Malam harinya, Lucian bergabung dalam makan malam bersama keluarga Hernsberg. Lady Evangeline telah menunggunya di meja makan. Gaun ungu tua berpadu sempurna dengan manik violetnya yang bersinar cantik.
“Selamat malam, Count, Countess, My Lady,” sapa Lucian sebelum duduk.
Evangeline bangkit dan menuangkan teh ke cangkirnya.
“Bagaimana sore Anda, My Lord?,” tanya Count sembari mengangkat gelas anggur. “Saya dengar Anda bermain catur dengan Stephannio di kota.”
Sekadar informasi, Stephannio adalah keponakan angkat Count Hernsberg yang tinggal di kota. Jarak Greenpald dengan pusat kota tidak terlalu jauh. Di waktu senggang, biasanya Lucian bertemu dengan para delegasi di kantor kementrian atau sekadar minum-minum di klub bersama Robert. Satu tahun ini, tidak banyak yang ia lakukan sementara penyelidikan alkohol terlarang tinggal menunggu hasil akhir. Bergerak secara perlahan dan diam-diam ternyata menyita waktu selama ini.
“Benar. Kemarin Stephannio mengirim surat tantangan dan mengundang saya untuk bermain catur.”
“Tolong, maafkan ketidaksopanannya, My Lord,” kata Count Hernsberg tertunduk malu. “ Saya akan memperingatkan Stephannio. Dia tidak boleh bersikap lancang kepada seorang marquess.”
“Tidak. Itu bukanlah masalah besar. Lagipula kami memiliki waktu yang menyenangkan.”
“Tetapi, My Lord, Anda tidak boleh menormalisasi perilaku semacam itu,” timpal Evangeline jengkel. Gadis itu menekan goresan pisaunya di piring keramik hingga menimbulkan bunyi decit yang nyaring.
“Orang-orang seperti Stephannio bukanlah bagian dari masyarakat kelas atas. Sampai kapan bangsawan Andasia terus diremehkan hanya karena negara kami kecil? Stephannio menghabiskan separuh hidupnya di kerajaan tetangga. Itu sebabnya dia bertingkah seenaknya.”
“Jangan terlalu terbawa emosi, Evangeline. Kau juga. Perhatikan kata-katamu di depan His Lordship.”
“Maafkan saya, Ayah.” Eva memakan daging salmonnya setengah hati.
Lucian melirik tunangannya itu melalui ujung mata. Ia bisa memahami mengapa Evangeline merasa jengkel tiap kali mereka membahas kebangsawanan Andasia. Gadis itu pernah merasakannya sendiri. Saat salah satu delegasi mencelanya di sebuah pesta tiga tahun lalu, Evangeline jelas tidak bisa menerima penghinaan itu. Banyak hinaan serupa yang gadis itu terima sebagai putri seorang count miskin. Evangeline memiliki harga diri yang tinggi. Dia tidak akan mau menundukkan kepala sekalipun seorang Raja yang menghinanya. Lebih baik mati dengan rasa hormat dibanding hidup dengan rasa malu. Lucian rasa, ungkapan itu sangat sesuai dengan karakter kuat Lady Evangeline Hernsberg.
Di seberang meja, Countess Hernsberg, ibunda Eva, tersenyum mengartikan tatapan Lucian terhadap sang putri. Sebenarnya ia ingin membahas pernikahan anak-anak itu secepat mungkin. Usia Eva sudah tidak muda lagi. Ia sudah siap bila memang harus melepas putri semata wayangnya sebagai wanita bergelar marchioness di Gouvern. Eva sudah lama hidup dalam kekurangan. Countess ingin putrinya merasakan kemewahan yang sama seperti para bangsawan di Kerajaan Gouvern. Selain itu, Countess juga menyadari adanya ketertarikan di antara Lucian dan Eva. Pernikahan berlandaskan cinta dalam kehidupan bangsawan memanglah tabu, sangat jarang terjadi. Namun, wanita itu percaya Dewa Cinta telah menembakkan panah asmaranya.
“My Lord, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanya sang countess memecah suasana. Suara lembutnya merenggut perhatian tiga manusia lain di meja makan.
“Ya, Madame.”
“Selama ini Anda telah banyak membantu keluarga kami dan kerajaan ini.” Lucian mengernyit karena topik bahasan yang tiba-tiba itu. “Lima tahun berlalu semenjak Anda kali pertama menginjakkan kaki di Greenpald. Di tahun kelima ini, apa Anda memutuskan akan kembali ke Gouvern? Bagaimanapun, bantuan Anda telah membantu memajukan kemakmuran masyarakat Andasia.”
Lucian menatap mata ungu Countess tanpa ekspresi. Dalam sehari, ia mendapatkan pertanyaan yang sama dari dua orang berbeda.
“Tentu saja saya akan kembali ke Gouvern, Madame.”
Jawaban Lucian sungguh menggantung. Entah sejak kapan, tangan Lady Evangeline sudah meremas mantel suteranya di bawah meja. Ada getaran halus yang ia rasakan dari cengkeraman gadis itu.
“Namun, tidak untuk saat ini. Saya akan menunggu surat perintah dari Yang Mulia Raja turun sambil memastikan sistem drainase di Greenpald bekerja dengan baik.”
“Kalau begitu, syukurlah.” Sang countess menghela napas. Akan tetapi, Lucian masih menangkap kegelisahaan dalam wajah wanita tua itu.
“Adakah hal yang masih mengganjal di hati Anda, Madame?”
“Jika saya boleh jujur, jawabannya ya, My Lord.”
“Dan apakah hal itu?”
Countess menyesap teh untuk menenangkan diri. Perasaan gugup, cemas, hingga sungkan bercampur aduk menjadi satu dalam benaknya.
“Ini tentang pertunangan kalian, My Lord.”
Lucian tahu akan tiba saatnya mereka membahas ini. “Itukah yang Anda cemaskan?”
Countess mengangguk. Dengan hati teguh, ia berkata, “Evangeline kami membutuhkan kepastian Anda, My Lord. Saya tidak mengerti mengapa Anda menerima pertunangan ini, tetapi, jika pertunangan ini sampai mendatangkan masalah bagi Anda dan hubungan antar kerajaan, sebaiknya Anda mengakhirinya sekarang juga.”
Ungkapan yang berani dan blak-blakkan. Lucian tidak bisa menyalahkan sang countess. Wanita itu hanya seorang ibu yang sangat mencintai putri semata wayangnya. Apa yang dikatakan Countess Hernsberg itu benar. Lady Evangeline Hernsberg membutuhkan kepastiannya.
“My Lady.” Lucian beralih pada Evangeline yang sedari tadi tidak berselera makan.
“Ya, My Lord?” jawab gadis itu lesu.
“Temui saya di tempat biasa.” Lucian berbisik pelan.
Eva membelalak kaget. Akankah mereka membicarakan pertunangan secara pribadi? Dalam sekejap Eva dilanda kecemasan akan status pertunangan mereka. Apakah Lucian memutuskan membatalkan penyatuan atau memilih melanjutkan pertunangan ke jenjang pernikahan?
Rasanya Eva ingin mengarungi isi kepala pria ini. Lucian Carnold, apa yang sebenarnya pria ini pikirkan?
---
Malam musim panas di Greenpald menyebabkan udara yang semula lembab menjadi hangat. Evangeline berjalan gelisah di sepanjang koridor kediamannya dengan gaun tidur serta jaket satin tipis. Angin malam mengembus pelan anak-anak rambut di tengkuk Eva. Ia melangkah tergesa menuruni tangga kayu ke lantai bawah, mengintip di setiap belokan untuk memastikan keadaan, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi aroma buku dan tinta.
Perpustakaan kediaman Hernsberg tidak seluas perpustakaan kota. Hanya ada dua rak kayu besar berisi buku-buku pengetahuan, satu rak tembok berisi novel-novel romansa, serta rak kaca di sudut ruangan yang berisi dokumen-dokumen penting keluarga Henrsberg. Perpustakaan itu memiliki perapian, sebuah meja bundar, dan sepasang kursi kayu empuk berlengan di dekatnya. Eva biasa membaca buku di kursi itu jika ia tidak bisa tidur. Namun tujuannya ke mari malam ini bukan untuk membaca buku, melainkan menemui seseorang yang berdiri membelakanginya di dekat perapian.
Eva pun berhenti melangkah.
Orang itu belum menyadari kehadirannya dan kini mereka hanya terpaut jarak sejauh enam meter. Orang itu, Lucian Carnold, terlihat fokus mengamati peta Andasia yang terbentang lebar di atas perapian. Surai emasnya bersinar dalam nyala api perapian yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Punggung tegap nan kokoh, bahu lebar yang memesona, dan garis-garis otot yang mengagumkan membentuk tubuh di balik pakaian santai. Eva menelan ludah membayangkan sentuhan kulit lembut Lucian dan telapak tangannya yang halus. Imajinasi liar mulai menggerayangi pikirannya bila sang marquess tidak segera menoleh, mendapati bayangan lain di belakang bayangannya, dan berbalik menghadap Eva.
Evangeline rasa ia sudah gila.
“Evangeline.”
Panggilan itu terasa seperti anggur yang manis, panas, dan memabukkan. Eva tersenyum mengabaikan sopan-santun di antara mereka. Keduanya sepakat untuk tidak bersikap formal bila sedang berdua, benar-benar berdua.
“Aku datang sesuai permintaanmu.”
Eva mengangkat botol anggur yang ia curi dari gudang penyimpanan kemudian duduk di salah satu kursi. Susah-payah ia membuka sumbat gabus dengan kotrek, hingga akhirnya Lucian merebut dan dengan gampangnya mengeluarkan sumbat gabung tersebut.
“Untukmu.” Pria itu menuangkan anggur ke gelas beleher panjang untuk tunangannya.
“Terima kasih. Aku suka minum-minum di perpustakaan. Bagaimana denganmu?”
“Aku tidak.” Yeah, karena Lucian lebih suka minum di ruang kerja atau balkon kamar tanpa ditemani siapapun. Ia tidak boleh mabuk dan kehilangan kendali terutama bila bersama seorang gadis.
“Jadi, bagaimana?” Eva menempelkan bibir gelas ke bibirnya, menyesap cairan merah itu seperti kucing kehausan. “Pertanyaan Ibuku tadi. Apakah itu mengganggumu?”
“Sama sekali tidak.”
“Rupanya kau punya rencana lain di otakmu hik.”
“Belum satu gelas kau minum dan kau sudah mabuk,” ucap Lucian sambil menyahut gelas anggur Evangeline. “Jangan mabuk. Ada yang harus kita bicarakan.”
“Aye, Kapten!”
Eva terkekeh saat Lucian duduk di kursi dan meletakkan gelas anggurnya di atas meja. Ia memiringkan badan, menumpuk lengan di atas lengan kursi. Diperhatikannya baik-baik paras bak pahatan itu. Terkadang, Evangeline tidak percaya pria bersurai pirang ini adalah tunangannya.
“Katakan apa yang kauinginkan,” tegas Lucian tanpa basa-basi.
Mata Eva mengedip cepat. “Ya?”
“Apa yang kauinginkan dari pertunangan ini. Kau tahu aku tidak bisa selamanya tinggal di Andasia. Aku menyerahkan seluruh keputusan kepadamu.”
Eva berpikir sejenak memahami ucapan Lucian. Bukankah seharusnya Lucian yang memutuskannya? Kenapa hak itu justru diberikan padanya?
“Dengan kata lain, kau tidak keberatan dengan apapun yang kuinginkan, Luce?”
“Ya.”
Sebelumnya, Lucian tidak pernah mengizinkan seseorang memanggilnya dengan sapaan akrab. Di Gouvern, nama kecil hanya boleh digunakan oleh orang-orang terdekat. Selain Ibu dan Ansel, belum ada orang lain yang berani memanggilnya dengan nama Luce. Namun kini, daftar tersebut telah bertambah. Evangeline menjadi orang ketiga yang boleh menyebut nama kecilnya.
Alasannya, karena mereka bertunangan. Panggilan itu memang digunakan saat mereka berdua saja. Untuk mengantisipasi pihak ketiga seperti pelayan yang kebetulan lewat, mau tidak mau Lucian mengizinkan Eva menggunakan sapaan akrab untuk memanggilnya. Pelayan itu akan merasa aneh seandainya mendengar Marquess Carnold dan Lady-nya bersikap kaku satu-sama lain.
Diam-diam, kedua sudut bibir Evangeline melengkung samar. Cahaya kekuningan api perapian menyinari rambut gelapnya bak mentari di langit malam. “Yang Ibu inginkan adalah pernikahan, Luce. Itu sebabnya Ibu menanyakannya padamu. Dia khawatir suatu saat kau berubah pikiran.”
“Sayang sekali aku tidak bermulut besar.”
“Tentu saja! Kau seorang jentelmen sejati. Semua kata-katamu adalah berlian! Begitu cara orang kuno memuji orang jujur hik.”
Manik hijau Lucian bergerak mengikuti Eva yang berjalan sempoyongan ke arahnya. Ia terlambat menyambar gelas anggur sebelum gadis itu. Dengan suara teguk yang terdengar jelas, lagi-lagi Eva menuang anggur lalu menandaskannya dalam sekali tegukan.
“Kau sudah berjanji, Luce. Kau tidak akan pernah membatalkan pertunangan kita. Kau ingat aku memegang rahasia terbesarmu?”
“Aku tidak merasa merahasiakannya.”
“Tapi, kau menyembunyikannya dari dunia!”
Eva mendorong bahu Lucian lalu memerangkap pria itu dalam kukungannya. Ia mengangkat sebelah kaki ke atas kursi, menatap pria itu seduktif. “Aku mengetahui rahasia di balik kematian Ibumu. Ibumu tidak meninggal karena sakit. Ibumu tidak menderita penyakit apapun.”
