Yumi menyeret langkahnya ke minimarket dekat sekolah, membeli sosis untuk lauk dan onigiri. Aku sudah beli beras lima kilo, bisa untuk sebulan jika aku makan irit. Karena sudah malam, aku juga tidak boleh makan banyak. Batinnya.
"Sepertinya yang dibicarakan Refan benar, kau hanya makan yang bisa dipegang."
Yumi sontak mendongak, melihat Efan sudah berdiri di belakang sambil perhatikan makanan yang tergeletak di kasir. "Ada makanan cepat saji di sini, kenapa tidak beli?"
Tidak mungkin Yumi jawab tidak punya uang di depan Efan. "Aku tidak bisa makan berat," jawabnya sambil menyerahkan uang ke kasir. "Kau kenapa di sini?"
"Memangnya tidak boleh?"
Yumi mendecak kesal.
Efan mengangkat salah satu alis. "Di rumah, kau tidak pernah bersikap seperti ini, selalu lembut dan tersenyum, bahkan tidak berani meninggikan suara. Kenapa sekarang malah... kelakuannya sama seperti adik dan kakekku?"
"Mereka yang mengajariku bersikap tegas." Yumi menjauh dari Efan.
Efan menarik tangan Yumi dengan satu tangan lalu bayar pesanannya ke kasir. "Ada yang ingin aku bicarakan."
"Aku tidak punya waktu." Yumi berusaha melepas tangan Efan setelah memasukan sosis dan onigiri ke kantong jaket. "Lepaskan aku!"
Selesai bayar dan mengambil barang di kasir, Efan menarik Yumi keluar, diikuti tatapan para pembeli di minimarket.
"Kau pulang naik apa?" tanya Efan yang perhatikan tempat parkir, tidak ada mobil Yumi.
Yumi melepas tangan Efan. "Kau berharap apa? Aku naik mobil?"
Efan menatap bingung Yumi. "Bukannya kau naik mobil selama ini?"
"Sejak kapan?" tanya Yumi yang semakin kesal. "Mobil siapa yang bisa aku naiki?"
"Dari hari pertama, kau bisa naik mobilku atau mobil kakek. Kami sudah bicarakan ini ke kepala pelayan."
Yumi tertawa sinis. "Tidak ada yang bicara tentang itu padaku."
"Kepala pelayan..."
"Kalian bicara ke kepala pelayan?" tanya Yumi. "Kepala pelayan bilang padaku kalau perawatan mobil sangat mahal dan tidak ada sopir yang mengantarku, sementara aku tidak punya lisensi mengemudi. Bagaimana bisa aku bawa mobil kalian?"
Efan merasa penjelasan kepala pelayan masuk akal, tapi... "Bagaimana bisa tidak ada sopir yang bisa mengantarmu ke sekolah?"
"Tidak perlu dibahas lagi, semua sudah berlalu... aku juga bukan bagian dari keluarga Rylee lagi."
Efan merasa ada yang tidak beres di rumah. "Ada yang bersikap kasar padamu?" tanyanya. "Tapi, bukankah para pelayan di rumah mendengar ucapanmu?"
"Kenapa sekarang malah dibahas? Sudah tidak penting lagi, sebaiknya urus saja dirimu sendiri. Bukankah kita sudah berjanji sejak awal?" Yumi mulai muak dengan sikap Efan. "Aku sudah menuruti semua keinginan kau, menjauhlah dari hidupku."
"Yumi, apa selama ini aku sudah salah?" tanya Efan yang semakin bingung. "Mereka bilang kau baik-baik saja di rumah."
"Tidak ada yang salah, aku yang salah selama ini... aku yang terlalu semangat, kau dan siapa pun tidak akan pernah salah. Dari awal memang kita tidak setara."
Efan menarik Yumi masuk ke dalam mobil. "Aku antar kau pulang."
"Tidak perlu!" Yumi berontak.
"Yumi," tegur Efan dengan tegas.
Tubuh Yumi menegang. Kebiasaan lama masih belum berubah. "Kau akan memukulku?"
Efan semakin bingung dengan perilaku mantan tunangannya. "Bagaimana bisa aku pukul kau? Selama ini aku juga tidak pernah sen..." dia terdiam.
Suasana di sekitar Efan dan Yumi menjadi tegang, mereka bahkan tidak peduli dengan penonton yang lewat.
