Lima tahun kemudian
Teruntuk Marquess Carnold,
Bagaimana kabar Anda di sana? Saya harap Anda memiliki hari yang menyenangkan di Andasia. Lima tahun berlalu sejak kejadian itu dan setiap hari saya selalu berpikir apakah kepergian Anda ini ada hubungannya dengan peristiwa di malam debutan. Saya cukup malu untuk mengangkat kepala di hadapan Anda saat kelak Anda kembali. Semoga Anda tidak keberatan menerima sepucuk surat dari saya yang tidak tahu diri ini.
Salam,
Ionna Laundrell
Pena bulu itu berhenti menuliskan kata-kata di atas kertas. Tangannya berhenti bergerak menggoreskan tinta dan kata yang berseliweran di kepalanya. Sepucuk surat telah selesai ia tulis, lantas, bagaimana selanjutnya?
Pertanyaan itu terus menghantui dirinya selama ini. Selanjutnya, bagaimana? Haruskah ia mengirim surat itu melalui utusan keluarga Laundrell, merpati pos, atau menitipkannya pada Annie supaya pelayan pribadinya itu mengantarnya ke kantor pos? Ia telah berhasil mencuri alamat di mana Lucian tinggal dari ruang kerja Kakaknya.
Sebuah desa bernama Greenpald.
Sebuah desa di mana sawah-sawah membentang luas, namun drainase menjadi masalah utamanya. Andasia adalah kerajaan kecil yang berpusat pada sektor pertanian. Sebagai akibat perang, mereka kehilangan sebagian wilayah penghasil mata air dan menjadi satu di antara tiga kerajaan miskin. Ekonomi Andasia cukup sulit dalam beberapa tahun terakhir. Mereka tidak punya pemasukan yang stabil untuk mengembangkan sektor-sektor lain sehingga membutuhkan bantuan dari negara sahabat.
Menurut berita yang ia baca di koran, seorang duke di Andasia dapat memiliki kekayaan yang sama dengan seseorang bergelar count di Gouvern. Jarang sekali ada bangsawan kaya yang hidup berfoya-foya seperti bangsawan Gouvern. Mereka kesusahan dalam ekonomi dan hanya bergantung pada penghasilan sektor pertanian yang tidak seberapa. Oleh sebab itu, lima tahun ini, sejumlah kerajaan tetangga mengirimkan delegasi untuk penyaluran bantuan.
Yang Mulia Raja sengaja menarik Lucian ke dalam parlemen untuk mengirimnya ke Andasia. Siapapun setuju bahwa Marquess Carnold merupakan orang yang tepat untuk melaksanakan tugas seorang delegasi. Pria itu adalah orang yang kompeten.
Setelah terlalu lama tenggelam dalam lamunan, ia pun melipat surat tersebut dan membaringkannya di dalam kotak kayu. Kotak kayu itu memiliki taburan kelopak lavender yang wangi. Semerbak aroma khas lavender menguar saat ia membuka kotak dan menghitung sudah berapa puluh surat yang tidak pernah dikirim. Sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan miring. Alangkah baiknya surat itu sampai di tangan si penerima. Namun, ia tidak ingin mengganggu kesibukan Marquess Carnold dengan omong kosongnya.
Kriet
Pintu berderit halus ketika seseorang membukanya. Rambut pirang dan mata cokelat Annie Jam menguasai pandangannya begitu si pelayan menampakkan diri. Annie berjalan masuk lalu membungkuk memberi salam. Ia pun menutup kotak itu lalu meminta Annie menyimpannya di dalam laci nakas.
“My Lady.” Annie menghampiri sang nona yang duduk di kursi dekat jendela.
Lima tahun telah berlalu dan kini Ionna bukan lagi seorang gadis debutan yang baru mekar. Ionna telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang segar dan cantik. Figur indahnya menjadikan gadis itu sebagai ratu yang menguasai kecantikan pergaulan kelas atas. Manik aquamarine Ionna memiliki sisi misterius yang memikat, wajah mungilnya terlihat dua kali lebih dewasa, lekuk dan tiap jengkal tubuhnya menandakan kematangan seorang lady.
Ionna menjadi lady yang paling banyak diburu di pasar perjdohan. Selain karena paras ayunya, mahar yang disiapkan sang duke tidaklah main-main. Sayang sekali Ionna tidak berniat menikah walau usianya sudah matang. Penolakan demi penolakan mengalir menghancurkan hati para peminang. Selama lima tahun ini, tidak ada yang berubah dari perasaan Ionna terhadap Marquess Carnold. Salah bila pria itu berpikir Ionna akan melupakan perasaannya. Ionna bukan gadis gampangan yang bisa dengan mudah mencintai seseorang begitu saja.
Ionna menikmati sentuhan Annie yang menyanggul surai merahnya dalam sanggulan sederhana. Ia pun bangkit, lalu merentangkan tangan untuk memasukkan tangan ke lengan gaun. Tatkala Annie memasukkan tali ke lubang gaun di punggung, Ionna memandangi sekilas bekas sayatan lengan kirin sebelum menutupinya dengan sarung tangan brokat. Ia pun menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuh, mengoleskan lipstik merah muda di bibir, lantas berbalik menghadap kaca.
“Apa Mama dan Kakak sudah menungguku di ruang makan, Annie?” tanya Ionna sembari menekuri dirinya di cermin rias.
