Mereka berpisah di halaman depan kediaman Count Hernsberg yang sederhana. Lucian menyerahkan kembali payung itu kepada Eva, menganggukkan kepala saat Eva menunduk memberi salam perpisahan.
“Kalau begitu, kita bertemu saat makan malam, Lady.”
“Tentu, My Lord.”
Sepeninggal Eva, Lucian pun menghampiri Robert yang menunggu di kolam minum burung. Pria itu tampak asyik mengamati burung-burung kecil yang mencelupkan paruh ke genangan air. Lucian menepuk pundak satu-satunya orang yang ia bawa dari Gouvern itu, kemudian menengadahkan tangan.
“Eh? Selamat pagi, My Lord,” salam Robert setengah kaget. Aktivitasnya barusan cukup menyita seluruh perhatian yang ia punya.
“Di mana suratnya, Robert?”
“Ini.” Robert menyodorkan selembar surat dengan segel lilin bergambarkan lambang keluarga Carnold. Hanya Jacob yang bisa menggunakan stempel keluarga sebagai perwakilan sang marquess.
“Terima kasih, kau boleh pergi sekarang.”
“Secepat itu?”
Lucian menghela napas menanggapi protes Robert. “Apa yang ingin kaukatakan, Robert?”
“Itu.” Robert menggaruk dagu ragu. “Sudah lima tahun, My Lord.”
“Aku tahu.”
“Penyelidikan alkohol terlarang hampir tuntas dan, eum, dan apa Anda tidak berniat kembali ke Celeton?”
Agaknya, keluhan Robert tempo hari disebabkan karena pria itu merindukan kekasihnya di Celeton. Robert berusia beberapa tahun lebih muda dari Lucian. Saat Lucian merekrut Robert sebagai utusan keluarga, pemuda ini masih berusia lima belas tahun. Lucian menemukan Robert dipukuli di pasar kota setelah ketahuan mencuri apel dan menyelamatkan keluarganya dari jeratan kemiskinan. Karena kebaikannya tersebut, Robert pun bersumpah akan melayani Lucian seumur hidup dan menggantikan posisi Jacob bila pria tua itu pensiun. Robert memiliki selera humor yang terkadang membuat orang lain salah paham.
“Aku baru saja memikirkannya,” jawab Lucian sambil membuka segel lilin dan membaca goresan tinta di dalamnya. “Tetapi, tidak sekarang. Ada banyak hal yang harus kulakukan di sini.”
“Apa ini karena Her Ladyship?”
Pertanyaan polos itu sontak merenggut atensi Lucian yang langsung teralihkan dari surat Jacob. “Kenapa menurutmu aku sedang menghindari seseorang, Robert? Apa kaitannya dengan Lady Ionna?”
“Oh, bukankah kita sedang membahas Lady Hernsberg, tunangan Anda, My Lord?”
Mata Lucian terpejam rapat. Akhirnya, nama itu keluar juga dari mulutnya. “Ada apa dengan Lady Eva?”
“Jika Anda pulang ke Celeton, apakah kalian akan berkomunikasi melalui surat?”
Sejujurnya, Lucian tidak pernah terpikirkan hal itu. “Ini bukan sesuatu yang seharusnya kauurusi, Robert. Biarkan aku memutuskan bagaimana cara kami berkomunikasi nanti.”
“Saya mengerti, maafkan saya, My Lord. Saya tidak berniat ikut campur dalam urusan Anda.”
Robert pun membungkuk lalu berlari kecil meninggalkan Lucian sendirian di halaman depan kediaman Hernsberg.
Lucian menghela napas lantas duduk di salah satu bangku taman tak jauh dari tempatnya berdiri. Suasana pedesaan yang tenang sangat cocok dengan kepribadiannya yang tertutup. Kediaman sederhana Count Hernsberg mengingatkan Lucian pada rumah pamannya di Grimfon. Tak perlu banyak bangunan megah yang mengelilingi kediaman utama, tak perlu air mancur raksasa, dan gerbang tinggi menjulang di halaman depan. Gazebo megah, bermacam-macam taman dan kebun terpisah, patung-patung besar, hingga kandang kuda luas beserta lapangan pacunya. Di kediaman ini, Lucian juga tidak menemukan markas kesatria dan bunyi benturan pedang di lapangan latihan. Andasia adalah negeri yang masih berkembang. Oleh sebab itu, tidak banyak bangsawan memiliki pasukan kesatria yang mengabdi di bawah nama keluarga mereka.
Tiba-tiba, Lucian teringat pada bungkusan sapu tangan yang ia terima tadi. Sambil membaca surat yang ditulis Jacob, ia pun membuka bungkus sapu tangan. Tiga keping biskuit labu berbentuk wajah tersenyum kepadanya.
“Enak.”
Lucian tersentak dirinya bisa menggumamkan kata itu. Ia memang tidak terlalu suka biskuit labu yang bertekstur aneh. Namun, mengingat biskuit ini dibuat oleh tangan seorang ibu membuat hati Lucian perlahan diselimuti kehangatan. Dulu Ibunya, mendiang Marchioness Carnold, selalu menghabiskan sebagian besar waktu di dapur untuk membuat pai beri. Wanita itu akan mampir ke lapangan tempat Lucian berlatih pedang dan menyuruh putranya memakan pai buatannya saat jeda istirahat.