“Berhenti membicarakan Ibuku, Evangeline.”
Lucian dapat mencium aroma anggur menguar dari mulut gadis itu. Eva tertawa pelan. Pandangannya mulai berkabut. Ia menutup jarak di antara mereka dengan saling melekatkan dahi.
“Kau sangat tampan, Lucian. Itu sebabnya hik aku menyukaimu.”
“Kau mabuk, Evangeline.”
“Dan aku akan menciummu.”
Iblis dalam diri Eva bangkit menyerang Lucian dengan sebuah ciuman panas. Lucian bergeming ketika bibir mereka menyatu. Gadis itu memiliki permainan andal yang tidak dimiliki gadis bangsawan pada umumnya.
Ciuman itu berlangsung singkat. Eva melepaskan pagutan bibir mereka kemudian menurunkan jaket satinnya. Panas melanda tubuhnya. Ia nyaris terjatuh bila Lucian tidak menangkap lengan dan mendudukkannya di kursi.
“Bawa aku ke Gouvern bersamamu,” gumam Evangeline linglung.
Lucian tidak tahu apakah permintaan ini merupakan permintaan yang sebenarnya ataukah ada permintaan lain yang menyertainya. Padahal jika Evangeline mau, dia bisa meminta Lucian menikahinya.
“Kau tidak akan menikahiku. Ada luka di matamu.”
Lucian mengempaskan pergelangan tangan Eva lalu berjalan mundur. Ia benci ketika seseorang membaca pikirannya dan menemukan kelemahannya. Dan Eva berhasil melakukan itu dengan sebuah ciuman pendek.
“Aku tidak akan menarik perkataanku.” Lucian berbalik membelakangi Evangeline yang bertopang dagu di lengan kursi. “Aku akan melakukan apa yang kauinginkan. Lagipula aku membutuhkan seorang marchioness, cepat atau lambat.”
Kikikan Eva terdengar menyedihkan. “Astaga, ternyata pertunangan ini terjadi karena kebutuhan praktis. Kau kejam sekali, Luce.”
“Jangan berkata seolah bukan kau yang membujuk ayahmu agar bisa bertunangan denganku.”
“Kau pria luar biasa. Sulit ditipu, sulit ditebak, dan sulit ditaklukan hik.”
Eva pun bangkit, berdiri di atas kaki-kakinya yang loyo. Ia melingkarkan tangan ke perut Lucian, menyandarkan pipi di punggung pria itu.
“Walau kau tidak bisa menikahiku, setidaknya tetaplah bersamaku, Lucian. Aku tidak mau hidup dalam kesusahan di sini. Jadi, bawa aku ke Gouvern bersamamu. Bisakah?”
Lucian mengusap wajahnya yang kusut. Tinggal berkata cukup nikahi aku, maka semuanya menjadi jauh lebih mudah. Dia akan menikahi Evangeline dan membawanya ke Gouvern sebagai Marchioness Carnold. Namun tanpa ikatan pernikahan, membawa seorang gadis dari negeri seberang, bagaimana masyarakat kelas atas memandangnya?
Ah, sebelumnya Lucian tidak pernah memedulikan reaksi publik.
Sayangnya, menjadi bagian dari parlemen merupakan perkara yang berbeda. Ia akan sering menampakkan diri di istana, menghadiri serangkaian rapat parlemen, dan terlibat dalam pergaulan dengan banyak orang ketika kembali. Ia tidak bisa menghindari kegiatan-kegiatan sosial karena posisi sialan itu. Menjadi pusat perhatian, mendengar omong-kosong publik, dan menghadapi sekumpulan manusia bermuka dua adalah sesuatu yang menjengkelkan.
Embusan napas berat mengembalikan Lucian pada kenyataan. Sepasang tangan ramping senantiasa memeluknya dari belakang. “Evangeline, sebaiknya kau pikirkan hal lain sa—”
Sekali lagi, Lucian menangkap Evangeline yang limbung. Ia mendesah keras. Bisa-bisanya Evangeline melupakan kebijaksanaannya dan tidak sadarkan diri di depan seorang pria. Ia pun mengangkat tubuh gadis itu dalam dekapan, menutupi bagian yang terbuka dengan merapatkan jaket.
“Bawa aku bersamamu, Luce. Tolong, bawa aku.”
Bahkan dalam tidurnya pun, Eva masih saja menggumamkan kalimat yang sama. Lucian berjalan keluar perpustakaan, menaiki tangga menuju lantai dua, dan menidurkan gadis itu di ranjang yang empuk.
“Memangnya, pilihan apa yang kupunya selain menurutimu, My Lady?” gumam Lucian sambil memperhatikan wajah lelap tunangannya dalam keremangan.
To be continued