Efan menghela napas, dia bisa merasakan tangan Yumi yang gemetar dan raut wajah disembunyikan dengan menundukkan kepala. "Maafkan aku, kau pasti terkejut."
"Tidak, aku tidak terkejut," sahut Yumi.
Efan menaikkan salah satu alis. "Ayo, aku antar kau pulang."
"Tidak."
"Pikirkan saja ini, kau bisa menghemat biaya ojek."
Yumi mengangkat kepala, menatap lurus Efan dengan mata berkaca-kaca. "Kau akan digosipkan jelek."
"Memangnya selama ini aku peduli?"
"Aku yang peduli, aku tidak mau digosipkan bersama kau lagi."
"Ayo, masuk ke dalam mobil... daripada jadi tontonan banyak orang."
Tidak jauh dari tempat Efan dan Yumi berdebat, Nadine serta guru lainnya perhatikan mereka di seberang.
"Bukannya mereka sudah berpisah?"
Nadine menatap iri tangan Efan yang masih memegang tangan Yumi.
***
"Bukannya kau sudah berpisah dari Efan?"
Hal pertama yang dilakukan Yumi begitu pulang ke rumah, bersihkan kandang Hasan serta bereskan kekacauan di rumah, adalah menghubungi Vio. "Ya memang, sudah. Aku bahkan menuruti semua permintaannya. Tidak ada dendam juga, tapi kenapa dia selalu muncul?"
"Jodoh?"
"Vio, yang benar saja. Memikirkan dekat dengan dia saja sudah membuatku mual." Yumi memeluk erat gulingnya. "Rasanya ingin menikah cepat."
"Apa kau tidak merasa sayang? Dia pewaris dari keluarga Rylee yang terkenal itu."
Yumi menghela napas panjang, neneknya pernah menceritakan tentang kisah keluarga Rylee yang terhormat. Dulunya nenek moyang Rylee merupakan salah satu bangsawan Belanda yang terhormat, aktif dalam kegiatan politik. Namun, ketika Belanda menyerahkan kebebasan Indonesia, keluarga Rylee tetap bertahan di Indonesia daripada kembali ke Belanda, tentu saja dengan beberapa syarat, salah satunya, keturunan tidak boleh bekerja di pemerintahan atau terlibat dengan kegiatan politik.
Keluarga Rylee punya banyak tanah yang disewakan serta bisnis yang banyak mulai dari penginapan sampai sekolah tempat Yumi mengajar.
"Si Efan memang tidak tahu terima kasih, dia bisa menjadi polisi berkat nenek kau. Kenapa malah bersikap kasar seperti itu? Dia bahkan tidak bela kau di pesta itu, memang bagus tinggalkan dia."
Vio dan Yumi teman dekat sejak kecil, tentu saja mendengar cerita itu dari almarhum nenek Yumi.
Yumi mulai memikirkan ucapan Vio. "Sepertinya Efan tidak tahu tentang hal itu."
"Yang mana?"
"Perjanjian kakek Efan dan nenekku, mungkin saja dia tidak tahu."
"Kau tidak pernah bertanya padanya?"
"Aku tidak punya kesempatan bicara berdua, sepertinya dulu aku sudah menjadi musuhnya."
"Cih."
Yumi tertawa canggung. "Hahaha... sudah biarkan saja, anggap saja amal nenekku. Aku juga sudah bersyukur pernah hidup sebagai oramg kaya di masa lalu."
"Yah, kita juga tidak tahu mendalam tentang keluarga Rylee, kau harus hati-hati pada mereka."
"Ya, aku tahu."
Vio dan Yumi mengalihkan topik dan tertawa bersama selama satu jam.
Suasana di rumah Yumi berbanding terbalik dengan Efan yang berdiri bersandar di balkon kamarnya.
"Tuan muda panggil saya?"
Efan tetap berdiri memunggungi kepala pelayan. "Aku ingin tanya."
"Ya?"
"Aku ingin tanya mengenai mobil, selama ini Yumi pakai mobil mana?"
Kepala pelayan menjawab dengan lancar. "Mobil Tuan besar."
"Ke sekolah?"
"Belanja."
"Kenapa dia tidak pakai mobil saat ke sekolah?"
"Anda tidak pernah mendengar masalah nona di sekolah?"
Efan balik badan sambil memegang erat gelas jus di tangannya. "Katakan, gosip apa yang kau dengar di sekolah?"
"Ini bukan gosip, tapi memang masalah serius yang dihadapi nona."