Greenpald.
Kali pertama Lucian datang di desa ini, kemiskinan, kelaparan, dan kematian ada di mana-mana. Andasia benar-benar membutuhkan bantuan, tidak, melainkan perubahan. Greenpald menjadi daerah terdekat dari lokasi perang sehingga mereka kehilangan separuh dari jumlah penduduk. Daerah penghasil mata air telah direbut. Sawah dan berbagai sektor pertanian mengalami krisis kekeringan parah. Tidak banyak yang bisa dilakukan Raja Andasia sementara wabah di daerah selatan juga membutuhkan dana lebih.
Barulah setelah bantuan pasukan negara sahabat datang, Andasia dapat memukul mundur para penjajah. Negara-negara sahabat yang bersimpati mulai mengirimkan delegasi untuk pendistribusian bantuan. Dari Kerajaan Gouvern, dirinya, Marquess Carnold yang ditugaskan mengawasi dan memperbaiki masalah pertanian Greenpald.
Raja tampaknya telah menyiapkan segala hal dengan rapi. Selain sebagai delegasi penyaluran bantuan, para petinggi kerajaan maupun bangsawan setempat tidak mengetahui tujuan kedatangan Lucian sebenarnya. Selama lima tahun Lucian mengumpulkan bukti-bukti penyebaran alkohol terlarang di Andasia secara diam-diam. Selama itu pula, Lucian berhasil membawa perubahan signifikan pada sektor pertanian kerajaan kecil ini. Lucian menemukan mata air tersembunyi di balik Gunung Emred. Perencanaan sistem drainase hingga penerapannya, semua diurus secara langsung oleh Lucian sendiri.
Count Hernsberg, penguasa Gernpald, merasa bersyukur dengan kehadiran Lucian di desanya. Pria itu telah banyak berjasa dengan kemajuan perkembangan sektor pertanian lima tahun ini. Ekonomi Andasia mulai stabil, para delegasi mulai ditarik ke kerajaan masing-masing, dan kini Andasia hanya perlu memperhatikan sumber daya yang ada serta memperkuat kekuatan militer.
Lucian berjalan-jalan di sekitar ladang kediaman Count. Para petani penggarap tampak bersemangat ketika melihatnya dan refleks membungkuk hormat. Lucian berhenti sejenak untuk menyapa para gadis desa yang mengantar makanan kepada para orang tua. Entah mengapa, sosok Lucian menjadi begitu populer di sini.
“I-ini untuk Anda, My Lord,” ucap seorang wanita tua dengan pakaian penuh lumpur.
Lucian menyambut sesuatu yang dibungkus sapu tangan itu dengan senyum tipis. Menggumamkan terima kasih lalu menyimpannya di balik saku celana. Count Hernsberg yang sejak tadi berdiri di sampingnya melipat tangan, mengerling jahil saat wanita itu pergi.
“Agaknya, Anda juga terkenal di kalangan wanita lansia, My Lord,” goda sang count.
Lucian menggeleng kecil. Seekor capung hinggap di jari manisnya. “Semua orang terlalu berlebihan menyanjung saya. Saya tidak bisa menerima semua pujian itu, Count.”
“Tetapi, begitulah kenyataannya, My Lord. Anda sangat ramah dan menghormati orang lain. Bahkan Anda tetap bersikap formal walau saya berkata telah menganggap Anda seperti putra sendiri.”
“Terkadang, saya tidak mengerti mengapa orang-orang melihat saya sebagai orang yang ramah,” gumam Lucian. Ia mendekatkan wajah dan memperhatikan si capung. Musim panas adalah waktunya para serangga bermain-main di alam bebas. “Sebagian orang melihat saya sebagai orang yang angkuh. Anda pasti mendengar desas-desus bahwa saya menarik diri dari pergaulan kelas atas di Gouvern.”
“Kami bangsawan Andasia tidak memiliki waktu memikirkan dunia sosial, My Lord. Menurut saya, Anda berhak memutuskan ingin terjun atau tidak. Tiada yang salah dengan menghindari masalah di pergaulan kelas atas.”
“Seandainya semua orang berpikiran terbuka seperti Anda, Count, saya yakin tidak akan ada yang namanya rumor di dunia ini.”
“Sayangnya, kita hidup berdampingan dengan rumor. Hal itu tidak bisa kita hindari, My Lord.”
“Benar.”
Capung itu kemudian kembali menggerakkan sayapnya di udara. Lucian menyipit mengikuti ke mana si capung pergi. Capung itu terbang melewati rerumputan hijau, menembus udara musim panas yang kering, lalu menghilang ketika Lucian mengedipkan mata. Alangkah bebasnya kehidupan yang dimiliki si capung. Ia bisa terbang ke manapuntanpa memikirkan beban dan tanggung jawab seorang marquess.
Mereka melanjutkan langkah menyusuri jalan setapak berkerikil. Suara cangkul beradu dengan bunyi cipratan air dari ladang berlumpur. Di Andasia, musim panas merupakan musimnya menanam tanaman ladang. Gandum, ubi-ubian, hingga berbagai macam sayuran tumbuh dengan baik di tanah Greenpald yang subur. Lucian menemukan fakta bahwa sebelum perang, warga Greenpald tidak pernah khawatir terjadi kekeringan di musim panas karena sumber mata air yang berlimpah. Namun setelah sebagian wilayah direbut, mereka kesulitan mencari sumber mata air dan mencoba metode-metode baru untuk bercocok tanam. Berkat itu, para penduduk Greenpald kini telah terbiasa menangani masalah-masalah krisis sekalipun.