“Terima kasih, Bibi,” gumam Lucian kemudian melanjutkan acara bacanya. Sepasang bola hijaunya memindai satu-persatu kata yang terlukis dalam surat kiriman Jacob.
Teruntuk My Lord, Marquess Carnold,
Saya menulis surat karena baru-baru ini terjadi kecelakaan kecil di dapur. Salah satu koki kita meninggalkan gula yang sedang dilelehkan hingga gosong.
Otot-otot mulut Lucian tertarik membentuk sebuah lengkungan tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana koki itu diomeli Jacob, kepala pelayan, serta kepala koki sekaligus. Jika dia beruntung, pengurus rumah tidak akan ikut-ikutan dan hanya menjadi penonton kemarahan tiga manusia galak tersebut. Lucian pun menggigit keping biskuit labu keduanya.
Selain itu, His Higness Pangeran Mahkota Elyas datang berkunjung bersama His Grace Duke Laundrell dua hari lalu. Ketika Anda membaca surat ini, mungkin sudah sekitar lima hari sejak kunjungan mereka, My Lord.
Elyas? Tumben sekali pria itu menyempatkan waktu mengunjungi rumah teman-temannya. Biasanya pun dia tidak keluar dari ibukota dan menginap di townhouse keluarga Laundrell. Apa dia memiliki niat tersembunyi bersama kunjungannya?
Kemudian Lucian teringat pada pertunangan Elyas dengan Lady Patricia Vergan, putri bungsu Duke Vergan tahun lalu. Ia dengar pertunangan itu berlangsung megah dan digelar secara besar-besaran di Hall of Sun.
Ah, Hall of Sun.
Tempat itu.
Lucian mengunyah biskuit labunya dengan wajah masam mengingat insiden di balkon terkutuk. Ia mencoba melupakan bayang-bayang Lady Ionna yang jatuh pingsan dalam dekapannya. Malam itu, kekacauan di tengah debutan seketika menjadi bahan gosip terpanas di pergaulan kelas atas. Sejak saat itu pula Lucian tak lagi mendengar nama Lady Ionna selain dari surat-surat yang Ansel tulis.
Dalam surat Ansel yang ia terima dua minggu lalu, sahabatnya itu mengeluhkan penolakan sang adik terhadap lamaran pangeran negeri tetangga. Sebenarnya, apa yang Lady Ionna pikirkan? Apa dia tidak mengkhawatirkan prospek masa depannya? Para jentelman berjajar menunggu jawabannya dengan sekuntum bunga dan segunung hadiah di belakang mereka. Namun, dengan mudahnya ia justru berkata tidak.
Susah-payah Lucian menelan makannya. Pernikahan Lady Ionna bukan urusannya. Mau gadis itu menikah atau tidak, itu sama sekali bukan urusannya. Persetan dengan Lady Ionna Laundrell dan pernikahan, alasan kunjungan Elyas pasti tidak jauh dari kunjungannya ke kediaman Vergan. Duchy Vergan dan Duchy Laundrell saling bertetangga. Setelah menemui tunangannya, pastilah Elyas kabur dari kesatria pendampingnya ke kediaman Laundrell menggunakan penyamaran.
Lucian mendesah kemudian menghabiskan keping terakhir biskuit labu.
Dan sebenarnya, My Lord. Ada hal yang ingin saya sampaikan pada Anda.
Pungung Lucian sontak menegak saat ia membaca penggalan kalimat itu. Ada keseriusan dalam setiap lengkung tulisan Jacob.
Lima tahun ini, setiap akhir pekan dua minggu sekali, Her Ladyship rutin mengunjungi makam Madame dan mengirimkan bunga segar untuk mengisi vas di kamar Anda.
Lucian tidak perlu tahu bahwa Her Ladyship yang Jacob maksud dalam suratnya adalah Ionna. Mengunjungi makam Ibunya bukanlah hal seberapa, namun sampai mengirimkan bunga ke kediaman Carnold, itu merupakan tindakan yang tidak pantas dilakukan seorang lady. Bagaimana seandainya Duchess Laundrell yang kolot dan masyarakat kelas atas mengetahui kebiasaan buruk Ionna?
Seorang lady seharusnya menerima bunga, bukannya mengirim bunga.
Lucian sudah berencana akan menulis surat balasan. Ia hendak melipat kembali surat dan memasukkannya ke dalam saku. Tetapi, paragraf terakhir yang ditulis panjang-lebar seketika menghentikan gerakannya.
Saya sudah memeriksanya, My Lord. Nama-nama yang berhubungan dengan Her Ladyship tidak terdaftar dalam daftar pelanggan toko manapun. Sepertinya, Her Ladyship memetik bunga- di suatu tempat lalu mengutus pelayan pribadi untuk menyampaikannya kepada pelayan kita. Saya mendapatkan informasi bahwa salah satu pelayan kamar Anda merupakan teman dekat Miss Jam, pelayan pribadi Her Ladyship. Saya bisa menjamin kerahasiaan ini dengan dalih saya sendirilah yang menyuruh pelayan itu mengganti bunga di kamar Anda. Tolong, jangan pikirkan masalah ini. Jagalah kesehatan Anda selama di Andasia, My Lord.
Salam,
Jacob Mouris
Dan suatu tempat di mana Ionna memetik bunga-bunga itu adalah bukit tempat gadis itu biasa menyendiri.
To be continued