tiba-tiba, Mama?”
“Itu adalah kebiasaan seorang pengecut.” Duchess Laundrell mengipasi diri, tampak puas. “Yang terpenting, sekarang namamu bersih dan repurtasi keluarga kita tidak tercemar.”
“Bolehkah saya membaca surat-suratnya?”
Gelengan Duchess Laundrell menegaskan penolakan. “Rumor keliaranmu, rumor kencanmu dengan Marquess, dan rumor-rumor baru yang akan muncul karena kejadian semalam, semuanya lenyap ditelan bumi.”
Bukankah itu terlalu janggal? Ionna menemukan adanya benang merah antara keputusan Lucian dengan menghilangnya rumor-rumor itu. Namun, ia tidak bisa mengutarakan pemikirannya kepada sang ibu.
“Bagaimana keadaan Lady Diana dan dua lady lain?” tanya Ionna was-was. Mereka bisa saja memutarbalikkan fakta dan menodong Ionna sebagai pelaku. Tidak ada yang aman selagi mulut Diana Thesav tidak dibungkam.
Duchess Laundrell menuangkan teh herbal beraroma menyengat. Bagus. Pagi ini Ionna akan meminum minuman beraroma rumput. “Kenapa kau memikirkan mereka? Penilaianku berubah. Aku tidak lagi menganggap Lady Diana sebagai gadis bangsawan yang berkualitas.”
Ionna memandang Ibunya tanpa ekspresi.
“Omong-omong, semalam ketiga lady dan keluarganya datang ke townhouse. Mereka meminta maaf secara langsung di hadapanku dan Ansel.”
“Maaf?”
“Mereka menyesal telah menyeretmu ke dalam pertengkaran mereka. Kejadian semalam, bukankah itu hanyalah pertengkaran kekanakan antar lady? Kenapa kau melindungi Lady Diana dari tamparan Lady Veronica, Ionna?”
Jelas-jelas mereka berbohong! Ionna merasa seperti ditampar untuk ketiga kalinya. Rahangnya jatuh secara dramatis. Ada apa dengan orang-orang itu hingga mereka menjadikan Ionna memegang peran sebagai pahlawan? Kenapa mereka rela mempertaruhkan reputasi mereka demi Ionna? Apakah ini semacam ancaman baru?
“Ma-mama percaya dengan pengakuan itu?”
“Kenapa tidak?” tandas Duchess Laundrell cepat. “Aku percaya putriku tidak akan melakukan perbuatan rendah. Aku telah mendidikmu dengan sangat baik. Selain itu, Marquess Carnold datang di saat yang tepat. Dia membawamu pergi dengan jubah.”
Jadi, sosok Lucian yang Ionna lihat semalam bukanlah imajinasi belaka? Ionna langsung kehilangan nafsu makannya. Lidahnya yang hambar semakin menolak menerima segala bentuk hidangan masuk ke mulut. Ia mencegah air matanya keluar. Pria itu benar-benar meninggalkannya tanpa penjelasan dan tanpa salam perpisahan. Ionna bukanlah sosok yang berarti dalam hidup Lucian.
“Annie.”
Tatkala nama pelayan pribadinya disebut, Ionna menyadari gadis berambut pirang itu juga di sana. Annie berdiri di sudut ruangan terjauh, memandangi tangan kirinya yang tertutup lengan gaun tidur. Ketukan sepatu kulit gadis itu mengudara di dalam kamar townhouse Ionna yang luas, menghampiri sang duchess kemudian membungkuk sopan.
“Ya, Madame?”
“Kompres pipi Ionna dengan es.”
“Baik.”
“Dan siapkan barang-barang Ionna secepat mungkin.”
Punggung Annie serasa disengat listrik berkekuatan tinggi. Bukannya Dokter Vivelac menyarankan supaya mereka menunda kepulangan sampai besok? Ada apa dengan Nyonyanya ini?
Menangkap arti tatapan terkejut Annie, Duchess Laundrell melirik sang putri yang lagi-lagi mengabaikan makanannya lalu memutar tumit ke arah pintu. “Kejadian di debutan mungkin mereda, namun, kita tidak tahu kapan badai menerjang jika tidak segera pergi dari ibukota. Aku akan menyuruh Paul menyiapkan kereta setelah makan siang.”
---
“Sepertinya akan ada badai yang datang.”
Guyonan Viscount Corton menemani perjalanan Lucian dua hari ini. Pak Tua gemuk pemilik kapal Aquamarine ini bersikeras ingin menawarkan kapal pribadinya mengantar sang marquess ke Andasia. Dengan fasilitas super mewah dan pelayanan kelas atas, Viscount berusaha merebut hati Lucian agar lelaki itu mau mempertimbangkan putri semata wayangnya. Kemunculan Marquess Carnold didebutan menjadi sorotan terpanas selama dua hari terakhir. Berdasarkan surat dari merpati pos, kesalahpahaman di malam debutan yang melibatkan tiga lady dan malaikat kecil Laundrell berangsur-angsur surut.