Tidak terasa lima tahun telah berlalu, batin Lucian. Ia memasukkan sapu tangan yang menjuntai dari keluar saku celana. Selama lima tahun ini pula ia terus menyurati Ansel, sang sahabat, dan memberikan laporan rutin penyelidikan serta perkembangan distribusi bantuan kepada Yang Mulia Raja.
Urusannya di sini hampir selesai dan Lucian harus segera kembali ke Gouvern untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai marquess. Kepulangannya nanti pasti akan disambut tinju Ansel dan Elyas yang dirundung penasaran dengan isi kesepakatannya dengan Raja.
Sekali lagi, kaki Lucian terhenti. Capung tadi terbang melewatinya. Lucian seakan dipaksa mengingat sesuatu—seseorang yang sengaja ia lupakan lima tahun ini. Warna merah menyala dan biru laut cemerlang kembali merasuki ingatannya setelah sekian lama. Warna-warna terang itu mengingatkannya pada seseorang, pada makhluk cantik yang tiba-tiba muncul di alam bawah sadarnya. Warna-warna itu tercermin indah dalam kedua netra hijau Lucian yang bergetar samar. Rasa-rasanya, Lucian ingin sekali memukul dirinya sendiri dan menghapus ilusi yang ia lihat di ujung jalan setapak itu. Bagaimana, bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Bagaimana bisa pemilik warna-warna itu berjalan ke arahnya dengan langkah mantap penuh kepastian?
Lucian tak lagi mampu mengenali ilusi dan realita. Semakin lama, perpaduan warna itu semakin mendekatinya. Tangan Lucian gemetar mencengkeram garis jahitan celanyang ia kenakan. Bisa-bisanya Ansel yang ceroboh membiarkan adik perempuannya menyeberangi lautan dan berjalan sendirian di tempat asing. Apapria itu sudah gila? Ataukah Lucian sendiri yang gila?
Jakun Lucian bergerak turun saat ia menelan ludah. Ia hendak mengucapkan nama yang sudah lama tidak terucap di bibirnya, namun, gerakan mendadak Count Hernsberg membuyarkan semua ilusinya. Satu nama terlontar nyaring dari mulut pria sang count dan Lucian tersadar bahwa sosok yang dulihatnya bukanlah Lady Ionna Laundrell.
“Evangeline?”
Lucian pun memusatkan fokus secepat yang ia bisa. Ilusi warna merah dan biru laut yang muncul dalam benaknya ternyata hanyalah warna gaun yang dipakai Lady Evangeline Hernsberg, putri semata wayang Count Hernsberg. Gadis bersurai legam dengan sepasang permata violet itu tersenyum kala sang ayah memeluknya. Sedetik kemudian, ia pun melepas pelukan mereka, menekuk lutut kepada Lucian, dan memutar-mutar payung di genggamannya gugup.
“My Lord,” sapa Lady Evangeline.
“Lady Eva.”
Evangeline berdeham menghilangkan sengatan aneh yang muncul ketika Lucian memanggil nama kecilnya.
“Apa saya mengganggu waktu jalan-jalan kalian, My Lord?” tanya Eva, merasa sedikit tidak enak menyadari wajah kaku Lucian.
Lucian menggeleng sekali, melirik Count Hernsberg yang terkekeh geli karena kecanggungan mereka. “Tidak, My Lady. Kami memang berniat mengakhiri pengecekan hari ini dan pulang ke kediaman Hernsberg. Apa yang Anda lakukan di sini?”
“Menjemput Anda.”
Kalimat terang-terangan itu sontak membuat Count Herneberg mengayunkan kaki meninggalkan putrinya dan sang marquess berdua. Lucian terdiam menatap kepergian pria lima puluh tahunan itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun memangkas jarak di antara dirinya dan Eva, mengulurkan telapak tangan, bermaksud meminta payung yang dipegang sang lady.
“Dengan senang hati saya memberikannya, My Lord.”
Lalu sebuah cincin perak berbatu safir tertangkap pengelihatan Lucian.
Lady Evangeline menyerahkan payung biru kepada Lucian yang tidak lain dan tidak bukan adalah tunangannya. Senyum kian lebar menarik pipi. Dengan percaya diri, Lady Evangeline Hernsberg menyelipkan tangan ke lengan kiri sang marguess yang menganggur.
“Saya ke mari untuk memberitahu Anda bahwa Anda menerima surat dari Gouvern, My Lord,” ujar Evangeline sembari menempelkan kepala di lengan kekar pria pirang itu.
Di bawah naungan payung yang sama, mereka berjalan beriringan memamerkan kemesraan pada gadis-gadis desa yang patah hati.Sayang sekali. Marquess tampan yang dikagumi kaum hawa ini adalah tunangannya. Dunia terkadang bisa menjadi tidak adil bila menyangkut keberuntungan, bukan?
To be continued