21. Who's Fault?

1683 Kata
“Kau putra mahkota yang bodoh, tidak berguna, dan payah.” “Katakan saja payah. Tidak usah menambahkan hinaan berarti sama.” “Dungu.” “Ya sudah terserah kau, Ansel.” Rasanya Ansel benar-benar ingin menusuk kepala pria sombong di sampingnya ini dengan panah. Mereka sedang berburu di hutan, pagi-pagi sekali setelah Putra Mahkota Kerajaan Gouvern berkunjung ke kediaman Laundrell di tengah sarapan. Sebelumnya, Ansel telah mengantisipasi kunjungan mendadak Elias, putra mahkota bodoh itu, mengingat dia sedang berada di duchy Vergan. Namun, datang di pagi hari saat ia berbincang dengan sang ibu tentang lamaran Ionna merupakan sesuatu yang menyebalkan. Adiknya itu sama sekali tidak berminat dengan pernikahan, setidaknya untuk saat ini. Ansel ingin Ionna menikmati waktu lajangnya sepuas mungkin tanpa didesak pernikahan s. Sayangnya, Ansel lupa bila sang ibu sangat tunduk pada kata-kata tetua Laundrell. Orang-orang tua itu tidak akan membiarkan keturunan mereka hidup dengan tenang. “Apa kau sekesal itu padaku hingga terus memanah pohon yang tidak bersalah?” tanya Elyas. Mereka memang sedang berburu, tetapi yang sedari tadi mereka lakukan hanyalah berputar-putar di tempat yang sama dan melakukan aktivitas yang sama pula. Ansel mendekati pohon malang yang menjadi objek pelampiasannya. Mencabuti satu-persatu panah yang menancap, ia memelotot lalu mengarahkan salah satu ujung panah ke mata Elyas. “Jika membunuh seorang putra mahkota bukanlah tindakan melawan hukum, aku akan memulainya dengan menusuk matamu, Elyas.” Seringai tipis muncul di wajah sombong Elyas. Pria itu merebut panah dan balik mengarahkannya pada Ansel. “Kalau membunuh seorang duke tidak akan menurunkanku dari kursi takhta, aku pasti sudah menebas kepalamu terlebih dulu, Sobatku.” “Sialan.” “Seharusnya aku yang mengumpat karena kau bersikap seenaknya pada keluarga kerajaan.” “Kau adalah pengecualian.” “Kau memang menakutkan, Kawanku.” Gelak tawa Elyas pun mengudara. Ansel mendengus kesal. Dikibaskannya tali kekang Brown, kuda cokelatnya yang kuat dan gagah, meninggalkan Elyas. Ia akan membiarkan pria berisik itu tersesat di hutan sendirian. “Hei, tunggu aku!” Dengan cepat Elyas mengejar. Kuda mereka berjalan beriringan meninggalkan area hutan. Masih dengan tanda tanya di kepala, Elyas meyakini kekesalan Ansel ini tidak semata-mata karena kedatangannya. Pasti ada sesuatu yang lain. “Kau gagal mendapatkannya,” cetus Ansel di sela-sela perjalanan mereka. Kalimat itu menengokkan kepala Elyas. “Maksudmu? Dokumen perjanjian Ayah dan Lucian? Kau mau aku mati dibunuh sebelum menjadi raja?” “Kau sering berkeliaran di sekitar ayahmu. Ke mana saja kau lima tahun ini? Apa kau cuma membual tentang usahamu?” Elyas refleks meninju lengan Ansel. “Ayah mengawasi gerak-gerikku, Bodoh. Sama sekali tidak ada celah. Dokumen itu disimpan dalam brankas yang diletakkan di ruang rahasia kamar Ayah. Bagian luar kamar dijaga sepuluh kesatria setiap hari. Kau pikir aku bisa mengambilnya?” “Lompat dari balkon.Kau bisa menyelinap masuk dari jendela kamar ayahmu. Kau ‘kan ahli mencuri mangga di akademi.” “Ada empat kesatria yang berjaga di balkon. Pernah sekali aku diam-diam menerobos masuk. Bukannya mendapatkan dokumen itu, aku malah dibuat pingsan oleh kesatria Ayah. Mereka semua menakutkan.” “Tinggal bunuh saja.” “Mudah mengatakannya. Kau yang tinggal menunggu hasil di kediamanmu sibuk bersenda-gurau dengan adik perempuanmu yang manis.” Ansel mendecih. Elyas selalu membandingkan kehidupannya dengan Ansel. Padahal untuk apa merasa iri dengan adik perempuannya jika dia sendiri sudah memiliki tiga orang adik perempuan? Ansel mengurutkan nama-nama putri kerajaan Gouvern. Putri Thiya yang misterius, Putri Melissa yang bersuara merdu, serta