Duchess telah pulang ke Celeton bersama putrinya, memilih menghindari season demi harga dirinya yang tingi. Wanita yang mencintai repurtasi melebihi segalanya itu bersikap sombong karena rumor yang beredar di kalangan sosial tidak terbukti benar. Viscount pun mengakui hal tersebut. Bagaimana mungkin seorang gadis berwajah malaikat seperti Lady Ionna Laundrell memiliki perangai seburuk itu? Terlebih, diam-diam berkencan dengan sahabat Kakaknya. Sungguh rumor yang tidak bermoral!
Viscount melirik Lucian yang termenung melipat lengan di pembatas kapal. Kilau permukaan laut yang tertempa sinar mentari pagi beradu dengan kilauan yang terpancar dari rambut emas pria itu. Helaian halusnya melambai-lambai ditiup angin laut. Netra hijaunya yang menerawang jauh nun di sana memantulkan refleksi gelombang laut yang berayun-ayun tenang.
Lucian mengembuskan napas panjang tanpa sadar. Warna biru lautan, aquamarine layaknya nama kapal ini, merupakan warna yang sama dengan warna biru jernih sepasang iris Lady Ionna Laundrell. Biru yang selalu menatap Lucian dengan kilat-kilat cerah tiap kali pandangan mereka bertemu. Biru yang selalu menyembunyikan kecamuk emosi dan rasa sakit yang tidak dilihat siapapun. Dan biru yang selalu terkubur dalam air mata walau bibir sang lady membentuk lengkung senyum.
Selain warna biru yang mendominasi pemandangan kapal, warna merah senja yang Lucian nikmati di balik jendela kapal pun mengingatkannya pada sosok Ionna. Rambut merah gadis itu memiliki warna yang lebih terang dari Ibunya. Surai ikal bergelombang yang sulit diatur terkadang membuat sang lady mengeluh akan betapa susahnya merawat rambut. Ada banyak hal yang sesungguhnya menghantui hari-hari Lucian dengan bayang-bayang Ionna. Namun, ia telah berlaku tak adil pada gadis itu, seperti dunia yang tak pernah memberinya keadilan.
Tersentak dengan lamunannya sendiri, Lucian pun menoleh tatkala sebuah pipa panjang terulur di depannya. Ia tersenyum ke arah Viscount Corton. Pastilah pria paruh baya itu merasa bosan bermonolog di samping orang membosankan seperti Lucian.
Lucian menerima pipa tersebut dengan senang hati. “Kelihatannya suasana hati Anda sedang bagus. Apa terjadi hal baik hari ini, Viscount Corton?”
“Hal terbaik dalam hidup saya adalah melayani Anda, Marquess,” sahut Viscount Corton sembari mengisap pipa. Mulutnya membulat menghasilkan asap berbentuk huruf O. “Jika Anda berkenan,” sang viscount mengerling , memberi Lucian lirikan mencurigakan. “jika Anda berkenan, bisakah Anda mempertimbangkan putri saya, Eclotte, menjadi pengantin Anda? Saya rasa sudah waktunya bagi Anda menikah.”
Lucian mengeluarkan asap dari sela-sela bibirnya. Sudah ia duga pelayanan istimewa ini memiliki niat terselubung. “Saya tidak pernah bertemu dengan Lady Eclotte, Viscount.”
“Saya bisa mengatur pertemuan kalian di Andasia. Saya akan mengantar Eclotte menemui Anda.”
“Itu tidak boleh terjadi.”
“Kenapa, My Lord?” tanya Viscount dengan tatapan menuntut.
Lucian berdecak kecil. “Saya tidak ingin lady yang belum menikah menyebrangi lautan demi menemui seseorang yang sama sekali asing baginya. Ada baiknya Anda menjodohkan putri Anda dengan seseorang yang lebih baik dari saya.”
“Hanya karena Anda menarik diri dari pergaulan, My Lord, bukan berarti Anda tidak baik.”
“Apakah saya harus berkata saya tidak memiliki niatan untuk menikah dalam waktu dekat?”
Viscount tertawa masam dengan penolakan itu. Sayang sekali putrinya yang cantik tidak bisamendapatkan hati sang marquess.
“Ternyata benar kata orang. Bahkan Raja pun butuh waktu tiga tahun membujuk Anda ke parlemen.”
Tepatnya, memaksa. Dengan permainan kotor, trik licik, dan memanfaatkan sahabat serta Ionna. Lucian diam saja selagi Viscount menyesap anggur di gelas berleher panjang. Sepertinya, pria di sampingnya ini suka mabuk di pagi hari.
“Hari ini adalah sidang Joe Dansley, My Lord.”
Lucian mengangguk. “Ya.”
“Bagaimana cara Anda menangkap orang itu? Dia cukup berpengaruh di Grimfon. Saya dengar, dia memiliki penginapan bintang tiga yang disponsori Baron Rosette.”
“Seseorang membantu saya dalam penyelidikan. Itu sebabnya saya cepat menangkapnya.”
“Rumor pemberontak itu, apakah itu benar?”
“Sebuah rumor dikatakan rumor kalau tidak bisa dibuktikan. Bukan begitu, Viscount?”
“Termasuk rumor yang menyerang Lady Laundrell. Bukankah begitu, My Lord?”
Tulang belakang Lucian mengejit halus. Salah satu sudut bibir pemuda itu tertarik tipis. Viscount Rosette berusaha menggali sesuatu dari dirinya.
“Itulah mengapa rumor-rumor beliau tidak menjadi skandal yang besar. Tidak ada yang salah dengan Lady Ionna.”
“Lalu, bagaimana dengan rumor kencan kalian? Apakah ini alasan Anda mencampakkan putri saya?”
“Terlalu kasar menyebut penolakan sebagai pencampakkan, Viscount. Lady Eclotte adalah putri Anda. Berhati-hatilah dengan ucapan Anda,” koreksi Lucian. Kali ini ia menoleh ke arah pria pendek di sebelahnya. Viscount Corton memiliki kebiasaan buruk tidak bisa menjaga mulut dan selalu ingin tahu urusan orang lain. “Saya tidak ingn berkomentar tentang rumor itu. Orang bijak bisa menilai yang mana yang benar dan yang salah. Saya serahkan penilaian itu kepada Anda.”
“Sekarang saya mengerti mengapa Raja menyukai Anda.” Viscount tergelak menerima kekalahannya. Dia dikalahkan secara telak oleh pemuda dua puluh satu tahun ini. “Anda pandai bersilat lidah.”
Lucian tidak menjawab. Ia sibuk mengisap, mengembuskan asap, dan mengisap pipa lagi. Baru setelah beberapa saat berlalu, ia menjawab dengan nada datar.
“Saya menerima sanjungan itu, Viscount. Terima kasih.”
---
Dua malam sebelumnya.
Tiada yang memperkirakan kemunculan Yang Mulia Raja di tengah-tengah kekacauan. Koridor dan balkon terkutuk menjadi ramai seketika. Para anggota parlemen dan bangsawan yang penasaran berbondong-bondong mengerumuni tempat kejadian setelah melihat Duke Laundrell dan Marquess Carnold pergi dengan Lady Ionna di balik jubah.
Di koridor, orang-orang menyingkir memberi jalan dan membungkuk hormat. Yang Mulia Raja berjalan dengan gagah melewati celah itu, menghampiri Lady Diana Thesav yang menangis sesenggukan. Marquess Francaiss ada di sana, begitu pula dengan Count Swenpard serta Count Laurens menenangkan putri mereka. Mereka terihat malu para lady itu mengacau di debutan. Tak lama kemudian, ibu dari masing-masing lady muncul dan berteriak di belakang sana.
“Apa kalian baik-baik saja, Ladies?” tanya Yang Mulia Raja sambil berjongkok, menatap manik abu-abu gelap Diana Thesav yang berlinang air mata.
“Ah, Your Majesty.” Diana mencoba berdiri, namun gagal karena menginjak gaunnya sendiri. Raja mengulurkan tangan lalu membantu gadis itu berdiri.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Kulihat Marquess Carnold dan Duke Laundrell terburu-buru meninggalkan pesta.”
“Itu karena—” Lady Amanda batal membuka mulut ketika menyadari tatapan dingin Yang Mulia Raja pada Diana. Ia menutup mulut rapat-rapat. Kenapa atmosefer mendadak berat? Padahal mereka ingin memperburuk citra Ionna di pandangan masyarakat kalangan atas.
Raja tersenyum lebar hingga mata peraknya menyipit. Pria tua itu menyuruh anggota parlemen dan bangsawan supaya menikmati pesta, menyisakan ketiga lady dan para orang tua yang tampak tegang karena kehadirannya.
“Ini demi keluargamu, Lady Diana,” bisik Raja pada Diana yang tersentak akan perubahan suara dan ekspresi sang raja.
Bulu-bulu halus di tengkuk gadis itu meremang. Ia menahan napas saat Raja menambahkan, “Seandainya kalian berniat menyentuh Lady Laundrell lagi, aku tidak dapat menjamin keberlangsungan keluarga kalian di masa depan. Apa kau pikir aku tidak tahu perlakuan kalian pada gadis itu di Sanspearl? Kau cukup bernyali juga ternyata, Lady.”
“Yo-your Majesty.” Panggilan terbata-bata itu berasal dari Count Swenpard yang hampir kencing di celana.