Annie mengangguk lalu menjepit anak rambut yang mencuat di kening sang lady. “Ya, tetapi His Grace buru-buru menghabiskan sarapannya lalu pergi menunggang kuda. Menurut pelayan ruang makan, beliau akan berburu bersama Yang Mulia Putra Mahkota.”
“Yang Mulia Putra Mahkota? Beliau mengunjungi Celeton?”
“Benar. Mengingat tunangan Putra Mahkota merupakan putri bungsu Duke Vergan, tidak mengherankan beliau berkunjung ke kediaman Laundrell.”
“Ah, Patricia. Kali terakhir aku melihatnya di pesta dansa Countess Parcey dua bulan lalu. Kami sering bertukar surat sebulan sekali.”
“Saya senang kalian tetap berhubungan baik.”
Kelopak mata Ionna bergerak turun. Seulas senyum kecut terukir .
“Karena dia satu-satunya teman yang kupunya, Annie.”
Menit-menit berikutnya, Ionna mendapati dirinya duduk di salah satu kursi ruang makan kediaman Laundrell. Tak berselera ia menyuapkan potongan roti ke dalam mulut. Satu minggu terakhir gangguan pencernaannya kambuh sehingga koki menghidangkan roti serta makanan berkuah khusus untuknya. Di pagi hari, Ionna merasakan cairan asam naik ke tenggorokan. Gejala itu akan membaik di siang hari lalu kembali kambuh di malam dan keesokan harinya.
“Ada lamaran yang datang pagi ini.”
Pernyataan Duchess Laundrell yang tiba-tiba itu hampir membuat Ionna tersedak dan muntah. “Ya?” Siapa pria malang itu, Mama?, lanjut Ionna dalam hati.
Ibunya menjawab sumringah. “Lord Vincent Robinson, putra Marquess Robinson dari duchy Barten.”
“Kami pernah sekali berdansa di season tahun lalu.”
“Apa kau ingin mempertimbangkannya? Dia seorang ahli waris yang sempurna, Ionna.”
Ah, Ionna tidak lupa bahwa Ibunya ini sangat berambisi dengan para pewaris muda. Setiap putra duke atau marquess yang mengirimkan surat lamaran, beliau akan membawa dan membahasnya di meja makan. Berbeda halnya dengan pewaris gelar count atau viscount yang berani mencalonkan diri sebagai peminang Ionna, sang duchess akan langsung membakar surat lamaran yang datang bersama setumpuk hadiah mewah.
“Kau tidak akan lekas menikah bila terus menolak.”
Ionna menanggalkan sendok sup lalu mengelap bibirnya yang basah. Selera makannya hilang sudah. Ia memilih tidak menjawab dan mendengar omelan sang ibu lebih lanjut.
“Kau terlalu banyak berangan. Jangan harapkan apapun dari kehidupan pernikahan para bangsawan. Para lady seusiamu telah melahirkan seorang pewaris dan kau masih saja menunda pernikahan?”
“Kalau begitu, apa Papa dan Mama tidak saling mencintai?”
Duchess Laundrell melotot kaget. Garpu dan pisaunya jatuh, berdenting nyaring di atas piring keramik. Ionna terlonjak tidak sengaja melontarkan pertanyaan kurang ajar itu. Wajahnya pucat pasi saat sang ibu menunjuknya marah.
“Kau! Berani-beraninya kau!”
“Maafkan saya, Mama.” Ionna menundukkan kepala. Mengutuk diri yang bisa-bisanya selancang itu menanyakan perasaan Ayah dan Ibunya. Mereka jelas-jelas menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis. Jika Ibunya tidak mencintai sang ayah, wanita itu bisa saja memiliki pria simpanan dan menjalani affair diam-diam. Mengingat usia sang ibu dan wajah cantiknya pun, wanita itu bisa menikah untuk yang kedua kalinya. Namun, Duchess Laundrell tidak melakukannya. Bukankah itu artinya Duchess Laundrell sangat mencintai mendiang suaminya? Ionna sudah benar-benar kelewatan.
“Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang? Aku tidak ingin rumor yang sama terulang dan menimbulkan skandal besar, Ionna,” kata sang duchess dingin. Tampaknya, akhir-akhir ini ia terlalu banyak memberi Ionna kebebasan sehingga gadis itu melupakan kebijaksanaanya.
Ionna menggigit bagian dalam bibir. Alasan selama ini ia menunda pernikahan adalah karena Ansel. Kakaknya itu tampak santai mengabaikan desakan para tetua Laundrell yang menginginkan duchess baru dan ahli waris. Sang kakak pun mendukungnya dan terus membujuk sang ibu yang mengincar putra sulung Duke Magnolia. Sayangnya, Ionna telah menyulut emosi ibunya. Sebentar lagi, keputusan seenak jidat pasti akan terlontar dari mulut wanita empat puluh tujuh tahun itu.
“Ti-tidak, Mama,” jawa Ionna ternbata.
Duchess Laundrell kembali memakan sarapannya. “Bagus.”
Ionna menahan napas. Entah kenapa, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Jika kau tidak memilih calon sampai tahun ini berakhir, berjanjilah bahwa kau akan menerima segala keputusanku. Siapapun yang kaunikahi kelak, aku tidak peduli jika itu ada hubungannya dengan perasaamu atau tidak. Aku akan bersikap tegas kali ini, Ionna. Camkan itu baik-baik.”
To be continued