Putri Isaura yang penyayang. Putri Reanna, saudari kembar Putri Thiya meninggal di usia lima belas tahun. Ansel menyayangkan gadis ceria yang amat berbanding balik dengan sifat saudari kembarnya yang tertutup. Kematian sang putri membawa duka mendalam bagi seluruh rakyat Gouvern. Berbicara soal dokumen, Ansel meminta bantuan—lebih tepatnya menyuruh—Elyas, putra mahkota sekaligus teman seperbrobrokannya di akademi. Ia, Lucian, dan Elyas merupakan sahabat sekarib seperbodohan. Mungkin di antara mereka bertiga, Lucianlah yang paling waras. Dokumen yang mereka bahas tadi merupakan dokumen pernyataan pengabdian Lucian terhadap Raja. Ansel tidak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa kesepakatan yang Lucian maksud lima tahun silam juga tertuang dalam dokumen tersebut. Apa dan bagaimana persyaratan yang pria itu ajukan kepada Raja, Ansel sangat ingin mengetahuinya. Berlandaskan rasa sama-sama penasaran, Elyas pun setuju untuk mencari tahu. Akan tetapi, usaha lima tahunnya tidak membuahkan hasil. Seluruh dokumen pernyataan anggota parlemen disimpan dalam brankas yang diletakkan di ruang rahasia kamar Raja. Ayahnya itu, selain licik, ternyata ia juga cerdik. Tiba-tiba Brown meringkik dan menghentikan langkah. Mereka sudah sampai di ujung hutan ketika Elyas membulatkan mata melihat siapa orang yang datang. “Ups, tampaknya adik perempuanmu yang manis merindukanmu, Kawan.” Lady Ionna Laundrell dalam pakaian berkuda menghampiri mereka dengan senyum cerah. Ia datang ditemani sang kesatria, Raphael Trops, serta pelayan pribadinya, Annie Jam. Kuda bercorak hitam putih sang lady berjalan anggun menyusuri rerumputan tinggi di sekitarnya. “Salam bagi bintang kerajaan. Selamat pagi, Your Higness,” salam Ionna sambil mengangguk santun. Elyas berkeringat, melirik Ansel yang menatapnya tajam. Ia pun membalas salam itu dengan segaris senyum tipis. “Selamat pagi, My Lady. Kuharap kedatanganku tidak membuatmu kecewa. Kau tidak bisa menghabiskan sarapan bersama kakakmu tercinta.” Brengsek. Elyas bisa mendengar u*****n itu dari suara hati Ansel. “Tidak, Your Higness. Saya ke mari untuk memberi salam dan menanyakan kabar Lady Particia. Anda bisa membawa Kakak saya selama apa yang Anda mau.” Apa ini artinya Ansel dicampakkan adiknya sendiri? Tawa Elyas pun meledak-ledak. “Hahah, astaga, My Lady. Aku sangat menyukaimu.” “Elyas!” seru Ansel memperingatkan. Annie dan Raphael Trops terkejut. Mungkin hanya Duke Laundrell-lah satu-satunya orang yang berani membentak seorang Putra Mahkota. “Sia banyak membicarakanmu, My Lady. Kudengar kalian berteman baik di Sanspearl.” “Lady Patricia selalu mendengarkan cerita saya.” Ionna tersenyum mengenang pertemanannya dengan Patricia Vergan. “Saya senang sang lady menceritakan pertemanan kami pada Anda.” “Kami sepakat saling berbagi kisah masa lalu, termasuk dengan siapa kami berteman, My Lady.” Manik silver Elyas kemudian beguling ke arah Ansel yang tumben-tumbennya tidak menimpali. Ia menangkap ada makna tersirat dari tatapan Lady Ionna terhadap sang kakak. Akhirnya, Elyas memutuskan pamit undur diri, berkata akan menunggu Ansel di kediaman Laundrell sebelum kembali ke ibu kota. “Annie, Raphael, antar Putra Mahkota ke salah satu kamar dan biarkan dia istirahat sampai aku kembali. Aku akan menemani Ionna berkeliling di sekitar sini,” titah Ansel. Annie menunduk hormat, sementara Raphael menyahut tegas. “Aye, My Lord.” Sedetik kemudian, ketiga manusia itu melenggang pergi dengan kuda masing-masing. Ansel memajukan Brown mendekati Chelsea, kuda Ionna, kemudian mencium punggung tangan sang adik. “Apa yang kaulakukan di sini, Ionna? Kau tidak perlu menyambut b*****h itu. Biarkan dia datang dan pergi dengan sendirinya.” “Apa kau tidak punya sedikit rasa hormat? His Highness