Raja berbalik dengan sebelah alis mencuat.“Apa kau ingin memberikan pembelaan pada putrimu, Count? Mereka berkelahi seperti anak kecil di balkon Putri Rea. Nak, kalian berani sekali mengunjungi balkon terkutuk ini.”
Veronica mengamati Diana yang sudah pucat pasi. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan kulit wajah gadis itu.
“Lady Veronica, apa kau menampar Lady Laundrell? Lady Thesav baru saja memberitahuku.”
Veronica semakin dibuat tidak mengerti dengan bualan Yang Mulia Raja. Ada desakan dalam sorot mata Diana untuk mengangguk dan mengakui hal itu. Kenapa gadis itu terlihat ketakutan?
Veronica terpaksa mengangguk kaku. Detik berikutnya, terdengar pekikan sang ibu yang spontan mendekat dan menampar pipinya.
“Berani-beraninya kau menampar adik perempuan seorang Duke, Veronica! Apa Ibumu mengajarimu berbuat kurang ajar? Di mana kebijaksanaanmu?”
Tamparan dan rasa panas di pipi membekukan tubuh Veronica.
Count Swenpard yang lemah-lembut menepuk-nepuk punggung sang istri, mencegah wanita itu menampar putrinya lagi. “Tenanglah, Istriku. Ada His Majesty di sini.”
“Tidak, Suamiku! Ya Tuhan, apa yang telah kaulakukan, Veronica? Kita bisa saja mati esok hari bila His Grace mengetahui hal ini!”
“Ibu, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang Ibu pikirkan. Aku tidak—”
“Bagaimana kau menjelaskan ini, Amanda?” Lengkingan itu terdengar lebih nyaring lagi. Countess Laurens mencengkeram lengan Amanda lalu mengguncangnya kuat. “Apa kau sudah gila? Demi Tuhan! Lady Ionna adalah adik perempuan Duke Laundrell!”
“Mama!”
“Apa kau juga melukai Lady Laundrell? Kenapa kau di sini dan melewatkan dansa pertamamu!”
“Mama, aku tidak melakukan apapun, sungguh! Mama percayalah padaku!”
“Apa maksudmu His Majesty berbohong? Lancang sekali mulutmu, Amanda!”
Dalam sekejap, suasana menjadi di luar kendali. Diam-diam Raja tersenyum menyaksikan kehebohan itu. Ia telah memenuhi salah satu syarat yang diajukan Marquess Carnold. Dan lagi, anak-anak ini harus diberi pelajaran atau mereka akan terus melakukan hal yang sama kepada Lady Laundrell di masa depan.
Sementara Marquess Francaiss sibuk menenangkan Istrinya yang menangis, Raja memperhatikan Lady Diana Thesav yang menggigit bibir sambil mengepalkan tangan erat. Cermin abu-abu gadis itu tampak tak fokus. Ketakutan yang luar biasa menghapus rona segar di wajahnya. Raja menepuk-nepuk pundak Diana Thesav. Yakin betul gadis itu telah memahami apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan keluarga Pamannya.
“Saya— kami.” Napas Diana tersekat manakala ia mendongak dan mendapati kilatan tajam melintasi iris perak Raja. Semua orang pun mengalihkan perhatian kepada Diana, menantikan kalimat apa yang selanjutnya terlontas dari gadis berambut hitam tersebut.
“Ka-kami bertengkar di balkon ini.” Diana menelan ludah sukar. Bibirnya bergetar tak sanggup melanjutkan kata-kata. “La-lady Ionna datang bersama Lady Veronica. Beliau ingin melerai pertengkaran kami, Yo-your Majesty.”
Meraup oksigen banyak-banyak, Diana dapat merasakan tatapan kaget Veronica dan Amanda. “Lady Veronica tidak–ugh, tidak sengaja menampar beliau yang ingin melindungi saya hingga pingsan. Ini sepenuhnya kesalahan kami, Your Majesty. Beliau tidak terlibat apapun dalam masalah ini.”
Sanggahan demi sanggahan terus bersahutan dari mulut Veronica dan Amanda Laurens. Diana tak lagi berani mengangkat kepala, terlalu takut dan malu menghadapi karma.
Manusia akan menuai apa yang mereka tabur.
Ungkapan itu Diana pelajari dalam kelas filsafat dan sastra di akademi. Kini, ia telah merasakan taburan karmanya sendiri. Derajatnya turun dan nilainya memburuk di mata sosial. Sebentar lagi kabar pertengkaran ini akan menyebar di pergaulan kelas atas dengan gosip yang membahayakan repurtasi keluarga Marquess Francaiss.
Raja melipat lengan di d**a. Pergi bersama beberapa orang pengawal dan pelayan yang mengekor di belakangnya.
Sempurna.
Semuanya berjalan sesuai rencana Raja.
To be continued