akan menjadi raja Gouvern di masa depan.” “Jangan khawatir. Sekalipun aku menghajarnya, dia tidak akan menghukumku. Itulah cara kami berteman.” “Aku tidak mengkhawatirkanmu, Idiot.” Ionna menjalankan Chelsea melewati Ansel, disusul sang kakak yang segera menyamakan langkah kuda mereka. Selama lima belas menit, mereka terdiam menikmati pemandangan alam. Area di luar hutan merupakan tanah lapang yang luas. Rerumputan hijau tumbuh pendek-pendek, bebatuan berlumut, semak-semak belukar, hingga tanaman liar berbunga menjadi pesona salah satu surga tersembunyi duchy Laundrell. Ionna berusaha turun dari Chelsea dengan rok berkudanya yang berat. Ia nyaris terjatuh bila sang kakak tidak sigap menangkapnya. “Kau memiliki kebiasaan buruk tidak memperhatikan langkah. Chelsea, apa kau baik-baik saja, Sayang? Pemilikmu hampir melukaimu.” Ionna menepis kasar tangan Ansel yang mengelus-elus rambut kudanya. Sementara itu, Chelsea mengangkat dua kaki depannya, meringkik kegirangan karena perlakuan sang duke. “Jangan sentuh dia.” Iris indigo Ansel melirik adiknya yang bertampang masam. “Kenapa kau terlihat kesal?” “Kau tahu kenapa aku repot-repot berkuda ke mari menemuimu.” “Untuk menceramahiku?” Dengusan Ionna menegakkan bulu kuduk Ansel. “Kau menerima lamaran itu, bukan?” Napas Ansel seolah tercuri dari paru-parunya. “Mama membahas lamaran Young Lord Robinson. Kenapa kau memberikan surat lamaran itu pada Mama?” Ansel mengangkat tangan tanda menyerah. “Dia anak yang baik, Ionna. Dia juniorku di akademi. Aku mengenalnya lebih baik dari siapapun dan berani bersumpah Vincent Robinson adalah pengantin pria yang tepat untukmu.” “Kenapa kau selalu begitu? Lagi-lagi, pendapatku tidak didengarkan.” “Ionna, maafkan aku. Aku tidak—” “Kau bisa bebas menentukan dengan siapa dan kapan kau akan menikah. Kenapa aku tidak?” Ansel kehabisan kata. Ia bisa melihat nyala api berpijar dalam aquamarine adik perempuannya. Sesungguhnya, Ansel tidak mengerti mengapa gadis ini terus menghindari topik pernikahan. Usianya sudah dua puluh dua tahun. Dia bukanlah seorang jentelman yang bisa sesuka hati menunda pernikahan hingga puas dengan petualangan masa muda. Prosepek masa depan Ionna begitu cerah sampai sekarang. Namun, hal itu bisa saja tidak berlaku dalam beberapa tahun ke depan. “Aku takut para tetua memilihkan calon suamimu, Ionna.” Ionna spontan mendongak, memandang wajah sang kakak yang disinari cahaya mentari pagi. Surai hitam pria itu itu tidak ditata rapi pagi ini. Di depan putra mahkota, ia justru hanya mengenakan atasan polos bewarna putih dan celana ketat cokelat seolah sedang membaca koran di balkon kamar. Ansel tidak pernah terlihat sesantai ini sejak menjadi duke. Baru-baru ini ia bahkan dikirim ke medan perang saat pasukan Gouvern nyaris mengalami kekalahan. Dalam waktu dua bulan Kakaknya mampu memenangkan peperangan. Dalam pidato singkatnya di pesta kemenangan setengah tahun yang lalu, Ansel menyebut Ionna-lah yang menjadi alasan hidupnya selama di medan perang. Dasar menggelikan. “Kau terlambat,” gumam Ionna tanpa sadar. Alis Ansel bertaut pada satu titik. “Apa?” “Karenamu menerima surat lamaran itu dan memberikannya pada Mama,” Ionna bangkit dengan sejumput rumput di tangannya. “Aku harus memilih peminang sebelum akhir tahun atau aku harus menikah dengan pria pilihan Mama.” Ansel menahan napas. “Itu tidak akan terjadi, Ionna. Aku akan bicara pada Ibu dan melarangnya mengambil keputusan sepihak.” Rumput tadi terlempar ke arah sang kakak, mengenai pakaian dan m*****i d**a kiri pria itu dengan tanah. “Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Tetapi, jika sekali lagi kau membuatku kesulitan, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Kakak. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN